
“Perempuan bar-bar!!” oceh Pak Raden sambil melengos, sementara aku hanya menundukkan kepalaku dalam, tapi aku tidak menyesal telah melakukan hal tersebut pada Bella, Bella wajib di beri pelajaran berharga, Bella itu adalah bibit Cakor alias calon pelakor, sebagai perempuan yang benci dengan perpelakoran, jelas aku harus menumpasnya sejak awal, kalau bisa aku akan menyemprotnya dengan pestisida, biar bibitnya tidak tumbuh dan mati sekaligus.
“Maaf Pak” aku menunduk seolah menyesal, tapi ekor mataku tetap menatap Bella yang kini tengah terbaring sambil di obati Dokter, sesekali perempuan itu meringis manja, tangannya berpegangan erat dengan tangan Pak Raden.
Kaki Bella kini tengah diolesi alkohol, karena sudah menimbulkan biru lebam akibat tendangan mautku, kepala Bella juga tengah diolesi betadine karena terbentur tembok, dan dahinya mengenai ujung kursi, sehingga menimbulkan sedikit baret dan mengeluarkan sedikit darah, aku yakin sekali jika itu semua pasti terasa sakit, jujurnya aku tidak menyangka jika kondisi Bella akan separah ini, aku pikir seranganku tidak akan membuat Bella terluka sedemikian rupa, namun ... karena semuanya telah terjadi, ya sudahlah.
“Baru saja saya merestui hubungan kalian, kenapa kamu sudah menyiksa calon mertuamu sendiri??” lanjutnya dengan geram, matanya mendelik, rahangnya mengetat, dan kumisnya bergerak-gerak, membuatku merasa ngeri sendiri.
“Loh?? Bukannya Bapak bilang saya harus jadi istri yang kuat dan tangguh??” jawabku tak terima. Aku bukan perempuan menye-menye yang akan langsung menangis kala di bentak calon mertua, derajat menantu harus diatas segalanya, aku tidak bisa di tindas oleh Pak Raden!.
“Iya! Tapi bukan dengan seperti ini caranya! Lagi pula, Bella itu calon Ibu mertua kamu, apa salah dia??” Pak Raden menatapku tajam, kumisnya semakin bergerak liar.
“Ini, saya sedang berusaha menghilangkan bibit-bibit hama yang akan menggerecoki hubungan saya Pak” ucapku berusaha menjelaskan dengan kata kiasan, semoga saja Pak Raden mengerti. Sebagai orang yang berwawasan luas, aku pikir tentu saja Pak Raden akan mengerti ucapanku.
“Apa maksudmu??” Pak Raden menatapku dalam, seperti ingin memastikan sesuatu.
“Pah, sudah Pah, Andin tidak salah” Pak Raga membelaku. Segera melerai situasi yang mungkin saja akan terus memanas jika terus dibiarkan.
“Tidak salah?? Ini sudah masuk tindakan penganiayaan, kamu lihat istriku, dia tidak berdaya, lagi pula apa yang Andin makan setiap hari? Kenapa tendangannya bisa membuat Bella terjungkal?? Hingga kepalanya terbentur begitu???!!” serunya lantang, aku sih biasa aja, tidak takut dengan bentakan Pak Raden, seandainya pun Pak Raden membatalkan restunya padaku, itu tidak masalah bagiku, aku akan tetap merasa puas, karena sudah memberikan pelajaran untuk si Cakor alias calon pelakor.
“Andin hanya khilaf Pah” Pak Raga kembali membela, napasnya menghela berat, aku tahu Pak Raga juga tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi.
“Lagi pula, lukanya juga tidak serius, nanti juga sembuh” imbuhnya kemudian, melirik Bella yang masih mengamati perselisihan kami akibat ulahnya juga, huh!.
“AAAAAAAHHHH!!” terdengar jeritan dari Bella yang masih terbaring sambil memegang kepalanya, matanya bersiap menumpahkan air mata, mulutnya sudah terbuka bersiap memulai drama.
__ADS_1
Aku segera menatapnya tajam, dan Bella segera terdiam, merasa ngeri dengan tatapan perangku. Jangan pernah menyepelekan tatapanku yang mengandung laser ini, jika dia tidak ingin menjadi gosong hanya karena sebuah tatapan maut dariku.
“Tidak serius bagaimana?? Lihat! Dahinya di perban, kepalanya benjol, kakinya lebam, kamu pikir itu tidak sakit?!” Pak Raden mulai berteriak, dan aku hanya bisa menunduk, apa iya peringatanku terlalu keras pada Bella??.
“Kamu!! Kamu tidak pantas mendampingi putra saya!! Kamu perempuan bar-bar!! Kamu pantasnya menjadi preman pasar saja!” teriaknya kalap, dan aku tidak peduli lagi.
“Bapak mau lidah Bapak terbalik?? Karena Bapak menjilat ludah Bapak sendiri?? Pria baik itu harusnya bisa memegang teguh ucapannya Pak” ucapku, sudah tidak peduli lagi dengan reaksi wajah Pak Raden, kadang ada kalanya, kita harus berani tegas melawan siapapun yang akan menindas kita, menjaga lebih baik daripada mengobati, tidak bermaksud lancang dan tidak sopan, hanya saja aku tidak akan membiarkan diriku diinjak-injak oleh siapapun, termasuk oleh calon mertuaku sendiri. Pantang bagiku untuk menjadi wanita lemah! Jadi perempuan itu harus tangguh! Harus kuat dan perkasa!.
“Kamu!!” Pak Raden menunjuk wajahku.
“Pah, sudah Pah, Andin tidak salah” Pak Raga menengahi perdebatan kami.
“Ya sudah kami pamit pulang dulu, nanti Raga akan kabari Papah lagi, untuk rencana kami ke depannya” ucap Pak Raga memberi kode agar aku mengikuti langkahnya.
“Assalamu’alaikum ...” lanjutku dengan kaki mengikuti langkah Pak Raga.
Pak Raden membeku, aku melambaikan tanganku pada Bella yang tengah melotot ke arahku.
“Wa wa’alaikumsalam ...” terdengar jawaban Pak Raden begitu lambat.
Aku berjalan menuju pintu utama, mengikuti langkah Pak raga, Pak Raga tidak menolehku, dia tetap berjalan, dan aku tetap mengikutinya.
Hingga tiba di luar rumah, saat kami berjalan menuju mobil yang terparkir di luar halaman, Pak Raga menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya menatapku, dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Pak ...” aku menunduk, aku tahu, Pak Raga tidak setuju dengan tindakanku pada Bella tadi.
__ADS_1
“Kamu tidak percaya dengan kesetiaan saya??” tanyanya masih menatapku dalam.
“Kesetiaan Bapak tidak perlu saya ragukan lagi, hanya saja, saya harus bisa menjaga agar kesetiaan Bapak tidak akan goyah” ucapku lantang.
“Perjuangan untuk mendapatkan kamu itu susah, sangat susah Cinta, jadi bagaimana mungkin saya bisa goyah??” Pak raga terlihat frustasi.
“Saya hanya berusaha menyingkirkan calon hama” elakku lagi.
“Bapak tahu? Tanaman sekuat apapun, jika terus digerogoti hama, bisa mati Pak, maka itulah sebabnya, sebelum itu terjadi, saya akan segera menyemprotkan pestisida” lanjutku.
“Hhhhhhh!” Pak Raga mendesah frustasi, lalu Pak Raga berjongkok di hadapanku, mencoba meraih kakiku.
“Bapak mau apa??” aku memundurkan langkah, merasa risih atas tindakan Pak Raga yang mau menyentuh kakiku.
“Jangan melakukan gerakan refleks Cinta, ingat perlindungan dari saya” ucapnya datar, lalu Pak Raga mulai menaikkan celana bahan panjang yang tengah aku gunakan. Aku masih diam mematung.
“Lain kali, pukul saja orang yang sudah berani melukaimu” ucapnya sambil mengeluarkan salep dari saku jas yang dia gunakan.
Lalu Pak Raga mulai mengoleskan salep tersebut di tulang keringku, rasanya memang perih, berkat tendangan Bella tadi, kakiku juga mulai muncul lebam, meski tidak separah Bella.
“Saya suka gaya kamu”
Pak Raga mendongakan kepalanya menatapku, lalu tersenyum lembut seperti biasanya, aku membalas senyumannya.
“Saya memang tidak salah memilih kamu jadi pendamping saya, kamu perempuan strong Cinta”
__ADS_1