
Malam menyapa, aku menatap lampu-lampu bangunan toko, perumahan, dan tenda-tenda yang digelar malam hari, kala aku melewatinya. Fokusku masih pada jalanan, sementara pria di sampingku yang tengah asyik menyetir masih mengajakku mengobrol kesana-kemari, ada saja yang dia ceritakan, mungkin inilah yang dinamakan cinta, tidak tahu seberapa sikapmu begitu menyebalkan, di mata orang yang mencintaimu, kamu akan selalu terlihat sempurna. Benar apa yang dikatakan Siti, lebih baik dicintai daripada harus mencintai, tapi ... akan terkesan egois pula, jika aku tidak mencoba membuka hati untuknya yang sudah sangat lama menunggu dan banyak berkorban, oleh karenanya sudah kuputuskan, aku akan membuka hati untuk Pak Raga, belajar mencintainya, dan menerima segenap kasih sayang tulusnya. Melupakan masa lalu yang sudah seharusnya aku lupakan sejak awal, dan mulai menata masa depanku bersamanya, orang yang sangat mencintaiku.
“Cinta, besok kamu mau ya ikut saya”
Aku menoleh, menatapnya yang masih fokus pada kemudi, tapi sesekali matanya melirik ke arahku dengan senyuman manisnya, senyum memabukkan bagi sebagian wanita, tapi tidak bagiku.
“Ikut kemana Pak??” tanyaku, bingung. Apalagi yang akan dia lakukan kali ini, setelah dia mengenalkan aku dengan Pak Raden juga Ibu tirinya, pada siapa lagi diri ini akan diperkenalkan?.
“Mamah saya ingin bertemu dengan kamu, kamu mau ya, menerima undangan beliau??” tanyanya lagi penuh harap, matanya memohon, memelas dan mengiba.
Duh ... sejujurnya aku masih bingung, tidak bisa dipungkiri, jika masih ada rasa takut di hatiku, bagaimana jika Mamahnya Pak Raga itu ternyata galak? Bagaimana jika beliau tidak mau merestui hubungan kami? Bagaimana jika beliau lebih menyebalkan dari Pak Raden? Bagaimana jika ...
“Cinta??” aku mengerjap, segera kembali ke dunia nyata, setelah aku sejenak masuk ke dunia halu, aku sepertinya sudah tertular Siti, suka menghayalkan sesuatu yang belum tentu terjadi, contohnya saja masalah Pak Raden kemarin. Kalau Siti memang dia senang sekali membaca cerita bergenre halu, dia bilang cerita halu itu sangat related dengan jiwanya yang tukang ngayal, segala ingin jadi cinderella, ingin jadi istri CEO dan ingin jadi istri dari mafia bucin, kadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabat absurdku itu.
“Mau ya??” lagi-lagi aku mengerjap, lalu fokusku kini pada Pak Raga, aku menatapnya, terlihat jelas jika tatapannya penuh dengan harap.
“Mamah saya orangnya baik kok” seolah paham akan apa yang aku pikirkan Pak Raga langsung menepis khayalanku.
Bismillah ...
__ADS_1
“Iya Pak, saya mau” aku menganggukan kepala, lalu membalas senyumnya, sedetik kemudian lalu pandanganku sudah kembali fokus pada jalanan. Meninggalkan tatapan Pak Raga yang kini sudah berubah menjadi berbinar bahagia.
“Terima Kasih, besok saya jemput kamu” ucapnya sumringah, dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sekarang. Dan entah kenapa, aku pun ikut merasakan kebahagiaannya.
“Hmmhh ...” aku mengangguk lagi. hatiku melayang melihat senyum bahagia Pak Raga, berulang kali aku menggelengkan kepalaku, bisa-bisanya aku memiliki perasaan seperti ini.
Lalu, fokusku teralihkan kala mobil kami berhenti, ternyata kami sudah tiba depan di rumahku, Pak Raga turun dari dalam mobil, lalu berjalan memutar, membukakan pintu mobil untukku, lambat ... aku merasa tersentuh dengan setiap perlakuan Pak Raga, dia selalu memperlakukan aku dengan lembut, dan juga tulus. Dan aku bersyukur untuk itu.
“Duh ...” aku mengaduh, kala baru ku rasakan biru lebam yang diciptakan dari tendangan Bella tadi baru terasa sekarang.
“Kamu kenapa??” Pak Raga terlihat panik. Aku tersenyum tipis melihat reaksi Pak Raga, bagiku cinta yang tulus itu akan terlihat ketika pasangan kita bisa menerima kita kala terpuruk, bisa panik kala kita terluka, merawat di kala sakit, dan bisa menerima segala kekurangan kita tanpa protes, dan Pak Raga sudah memenuhi kriteria itu.
“Masih sakit??” tanyanya lembut, sambil menjulurkan tangannya ke arahku, mencoba menuntunku, tapi aku tentu saja menolaknya.
Aku selalu ingat pesan Abah, sebisa mungkin aku harus menghindari setiap sentuhan yang disengaja dengan lawan jenis, syetan ada di mana-mana, mereka siap membisikkan kejahatan pada kita kapanpun, setelah dirasa ada kesempatan, awalnya mungkin hanya berpegangan tangan, tapi setelah terbiasa kegiatan itu mungkin akan terus bertambah, jadi rangkulan, pelukan, ciuman ... dan selanjutnya.
Bisikan syetan tidak langsung pada dosa besar, semuanya di awali dengan dosa yang dianggap kecil dulu, dianggap remeh, hingga kita tidak merasa risih untuk melakukannya.
Masih ingat Dino??? Awal yang mereka lakukan hanya bertemu di sekolah, berteman, lalu hubungan mereka meningkat pada jenjang pacaran, pegangan tangan, boncengan, pelukan, dan pada akhirnya Maira hamil di luar nikah dan terpaksa mereka di nikahkan.
__ADS_1
So ... selamanya, akan selalu ku ingat nasihat Abah, selama keadaannya tidak darurat, aku berusaha untuk tidak dengan sengaja melakukan skin dengan lawan jenis, meski tidak bisa aku pungkiri, aku perempuan normal, yang memiliki perasaan yang menjurus ke arah sana.
Tapi, setiap kali ada kesempatan, aku selalu ingat pesan Abah, ‘Neng, Kami bukan orang kaya, kami bukan orang yang memiliki keimanan tingkat tinggi, kami juga bukan orang berpendidikan, Abah mohon bantu Abah, jaga diri kamu baik-baik, karena selangkah saja kamu melakukan kesalahan, maka selangkah pula Abah berjalan menuju neraka’ itu bahasa Abah yang selalu aku ingat, dan sampai kapanpun akan selalu aku ingat.
“Saya bisa sendiri Pak” tolakku lembut, dan jelas saja Pak Raga sudah memahami semua itu, Pak Raga tersenyum, membiarkan aku berjalan sendiri, selama aku di kira mampu melakukannya.
“Jangan lupa, besok saya jemput kamu, pakailah ini, agar sakit di kaki kamu cepat sembuh” Pak Raga menyodorkan salep yang tadi sempat di oleskan di kakiku. Aku menerimanya.
“Saya pulang dulu ya Cinta” Pak Raga berpamitan, memasuki mobilnya setelah aku mengangguk.
Aku menatap mobil yang membawa Pak Raga pergi, dan aku masih betah menatapnya hingga mobil itu hilang ditelan jalanan.
“Cieeee ... ciiiieeee ... ciiieeeee ...” aku mengerjap, lalu melirik ke sebelah kiri tubuhku, terlihat Siti dengan rambut di kepang duanya telah berdiri di sampingku dengan tangan bersedekap di dada.
“Ini gimana e, kok Om-Om manise, buah jatuh cinta terngiang-ngiange, aku jadi gimana-gimana gitu ya Om, aku masih kecil suka sama yang Om-Om”
Aku mendelik, kala Siti menyindirku dengan menirukan lagu yang tengah viral, dia tertawa jenaka menggodaku, lalu secepatnya berlari menuju rumah setelah mendapatkan tatapan tajam dariku.
“Aku?? Suka sama Om-Om??? Yah ... mau gimana lagi?? Om-Om nya yang ngejar-ngejar aku” aku mengedikkan kedua bahuku, lalu beranjak memasuki rumah mengikuti Siti.
__ADS_1