
“Hilih ... ini kalau di jadikan judul film pasti judulnya gini ‘Sahabatku Ibu Tiriku’” aku mengedikan bibirku tidak suka, sementara Pak Raga hanya tersenyum tipis.
“Atau judulnya ‘Mantan pacarku ternyata Ibu tiriku’” lagi-lagi aku mencibir, dan dibalas dengan gelakan oleh Pak Raga.
“Atau ‘Mantan pacar kekasihku ternyata mertuaku’” lagi-lagi mulutku tidak bisa di rem, aku kenapa sih?? Semenjak mendengar bunyi kreteeekkk ... kkrreetteekkk ... dari dalam dadaku, aku jadi mulai nyerocos kesana-kemari.
“Kan sudah saya jelaskan, Bella itu adik kelas saya dulu waktu saya kuliah, ya meski dia pernah mengejar-ngejar saya, pernah ngirim surat cinta buat saya, pernah nyatain cinta di tengah lapangan, pernah ...”
“Pernah apalagi??” aku menatap Pak Raga yang tengah berkelana di masa lalunya, seketika Pak Raga menghentikan ucapannya, menutup mulutnya, lalu memukul-mukulnya perlahan.
“Hehe ... udah gitu aja” Pak Raga kembali cengengesan.
“Kenapa ribut-ribut??” suara berat itu berasal dari belakang kami, secara kompak kami menoleh, ternyata Pak Raden sudah berdiri di belakang kami sedari tadi, setelah kepergian Dokter yang memeriksanya.
Dengan didampingi istrinya, yang tengah membantunya berjalan, Pak Raden berjalan sempoyongan sambil memegang pinggangnya, mendekati kami, lalu duduk di sebuah sofa yang menghadap kami, sementara Bella, duduk di lengan sofa, sambil memijat lengan Pak Raden.
Aku segera memalingkan wajahku tidak suka, saat melihat Bella menyilangkan kakinya, lalu menatap Raga dengan tatapan genitnya.
“Ekkhheemmm!!!” Pak Raden membuka suara, membuat kami bertiga mengerjap kaget.
“Kenapa kita tidak makan siang bersama??” tanya Pak Raden, menatap istri mudanya, seolah memberi perintah untuk menyiapkan makanan untuk kami. Dengan hati riang, aku menatap kepergian Bella yang beranjak meninggalkan kami, menuju ruang makan.
Obrolan singkat terjadi antara anak dan Ayah tersebut, sementara aku hanya diam mematung memperhatikan mereka, aku sudah layaknya patung liberty di sini, berasa tidak dianggap, karena mereka sangat asyik dengan pembahasan mereka, aku tidak berani menimpali, karena aku juga takut mengganggu obrolan mereka.
Hingga tidak lama berselang, Bella kembali datang untuk mempersilahkan kami makan, sebetulnya perut laparku yang dari tadi sudah meronta-ronta seketika langsung menghilang, saat mendengar bahwa Bella adalah fans Pak Raga ketika kuliah dulu. Duuuhhh ... sebenarnya hatiku kenapa sih??.
“Jadi sejak kapan kalian menjalin kedekatan??” terdengar Pak Raden bertanya di antara kegiatan makan kami, sambil melirikku, lalu kembali fokus pada piring di hadapannya.
“Sejak Cinta sekolah Pah” jawab Pak Raga, sambil tetap mengunyah. Sementara aku, hanya terus memainkan makananku, rasanya aku sangat terintimidasi oleh kegiatan ini, rasanya ingin segera pulang saja.
“Cinta?? Bukankah namanya Andin??” tanyanya mengerutkan keningnya dalam.
“Haha ... itu panggilan kesayanganku” jawab Pak Raga tanpa malu, tanpa mereka sadari aku memeletkan lidahku pada Bella yang duduk tepat di hadapanku, dari tadi Bella terus menatapku, dan aku membalas tajam tatapannya, hingga terjadilah peperangan di antara aku dan Bella lewat tatapan.
Sudah jadi istri orang kok masih celamitan sama Pak Raga, gak ada akhlak si Bella. Lihat aja, kalau Bella berani macam-macam, melakukan hal seperti di film-film, maka bisa dipastikan! Bella akan menerima akibatnya, aku akan melaporkan Bella sebagai pelakor, pada seluruh Ibu-Ibu di Desa Suka Kaya, aku jamin Bella pulang pasti tinggal nama, Bella tidak tahu saja, kalau pelakor itu musuhnya Ibu-Ibu se Indonesia.
__ADS_1
“Kekanakan!” gumam Pak Raden seolah tidak suka.
“Pah, hal seperti itu saja kenapa harus dipermasalahkan sih??” Pak Raga seolah sedang menenangkan hatiku.
Aku menunduk, tanpa mereka sadari, kini kaki Bella sudah menendang kakiku, aku membelalakan mataku, berani juga Bella, apa dia tidak tahu siapa Andin Andini??. Walaupun begitu, tapi wajah Bella terlihat tenang, tangannya masih asik memainkan sendoknya.
“Lalu kapan??” suara Pak Raden terdengar lantang di telingaku, kapan?? Kapan apa?? Aku tidak fokus, karena fokusku adalah membidikkan kakiku, agar tepat sasaran untuk membalas Bella.
“Kapan apa Pah??” terdengar Pak Raga yang bertanya.
“Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian??”
Trang ...
Seketika sendok yang dipegang Bella jatuh, beradu dengan piring, fokus kami kini pada Bella yang tengah mengucapkan maaf berulang kali, kami kembali fokus pada obrolan tepatnya Pak Raga dan Pak Raden yang fokus, sementara fokusku kembali pada kaki Bella.
“Menikah Pah?? Papah setuju dengan hubungan Raga dan Andin??” Pak Raga terdengar antusias,
Sementara di bawah sana, kakiku sudah bersiap meluncur, dan ...
“Aduh!!” terdengar Bella mengaduh sambil menggigit bibir bagian bawahnya, seperti menahan sakit, kujulurkan lidahku untuk meledeknya, jelas saja tendanganku akan lebih menyakitkan baginya, Andin gitu loh.
“Kamu kenapa??” Pak Raden bertanya,
“Gak apa-apa honey, bibirku tergigit” ucapnya manja.
Seketika aku memutar kedua bola mataku, malas, dengan perempuan seperti Bella, apalagi aku mencium bau-bau busuk dari hati si Bella. Malesin.
“Hati-hati” hanya itu ucapan Pak Raden, lalu obrolan kembali berlanjut.
“Kalau kamu sudah mengejarnya dari zaman dia sekolah dulu, lalu Papah bisa apa selain merestui hubungan kalian??”
Seketika aku membelalak, akhirnyaaaa ... restu itu bisa digapai dengan begitu mudahnya, sekarang aku percaya, kalau adegan di film-film itu pasti mengambil kisah dari kehidupan nyata, namun di bumbui fiksi yang hakiki, hingga terasa menyeramkan, namun sesungguhnya, tidak semenyeramkan itu kok, aku dapat restu dari Pak Raden?? Hahaha (Ketawa jahat).
“Kamu! Cinta!”
__ADS_1
Seketika fokusku kembali pada Pak Raden, meninggalkan kaki jahat Bella di bawah sana yang masih meronta, berusaha menendang kakiku kembali.
“Saya harap, kamu bisa menjadi pendamping yang baik untuk putra pertamaku Raga, jadi pendamping seorang pengusaha itu harus kuat, harus handal dan harus bisa diandalkan dalam segala hal” ucapnya lantang.
Aku menunduk “Baik Pak” ucapku.
“Terimakasih banyak sudah merestui hubungan kami, terimakasih banyak sudah menerima saya, meskipun saya hanya gadis desa, yang tidak memiliki banyak harta” lanjutku kemudian, teringat kata-kata Pak Raden tempo hari.
“Selama kamu bisa membuat putraku bahagia, maka aku juga akan bahagia” ucapnya.
Jedug!
“AWWW!!” aku merintih menahan sakit, kala kurasakan kakiku tengah di tendang Bella cukup kuat, rupanya rubah betina itu telah menyerangku di saat aku fokus menjawab pertanyaan Pak Raden.
“Cinta?? Kamu kenapa??” Pak Raga panik, dan Pak Raden menatapku aneh, sementara Bella sudah memeletkan lidahnya meledekku. Awas kamu Bella!!.
“Gak apa-apa, kaki saya kram” ucapku berdalih, amarahku membuncah pada perempuan licik di hadapanku ini, perempuan yang akan menjadi mertuaku setelah aku menikah dengan Pak Raga.
“Papah harap, pernikahan kamu bisa secepatnya dilaksanakan”
Aku tidak menanggapi ucapan Pak Raden, fokusku kembali pada Bella, dengan tenaga penuh aku menyiapkan kakiku untuk segera membalas perlakuan Bella.
“Kalau Raga sih gimana Andin saja”
Pak Raga dan Pak Raden menatapku yang tidak fokus pada obrolan.
Aku tersenyum menyeringai, menatap Bella yang menunduk tengah pura-pura memainkan sendoknya.
“Cinta, bagaimana??”
“Mampus!!!”
Bbrruuukkkk!!
“AAAAAAAAHHHH!!!!”
__ADS_1