BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Ke Ruanganmu


__ADS_3

Berbeda dari hari biasanya, siang ini di gedung kantor yang ditempati Andin, tepatnya di kantin telah terjadi kericuhan, segala bisik-bisik absurd terdengar di mana-mana, tidak ada yang bisa makan dengan tenang, kala orang yang selama ini mereka segani, tengah duduk di salah satu kursi kantin, menyantap makan siang sederhananya.


Raga duduk di sebuah kursi, di salah satu sudut kantin, sementara itu, meja yang berada di samping kiri, kanan, depan juga belakangnya telah di kosongkan, alasannya karena para karyawan di cabang kecil itu, ingin memberikan yang terbaik untuk Raga, sang Direktur yang jarang langka datang ke kantor mereka, bangku dikosongkan bukan karena mereka tidak butuh tempat duduk, apalagi ini jam makan siang, tapi karena mereka segan pada Direktur perusahaan yang berwajah datar. Raga makan siang ditemani beberapa staff kantor, yang sedari tadi tidak hanya fokus makan, tapi juga sibuk menjilat.


“Din! Aku gak salah lihat kan Din??” Siti menggisik matanya berulang kali, memastikan apa yang dia lihat adalah kenyataan. Wajah khasnya berubah menjadi cengo. Air liurnya seperti akan menetes, seketika bayangan pertemuan mereka dengan Raga dulu kala kembali terulang.


“Itu Pak Raga kan Din?? Kenapa kamu gak bilang, kalau kamu satu kantor sama Pak Raga??” Siti mengguncang lengan Andin berulang kali.


“Aku juga baru tahu sekarang, kalau Pak Raga itu sebetulnya boss besarku” ucap Andin acuh tak acuh, sementara itu, hatinya bergetar hebat, masa lalunya adalah hal yang sangat ingin di hindarinya, tapi takdir berkata lain, hari ini, mereka kembali dipertemukan.


“Pak Raga tambah kasep aja ya, ya amppuuunnn ... emeessshhh ...” Siti bergidik, lalu terkikik sendiri. Tangannya mencubiti tangan yang lainnya saking gemasnya.


“Bucin teruuuuussss!!” Andin memutar kedua bola matanya.


“Pak Raga lirik kamu terus Din!” Siti kembali memukul-mukul lengan Andin, dengan sangat antusias.


“Pak Raga itu, sudah punya istri Siti! Jadi jangan macam-macam, kamu mau dicap sebagai pelakor??” ucap Andin ketus.


“Ah? Masa??” Siti mendelik tidak suka.


“Iya, menurut gosip yang beredar sih seperti itu” Andin masih tetap menyuapkan makanannya. Mengedikan kedua bahunya acuh.


“Masa sih?? Ah baru juga gosip kan?? Belum tentu juga kebenarannya seperti itu. Tapi ... kamu lihat deh Din, Pak Raga makin bertambah usianya, makin ganteng aja ya? Kalau kayak gini caranya, Pak Raga itu, tidak jauh seperti para CEO yang ada di novel-novel online yang sering aku baca Din” ucap Siti, menopang wajahnya, dengan kedua tangannya. Menerawang jauh entah kemana.


“Kamu terlalu banyak ngehalu Siti! Pak Raga itu, bukan hanya CEO, tapi dia juga pemilik perusahaan yang dikelolanya saat ini, perusahaan ini, gedung ini, kantin ini, termasuk kursi yang kamu duduki juga milik Pak Raga” Andin menunjuk kursi yang diduduki Siti.


“A apaaaaaa??!!! Berarti Pak Raga itu orang kaya raya banget atuh Din, kamu beruntung banget tau gak??” Siti mengerucutkan bibirnya.


“Beruntung?? Kenapa aku beruntung??” tanya Andin mengerutkan keningnya,


“Eh? Si Udin, pura-pura gak paham lagi, ya kan Pak Raga suka sama kamu dari dulu” Siti menoyor bahu Andin, gemas sendiri melihat tingkah sahabatnya.

__ADS_1


“Suka?? Kamu gak paham juga Siti?? Aku udah jelasin kan?? Seperti apa posisi Pak Raga di kantor ini?? Itu artinya, secara tidak langsung, aku ngasih tahu kamu Siti, kalau kehidupan aku dan Pak Raga itu, ibarat langit dan bumi, ibarat suara rakyat dan mik nya si nganu” celoteh Andin, kembali menjelaskan.


“Jodoh siapa yang tahu Din, di novel-novel yang aku baca kebanyakan kayak gitu kok, gadis biasa bertemu dengan pria kaya,” Siti masih kukuh.


“Kamu tuh ya, kebanyakan baca cerita fiksi, sampai lupa sama dunia nyata, di dunia nyata jarang ada orang kayak gitu” Andin melengos, memalingkan wajahnya.


“Jarang? Bukan berarti musnahkan Din??” Siti menelisik wajah sahabatnya lekat.


“Ikut aku, kejar mimpimu, atau ... kejar dia, dan selamanya tinggallah dalam masa lalu”


Siti menjulurkan tangannya, sambil memperagakan ucapan Raga beberapa tahun silam


“Aiiihhh ... kata-kata itu, selalu terngiang di telingaku Din” ucap Siti kemudian.


“Siti!!! Berhenti mengenang masa lalu buruk itu!!” bentak Andin membuat Siti terjingkat kaget.


“Para gadis?? Boleh saya duduk di sini??” tiba-tiba seorang pria menggeser kursi di hadapan Andin, lalu mendaratkan bokongnya di sana.


Seketika tubuh Andin membeku, gerakannya melambat, gadis itu, seketika menyimpan sendok yang sedari tadi di pegangnya, hanya untuk mengaduk makanannya, berbeda dengan Siti, gadis itu langsung merespon dengan cepat.


“Oh, Titi!! Apa kabar??” Raga mengulurkan tangannya pada Siti.


“Baik Pak, Bapak kemana aja??” tanya Siti menatap Raga, dengan melengkungkan bibirnya.


“Saya ada saja” Raga menatap Andin lekat.


“Cinta apa kabar??” kini Raga bertanya pada Andin, gadis di hadapannya, yang sedari tadi hanya menundukan kepalanya, tatapannya tertahan pada piring makanan yang ada di hadapannya.


“Baik” Andin mengangguk.


“Pak, katanya Bapak sudah menikah ya?? Kenapa gak undang kita??” Siti yang selalu spontan langsung bertanya pada Raga.

__ADS_1


“SITI!!” bentak Andin merasa tidak enak.


“Hah??” itu respon dari Raga.


“Bapak nikah sama siapa?? Sama Susan ya?? Atau sama siapa??” tanya Siti beruntun.


“Kapan saya menikah??” tanya Raga mengerutkan keningnya dalam.


Andin semakin menundukan kepalanya, sekuat apapun gadis itu menghindar, tetap saja dia tidak mampu menghindari tatapan lembut dari Raga.


“Loh?? Bukannya ...”


“Kakak!!! Maaf aku terlambat datang untuk menyambutmu!” tiba-tiba Ronald datang dengan napas terengah, rambutnya berantakan, dan jas yang digunakannya juga sudah lecek, sementara itu, dasinya sudah melonggar.


Andin tersenyum tipis, merasa ingin tertawa melihat tingkah Ronald, pria yang beberapa hari sudah bersikap jutek padanya, ternyata ketika di hadapan Kakaknya, nyalinya langsung menciut.


“Jangan panggil aku Kakak ketika di kantor” ucap Raga dingin.


“Ah ... maaf” Ronald menundukan kepalanya, lalu meremas jemarinya, nyalinya menciut, ketika harus berhadapan dengan Kakak tiri sang pemilik saham terbesar di perusahaannya.


“Ayo, aku ingin berkunjung ke ruanganmu, dan memeriksa pekerjaanmu” Raga berdiri, lalu menggeser kursi yang telah didudukinya.


“Hah??? Ba ba baikkk” Ronald mengangguk, lalu menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Raga berjalan.


“Oh iya, ini untukmu” Raga menyodorkan seikat bunga cantik berwarna putih, tepat di hadapan Andin.


Siti melongo, sambil menutup mulutnya, begitupun dengan Ronald dan beberapa karyawan lain, yang melihat mereka sejak tadi, seketika bisik-bisik tetangga langsung terdengar kembali. Membuat Raga langsung menyadari jika tindakannya terlalu spontan.


“Tolong, simpan di vas bunga di ruangan saya”


“Oh ...”

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa, tinggalkan jejaknya ya readers ...


__ADS_2