
“Iya, eh Din, Din! Siapa itu?? Kayak kenal??” Siti menunjuk orang yang berada di pinggir jalan tengah berkacak pinggang, sementara di hadapannya ada beberapa orang pria, dengan pongahnya pria tersebut berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk pria tua di hadapannya.
“Siapa?? Ceu Odah bukan??” aku memicingkan mata, melihat orang yang membelakangi kami, dengan menggunakan baju kemeja berbunga, dengan syal warna pink di lehernya.
“Ish ... bukan atuh Din, kalo Ceu Odah pasti pakai daster, itu pakai celana biasa” Siti masih memperhatikan pria tersebut.
Ku hentikan laju mobilku, kala tepat melewati tubuh mereka.
“Kalau kerja itu yang bener dong! Lihat! Lihat! Gabah berceceran di mana-mana!!” teriaknya dengan gaya melambai, aku sedikit tergelak, ku turunkan kaca jendela mobilku untuk menyapa mereka, lalu ku lepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi menempel di bagian wajahku.
“Hay! Aa Nassar!!” Siti meninggikan suaranya, membuat pria itu menoleh ke arah kami, dengan dahi mengkerut, pria itu menatap kami silih berganti.
“Haha ... pangling yaaa??” Siti tertawa mengejek.
“Saha maneh?? Gatau ya?? Saya ini orang paling kaya di se-Desa Suka Kaya??” ucapnya arrogant.
“Haha ... masa lupa sama incess sih?? Ini Titi, dan ini Andin” Siti menunjuk ke arahku, lalu mengedipkan matanya, bau-baunya udah gak enak nih, jangan sampai Siti jailin Nassar, padahal kami baru saja tiba di Desa.
“Titi?? Titi saha??” Nassar masih mengingat-ingat, tapi matanya mengedip-ngedip ke arahku.
__ADS_1
“Kalau Neng Andin saya ingat atuh” Nassar memutar tubuhnya mendekati aku yang masih duduk di belakang kemudi.
“Kenapa matanya ngedip-ngedip?? Jangan-jangan kamu kelilipan ya??” Siti mengejek sinis.
“Neng Andin masih cinta sejati saya, dari dulu, sekarang, bahkan sampai di masa depan” ucapnya sambil mengibaskan syal yang tengah digunakannya.
“Haha ... cinta sejati, sekarang anak A Nassar sudah berapa??” tanya Siti, membuatku menahan tawa.
“Sudah empat Siti” ucapnya sarkatis.
“Empat?? Haha ... banyak juga ya?? Ngomong-ngomong anak empat itu dari cinta apa?? Cinta monyet? Cinta singa? Atau cinta kucing??” Siti nyerocos layaknya petasan di hajatan mantan. Eh?.
“Sudah, jangan berteman lagi, A Nassar, boleh minta tolong gak??” tanyaku menatapnya penuh harap, aksi untuk menjahili Nassar di mulai, hihi. Maafkeun ya A Nassar.
“Oh, kalau buat Neng Andin boleh atuh” Nassar sudah bersiap.
“Aku haus, boleh minta tolong ambilkan air?? Tapi airnya mau dari sungai yang jernih itu” aku menunjuk sungai yang terletak lumayan jauh dari jalanan yang biasa dilewati mobil.
“Hah?? Kenapa harus dari sungai?? Kan dari warung bisa” Nassar mengusap tengkuknya berulang kali.
__ADS_1
“Aku kangen sama air sungai” ucapku meyakinkan.
“Ooohhh, kalau Neng Andin yang minta boleh atuh, tapi Neng Andin tunggu Aa di sini yah, jangan kemana-mana” ucapnya melambai.
“Oke” aku mengangguk, sementara Siti sudah tergelak.
“A Nassar awas jatuh!! Perut sama kaki, kalau jalan duluan perut, haha” Siti terus mengoceh kala Nassar mulai melewati pesawahan untuk bisa tiba di sungai yang aku maksud, sementara para pekerja paruh baya yang dari tadi tengah di marahi Nassar langsung berebut menghampiriku, mengajak bersalaman, saling bertukar kabar, di antara mereka aku masih mengingatnya, meskipun mereka banyak yang pangling saat melihatku sebelum aku jelaskan.
“Yuk Din” Siti menginstruksikan untuk kembali melajukan mobil, aku mengangguk.
“A Nassar, kelamaan! Airnya lain kali aja yaaaa!!!” teriak Siti kala melihat Nassar tengah berusaha berjalan ke arah kami, dengan tubuh belepotan lumpur, karena tadi dia sempat jatuh ke pinggiran sawah.
“Heh! Neng Andiiiinnn tungguuuiiinnn Aaaaaaa!!” Nassar berusaha berlari mengejar kami, tapi nahas, dia kembali terpeleset dan masuk ke dalam lumpur.
Aku dan Siti tergelak, kalau pulang kampung ya begini, jiwa bar-barku kembali muncul, jiwa jahilku kembali menghampiri, duh ... maaf ya Aa Nassar.
Mobil kembali melaju, hingga pada akhirnya kami tiba di depan rumah yang selama bertahun-tahun aku tinggalkan, rumah sederhana yang menjadi saksi bisu kala aku di besarkan, dan tumbuh menjadi remaja, ada kerinduan yang membuncah di dalam dadaku, tanpa basa-basi aku langsung turun dari dalam mobil, membuka pagar, lalu menatap nanar pada pria paruh baya yang sedang memandikan si Jago, Ayam kesayangannya.
“Assalamu’alaikum ... Abah”
__ADS_1