
Hari berlalu, sudah beberapa hari ini Andin kehilangan semangatnya, karena merasa kehilangan sahabatnya sedari kecil yaitu Dino, kebersamaan Dino dengan Humaira, membuat dia melupakan Andin dan Siti. Andin yang dari kecil tak pernah merasa berjauhan dengan Dino, tentu saja merasa sangat kehilangan sosok Dino, yang selalu menemani hari-harinya.
Semenjak beberapa hari yang lalu, Andin terlihat seperti kehilangan semangatnya untuk hidup, gadis ceria itu kini dia lebih senang mengurung dirinya di kamar, sambil menatap jendela kamar Dino yang berada tepat di seberang kamarnya.
Di sekolah pun demikian, Andin terlihat menjadi lebih pendiam, apalagi kala dia melihat Dino setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bersamaan dengan Humaira.
Jika hari minggu tiba, maka seharian dia akan lebih senang mengunci diri di kamarnya, tiduran, makan, shalat, berak, lalu tiduran lagi. Hal itu tentu saja membuat kedua orangtuanya merasa khawatir, bahkan beberapa kali untuk pertama kalinya gadis itu melewatkan jadwal latihan pencak silatnya, padahal acara pertandingan tinggal beberapa hari lagi.
Yang Abah dan Ambu khawatirkan, tentu saja bukan karena pertandingannya, tapi mereka sangat takut telah terjadi sesuatu pada putri kesayangan mereka.
Pagi menjelang, mentari sudah hampir sepenggalah naik, tapi jendela kamar Andin masih tertutup rapat oleh gorden, Andin masih tertidur di atas kasur kesayangannya sambil menutup kepalanya dengan bantal.
“Andin!!” teriakan cempreng dari seorang perempuan yang telah mencuri kue coklatnya beberapa hari yang lalu.
Sssrrreeeekkk!!!
Dia membuka gorden yang menutupi jendela kamar Andin, sinar matahari yang sudah panas masuk kedalam ruangan kamar, membuat Andin yang tengah tertidur merasa terganggu dan segera membuka matanya.
“Siti??!! Cicing!! Berisik!” Andin melempar bantal bulu-bulu dengan gambar foto Abah dan Ambu tepat di wajah Siti.
“Kamu teh kenapa Andin??! Kamu jadi berubah! Ayo bangun! Sini ngomong sama aku! Kamu kenapa sebenernya?? Gak mungkin ‘kan kamu jadi kayak orang mati gini kalau Cuma karena Dino udah jadian sama Maira??!” teriak Siti gemas melihat tingkah sahabatnya akhir-akhir ini.
“Apa??? Dino udah jadian sama Maira?? Kenapa aku gak tahu??” Andin langsung terperanjat kaget, dia duduk bersila di atas kasurnya dengan rambutnya yang acak-acakan.
__ADS_1
“Nah, nah, nah ... ketahuan kamu! Kamu suka sama Dino kan??” Siti membentikkan jari telunjuknya, tepat di wajah bantal Andin. Merasa telah berhasil menjebak Andin dengan kata-katanya, sementara Andin menunduk bingung.
“Nggak Siti!” tentu saja Andin berkelit, memilih untuk menyembunyikan rasa yang dia miliki untuk sahabat lelakinya dari sahabat perempuannya.
“Bohong kamu!” Siti masih menunjuk-nunjuk wajah sahabatnya itu dengan jari telunjuknya.
“Beneran! Ya suka mah pasti, dia kan sahabatku, sama seperti kamu Siti!” Andin memalingkan wajahnya yang sudah bersemu, entah kenapa dadanya berdebar kala Siti menatapnya dengan penuh intimidasi.
“Suka?? Suka sebagai sahabat? Atau suka sebagai lelaki Din?? Ayo jawab! Kita selesaikan masalah kamu! Biar kamu gak kayak mayat hidup kayak gini” Siti duduk di samping ranjang Andin, melipat kedua tangannya di dada, bersiap untuk mendengarkan pengakuan Andin.
“Dino sahabat kita Siti, bagaimana mungkin aku suka sebagai pria sama dia, kamu inget gak?? Dulu kita suka mandi bareng di sungai? Kita suka nyolongin rambutan milik haji Sobri, kita juga suka makan es doger di bulan puasa bareng-bareng sambil ngumpet, jadi bagaimana mungkin aku suka sama Dino sebagai pria??” Andin memelankan suaranya, menunduk dengan air mata yang sudah menggenang, hatinya tidak tenang kala mengatakan semuanya pada Siti.
“Din, dengar! Mungkin saat ini, kamu belum bisa menyimpulkan perasaan kamu sendiri, karena kita sudah terlalu lama bersama, jadi kamu gak bisa bedain, mana rasa suka sebagai sahabat, dan mana rasa suka sebagai laki-laki. Tapi, inget satu hal, kalau kamu gak suka sama Dino, maka sikap kamu bakalan sama kayak sikap aku ke Dino sekarang, kamu bakalan biasa aja, gak akan terlihat frustasi sekarang Din!” ucap Siti panjang lebar.
“Aku bingung Siti!” Andin mulai meneteskan air matanya, rupanya gadis yang kuat dalam adu jotosnya itu, ternyata dia lemah jika dalam urusan perasaan.
“Kamu sadar gak?? Udah berapa kali kamu mangkir latihan pencak silat?? Padahal beberapa hari lagi kamu tanding, kamu gak lihat? Ambu udah bikin camilan berkarung-karung buat bekal kamu??” Siti semakin berkoar, mengingatkan sahabatnya dengan perasaan gemas.
“Aku gak tahu harus apa? Aku udah berusaha bersikap baik, biar Dino gak jauhin kita lagi, tapi Dino tetep aja jalan sama Maira, bahkan sekarang mereka udah jadian, dan aku gak tahu apapun, Dino udah gak nganggep aku sebagai sahabatnya lagi, hiks ...” Andin mulai sesenggukan. Menangis untuk meluapkan perasaannya sendiri.
“Din, kadang tidak semua kebaikan yang kita lakukan bisa diterima orang lain, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik juga buat orang lain, kamu masih inget gak?? Pepatah haji Sobri waktu pengajian bulan lalu?? Baik bagimu, belum tentu baik bagiku, baik bagiku belum tentu baik bagimu, jadi, sebanyak apapun kebaikan yang kamu lakukan, belum tentu bisa diterima dengan baik juga sama Dino” ucap Siti semakin panjang lebar, dengan menirukan gaya bicara haji Sobri.
“Aku cuman ngerasa kehilangan aja Siti, biasanya kita selalu datengin tempat favorit kita bareng-bareng, tapi sekarang Dino seolah memberi jarak pada kita” Andin masih sesenggukan.
__ADS_1
“Udah deh, kalau jodoh gak akan kemana” Siti mengelus bahu Andin dengan sayang.
“Jodoh?? Kita itu sahabatan Siti” Andin masih enggan menerima kenyataan perasaannya.
“Ck! Kamu fikir, jodoh itu hanya tentang pasangan?? Kata Bapakku, aku sama kamu aja jodoh, baju yang kita pakai ini juga jodoh, sandal, daleman yang kamu pakai juga jodoh” Siti menoyor-noyor dada Andin, membuat Andin membelalakan matanya.
“Siti! Kamu gak sopan banget sih!” Andin menutupi kedua buah dadanya dengan kedua tangannya, sementara Siti hanya tergelak.
“Sekarang ayo mandi! Anak gadis kok bau banget, pantesan aja Dino gak pernah tertarik sama kamu, kamu bau gitu!” Siti menutup hidungnya, sambil melempar handuk yang ada di gantungan pada wajah Andin.
“Malas ah ...” Andin malah menaikan selimutnya.
“Eh?? Kamu mau gak? Aku bantuin buat deket sama Dino lagi??” Siti menaik turunkan alisnya, menggoda Andin yang tengah menatapnya penuh harap.
“Mau atuuhhh” Andin ikut menaik turunkan alisnya.
“Hayyyuuu atuh” Siti menarik tubuh Andin, lalu menyeretnya, mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.
Andin langsung beranjak ke kamar mandi dengan penuh semangat setelah di dorong Siti, untuk melakukan ritualnya.
“Jangan lupa! Luluran kunyit sama beras putihnya pake! Biar kamu terlihat lebih kinclong!” teriak Siti sambil tiduran di kasur Andin, meraih sekotak coklat dari atas nakas, lalu memakannya. Menyalakan tv dan menonton sambil ongkang-ongkang kaki layaknya permaisuri.
“Iyaaaaa!!” terdengar teriakan jawaban Andin yang tengah kedinginan, karena diguyur air.
__ADS_1
Bersambung .......
Hayoooo di sini siapa yang pernah suka sama sahabatnya sendiri??? Hheee ...