BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Mafia


__ADS_3

Semenjak kejadian baku hantamnya Andin dengan orang yang menyerang Ronald, dan Raga mengantarkan Andin ke rumahnya, kini hubungan antara Andin dan Raga menjadi semakin dekat, entah siapa yang memulai semuanya, tapi yang jelas kini mereka sudah mulai semakin dekat. Dekat di sini, bukan dekat layaknya pasangan, hanya saja, kini Andin sudah tidak menolak lagi ketika Raga mengajaknya makan siang bersama. Sepertinya obrolan mereka malam itu membuahkan hasil, setidaknya mampu mengubah kerasnya hati Andin. Benar bukan?? Jika komunikasi bisa membuat sudut pandang seseorang menjadi berubah. Itu sebabnya ketika kamu punya masalah coba berkomunikasilah.


Seperti siang ini, di jam istirahatnya, Raga mengajak Andin untuk menikmati makan siangnya di sebuah taman yang tidak jauh dari kantornya. Bukan Raga tidak mampu mengajak Andin untuk makan siang di restoran mahal, hanya saja Raga tahu betul, jika Andin bukan perempuan yang gila akan hal-hal seperti itu, Andin tetaplah Andin, perempuan dari Desa Suka Kaya, yang sederhana, meski penampilannya jauh sudah berubah, namun hati dan wataknya masih tetap sama.


“Pesanan Bapak, satu buah black coffee tanpa gula, dan ini punya saya orange juice” ucap Andin sambil tersenyum, meletakan dua buah minuman di antara mereka.


“Awwww ... panas!” Raga meraih gelas black coffee nya, lalu mengusap-usapnya perlahan, tersenyum menatap Andin yang tengah mulai meminum minumannya.


“Cantik ...” gumamnya perlahan.


“Iya Pak??” Andin menatap Raga, merasa mendengar sesuatu tapi tidak jelas.


“Ah, ini koffee nya manis” ucap Raga kikuk, sambil mengangkat gelas coffee nya.


“Manis?? Kan gak pake gula Pak, kenapa manis??” Andin mengerutkan keningnya dalam.


“Apa pesanannya salah??” Andin bergumam sambil mengingat-ingat.


“Coffee tanpa gula ini jadi manis, kalau saya lihat wajah kamu” Raga tergelak.


Blush ...


Wajah Andin seketika merona, hanya mendengar gombalan receh dari Raga.


“Bapak bisa aja” Andin menunduk malu, meremas gelas minumannya.


“Cinta, mulai sekarang bisa jangan panggil saya Bapak?? Kesannya saya seperti sudah tua” ucap Raga, melirik Andin yang masih menunduk.


“Emmmhhh ... Bapak kan guru saya, Bapak juga atasan saya sekarang, gak enak kalau manggil Bapak selain dari itu” ucap Andin, menggoyangkan kakinya berulang kali, tanda jika gadis itu tengah grogi.


“Kamu masih menganggap saya seperti itu?” tanya Raga merasa tak percaya, setelah semua yang dia lakukan, ternyata tanggapan Andin masihlah tetap sama, meski kini perubahan sikapnya sungguh ketara. Ternyata, untuk meluluhkan hati gadis ini, sungguh sulit.


“Eemmhh ... maksud Bapak apa?? Kenyataannya seperti itu bukan???” kini Andin mendongakan wajahnya, memberanikan diri menatap Raga.


“Cinta, saya itu ...”


Ddrrrttt ... ddrrttt ... ddrrttt ...


Ucapan Raga menggantung, kala di pendengarannya menangkap bunyi ponsel miliknya.


“Hallo ...”


“....”

__ADS_1


“Iya ...”


“.....”


“Hhhhhmmhh ...”


“.....”


“Baiklah, saya kesana sekarang”


Klik ...


Raga menutup ponselnya, menatap Andin dengan tatapan gemas, juga jengkel.


“Saya harus ke kantor sekarang, ada client dari pusat yang menunggu” ucap Raga sambil berdiri, meninggalkan gelas coffee nya lalu berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Andin yang tengah mengerucutkan bibirnya.


“Pak Raga kenapa sih??” gumam Andin sambil berlalu mengikuti langkah Raga.


Andin kembali ke kantornya, berjalan menuju lobby, untuk menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga, tempat ruangannya berada. Tapi, perhatiannya teralihkan saat netranya menangkap sosok tubuh yang kemarin sempat membuatnya hampir terluka. Andin berjalan mendekati pria yang juga tengah menunggu pintu lift terbuka.


“Pak Ronald!” sapa Andin sambil menepuk punggungnya.


“Gadis mafia!! Huaaaa!!” dengan langkah seribu, Ronald langsung lari terbirit-birit menuju sebuah lorong.


Ronald berlari menuju tangga darurat, dan Andin masih mengejarnya dengan semangat.


“Pak Ronald! Tunggu! Ada yang mau saya sampaikan!” Andin berteriak, tapi Ronald masih tetap berlari melewati satu persatu tangga darurat yang ada di hadapannya, langkahnya semakin melebar.


Bbrruuukkk!!


Tidak bisa menjaga keseimbangan, Ronald akhirnya tersungkur di tangga terakhir. Andin mengerem tubuhnya sendiri, menatap Ronald dengan tatapan iba.


“Huaaaa!! Sakit!!” Ronald memaksakan diri untuk bangkit, sambil memegang lututnya yang terbentur lantai.


“Pak Ronald gak apa-apa??” tanya Andin sambil memeriksa tubuh Ronald.


“AAAHHH!! Jangan dekat-dekat!! Oke! Aku minta maaf! Aku yang salah!” Ronald berteriak, sambil menutupi wajahnya dengan tangannya.


“Loh?? Siapa yang mau menyerang Pak Ronald sih?? Saya hanya mau bilang, Pak Ronald di tunggu pihak kepolisian, sebagai saksi atas kejadian kemarin Pak, saya dan Pak Raga sudah menyelesaikan bagian kami, sekarang giliran Pak Ronald yang harus mendatangi kantor polisi” jelas Andin sambil tersenyum. Tak menyangka jika Ronald bisa trauma juga ketika bertemu dirinya.


“Oh?? Ma maaf, aku sudah salah sangka, dan te terimakasih, karena sudah menolongku tempo hari” ucap Ronald menurunkan tangannya yang bergetar, lalu menundukan kepalanya.


“Oke, sama-sama” ucap Andin mengedikan kedua bahunya.

__ADS_1


“Lain kali, kalau ada yang menyerang, harusnya Bapak bisa melawan, seperti ini, hiiaaattt!!” Andin menendangkan kakinya ke depan, mencoba menakuti Ronald.


Dan berhasil! Ronald semakin ketakutan, terlihat dari tubuhnya yang semakin bergetar kuat.


“Ampun!!” teriak Ronald, kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Haha ... saya hanya bercanda” Andin tergelak, merasa puas karena sudah berhasil mengerjai atasannya, yang sebelumnya bersikap sangat kekanakan itu.


“Kalau begitu saya duluan” Andin memundurkan langkah.


“Tunggu!” langkah Andin terhenti kala Ronald berteriak.


“Apa??” Andin memutar tubuhnya, menatap Ronald yang sudah menurunkan tangannya.


“Boleh saya mengenalmu lebih jauh lagi??” tanya Ronald menatap Andin yang mulai berjalan mundur, meski wajahnya menatap Ronald, rambut bergelombang yang di ikatnya tinggi bergoyang seiring dengan tubuhnya yang terus bergerak. Hingga menambah kesan seksi di mata Ronald.


“Haha ... dari mulai sekolah sampai saat ini, saya itu preman lho Pak,” Andin tergelak, seketika Ronald mengerjapkan matanya berulang kali, tidak menyangka jika perempuan secantik Andin, ternyata sudah menjadi preman dari remaja.


“Kalau begitu, sebagai ucapan terimakasih, saya mau mengajakmu makan malam!” kini suara Ronald sudah meninggi, karena tubuh Andin sudah semakin menjauh.


“Mau ya?? Andin!!” teriak Ronald sekali lagi, meski Ronald merasa takut dengan tingkah Andin, tapi tak ayal membuat pria itu penasaran dan ingin mengenal Andin lebih jauh lagi.


Sementara itu, Andin hanya melambaikan tangan kanannya, sambil terus berjalan, senyum terukir dari wajahnya, merasa menang karena sudah berhasil menaklukan si manja Ronald. Dan tingkah Andin yang seperti itu, berhasil membuat Ronald mengacak rambutnya prustasi, sambil menghentakan kakinya. Merasa telah di permainkan oleh gadis seperti Andin.


“Ronald?? Apa yang kau lakukan di sini???”


“Om???”


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa ...


Like,


Komentar


Bintang lima


Vote


Juga share cerita ini yaaa


Hatur nuhun.

__ADS_1


__ADS_2