
“Pak! Pak!” Andin menepuk-nepuk pundak Raga.
“Iya Cinta!” setengah berteriak karena nyaris suara Andin hampir tak terdengar, Raga melirik ke arah belakang.
“Putar balik Pak!” teriak Andin.
“Kenapa??” Raga merasa heran.
“Siti ketinggalan Pak!”
“Ya ampuuunnn!!!”
Lima belas menit setelah putar balik, akhirnya Raga dan Andin kembali ke tempat tadi, terlihat dari jauh Siti sedang duduk di bawah pohon rindang yang di sampingnya terdapat pedagang cendol, sambil mengipasi wajahnya yang sudah memerah karena terpaan sinar matahari yang lumayan terik. Sementara itu, sebelah tangannya tengah memegang es cendol. Sesekali, gadis itu terlihat meneguknya, minum es cendol di saat udara panas itu memang lumayan menghilangkan dahaga.
“Siti!!” teriak Andin segera turun dari motor Raga, Siti melengos memalingkan wajahnya, rupanya gadis itu tengah ngambek pada sahabatnya. Tidak terima tiba-tiba saja ditinggalkan tanpa kata.
“Tega kamu Din, aku nungguin kamu, sampai habis tiga gelas cendol” Siti mengerucutkan bibirnya. Matanya melirik pada gelas cendol yang sudah hampir tandas.
“Jadi? Ini gelas yang ke tiga?? Maaf, aku beneran lupa” Andin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Andin merasa tidak enak pada sahabatnya itu.
“Maaf ya Titi” Pak Raga memanggutkan kepalanya, merasa menyesal karena telah meninggalkan Siti.
“Eh? Pak Raga, gak apa-apa kok Pak, saya rela kalau harus nungguin Bapak, jangankan hanya beberapa jam, beberapa tahun juga aku pasti nunggu kok”
Ting, ting, ting ...
Siti mengedipkan mata genitnya berulang kali kepada Pak Raga, membuat Pak Raga seketika tergelak.
“Hadeuh ... genit banget kamu Siti!” Andin mengibaskan tangannya di udara.
“Hehe ... ini semua juga gara-gara kamu Din! Aku jadi kepanasan!” Siti kembali mengipasi wajahnya dengan tangan.
“Ya maaf, lagian kamu kenapa gak di bawa aja motornya sih??” tanya Andin sambil mendekati motornya yang masih terparkir di tempat semula.
“Ya gimana mau dibawa? Kan kuncinya di bawa kamu!” Siti kembali ketus.
__ADS_1
“Eh, iya juga ya, maaf yaaa Titi cantik” Andin menoel dagu Siti, sambil tersenyum merayu Siti yang tengah ngambek.
“Tau lah kamu mah gitu, lupa sama sahabat sendiri!” Siti masih memberengut.
“Ya udah, sekarang pulangnya gimana??” tanya Pak Raga berusaha melerai dua sahabat yang tengah bersengketa itu.
“Sekarang gantian! Aku yang ikut Pak Raga” ucap Siti, lalu dengan sigap dia langsung menaiki motor Pak Raga, sambil memeluk perutnya, membuat Raga menjadi tak nyaman, namun Pak Raga hanya bisa nyengir kuda.
“Iya deh, aku yang bawa motor” Andin mengalah, menaiki motornya sendiri, lalu mulai menghidupkannya.
“Kalau gitu kita duluan ya” Raga menghidupkan motornya, lalu mulai bersiap melajukannya.
“Din! Jangan lupa bayarin es cendolnya tiga gelas ya!” teriak Siti sebelum motor mereka benar-benar melaju.
“Gustiiii!!! Sitiiiii!!!”
***
Hari minggu yang cerah, sejatinya hari minggu adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh orang-orang yang memiliki pekerjaan rutin, anak-anak sekolah, bahkan mungkin orang yang tengah pacaran. Hari minggu saatnya refreshing, menyegarkan otak, setelah enam hari di gunakan full time.
Seketika sinar mentari memasuki celah jendela, Andin yang tengah tengkurap dengan wajah menghadap jendela langsung mengerjap, gadis itu menguap lalu bangun.
“Ada apa sih Ambu??? Andin masih ngantuk, lagian Andin mau kemana coba, ini hari minggu hari libur” Andin menggisik matanya yang masih terasa rapat.
“Kita mau jalan-jalan ke Curug, kita makan-makan di sana” ucap Ambu sambil memunguti pakaian kotor dari keranjang cucian kotor milik Andin.
“Males ah” Andin kembali menarik selimut lalu kembali merebahkan diri.
“Eeeehhh ... banguuunnn!! Tuh Nak Raga udah nungguin kamu di bawah, udah dari tadi!” seru Ambu, sambil memegang handle pintu.
“Cepetan siap-siap! Mandi, dandan sana!” kini tangan Ambu sudah membuka daun pintu.
“Hah?? Pak Raga ikut Ambu??” tanya Andin bingung, gadis itu kembali bangun dari rebahannya.
“Lah iya, katanya kamu udah janji mau ngajakin dia, gimana sih??” tubuh Ambu sudah keluar dari kamar, sementara Andin hanya bisa mengacak rambutnya yang sudah seperti Singa, dia melupakan janjinya sendiri yang akan mengajak Raga pergi jalan-jalan ke Curug, setelah Andin selesai pertandingan pencak silat.
__ADS_1
***
Setelah bersiap Andin turun ke lantai bawah, terlihat pak Raga tengah ngobrol bersama Abah di ruang tengah, entah apa yang mereka bicarakan, Andin mendekati Ambu yang tengah menata makanan di dapur.
“Ambu, makanannya kok banyak banget sih??” Andin mencomot tahu goreng yang ada di atas piring, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Iya, ini buat acara syukuran kamu juga” ucap Ambu sambil melanjutkan menata makanan lain, memasukkannya ke dalam rantang.
“Syukuran apa Ambu??” Andin mengerutkan keningnya dalam, merasa bingung karena dia sedang tidak mendapatkan kemenangan apapun.
“Ya kan kemarin kamu sudah ikut acara pertandingan pencak silat itu” Ambu masih asyik menata makanannya, sesekali Ambu menghitung jumlah makanan yang akan dibawanya.
“Tapi kan Andin kalah Ambu” Andin menundukkan kepalanya dalam, merasa gagal juga masih kecewa, karena kemarin dia tidak bisa memberikan yang terbaik.
“Loh?? Gak apa-apa, yang penting kan kamu sudah ikutan, kamu bisa jadi salah satu pesertanya aja Ambu sudah seneng banget lho” Ambu tersenyum lembut, berusaha menghibur putrinya yang terlihat kecewa berat.
“Makasih ya Ambu” Andin memeluk lengan Ambu, bergelayut manja di sana.
“Hmmhh ... lain kali, jangan karena kamu mikirin cowok, kamu jadi hilang fokus” peringat Ambu dengan bibir monyongnya.
“Hah?? Andin gak mikirin cowok kok Ambu, beneran” Andin menatap Ambu sekilas, lalu memalingkan wajahnya, merasa tertangkap basah.
“Kamu fikir Ambu gak pernah muda dulu gitu? Ambu tahu kok, kamu suka sama Dino kan??” tebak Ambu, yang membuat Andin langsung tersedak kulit tahu yang tengah di makannya.
“Hah?? Kok Ambu tahu sih??” Andin mengerutkan keningnya, setelah dia menghabiskan segelas air putih.
“Ya tahulah, cinta kamu itu cinta monyet, cinta anak bau kencur” ucap Ambu, tangannya masih aktif menutup semua toples makanan di hadapannya.
“Kalau cinta Ambu ke Abah cinta apa??” tanya Andin tersenyum lebar, menggoda Ambu, yang tengah nyerocos.
“Cinta anak bau tanah” Ambu tergelak, di ikuti tawa Andin. Sementara, anak dan Ibu itu terhanyut dalam cerita cinta masing-masing.
‘Ambu ... Andin gak tahu, cinta Andin buat Dino itu cinta monyet atau bukan? Tapi yang pasti, Andin gak rela kalau Dino sampai jadi milik Humaira atau yang lainnya’.
Bersambung ......
__ADS_1