
“Pak!!! Awas!!!”
Bbrruuukkk!!!
Aku memejamkan mataku, dengan tangan yang di rasa begitu berat, entah apa yang berada di pangkuanku kini, berlari secepat kilat, membuatku tidak menyadari siapa yang telah aku selamatkan. Apa Pak Raden?? Boks makanan?? Si Abang gofood?? Atau malah jangan-jangan motornya yang tengah aku pangku??.
Perlahan, ku buka mataku.
Omimi ...
Aku mengedipkan mataku berulang kali, ternyata yang ada di pangkuanku adalah Pak Raden, dia juga tengah menatapku dengan kumis yang bergerak-gerak, membuatku ngeri sendiri, adegan kami mirip seperti adegan di film-film, di mana sang kekasih perempuan tengah terjatuh dan kekasih prianya yang akan menangkapnya, tapi ... tunggu!!! Posisi kami terbalik! Di sini aku yang memangku Pak Raden!. Omimi ...
“Maaf Mbak, saya gak sengaja, sepertinya motor saya yang bermasalah” pemilik motor berdiri sambil meringis, mencoba untuk meraih motornya yang sudah teronggok begitu saja di tanah, makanan yang mungkin sudah di order pun hancur berantakan, bahkan kuahnya menyiprat di kakiku.
Aku mengerjapkan mataku berulang kali, kesadaranku kembali, dan ...
Bbrruuukkkk!!
“AAAAAAHHHH!!!! Pinggangkuuuu!!” Pak Raden berteriak histeris, mungkin saja pinggangnya bermasalah karena berciuman dengan lantai parkiran selepas aku jatuhkan tadi.
“Maaf Pak, saya gak sengaja”
Aku segera berusaha membantu Pak Raden untuk berdiri, ya ampuuuunnn ... berat banget orangtua ini, apa jangan-jangan karena kebanyakan dosa kali ya? Eh??.
“Pah!! Papah kenapa??!!” tiba-tiba Pak Raga datang sambil berlari menghampiri kami, napasnya terengah karena terburu-buru.
“Bapak Raden gak apa-apa kok, tadi hanya keserempet motor” jawabku pelan, masih menguasai diri dari rasa kaget. Tanganku saling meremas satu sama lain, merasa gugup karena baru saja aku memangku tubuh Pak Raden yang cukup bahenol.
“Pak Raden?? Siapa??” tanya Pak Raga bingung.
“Aku berterimakasih karena kamu menganggapku keturunan ningrat, hingga kamu memanggilku Raden, tapi namaku bukan Pak Raden! Namaku Dirgantara! Kamu pasti sudah melihatnya dari berkas-berkas yang aku tandatangani tadi!” bentaknya dengan suara berat khasnya. Duh ... kan kan kan, salah lagi ini mah. Padahal maksudku bukan Raden yang ituuuu, tapi Raden yang iniiiiii, yang suka tayang di tipi, yang temannya si unyil itu lhooo, yang kumisnya di pelintir kiri kanan, tahu kan??.
“Oh, maaf Pak, yang saya lihat Bapak sangat berwibawa, jadi seperti keturunan Raden” hell ...
__ADS_1
“Ya memang, saya masih memiliki keturunan Raden” ucapnya sengit.
Duh ... paling susah kalau berdebat sama orangtua, gak bisa ngeluarin jurus kucing ngamat.
“AAAAHHHH ... pinggangkuuuu” seketika Pak Raden meringis, dengan tangan berpegangan pada Pak Raga, aku ikut meringis, tapi bingung, harus dengan cara apa aku menolongnya?.
“Pah, jangan-jangan encok Papah kumat??” Pak Raga mulai panik.
“Aku gak apa-apa, mana sopirku?? Antarkan saja aku ke rumah, aku akan mengobati lukaku di rumah, telpon juga Dokter pribadiku, suruh datang ke rumah secepatnya!” titah Pak Raden tanpa ingin di bantah.
“Iya Pah” Pak Raga mengangguk, sambil membopong tubuh Papanya, untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil Pak Raden telah melaju menjauhi kami, Pak Raga mendesah pelan, lalu tersenyum menatapku.
“Maaf ya, dan terimakasih, meskipun Papah sudah jahat sama kamu, tapi kamu masih mau menolong beliau” ucapnya.
“Sama-sama Pak” aku mengangguk.
Aku mengangguk, lalu berlalu masuk kedalam mobil, menunggu Pak Raga selesai menelpon.
“Cinta ... sepertinya kita harus tunda makan siang kita, gak apa-apa kan??” tanyanya dengan nada memelas.
“Kenapa Pak??” tanyaku, menatap wajahnya yang terlihat frustasi.
“Aku lupa menanyakan pada Papah, Papah itu ada di rumah yang mana?? Sementara Dokter pribadi kami hanya tahu rumah Mamahku saja, dan ponsel Papah tidak bisa dihubungi sama sekali”
Omimi ... nasib punya camer banyak gandengan ya begini, membingungkan.
“Ya sudah Pak, kita cari Dokter yang bisa dibawa ke rumah Pak Raden aja, nanti kita cari tahu lagi alamat rumah Pak Raden, saya temani Bapak” ujarku, merasa kasihan pada Pak Raga yang tengah memelas.
“Terimakasih Cinta” Pak Raga tersenyum menatapku, dan disambut oleh anggukan dariku.
***
__ADS_1
Hampir satu jam berputar-putar mencari rumah Pak Raden, menurut info yang didapatkan Pak Raga dari supir pribadi Pak Raden, ternyata Pak Raden ada di rumah istri keempatnya yang baru dinikahinya beberapa bulan yang lalu, yang kebetulan tinggal di kota ini, pantas saja Pak Raden getol datang ke kantor yang hampir bangkrut, ternyata ini toh alasan sesungguhnya.
Kadang, aku berfikir tentang Abah, Abah itu pria yang amat setia, yang aku tahu, seumur hidupnya Abah hanya pernah berpacaran dengan Ambu, menikah dengan Ambu, padahal Abah menikahi Ambu di usia yang sama-sama masih sangat muda, tapi hubungan pernikahan mereka langgeng hingga saat ini, dan semoga hingga akhir hayat mereka. Aku semakin ngefans sama Abah, Abah segalanya banget pokoknya.
“Cinta, menurut GPS sepertinya rumahnya di sini” aku mengerjap kala Pak Raga menghentikan mobilnya, lalu menatap ke sekitar, terlihat rumah dengan model minimalis, tidak besar, namun terlihat elegan dan cukup menawan, cukup terlihat jika yang menghuninya adalah horang kayah.
“Ayo turun” asik mengedarkan pandangan, sampai tidak terasa, jika Pak Raga sudah membuka pintu mobilnya untukku, aku mengangguk, lalu turun dari dalam mobil, berjalan mengikuti langkah Pak Raga menuju pintu utama, setelah melewati pagar rumah. Pak Raga celingukan, lalu mencoba menekan bell.
Hingga tiga kali bell dibunyikan, akhirnya terlihat ada orang yang membukakan pintu, aku bersiap mengucap salam saat pintu dibuka, namun Pak Raga malah mematung, melihat siapa yang membuka kan pintu.
“Bella??”
“Kak Raga???”
Aku mengerutkan dahi ku, ternyata orang yang membuka pintu adalah seorang perempuan yang sangat cantik, tubuhnya semampai, rambut panjangnya di gerai, tubuh indahnya di balut dengan dress selutut, warna biru muda, dress dengan merek ternama, usianya tidak akan jauh dari Pak Raga.
“Bapak kenal dia??” tanyaku menunjuk perempuan di hadapanku dengan wajahku.
“Hah??” Pak raga mengerjap kaget.
“Babby ... Kakak Ragaaaaa, ada apakah gerangan Kak Raga bisa datang ke rumah saya??” tanyanya tanpa jeda dengan mimik wajah yang ceria.
“Aku mencari Ayahku, tapi sepertinya kita salah alamat” ucap Pak raga gelagapan, apalagi saat tangan perempuan itu sudah menyentuh tangan Pak Raga, ketika aku mendengar bunyi krreteekk ... kkrreeeteeekkk, dari dalam dadaku. Panas!.
“Ayah Kak Raga?? Pak Dirgantara???” perempuan itu membulatkan matanya sempurna.
“Iya” jawab Pak Raga menganggukan kepalanya berulang kali.
“Dia ada di dalam, katanya encoknya kumat, ayo masuk” tanpa aba-aba perempuan itu menarik tangan Pak Raga, hingga Pak Raga terpental, dan langsung mengikuti langkahnya, sementara aku hanya bisa mengeratkan gigiku erat, rasanya gemessshhhh!!!.
Kretek
Kretek
__ADS_1