
Aku menatap perempuan yang tengah memeluk Pak Raga dengan erat, melihat dari penampilannya, jelas mereka bukan orang sembarangan, tapi bukan itu yang menjadi perhatianku sekarang, aku menangkap jika perempuan di hadapanku ini adalah perempuan yang lembut dan sangat baik, terlihat dari anggak-ungguk, juga bahasa yang digunakannya, nada suaranya juga pelan dan lembut, aku sampai tidak habis pikir, kenapa perempuan secantik dan sebaik beliau bisa di empat-kan oleh suaminya sendiri.
“Oh iya Mah, kenalin ini Andin” ucap Pak Raga, setelah mereka mengurai pelukannya, Pak Raga menatapku, lalu menatap Ibunya lagi, terlihat Ibunya Pak Raga mengerutkan keningnya dalam.
“Andin?? Andin siapa lagi?? Bukannya hari ini, kamu berjanji akan membawa gadis yang bernama Bunga???” terlihat Ibunya pak Raga menatapku dengan tatapan bingungnya.
“Apa??? Bapak bohongin saya???” aku menatap Pak Raga tajam, seketika rasa gugupku, berubah menjadi rasa marah dan juga kecewa, apa iya Pak Raga sedang membohongiku??.
“Maaaahhh, udah deh” Pak Raga tersenyum menatap Ibunya yang tengah kebingungan.
“Loh?? Betulkan?? Kamu bilang gitu sama Mamah kemarin??” tanyanya lagi dengan tatapan bingung ke arahku.
Aku semakin bingung, hatiku sudah kacau sekarang, tubuhku mulai melemah dengan sendirinya.
“Maaahhh, gak lucu ah” Pak Raga mulai merajuk pada Ibunya.
Sementara itu, entah kenapa air mataku mendadak susah di bendung, kini mataku sudah berkaca-kaca, jika Pak Raga benar-benar bisa mengkhianatiku, lalu apa bedanya Pak Raga dan Dino??? Dadaku sesak seketika.
“Haha ... maafkan Mamah sayang, Mamah bercanda” tiba-tiba perempuan di hadapanku tergelak, setelah melihat perubahan ekspresi di wajahku.
“Maafin Mamah yaaa, Mamah bercanda, habis kamu kelihatan tegang banget sih” perempuan itu kemudian memelukku erat, sambil mengelus-elus punggungku pelan, seketika aku merasa nyaman dengan pelukan perempuan ini.
“Mah, Mamah bercandanya gitu banget deh, kasihan kan Cinta” Pak Raga terkekeh, ikut menggodaku juga, seketika wajahku memerah, aku begitu malu, karena semudah itu salah sangka pada Pak Raga.
“Haha, maafin Mamah yaaa, ayo masuk” Mamah Pak Raga menuntun tanganku untuk masuk kedalam rumahnya.
Sekali lagi, mataku terbelalak sempurna melihat rumah mewah Pak Raga, yang tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata, ternyata calon suamiku ini sungguh-sungguh sultan, seketika bayanganku kembali ke kampung halaman yang sangat aku cintai, kampung sederhana yang telah memberiku kenangan pada masa kecil yang membahagiakan, aku berfikir, bagaimana jika Ceu Odah, Ceu Kokom dan Mang Imut tahu, kalau Pak Raga ini orang kaya beneran, hheee ... pasti bakalan geger, eh?? Aku mikirin apa sih??.
“Andin, ayo duduk di sini” aku mengerjap kala kurasakan tangan Mamah Pak raga menuntunku untuk duduk di salah satu kursi sofa yang berada di sana.
“Iya Tante” aku mengangguk.
__ADS_1
“Jangan panggil Tante, panggil aja Mamah, Mamah Ayu” ucapnya dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
Detik berikutnya, seorang perempuan yang sudah cukup berumur datang dengan nampan yang berisi minuman dan juga camilan, lalu meletakkannya di hadapanku, kemudian perempuan itu beranjak setelah mempersilahkan aku untuk minum, rupanya perempuan itu adalah salah satu ART di rumah Mamah Ayu.
“Iya Mah” aku mengangguk lagi, sementara itu, suasana hatiku kini berangsur membaik, kini tanganku sudah tidak bergetar lagi, dadaku sudah tidak bertalu-talu lagi, aku sudah mulai rileks karena perlakuan Mamah Ayu yang begitu lembut padaku.
“Mamah senang, akhirnya Raga mau memperkenalkan kamu sama Mamah” Mamah Ayu membuka suaranya.
“Andin juga senang, bisa bertemu dengan Mamah” ucapku malu-malu meong.
“Mamah menunggu dalam waktu yang lama lho untuk menunggu momen ini, terimakasih karena mau menerima Raga yang banyak kekurangannya” ucapnya lembut.
Deg!
Dadaku kembali bertalu, entah kenapa? Tapi rasa-rasanya, ucapan Mamah Ayu begitu menusuk hatiku. Aku yang banyak kekurangan, jika dibandingkan, aku dan Pak Raga itu ibarat langit dan bumi, tapi Pak Raga masih saja setia menungguku, membuka hati untuknya.
“Andin yang banyak kekurangan Mamah, harusnya Andin yang berterimakasih sama Pak Raga, juga Mamah, karena mau menerima Andin dengan tulus” ucapku menunduk malu.
“Terimakasih banyak Mamah” ucapku masih tertunduk.
“Sama-sama sayang, oya bagaimana keadaan Abah dan Ambu di kampung??” Mamah Ayu mulai bertanya hal lain padaku.
“Alhamdulillah baik Mah” jawabku seadanya.
“Mamah rasa, sudah tidak ada hal yang harus di tunggu lagi dari hubungan kalian, secepatnya Mamah dan keluarga akan melamar kamu secara resmi pada kedua orangtuamu”
Deg!
Dada kembali bertalu, kenapa rasanya seperti ada yang menggelitik hatiku, rasanya senang, haru, sedih, tapi juga ada sedikit ragu, benarkah keputusanku?? Benarkah apa yang dikatakan Mamah Ayu?? Kenapa hatiku jadi berkecamuk tidak menentu?.
“Bagaimana menurutmu sayang??” pandangan Mamah Ayu beralih pada Pak Raga yang duduk di seberangku.
__ADS_1
“Raga sangat setuju Mah” Pak Raga tersenyum jumawa, dia terlihat begitu bahagia.
“Kamu juga setuju kan sayang??” kini pertanyaan itu ditujukan untukku.
“I iya Mah” aku mengangguk dengan jawaban terbata karena gugup.
“Baiklah, semuanya akan segera kami rencanakan dari sekarang, o ya nomor telpon Abah kamu tidak diganti bukan??” tanya Mamah Ayu menatapku,
“Mamah tahu nomor ponsel Abah??” tanyaku tak percaya.
“Eh?? Ah, eemmmhhh ... hanya menebak, haha ... “ tiba-tiba saja aku menangkap aura wajah Mamah begitu aneh, terlihat kikuk, juga kaget dengan ucapannya sendiri.
“Kalau begitu, ayo kita makan dulu, Mamah sudah masak banyak untuk kalian, ayo kita ke ruang makan” Mamah Ayu segera berdiri, kembali menuntunku, menuju ruangan yang dia maksud.
Aku berjalan dengan hati yang bingung, kenapa tiba-tiba saja sikap Mamah Ayu berubah?? Apa jangan-jangan selama ini Mamah Ayu sudah mengenal keluargaku juga, ku lirik Pak Raga, sepertinya dia juga tengah memikirkan hal yang sama.
“Ayo duduk, sini Mamah ambilin makanan buat kamu” Mamah Ayu menyambar piring, lalu mengisinya dengan beragam makanan yang tersedia, sementara aku menerimanya dengan hati yang masih bertanya-tanya.
“Mah, Mamah ngisi makanan, itu piringnya kebalik” Pak Raga menatap Mamah Ayu yang seperti tengah memikirkan banyak hal.
“Ah?? Ya ampuuunnn, maaf sayang, Mamah gak sengaja” dengan gerakan kikuk, Mamah Ayu mengganti piringnya, lalu menyodorkan piring tersebut pada Pak Raga.
“Mah, Mamah lupa ya, Raga gak suka makan acar” keluh Pak Raga saat piring makanan tersebut sudah ada di hadapannya.
“Duuhhh, Mamah lupa, maaf ya Raga” Mamah menggaruk pelipisnya.
“Gak apa-apa Mah, nanti Raga sisihkan saja acarnya” Pak Raga tersenyum lembut, lalu mulai menyendok makanannya.
Akhirnya kami makan dengan suasana yang agak canggung, suasana hening, kami makan dengan pikiran kami yang berkelana, entah kemana.
Aku dapat merasakan jika Mamah Ayu menatapku, tapi aku hanya menunduk, berpura-pura tidak menyadari bahwa aku sedang di tatap Mamah Ayu.
__ADS_1