
“Beberapa hari terakhir, saya melihat Bapak selalu uring-uringan, pertanyaan saya, apakah Bapak sedang jatuh cinta? Kalau iya, pada siapa Bapak jatuh cinta??” pertanyaan itu lolos begitu saja, seketika Ronald mematung, bingung entah jawaban apa yang harus diberikan pada karyawan yang bertanya. Bisik-bisik absurd kembali terdengar, Andin dan Raga menatap Ronald lekat.
“Emmmhhh ...”
“Jawab dong” Raga tertawa jenaka, diikuti tawa canggung dari yang lain.
“Aaaaarrrggghhh!! Aku menyerah! Baiklah, gelitiki aku saja!” Ronald menyerah, memasrahkan dirinya untuk di gelitiki karyawannya sendiri.
Semua karyawan terdiam, canggung, memang siapa yang berani menyentuh tubuh pria arogan seperti Ronald?.
“Sebentar, yang pertama kali harus menggelitiki aku adalah Bu Andin” Ronald tersenyum menyeringai, membuat karyawan lain ikut melongo tak percaya.
“Hah?? Saya??” Andin menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, Bu Andin, ayo gelitiki saya” Ronald mendekatkan tubuhnya.
“Tugas Bu Andin, biar saya yang laksanakan” seketika Raga melompat, mendekati Ronald, dan langsung menindihnya, menggelitiki nya tanpa Ampun, hingga membuat Ronald tergelak karena geli,
“Semuanya boleh bantu saya untuk menggelitiki Pak Ronald” perintah Raga sambil menatap karyawannya yang tengah menatap mereka dengan ngeri.
“Ayo cepat!” sekali lagi instruksi Raga.
“Baik Pak!” dengan gerakan ragu karyawan yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu langsung menggelitiki tubuh Ronald, hingga membuat Ronald terjungkal-jungkal, terbahak tapi matanya mengeluarkan buliran, saking gelinya.
“Ku pastikan kalian dipecat!! Sudah! Cukup! Hahahaha! Toloooonnnggg!!” diantara orang yang mengerubutinya, Ronald terus meracau.
Sementara Andin hanya bergidik ngeri, lalu pandangannya beralih pada Raga yang tengah menatapnya juga ‘I LOVE U’ ucap Raga tanpa suara, membuat Andin menundukan kepalanya sambil tersenyum.
“Kaliaaannn!! Keterlaluaaann!! Hahaha!!” Ronald membenahi tubuhnya yang sudah ambyar, baju berantakan, rambut berantakan, juga wajah yang di tekuk, akibat guling-guling di lantai.
“Sekarang kita lanjutkan permainan! Sekarang giliranku! Awas kalian! Yang gak bisa jawab pertanyaan, harus makan sepiring jengkol ini!!” Ronald kembali memutar botolnya, semua mata tertuju pada botol.
Glek ...
Ujung botol berhenti tepat di hadapan Andin, Andin terperanjat, takut jika Ronald mengajukan pertanyaan yang di luar nalar.
“Haha ... Bu Andin yang kena!!” Ronald berteriak penuh kemenangan.
“Pertanyaan dari saya, siapa pria yang dicintai Bu Andin??!!” tanya Ronald to the point.
“Emmhhh ...” Andin tertunduk bingung, Raga ikut menatapnya dalam.
“Ayo jawab Bu Andin! Jangan malu-malu” kini Ronald semakin mendesaknya, membuat Andin semakin bingung.
“Saya makan jengkol aja!” Andin menyerah, dia memilih bungkam, untuk tidak mengatakan siapa pria yang dicintainya, Raga mendesah kecewa, sementara Ronald hanya menggaruk pelipisnya. Dan karyawan lain hanya manggut-manggut mencoba menghargai keputusan Andin.
“Duh ... saya gak bisa kalau harus makan sepiring jengkol begini” gumam Andin sambil menatap ngeri pada sepiring jengkol goreng di hadapannya.
__ADS_1
Seketika Ronald menatap Andin yang memperlihatkan wajah ragunya, dengan gagah berani Ronald langsung mendekati Andin, menelan salivanya susah payah, menatap ngeri pada jengkol di hadapannya kini.
“Biar saya yang wakilin Bu Andin buat makan jengkolnya” ucap Ronald dengan ragu-ragu.
“Eh? Jangan pak Ronald, kasihan biar saya saja, saya kan kalah” Andin menolak.
“Gak apa-apa” Ronald menggeleng, lalu mulai mencomot satu bulatan jengkol, memasukan jengkol tersebut ke dalam mulutnya dengan di perhatikan banyak mata.
Ronald tidak menelan jengkol tersebut, dia mengulumnya di dalam mulut, sungguh jika bukan atas nama cinta, Ronald tidak akan sudi makan jengkol.
“Pak, telan aja gak apa-apa” Andin menepuk punggung Ronald.
Gluk
Seketika Ronald menelan bulat jengkol yang berada di dalam mulutnya, karena kaget akan tepukan tangan Andin.
“Huuuuaaaaa!!! Hooeekkk!! Hhooeekkk!!” seketika Ronald langsung ngacir mencari kamar mandi, memuntahkan apa yang baru saja dia makan.
“Ck ck ck” semua orang berdecak tidak percaya, akan tingkah pimpinan mereka yang konyol,
Sementara itu, Raga menopang wajahnya, dengan kedua tangannya, menatap Andin yang tengah tertawa. Tatapan Andin beralih pada Raga, seketika tubuh Andin meremang kala melihat Raga tengah mengedipkan sebelah matanya padanya, lalu membisikan tiga kata tanpa suara ‘I LOVE U’.
“Ekkkheeemmm!! Uhuk uhuk ...”
“Permainannya cukup sampai di sini saja”
“Wooaaahhh ... tempatnya bagus banget, kita keliling kedai ini aja yuk”
“Kita bantuin Mbak Titi yang lagi ngipasin ikan aja yuk”
Seketika, seolah faham, seluruh karyawan langsung memundurkan langkah, pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing, setelah melihat tingkah Raga dan Andin.
****
“Eeeehhh??? Kamu teh ngapain di sini?? Kamu mau ngintipin saya?? Mau lihat bagaimana seksinya saya kalau lagi masak??” seketika wajah Siti menjadi sewot kala melihat Rey yang tengah jongkok di dekat tabung gas.
“Sssttt ... bukaaannn, jangan berissiiiikkkk ...” Rey menempelkan telunjuk di bibirnya.
“Pait ... pait ... paitttt ...” Siti mengibaskan tangannya di udara.
“Ssssstttt, dieeeemmmm” Rey kembali berbisik.
“Ngapain kamu teh?? Jangan-jangan kamu mau nyolong ikan bakar saya ya??” Suara cempreng Siti terdengar hingga keluar ruangan dapur yang sempit.
“Diam!! Saya lagi ngumpet!!” suara Rey ikut meninggi.
“Mana ada orang ngumpet bilang-bilang??” Siti mengedikan bibirnya.
__ADS_1
“Kamu yang nanya terus!!” Rey membentak Siti, yang sudah mengerucutkan bibirnya.
“Eeehhh!! Kamu berani sama saya?? Kamu mau gelut sama saya??” Siti berkacak pinggang.
“Nah! Ketemu kamu Rey!! Ngumpet di sini kamu rupanya!!” seketika pandangan Rey dan Siti beralih pada sosok pria yang tengah membenahi celananya, sambil menyeka mulutnya.
“Ppp Pak Ronald, hheee ...” Rey menggaruk tengkuknya.
“Ayo kembali ke sana! Makan lagi jengkolnya!!” Ronald meraup punggung Rey dengan kedua tangannya.
“Ampun Pak, jangan Pak, saya lebih baik pingsan daripada harus makan jengkol” Rey mengatupkan kedua tangannya.
“Ooohhh ... Bapak butuh jengkol lagi?? Ini saya masih punya stock” Siti menyodorkan sepiring goreng jengkol pada Ronald, dan disambut dengan senyuman oleh Ronald.
“Ayo Rey ... kita makan jengkolnya” Ronald mendorong tubuh Rey yang gemetaran.
“Ampun Pak, jangan Pak” Rey masih mengiba.
“Tiada ampun bagimu Reeeyyyy!!” Ronald kembali mendorong tubuh Rey dalam satu kali hentakan, hingga tubuh Rey terdorong ke depan.
“Tidddaaaakkkk!!!” Rey menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
“Hah!! Rasakeun kamu pria Paitttt!!! Hush ...!!” Siti mengibaskan kipas yang terbuat dari bambu tersebut menggunakan tangan kanannya, sementara itu, tangan kirinya mengibaskan rok selutut yang digunakannya.
Bersambung ...
Aku gak pernah jadi Andin, aku juga gak pernah jadi Raga, aku Cuma pernah jadi salah satu karyawan yang melihat para bossnya terlibat cinlok dan pacaran di depan kepala mataku, di saat mereka pacaran, dan di suatu ketika posisiku mengharuskan agar aku ada di antara mereka, maka di saat itulah aku merasa menjadi nyamuk, mau pergi, ya harus pergi kemana? Masa iya harus bolak-balik ke toilet sebanyak dua puluh kali, mau ke luar kantor ya kerjaan masih menggunung.
Akhirnya bossku paham akan ketidak nyamananku, dia langsung bilang gini.
“Neng, sini” mengibaskan tangan sambil manggil, padahal cuman kehalang sama satu kursi.
“Iya pak, ada apa?” sambil melintir pulpen, gemessss.
“Ini uang buat kamu” menyodorkan uang merah beberapa lembar.
“Buat apa pak??” senyum-senyum, udah seneng dong, dapet bonus, padahal cuman liatin orang pacaran.
“Beliin makan siang buat kita ya” tersenyum menyeringai, sambil mengabsen nama-nama makanan langka.
“Heleh?? Gendeng amat punya boss” mencak-mencak gak suka, tapi tetap pergi juga.
“Neng! Jangan lupa, beli makannya di Libanon yaaa, biar lama”
“Asem!!!!!”
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa ...