BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Pengganggu


__ADS_3

POV RAGA


Gerimis hari ini terasa menyempurnakan keadaan yang masih gelap gulita, langit menangis seolah ikut berduka, bahwasannya ada seorang manusia yang kembali dipanggil oleh yang maha kuasa, setelah dia berjuang untuk melahirkan jiwa baru, yang ingin dipersembahkannya pada orang yang sangat dicintainya.


kini, langit sudah menampakkan cahayanya, namun gerimis enggan pergi, dia seolah ingin setia menemani, ku harap hujan mampu membawa segala duka nestapa yang masih melekat pada jiwa kami yang tengah merasa kehilangan, tapi kuharap gerimis tidak turut serta membawa harapan baru yang membumbung tinggi.


Tetesan bening dari netra yang begitu memuja rasa, kembali berjatuhan tak terkendalikan, aku menatap jiwa-jiwa yang tengah rapuh itu, manakala jasad akan dikembalikan pada tanah, mereka semakin terisak dalam.


Mereka bilang, kesakitan terbesar adalah merelakan kepergian orang tercinta, melepas kembali setelah beberapa waktu bersama, detik kemudian semuanya tidak akan sama lagi, raga yang semula mendampingi sudah tidak ada lagi, segala canda tawa akan segera terganti oleh sunyi. Tapi ... begitulah fitrahnya setiap manusia yang terlahir ke muka bumi ini, semua akan pergi kapan-pun Allah menghendaki.


Aku berdiri di samping wanitaku, yang juga masih setia terisak, menemani kepergian sahabat juga rivalnya di masa lalu. Berulang kali, aku terus menguatkan hatinya. Aku paham, hatinya mungkin akan kembali goyah setelah aku mendengar ucapan Dino cinta pertamanya, yang memintanya untuk tetap berada di sisinya, dia juga meminta wanitaku untuk bisa mengurus anak-anaknya setelah kepergian istrinya.


Entah ... harus kujabarkan dengan bahasa apa permintaan Dino ini?? Boleh jika aku tidak menyukainya?? Boleh jika aku sedikit membencinya?? Ini terasa tidak adil bagi diriku.


“Din ... sebelum Maira pergi, dia bilang, dia ingin anak-anaknya di asuh oleh dirimu Din” masih terngiang jelas ucapan Dino tadi malam, kala kami berada di sebuah kamar untuk melihat anak Dino.


“Maira juga sempat mengatakannya padaku” wanitaku menimpali, masih dengan tatapan nanar pada bayi merah yang ada di hadapannya.


Apa maksud dari semua ini?


Apa yang harus aku lakukan?


Tidak! Kali ini, aku akan egois lagi, aku akan tetap mempertahankan apa yang telah aku usahakan dengan susah payah.


***


“Bapak kenapa??” tanyanya kala kami berada di dalam mobil, melakukan perjalanan menuju kota, untuk fitting baju pengantin, rencana pernikahan kami akan segera dilangsungkan dalam waktu kurang dari satu bulan lagi.


Bahagia?? Tentu saja, setelah semua yang terjadi, setelah semua yang kami lewati, menuju titik puncak dalam masa lajangku, adalah hal yang sangat membahagiakan bagiku.


“Gak apa-apa” aku menggeleng.

__ADS_1


“Bapak kepikiran ucapan Dino semalam ya??” tanyanya lembut, aku mengangguk meng-iya-kan.


“Sebelum Maira mengalami pendarahan, Maira juga pernah mengatakan hal yang sama pada saya, dia meminta saya untuk bisa menjaga anaknya, dan saya setuju” dia menganggukan kepalanya berulang kali.


Aku mengerutkan keningku dalam. Maksudnya apa???.


“Bapak gak perlu khawatir, Bapak tahu-kan? Kalau saya adalah perempuan berprinsip??” tanyanya tersenyum lembut. Seolah paham akan kekhawatiran yang bersarang di dalam hatiku.


Aku mengangguk pasrah, tapi hatiku masih saja di hantui rasa ketakutan yang luar biasa.


“Bapak gak perlu lagi mikirin semua ucapan Dino atau yang lainnya, tugas Bapak hanya percaya sama saya, karena saya sudah menjatuhkan hati saya sepenuhnya untuk Bapak, dan Bapak gak perlu khawatirin lagi hal itu”


Ucapannya sungguh membuat hatiku lega, aku tahu pilihanku tidak akan pernah salah, apalagi pilihan untuk hidupku, pendamping dunia dan insya Allah hingga ke jannah-nya.


***


Kami tiba di sebuah butik yang lumayan ternama di kota ini, berjam-jam kami memilah dan memilih baju yang akan kami gunakan di acara pernikahan kami nanti, beberapa kali kami sempat beradu argumen tentang pilihan kami berdua, bukan tentang selera kami yang berbeda, tapi mungkin lebih ke gaya yang akan di gunakan di acara kami nanti, aku selalu ingin yang terbaik, selalu ingin yang istimewa, tidak peduli masalah dana, yang penting aku merasa puas, berbeda dengan calon makmumku ini, dia lebih suka gaya yang sederhana dan tidak berlebihan, katanya sayang buang-buang uang. Aku suka kesederhanaannya, tapi aku tidak suka dibantah, jika untuk urusan yang satu ini, menikah itu sekali seumur hidup, aku ingin semuanya berkesan, dan tidak mudah dilupakan, aku ingin semua orang mengenang pernikahan kami yang luar biasa saja.


Aku juga sedikit kesal, kala aku membelikan barang untuk seserahan dengan harga yang sedikit fantastis, tapi dengan terang-terangan dia menolak, lagi, lagi, lagi, dia selalu menolak pemberianku yang dianggapnya terlalu berlebihan, padahal bagiku tidak ada kata berlebihan jika itu untuk kesenangannya.


Sedikit melelahkan, tapi aku menikmati prosesnya, meski tidak jarang aku harus membujuk perempuan keras kepala itu, yang sudah mulai ngambek dan mengacuhkan aku. Huhhh ... .


***


“Tante, Tante baik, cantik, sepelti Ibu” aku menghentikan langkah di halaman rumah kala melihat pemandangan anak Dino tengah bermanja pada calon istriku, boleh aku kesal?? Aku hanya takut, lewat anaknya, justru Dino akan menjadi mudah mendekati Andin kembali.


“O ya?? Tapi Ibu kamu lebih cantik dari Tante kan?” tanyanya tertawa ceria seperti biasa.


“Hmmhhh ... iya juga yaaaa” ucapnya polos, Andin mengacak rambutnya pelan.


“Cinta!” aku menghampiri perempuan yang ku ajak untuk mencari sarapan pagi ini.

__ADS_1


“Bapak udah siap??” tanyanya tersenyum, menatapku yang keluar dari rumah Kakek Parto.


“Iya” jawabku mengangguk, menatap anak kecil yang tengah menatapku takut-takut.


“Siapa Om itu??” bisiknya di telinga Andin, aku mencebik kesal.


“Oh, Om ini temannya Tante” Andin tergelak, mungkin merasa lucu, tapi entah apa yang lucu.


“Teman?? Heh anak kecil! Aku ini calon suaminya Tante Andin! Paham??” tanyaku gemas, mengacak pelan rambut tipisnya.


“Huuuaaaa!! Om-nya galak!!” anak Dino langsung memeluk Andin, dan menangis histeris, membuatku jengkel.


“Eh? Dina jangan nangis, cup cup cup” terlihat gadis itu berusaha menenangkan.


“Aku mau itut Tante jalan-jalan”


Modus!!!!!


“Boleh, yuk ikut Tante sama Om, kita jalan-jalan sambil cari sarapan” ucapnya riang, sambil memeluk Dina anaknya Dino, Bapak sama anak sama saja! Sama-sama suka membuatku geraaammm!!!.


Niat hati ingin menghabiskan waktu bersama, sebelum acara pingitan berlangsung, malah jadinya kacau balau seperti ini, huh!!! Dasar bocah pengganggu!.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman.


Silahkan komentar dan tinggalkan ulasan untuk karya ini.

__ADS_1


Terimakasih banyak readers ...


Sayang kalian banyak-banyak.


__ADS_2