BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Minta Izin


__ADS_3

Raga POV


Bagiku, mencintai seorang perempuan itu bukan hanya tentang mencintai dirinya sendiri, tapi juga tentang mencintai keluarganya, mencintai sahabatnya, mencintai apa saja yang berada di sampingnya dan mencintai semua hal yang dicintainya. Berpasangan itu bukan hanya tentang aku dan dia, tapi juga tentang keluargaku dan keluarganya.


Ketika aku memutuskan untuk menikahi seorang gadis, maka urusannya bukan hanya tentang aku dan perempuan yang kunikahi, tapi juga tentang keluarganya, kekurangannya, kelebihannya, kebiasaannya, perbedaan di antara kita, dan semuaaaa hal yang bersangkut paut dengan kehidupannya.


Aku sudah bertekad, ketika aku memutuskan untuk menjatuhkan hatiku pada Andin, maka aku juga akan secepatnya untuk mendekati keluarganya. Meminta restu langsung dari kedua orangtuanya, berharap hubungan kami bisa menjadi hubungan yang berkah jika dengan izin kedua keluarga, dari kedua belah pihak.


Maka hari ini, aku memutuskan untuk mendatangi keluarganya tanpa memberitahu Andin terlebih dahulu, Andin itu perempuan keras kepala, entah kenapa aku bisa jatuh cinta padanya, padahal ada puluhan wanita cantik yang berbaris mengantri mengharap cintaku, tapi herannya, aku malah semakin jatuh cinta padanya, meski sebelumnya hanya penolakan yang terus aku terima, bahkan sampai hari ini, aku belum pernah mendengar ungkapan cinta darinya, tapi ... baiklah, cinta itu tidak harus selalu dikatakan, cukup dia merespon positif atas semua hal yang aku lakukan, maka aku sudah bisa menerimanya.


Aku kembali melewati jalanan ini, jalanan menuju Desa Suka Kaya, jalanan ini masih sama, meski sudah banyak yang berubah setelah enam tahun yang lalu.


Hatiku berdenyut ngilu, kala aku melewati jalanan ini, tempat dimana hari paling kelam bagi Andin terjadi, ku pejamkan mataku, berharap bayangan itu tidak akan kembali hadir dalam ingatanku.


“Ikut aku, kejar mimpimu, atau ... kejar dia, dan selamanya tinggallah dalam masa lalu”


“Maaf, saya tidak akan memilih ikut bersama Bapak, tapi saya juga tidak akan tinggal di masa lalu, saya akan memilih jalan saya sendiri” tolaknya tegas dalam isakan.


“Andin, pilih aku ... Aku sangat mencintaimu ...” akhirnya ku ungkapkan rasa cintaku kala itu.


“Maaf, saya tidak bisa menerima cinta Bapak, cinta saya masih untuk Dino, sampai kapanpun itu” dia masih terisak, membulatkan tangannya erat.


“Pak ... maaf, kita sudah sampai”


Aku terhenyak, segera ku buka mataku, ternyata aku sudah tiba di depan rumah orangtua Andin, masih jelas dalam ingatanku, ketika aku pertama kali datang ke tempat ini. Ah ... waktuku tidak akan habis sehari, jika harus digunakan untuk bernostalgia di tempat ini.


“Assalamu’alaikum ...” sapaku, pada seorang pria paruh baya yang sedang asyik ngobrol dengan ayam jago kesayangannya. Aku tersenyum lekat, merasa sangat tergugu dengan seorang Ayah, yang dengan hati jumawa nya mau melepaskan anak semata wayangnya, hanya agar anaknya bisa menyembuhkan luka hatinya.


“Wa’alaikumsalam ... siapa ya??” pria itu menatapku lekat, aku tersenyum menatapnya.


“Saya Raga Pak Lurah, masih ingat saya??” tanyaku menunduk hormat.

__ADS_1


“Masya Allah ... nak Raga?? kumaha damang??” Abah Andin langsung menyambutku dengan ceria, tidak terlihat sama sekali, jika dia tengah mengalami masa sulit karena kehilangan atas kepergian putrinya.


“Ambuuuuuuu ... ini ada nak Raga, jauh-jauh datang dari kota” teriaknya dengan heboh, sambil mempersilahkan aku untuk duduk di sebuah kursi di ruang tamu, suasana rumah ini sama sekali tidak berubah, semuanya masih tetap sama, termasuk foto keluarga yang dipajang di dinding yang sama dengan enam tahun lalu, aku menatapnya lekat, di sana terdapat foto Andin dan kedua orangtuanya, tersenyum ceria tanpa beban.


“Aeeeh ... aeeehhh ... ada Nak Raga? apa kabar Nak Raga?? kumaha damang??” kini perempuan yang biasa di panggil Ambu itu datang dengan tergopoh-gopoh menyambutku.


“Ah, Alhamdulillah saya baik bu lurah” jawabku.


“Aaaaahhhh ... sekarang jangan panggil Bu Lurah lagi atuh, kan si Abahnya juga sudah tidak jadi lurah lagi” dia mengibaskan tangannya di udara, tersenyum jenaka.


“Hehe ... kebiasaan Bu” aku tersipu,


“Eh? Sampai lupa ini di minum dulu nak Raga, pasti haus ya??” Ambu menyodorkan minuman dan juga beberapa makanan ringan ke arahku.


“Terimakasih Abah, Ambu” lagi-lagi aku memanggutkan kepala.


“Ahhh ... bukan apa-apa atuh ini mah, nanti kita makan dulu ya Nak Raga, sebentar, Ambu mau masak dulu, maaf di sini mah seadanya aja ya Nak Raga” Ambu beranjak berdiri.


“Gak repot, biasa aja” Ambu mengibaskan tangannya di udara, lalu bergegas menuju dapur kembali. Ambu selalu begitu, ceria juga lembut, sama seperti Cinta-ku.


“Ngomong-ngomong ada apa Nak Raga jauh-jauh datang kesini? Tanpa memberitahu Abah dulu??” setelah lama berbasa-basi, akhirnya Abah bertanya inti kedatanganku ke rumahnya.


“Sebetulnya kedatangan saya ke sini, untuk meminta izin pada Abah, selaku orangtuanya Andin” Aku mulai memberanikan diri, untuk meminta restu pada Ayah dari perempuan yang aku cintai.


Jujur, dari tadi tubuhku sudah bergetar kuat ketika harus berhadapan dengan calon mertua, aku bisa gagah berani ketika menghadapi rekan kerjaku, berbicara dengan tegas pada client juga bawahanku, tapi kenapa ketika harus menghadapi calon mertua, nyaliku begitu menciut? Padahal Abah adalah orang yang sangat baik, dan jauh dari kata menyeramkan.


“Meminta izin?? Izin untuk apa Nak Raga???” Abah malah menggodaku, menanyakan sesuatu yang jelas sudah sangat difahaminya.


“Meminta izin untuk menjadikan Andin putri Abah sebagai pendamping hidup saya” akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulutku.


“Haha ... begitu rupanya,” Abah memanggutkan kepalanya berulang kali.

__ADS_1


“Jadi, bagaimana Abah?? Apakah Abah mengizinkan??” tanyaku lagi, jantungku kian berdebar kencang, menunggu jawaban YES dari calon mertua, sama saja seperti saat aku tengah kebelet pipis, tapi tidak ada toilet. Gak kuaaaattttt!!!.


“Kalau Abah sih, gimana Andin saja, selama Andin bahagia, maka Abah akan mengizinkan, semua yang terbaik bagi Andin, Abah akan dukung” Abah menundukan kepalanya dalam.


“Abah rindu Andin, semenjak enam tahun yang lalu, Andin tidak pernah lagi pulang ke sini, kadang kalau sudah terlalu rindu, maka Abah dan Ambu yang datang ke kota”


Aku terhenyak, jadi ... sebegitu dalam kah rasa trauma Andin??


“Saya janji, saya akan bawa Andin pulang ke sini, ke rumah ini, saya akan menyembuhkan luka, juga trauma Andin, Abah ...” janjiku dengan tulus, aku merasa sangat tersentuh dengan rasa rindu seorang Ayah pada anaknya. Jauh di luar sana, apakah Ayahku juga merindukan aku???.


“Terimakasih banyak Nak Raga” Abah menepuk bahuku berulang kali.


“Sama-sama Abah ...” aku tersenyum lembut pada pria di hadapanku.


Waktu terus berlalu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang, setelah aku di paksa makan-makan, lalu bercerita panjang lebar tentang Andin.


Hari hampir gelap, tidak ada pilihan lain aku harus pulang. Aku memasuki mobilku, Abah dan Ambu mengantarkan kepergianku hingga di depan pagar rumahnya, mereka melambaikan tangan padaku sambil tersenyum, tak lupa mereka terus menitipkan putri semata wayangnya padaku, mengharukan.


Mobil terus melaju, hingga kini aku telah melewati perkebunan teh yang sudah menjauhi perumahan warga, dalam pencahayaan yang remang-remang, aku melihat jalanan melalui kaca jendela mobil. Seketika pandanganku fokus pada orang yang tengah menghidupkan sepeda motornya, tapi sepertinya dia mengalami kesulitan.


“Pak, berhenti sebentar, kita bantu orang itu dulu, kasihan” pintaku pada sopirku,


Mobil berhenti, aku turun dari dalam mobil, kemudian menghampiri orang tersebut.


“Ada yang bisa saya bantu??” tanyaku, menghadap orang yang tengah memunggungiku, orang tersebut memutar tubuhnya, menatapku lekat.


“Pak Raga???”


“Dino??”


Bersambung ......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa ...


__ADS_2