
Tiba di kantornya, Andin berjalan menuju lift, yang akan mengantarkannya ke lantai tiga, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Andin kembali mendesah pelan, rasanya hari ini adalah hari yang paling melelahkan untuknya. Banyaknya pekerjaan membuat Andin merasa keteteran, dengan amat terpaksa Andin terpaksa harus kembali menelpon Rey untuk masuk kerja meski hanya setengah hari, Andin tahu ini melanggar aturan karyawan yang mengajukan haknya untuk izin cuti, namun apalah daya, Andin tidak mampu menghandle pekerjaan sebanyak itu seorang diri, terlebih kini hatinya tengah gundah gulana karena kehadiran Dino yang tiba-tiba.
“Rey ... maaf mengganggu acara kamu, saya terpaksa harus menelpon kamu meskipun kamu sudah izin kerja” ucap Andin ketika sudah sampai di meja Rey. Sungguh hatinya begitu merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Bu, pertemuan saya juga sudah selesai, saya mau minta tanda tangan Ibu Andin, soalnya Pak Ronald tidak ada di ruangannya” ucap Rey sambil menyodorkan sebuah map pada Andin. Andin menerimanya, tapi dengan dahi yang mengkerut.
“Kenapa tidak minta tanda tangan Pak Raga aja??”
Sebentar ...
Pak Raga??
Pak Raga??
Andin membelalakan matanya, dia sungguh lupa, jika sebelumnya tengah janjian dengan Pak Raga untuk makan siang bersama. Bagaimana ini? Bagaimana mungkin Andin bisa melupakannya?.
“Pak Raga juga tidak ada di ruangannya Bu” ucap Rey, matanya kembali tertuju pada layar komputer di hadapannya. Dengan cekatan tangannya kembali mengetikkan sesuatu pada keyboard komputernya.
Sementara Andin, gadis itu langsung kelimpungan, segera meraih ponsel yang ada di saku blazer yang digunakannya hari ini. Segera mendial satu nomor yang akan dihubunginya, Pak Raga.
Tuuuttt
Ttuuutttt
Ttuuuttt
Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tunggu beberapa saat lagi.
__ADS_1
Nomor Pak Raga tidak diangkat, bahkan beberapa saat kemudian nomornya langsung tidak aktif, apa Pak Raga sengaja melakukannya?.
“Pak ... angkat dooonngg, aku lupa, aku mau minta maaf” sesal Andin sambil berjalan menuju ruangannya.
“Loh?? Bu Andin! Bu! Ini berkasnya ketinggalan, belum di tanda tangan!” Rey berteriak, namun teriakannya tidak diindahkan oleh Andin. Membuat Rey berdecak kesal, lalu menggerutu sendiri.
“Ada apa dengan pimpinan hari ini? Mereka semua aneh!” Rey menggelengkan kepalanya heran.
Tiba di ruangannya, Andin kembali mencoba menelpon Raga, namun jawabannya masih sama, nomornya selalu sibuk lalu kemudian tidak aktif. Hingga Andin memutuskan untuk mengirimkan beberapa chat, lalu melakukan voice note. Berharap nanti Pak Raga akan membaca atau mendengarkan pesan-pesannya.
Setelah kesal karena tidak ada jawaban dari Raga, akhirnya Andin mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, meskipun susah untuk bisa fokus, tapi Andin terus berusaha memeriksa beberapa file, yang sudah bertumpuk di mejanya. Pekerjaan hari ini sungguh menggunung, Andin sudah tidak bisa fokus karena beragam kejadian yang terjadi hari ini, berulang kali gadis itu mendesah kesal, bagaimana cara Andin menyelesaikan semuanya hari ini?.
“Bu tolong segera kirimkan laporan yang diminta pusat sekarang juga”
Rasanya Andin ingin berteriak, kala telpon dari pusat tiba-tiba saja menginterupsinya, menarik napas dalam, Andin berusaha untuk tenang, dan menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin, berusaha melupakan masalah yang terjadi, semoga saja semuanya segera berlalu.
***
Andin keluar dari ruangan kerjanya, menutup pintu, lalu menatap ruangan Raga yang berada di antara ruangan Andin dan Ronald, perlahan Andin mendekati ruangan tersebut, lalu memberanikan diri untuk membukanya.
Deg!
Seketika tubuh Andin membeku, kala melihat ruangan Raga yang tengah berantakan, semua benda sudah tidak pada tempatnya lagi, ruangan Raga yang selalu terlihat rapi, kini terlihat seperti kapal pecah.
“Pak ...”
Andin menyapa pria yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya, sambil memejamkan matanya. Sedari tadi kemana saja pria itu? Di telpon tidak di angkat, di chat tidak dibalas, bahkan Rey mengatakan jika Raga tidak ada di ruangannya, namun kini ... pria itu tengah duduk di kursi dengan tubuh lunglai, wajah kacau, juga ... matanya memerah, kenapa pria ini?.
__ADS_1
“Pak ... saya nyari Bapak dari tadi” Andin terus mendekati Raga, hingga dia tiba tepat berdiri di hadapan Raga, menatap Raga dengan raut penasaran.
“Ada perlu apa Bu Andin mencari saya??” ucap Raga tegas, membuka kedua matanya, lalu menatap Andin dengan tatapan dinginnya. Nada suaranya berbeda dengan nada biasanya, kali ini nadanya terdengar sedikit ... dingin. Hingga membuat Andin sedikit bergidik.
“Pak ... “ Andin sedikit terkejut dengan perlakuan Raga yang tidak biasa terhadapnya. Pak Raga seringkali bersikap lembut dan memperlakukan Andin bak putri, lalu kini? Andin sedikit tidak biasa dengan tingkah Pak Raga hari ini. Apa semua ini ada hubungannya dengan kesalahan Andin tadi? Andin melupakan janji makan siangnya dengan Raga, tapi apa harus sampai seperti ini reaksi Pak Raga?.
“Jika tidak ada keperluan, sebaiknya Ibu silahkan keluar dari ruangan saya” ucap Raga semakin tegas.
Deg!
Untuk pertama kalinya, Andin melihat sisi lain dari seorang Raga, dia terlihat arogan, kasar, juga sangat dingin.
“Pak, saya mau minta maaf, saya tadi ...”
“Apa penjelasan Anda kali ini mengenai pekerjaan?? Jika bukan tentang pekerjaan silahkan keluar dari ruangan saya!!” suara Raga sedikit menekan, terlihat jelas jika Raga kini tengah menyimpan amarah, juga luka.
“Baik” Andin mengangguk, lalu memundurkan langkahnya, meraih handle pintu, sempat berdiri sejenak, tapi Andin langsung keluar dari ruangan Raga. rasanya percuma saja mencoba berbicara dengan orang yang tengah dikuasai amarah.
Sepeninggal Andin, Raga kembali meluapkan emosinya pada seluruh barang yang ada di hadapannya. Kembali menghancurkan barang-barang yang tersisa hingga luluh lantah.
“AAAAAAAAARRRRGGGGHHH!!!!” Raga menjambak rambutnya frustasi.
“Jika mencintainya begitu mudah, kenapa membencinya begitu sulit???!!!!” Raga bertanya-tanya pada diri sendiri, sekelebat wajah terkejut juga kecewa Andin tadi terlintas di benaknya.
“AAARRRGGGHHH!!!” sekali lagi dia berteriak kesal.
Dan akhirnya, kini sudah tidak ada lagi yang tersisa di ruangan Raga, semua benda sudah hancur lebur, berkeping-keping, seiring dengan hati Raga yang juga tak kalah hancur, luluh lantah.
__ADS_1
Sementara itu, Andin berdiri di balik pintu, memunggungi pintu ruangan Raga, gadis itu mendengar semua yang terjadi di dalam sana, perlahan gadis itu memegang dadanya, lalu berusaha menahan buliran bening yang siap meluncur dari pelupuk matanya, sungguh, hal ini pun terasa sangat sulit bagi Andin.
Bagaimana caranya agar bisa bangkit dari semua rasa yang terus bersarang di dadanya? Ini sungguh membingungkan bagi Andin.