
Pertandingan semakin memanas skor masih seri, dari kedua belah pihak ternyata sama-sama kuat, Andin menyesal, karena sebelumnya dia terlalu menganggap enteng lawannya. Agnes gadis kampung sebelah, berbadan ramping, berkulit putih, dan terlihat kemayu, ternyata adalah perempuan yang kuat dan tangguh, dia mampu menyeimbangi Andin seorang anak lurah yang dikenal badung, juga sebelumnya Andin sudah pernah menjuarai pertandingan serupa.
Dua puluh menit berlalu pertandingan kian memuncak, sementara itu fokus Andin kini terbagi dua, dia masih berharap Dino bisa datang di pertandingannya. Dino sahabatnya sedari kecil, bagaimana mungkin Dino bisa melewatkan acara paling penting di hidup Andin. Biasanya Dino tidak akan pernah absen mengikuti kegiatan penting Andin.
Sesekali, mata Andin menatap ke arah sisi, tapi tetap saja yang terlihat hanya mereka orang-orang yang menyayangi Andin, pendukung setia Andin, tidak ada Dino di sana.
“Kamu tega No ...” hati Andin bergumam lirih.
Bukkkk!!
“Awwwhhh”
“Andiiiinnnn!!!”
Seluruh warga Suka Kaya yang hadir langsung berdiri, terutama Ambu, beliau sudah siap menyingsingkan baju gamis yang tengah digunakannya untuk menolong putrinya yang sudah terkapar, karena Andin tidak bisa menghindari pukulan lawan, akibat tidak konsentrasi.
Andin menggelepar di lantai, terlihat wajahnya meringis, sementara Agnes masih dalam mode siaga.
Beberapa menit, Andin masih menahan nyeri di bagian ulu hatinya, meski beberapa kali dia berusaha bangkit kembali, tapi nahas tubuhnya tak dapat berbohong, pada akhirnya juri menyatakan Andin gugur dalam pertandingan ini dan Agnes dinyatakan sebagai pemenangnya. Seketika sorak sorai dari pendukung Desa Suka Miskin terdengar menggema memenuhi ruangan Gor.
Sementara itu, decak kecewa jelas terlihat di wajah mereka warga Suka Kaya, seketika air mata Andin luruh di pipi, merasa kecewa akan dirinya sendiri. Merasa gagal, karena telah membuat orang-orang yang mendukungnya tertunduk lesu.
Team medis memapah tubuh Andin, untuk memberikan pertolongan pertama pada Andin, Andin dibawa ke sebuah ruangan yang berada di gor tersebut, salah seorang perempuan yang biasa membantu bidan desa di klinik membuka baju yang dikenakan Andin, terlihat biru lebam di perut bagian atas, Andin meringis menahan sakit.
“Tahan sebentar ya Teh, gak sakit kok” ucapnya tersenyum lembut, kemudian dia mengoleskan sebuah kapas yang sudah di beri cairan, hingga terasa dingin ketika di oleskan.
“Kamu gak apa-apa Neng??” tanya Abah menghampiri Andin yang tengah menyandarkan tubuhnya pada dinding.
“Gak apa-apa” Andin menggeleng, dengan air mata yang sudah menggenang.
“Neng! Anaknya Ambu, kamu gak apa-apa kan??” Ambu histeris, memeluk tubuh Andin yang belum bersiap.
“Andin gak apa-apa Ambu” Andin kembali menggeleng, menyembunyikan rasa sakitnya yang masih terasa.
__ADS_1
“Maafin Andin ya, Abah, Ambu ...” Andin menunduk, lagi-lagi dia kecewa atas sikapnya sendiri.
“Gak apa-apa atuh Neng, gak usah di pikirkan!” Abah duduk di samping putrinya, mengelus bahunya lembut.
“Andin udah buat semuanya kecewa” air mata Andin kini sudah luruh di pipi.
“Nggak, Abah gak pernah kecewa sama Andin” Abah menggeleng, diikuti oleh anggukan kepala dari Ambu.
“Padahal Andin sudah berusaha keras untuk pertandingan ini, tapi Andin kalah” kini Andin memeluk tubuh Abah, sambil menangis sesenggukan.
“Neng, kerja keras, berhati-hati, berusaha, berdo’a, itu semua adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai manusia, semua ikhtiar kita itu bukan jaminan, untuk mendapatkan apa yang kita mau, tetap saja semuanya Allah yang tentukan Neng” Abah mengelus rambut Andin dengan sayang.
“Udah ah, gak usah cengeng, nanti cantiknya hilang, kamu baru sekali ini kalah pertandingan, besok, lusa, kalau ada pertandingan lagi, kamu pasti menang!” Ambu ikut memeluk tubuh Andin, di ruangan perawatan itu mereka akhirnya berpelukan.
“Cinta! Gimana?? Masih sakit??” suara itu datang, membuat orang yang tengah berpelukan, melepaskan pelukannya masing-masing, terlihat Pak Raga dan yang lainnya tengah tersenyum di ambang pintu masuk.
“Nggak” Andin menggeleng, sambil menyeka air matanya.
“Gak usah sedih, menang, kalah, dalam sebuah pertandingan itu biasa” Pak Raga mendekat.
“Iya Neng Andin, jangan sedih, gak apa-apa, nanti juga Neng Andin bakalan menang lagi kok, kalau ada lomba lainnya” kini Mang Imut yang berdiri di pintu berujar, tubuh gempalnya menghalangi seluruh pintu, hingga Ceu Odah dan Ceu Kokom yang mau masuk terhalangi, mereka hanya bisa mengintip Andin dari balik ketiak Mang Imut.
“Andin! Semangat!” teriak Ceu Kokom dan Ceu Odah samar, karena suaranya terhalang tubuh mang Imut yang gempal.
“Makasih semuanya, maaf udah ngecewain” Andin tertunduk lesu.
“Gak apa-apa atuh Neng, yang penting kita masih bisa makan-makan gratis, yang udah disediain Bu Lurah, hheee ...” Mang Imut terkekeh, di ikuti gelak tawa dari yang lain.
Abah dan Ambu ikut tersenyum, tanpa Dino masih ada banyak sekali orang yang bisa mendukung dan memberi semangat pada Andin, hanya saja gadis itu sudah sangat terbiasa oleh kehadiran Dino sedari kecil, lambat laun cinta pulalah yang sudah membuat gadis itu terkurung dengan perasaannya sendiri.
***
“Pak Lurah, Bu Lurah, kami duluan yaaa ...” Mang Imut, Ceu Kokom, Ceu Odah dan yang lainnya melambaikan tangannya kala mereka akan pulang ke Desa Suka Kaya, mereka pulang menggunakan mobil colt yang tadi juga digunakan untuk mengangkut mereka.
__ADS_1
“Iya, hati-hati Ceu, nuhun!” Ambu membalas lambaian tangan mereka,
Mobil melaju, melewati jalanan Desa yang bisa dibilang sudah cukup mulus, karena beberapa tahun terakhir pemerintah sudah memperbaiki jalanan di Desa Suka Kaya dengan sangat baik, Berkat pengajuan dari Abah.
“Neng, Abah duluan ya, kamu sama Siti pulangnya hati-hati” Abah mewanti-wanti putrinya, sambil menghidupkan motornya, sementara Ambu sudah standby di belakang Abah.
“Iya Abah, aku pulang sekarang kok, ini nungguin dulu Siti lagi ke toilet” ucap Andin sambil celingukan.
“Jangan ngebut bawa motornya!” peringat Ambu sebelum motor benar-benar melaju.
“Iyaaa ...!” seru Andin, sambil duduk di atas motornya, menunggu Siti yang tak kunjung datang.
Sambil menunggu Andin mengedarkan pandangannya pada jalanan, kebetulan Gor terletak di pinggir jalan yang banyak dilalui mobil dan motor yang lewat.
“Dino?? Kok itu kayak Dino sih?? Sama Humaira kayaknya!” seketika Andin menajamkan pandangannya, kala melihat bayangan tubuh yang sudah sangat dikenalinya, tubuh yang sebetulnya dia harapkan kehadirannya tadi.
“Mau kemana mereka?? Jahat kamu No! Kamu gak datang di pertandingan aku, kamu malah asik-asikan pacaran sama Maira!” Andin terlihat mengepalkan tangannya kuat, kala melihat bayangan Dino tengah berboncengan mesra dengan Humaira, kini kekecewaannya bertambah pada Dino.
“Cinta!” lagi-lagi suara itu sudah berada di samping Andin.
“Pak Raga??” Andin terkejut.
“Ayo pulangnya bareng saya aja” ajak pak Raga dengan senyuman tak lepas dari wajah tampannya.
Dengan tangan masih mengepal karena kesal, Andin segera menaiki motor yang di kendarai Pak Raga, motor yang dipinjamnya dari tetangga tadi pagi.
Sepanjang jalan mereka terdiam, hingga tiba di lampu merah Andin baru tersadar, merasa ada yang kurang dari dirinya. Tapi Apa?? Andin terus mengingat-ingat.
Ya ampuuunnn Siti!!!
Siti ketinggalan gaeeeessss ...
Ckckck!!
__ADS_1
Bersambung .......