
“Apa kabar Din?? Siti??” Maira mendaratkan bokongnya di bangku panjang disampingku begitu saja, dengan perut besarnya dia terlihat kesulitan, segera aku membantunya untuk bisa duduk dengan nyaman.
“Aku baik, Siti juga baik” aku menjawab, sementara Siti hanya mendelik, rupanya Siti masih belum bisa menerima keadaan, masih ada sedikit kesal di hatinya untuk sahabat kami dulu.
Ini yang aku tidak suka, ini alasan kenapa aku memilih untuk tidak pulang kampung sekian lama, aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri, membayangkan yang tengah hamil anaknya Dino itu aku, dan bukan Maira, sejujurnya aku malas jika harus berbicara apalagi dalam posisi sedekat ini dengan orang yang ku anggap sudah mencuri Dino dari hidupku. Tapi ... aku sadar, segera aku menetralkan pikiranku, Dino bukan jodohku, jodoh terbaikku yang dikirim Allah padaku adalah insya Allah Pak Raga.
“Lama gak ketemu” ucapnya lagi, tidak banyak yang berubah dari perangai Maira, dia tetaplah perempuan cantik alami, dengan suara lembut dan merdunya, dan mungkin hal itulah yang membuat Dino langsung jatuh cinta padanya, dan membuang masa mudanya begitu saja. Meski keputusan itu sempat disesali oleh Dino, namun aku yakin jika takdir mereka adalah tetap bersama, aku percaya takdir dari Allah adalah takdir terbaik bagi setiap hambanya, termasuk takdirku juga takdir Dino.
“Iya, aku jarang pulang, soalnya aku kerja” jawabku seadanya. Memilih menjawab dengan singkat, dan tidak ingin terlalu panjang lebar.
“Enak yaa, kamu bisa kerja di kota, gaji-nya pasti besar” ucapnya lagi dengan nada sendu. Aku hanya tersenyum kaku. Selama ini pemikiran orang-orang di kampungku selalu seperti itu, kala ada orang yang merantau ke kota, selalu di sangka memiliki gaji besar, pekerjaan enak, hidup enak, penampilan menjadi cetar membahana, padahal tidak sepenuhnya demikian, mereka yang tidak pernah bekerja di kota tidak pernah tahu bagaimana kerasnya hidup di kota besar.
“Kandungan kamu sudah besar, sudah berapa bulan??” tanyaku basa-basi, padahal sudah tahu dari Dino tempo hari. Namun, karena tidak ada pembahasan lagi, akhirnya ku tanyakan juga hal yang sudah aku tahu ini.
“Tujuh bulan Din mau delapan bulan” ucapnya sambil mengelus perut buncitnya dengan sayang dan lembut.
“Semoga lancar sampai lahiran yaa, semoga anak kalian sehat-sehat” ucapku tulus, bibirku tersungging senyuman.
“Aamiin, terimakasih Din” ucapnya tersenyum lembut.
“O ya? Kamu mau bakso juga??” tawarku kemudian, sementara dia hanya terdiam menunduk, lalu terlihat seperti menelan ludahnya, saat melihat Sasya tengah menyuapkan bakso berukuran besar miliknya.
“Aku traktir kalian semua, karena hari ini aku juga membawa berita baik buat kalian” ucapku paham akan kondisi ekonomi Maira. Aku berkata dengan wajah berbinar, khas orang yang memiliki kabar bahagia.
“Serius Udin??!! Hhhuuaaa ... aku pesan lagi satu mangkok Mang!” Sasya berteriak girang. Dengan semangat dia segera memesankan banyak topping untuk bakso di mangkok keduanya.
“Aku juga Mang, bungkus satu buat istriku di rumah!” Otong menimpali, dengan semangat juga dia segera memesan.
“Aku juga nambah” Asrul tak mau kalah.
__ADS_1
“Onty ... aku juga mahu” anak bungsu Sasya ikut-ikutan bicara dengan bahasa cadelnya.
“Tenaaaannnggg semuanya, tenaaannggg!!! Semua boleh pesan sesuka hati! Andin gak akan langsung kismin hanya karena jajanin kalian bakso, tahu kaaannnn, calon suaminya siapa?? Pak Raga! mantan guru kita! Horang kayaaa!!” Siti setengah berteriak, menaikkan nada suaranya, seolah sengaja membuat pengumuman.
“Siti! Kamu gak pakai toa sekalian? Jangan kenceng-kenceng ih, malu” aku memukul pelan lengan Siti yang masih melirik tajam pada Maira.
“Eh?? Gak apa-apa, memang kenyataannya calon suami kamu sultan kok, Maaaaannnggg!! Aku mau pesen lagi! Di bungkus yang banyak! Sekalian buat mantan Lurah juga!” ucapnya cuek.
“Mantan lurah mah Bapaknya Andin atuh” Otong dan Asrul tergelak. Mereka tertawa menertawakan tingkah Siti yang selalu mengundang tawa.
Sementara Maira hanya menunduk, sorot matanya terlihat sendu, terdapat kesedihan di raut wajahnya.
“Ya iya lah, Bapaknya Andin itu orang penting, dan sekarang calon suaminya orang yang terlalu penting, kalian gak tahu aja seberapa kaya calon suami Andin, Pak Raga itu ternyata CEO sebuah perusahaan!” Siti kembali berkoar, membuat orang-orang melongo bingung.
“Naon CEO teh Siti??” Sasya menatap Siti bingung.
“Din ... terimakasih banyak buat traktirannya ya, aku gak maksud minta di traktir lho, aku kesini karena lihat status WA Syafitri aja” ucap Maira tertunduk.
“Gak apa-apa, aku seneng kok, kita kayak lagi reunian padahal gak direncanain” ucapku tersenyum lembut pada Maira.
“Memang sih, segala sesuatu yang tidak direncanakan suka terasa lebih berkesan, kayak orang yang hamil sebelum nikah, gak pernah direncanain, tapi pasti berkesan banget di hati semua orang” Siti kembali nyinyir.
“Siti! Udah ih, kamu mulutnya suka loss control gitu” tidak sengaja aku meninggikan suaraku.
“Kamu harus ingat ya Din, dia itu ...”
“Siti!!”
“Iya, iya, aku gak bakalan ngomong lagi!” Siti cemberut, sambil menyuapkan baksonya, sementara suasana sekarang menjadi begitu canggung.
__ADS_1
“Din, sebetulnya ada yang ingin aku sampaikan, bisa kita bicara sebentar??” Maira menatapku penuh harap.
“Kamu mau ngomong apa?? Ngomong aja”
“Emmhhh, tapi ... tidak di sini, bisa gak Din??” Maira memilin ujung dasternya.
“Bisa” Aku mengangguk “Sekarang kamu makan dulu aja ya, nanti kita cari tempat yang bagus buat kita ngobrol, kebetulan aku belum sempat belanja buat kebutuhanku selama di sini, kamu mau ya menemani aku belanja di minimarket itu?” ajakku, beralasan.
“Boleh Din” Maira mengangguk senang.
“Ketemu sobat baru, langsung lupa sama sobat lama, kayaaakkk ... siapa yaaahhh??” Siti kembali berucap dengan nada sindiran.
“Sitiiiiii ...” Aku menatap Siti dengan mendelik, yang ditatap langsung terdiam, pura-pura ngobrol dengan Sasya, padahal tadi mereka tidak akur.
“Berapa harga ikan asin sekarang??” tanya Siti sambil menekan sendok pada bakso di mangkuknya.
“Hah? Eh? Berapa ya??” Sasya yang paham akan situasi langsung gelagapan.
“Sepuluh ribu meureun”
“Bukannya tujuh ribu yah?”
“Naon? Bukannya dua ribu?”
“Ah ... gak jelas semua!”
Aku menarik napas berat, tersenyum pada Maira yang masih menunduk dalam.
“Maafin Siti ya ...” pintaku, dan Maira hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.
__ADS_1