
“Aku tidak memikirkan apapun saat aku memutuskan untuk menikah dengan Dino kala itu, bahkan aku menyerahkan hal paling berharga milikku pada Dino sebelum saksi nikah mengucapkan kata SAH, aku menyesal Din” Maira menunduk dalam, terlihat gurat penyesalan begitu ketara, penyesalan selalu datang belakangan itu adalah kata yang tepat untuk situasi Maira sekarang. Setelah sebelumnya Dino juga mengungkapkan penyesalannya, kini Maira juga mengungkapkan kata yang sama. Haruskah aku bersyukur untuk semua takdirku? Dulu aku memang merasa sakit dan patah hati, namun sekarang ...
“Dan saat penyesalan itu datang, aku sudah tidak mampu lagi mengubah apapun Din, aku menyesal tidak menggunakan waktuku sebaik-baiknya kala itu” Maira mulai terisak, tangannya mencengkram erat ujung kursi yang tengah didudukinya.
Aku memutuskan untuk mengajak Maira berbelanja di minimarket yang terletak tidak terlalu jauh dari komplek rumah kami, sekarang barang di sini jadi sangat komplit dan lebih modern, berbeda dengan enam tahun yang lalu. Dan disinilah kami sekarang, tengah duduk di depan minimarket di sebuah kursi yang berhadapan, dengan pembatas meja di tengahnya. Aku membelikan banyak barang untuk Maira, anggap saja ini sebagai kado pernikahan, dan kado kelahiran anak mereka, itu alasanku tadi, kala aku membelikan beragam keperluan bayi, juga kebutuhan Ibu hamil, tubuh Maira begitu kurus untuk ukuran Ibu hamil, aku tidak tega melihatnya.
“Di balik sebuah penyesalan pasti ada pelajaran berharga Ra, selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa” ucapku mencoba menghiburnya, bibirku tersungging senyuman tulus, hatiku merasa tersayat kala melihat keadaan Maira sekarang. Aku tidak tahu persis kehidupan mereka seperti apa pasca kejadian tempo dulu, namun melihat penampilan Maira, hatiku menerka-nerka, mungkin saja Maira hidup dalam sebuah kesulitan bersama Dino selama ini.
“Din ... apa yang dikatakan Siti, semuanya benar, meskipun ucapan Siti terdengar menyakitkan, tapi apa yang diucapkan Siti adalah fakta, penyesalan selalu datang belakangan” Maira kini terisak, penyesalan ketara sekali di wajahnya.
“Allah itu maha mafhum, Allah pasti mau memaafkan kesalahan setiap hambanya, asalkan hambanya mau bertaubat, mau berubah” ucapku lagi, menatapnya dengan hati yang entahlah ... .
“Tapi aku tidak pernah tahu, seberapa mafhum-nya Allah, aku perempuan berdosa Din, sekarang meskipun aku dan Dino sudah menikah, tapi putriku menjadi korbannya, putriku dibuahi di luar pernikahan, dan kamu tahu artinya apa?? Artinya, nasab-nya hanya ada padaku, cap sebagai anak haram melekat pada putriku, aku takut ... aku takut dia tidak mendapatkan jodoh yang baik di masa depannya” Maira semakin terisak, wajah cantiknya kini menjadi kusut. Air mata berlinangan, membuatku tidak kuasa untuk tetap menahan tangisku, air mataku ikut tumpah mendengar segala ungkapan hati Maira. Maira dan Dino mengikuti nafsu masa remajanya, hingga kini mereka harus menuai atas apa yang pernah mereka tanam, dan itu adalah hal yang cukup fatal, dosa mereka bukan hanya mereka yang menuai, namun juga keturunannya ikut terseret atas dosa yang pernah mereka lakukan.
“Ra ... jangan bicara begitu, kita tidak pernah tahu kehidupan seseorang kedepannya seperti apa, bahkan satu menit kehidupan kita kedepannya juga, kita tidak pernah tahu Ra” Aku mengelus lembut punggung Maira berusaha untuk menenangkannya.
“Din ... aku menyesal, aku tidak sempat menikmati masa remajaku karena ulahku sendiri, aku juga menyesal karena telah membuat putriku menjadi anak yang dicap buruk, padahal dia tidak tahu apa-apa, aku menyesal, karena perbuatan kami di masa lalu, aku memiliki kehidupan buruk di masa sekarang, hatiku juga sakit kala melihat orang yang selalu menatapku dengan sinis” Maira kian terisak, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi, mungkin baginya penghinaan dan tatapan sinis terhadap putrinya yang semakin menusuk hatinya.
__ADS_1
“Ra ... udah Ra, penyesalan gak akan pernah ada gunanya, waktu gak bisa berjalan mundur Ra, aku yakin anak kamu akan hidup jauh lebih baik lagi dari sekarang, aku yakin anakmu akan mengerti kamu Ra” tanganku masih berusaha mengusap punggungnya yang tengah bergetar karena tangisnya.
“Hiks ... aku benci diriku sendiri, yang harus terlena pada keindahan dunia yang ditawarkan setan Din, aku benci! Aku benci karena aku menentang orang tuaku, aku benci karena aku menjadi anak yang durhaka!” Maira mengatakannya dengan emosi yang sulit dikendalikan, Maira sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Air mataku kembali luruh seketika, aku terhenyak, ikut merasakan apa yang dirasakan Maira, sekuat apapun kita menanamkan penyesalan untuk masa lalu, semuanya tidak akan pernah kembali, kita tahu itu. Kenapa rasanya sekarang aku jadi bersyukur? Dulu Dino mengabaikan perasaanku, hingga aku patah hati, dan tidak menerima hati pria manapun, dan pada akhirnya aku dipertemukan kembali dengan Pak Raga, pria mapan yang sudah jelas dia sangat mencintaiku.
Benar bukan? Selalu ada hikmah di balik setiap musibah, ternyata Allah menjaga kehormatanku lewat patah hati yang ku alami selama bertahun-tahun itu, lalu Allah mengganti sosok Dino dengan pria yang jauh lebih baik segalanya, yaitu Pak Raga. Entah kebaikan apa yang pernah aku tanam di masa lalu, hingga Allah begitu baik padaku.
‘Rabb ... aku bersyukur atas karuniamu, terimakasih banyak Rabb, sudah memberikan semua yang terbaik untuk hidupku, menjagaku, melindungiku, dan menuntunku pada tempat yang begitu baik’
“Din ...” tangan Maira menggenggam tanganku yang masih terpaku di atas meja, aku mengerjap, lamunanku tentang masa lalu seketika buyar.
“Bolehkah aku meminta sesuatu padamu??” tanyanya penuh harap.
“Minta apa Ra??” tanyaku mengerutkan kening.
“Tolong jaga anakku, kalau saja suatu hari aku sudah tidak mampu menjaganya”
__ADS_1
Deg!
“Maksudmu apa Ra??” aku menatap Maira penuh selidik.
“A aku sakit Din, a aku takut, tidak ada yang bisa menjaga anakku dengan baik, jika sewaktu-waktu aku dipanggil yang maha kuasa” ucapnya menunduk, mengusap perutnya dengan sayang.
“Ngomong apa kamu Ra?? Aku beberapa hari lagi akan segera bertunangan dengan Pak Raga” ucapku menepis harapan Maira.
“Tolong bantu aku Din” suara Maira terdengar serak akibat tangisannya.
“Aku akan bantu kamu dengan caraku Ra” aku mengangguk setuju.
“Terimakasih banyak Din, aku percaya sama kamu” Maira menggenggam erat tanganku, sentuhannya terasa dingin.
“Kamu gak apa-apa Ra??” tanyaku lagi, merasa cemas.
“Aku gak apa-apa Din” perempuan itu menggeleng, dengan senyuman tipis di wajahnya, terlihat lega.
__ADS_1
‘Aku akan membantumu Ra, tapi tidak berarti aku akan mengorbankan masa depan dan juga perasaan orang lain lagi, aku tidak ingin menjadi manusia yang penuh penyesalan seperti dirimu’