BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Usaha Andin


__ADS_3

Pagi menjelang, saat sebagian manusia masih asyik bergelung dibawah selimut, maka beda hal dengan Andin, gadis itu sudah berada di dapur, mencoba untuk menjalankan ide Siti, sahabat absurdnya.


“Ingat Din, cowok itu pasti luluh kalau di sogok sama makanan yang enak” Siti melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan sahabatnya yang tengah berjuang, beberapa kali Andin meringis karena jarinya sempat teriris pisau yang digunakannya. Bukan hanya itu, Andin yang baru belajar masak juga beberapa kali terciprat minyak panas. Hingga menimbulkan beberapa luka bakar, Siti yakin semua luka itu akan terasa perih nantinya.


Siti merelakan dapurnya di sulap menjadi kapal pecah, demi keberlangsungan hubungan Andin dan Raga.


“Nah, selesai!!” Andin bersorak riang, sambil bertepuk tangan. Mengapresiasi kerja keras nya sendiri.


“Yaelah, berhasil goreng telor ceplok sama capcay aja udah kayak berhasil menangin lomba pencak silat se-Jawa Barat aja” Siti berdecak, diantara gumamannya, menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Siti! Aku dengar yaa!!” Andin mendelik, sambil mengamangkan spatulanya. Bersiap memukul kepala Siti dengan spatula, jika sahabatnya itu terus mengoloknya.


“Iya, iyaaaa” Siti kembali mengatupkan bibirnya.


“Sudah selesai, sana mandi, dandan yang cantik, pakai make up biar bisa ngilangin mata sembab kamu tuh!” ujar Siti kemudian.


***


“Wajah sudah cantik, baju sudah rapi, tubuh udah wangi, masakan udah enak, perfecto!!” Siti memutar-mutar tubuh Andin.


“Duuuhhh ... pusing Siti! Kamu puter-puter tubuh aku kayak gitu!”


“Iya, sana berangkat! Sukses yaaa Din” Siti mengacungkan bulatan tangannya, memberinya semangat.


“Makasih Titi” Andin tersenyum, melangkahkan kakinya menuju kantornya.


***


Andin berjalan menuju ruangannya dengan hati yang berdebar, berusaha menetralisir debarannya dengan terus tersenyum canggung pada setiap orang yang menyapanya.


“Rey, Pak Raga sudah datang??” tanya Andin begitu tiba di meja Rey.


“Sudah Bu, dari tadi Pak Raga marah-marah terus, adaaaa aja yang salah, padahal sekarang kan belum waktunya jam kerja, saya lagi di jalan, terus ditelpon, ditanya kerjaan terus, sambil marah-marah pula, biasanya Pak Raga gak pernah kayak gitu Bu, amarah Pak Raga melebihi Pak Ronald Bu, hhiiiyyy ...” Rey menjelaskan dengan bergidik ngeri.


“Masa sih??” kini hati Andin mulai menciut.


‘Duh ... gimana ini?? Apa aku batalkan saja usahaku buat Pak Raga gak marah lagi’ Andin membatin.


“Iya Bu, hidup saya kini semakin terjepit di antara para bos yang arogan” Rey kembali mengidikkan kedua bahunya, sementara Andin hanya nyengir saking ngerinya.


***

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


Andin memberanikan diri mengetuk pintu, dengan rantang masih di tangannya.


“Masuk!” terdengar teriakan dari dalam ruangan, suaranya menggema, kini Andin tahu sifat lain dari calon tunangannya tersebut.


“Pagi Pak ...” Andin menyembulkan kepalanya di pintu, tapi Raga masih acuh, tidak menoleh ke arah Andin sama sekali.


“Pak ...” Andin mendekati Raga.


“Ada perlu apa??” Raga masih tetap fokus pada berkas di hadapannya.


“Eemmhhh ... Bapak sudah sarapan?? Ini, saya bawain sarapan” Andin meletakkan rantang yang dari tadi dia tenteng di atas meja di hadapan Raga.


“Saya sudah sarapan!” ucap Raga ketus.


“Tapi, mungkin Bapak masih lapar Pak” Andin sedikit memaksa.


“Saya sudah sarapan!! Jadi gak lapar lagi” Suara Raga sedikit meninggi, membuat Andin terjingkat.


“I ini makanan yang saya buat dengan tangan saya sendiri lho Pak” ucap Andin mencoba merayu, dengan memainkan jari jemarinya, seolah ingin menunjukkan jika jarinya banyak yang terluka karena goresan pisau tadi.


Raga melirik sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


Andin mendengus, lalu kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari ruangan Raga dengan hati kecewa.


“Rey! Ini makanan buat kamu!” Andin meletakkan rantang di atas meja Rey.


“Hah?? Buat saya Bu??” Rey menggaruk pelipisnya bingung.


“Iya, makan aja sama kamu!” Andin dengan nada ketus, lalu menghentakkan kakinya dengan kesal menuju ruangannya sendiri.


“Duh ... kenapa sih?? Hari ini orang-orang pada marah-marah semua??” Rey kembali merasa frustasi dengan keadaan kantor sekarang, jika para pemimpinnya mengalami problem, maka tak ayal Rey pun sering kena batunya.


***


“Duh ... Cintaaaa ... saya bener-bener gak bisa marah sama kamu, tapi saya masih kecewa berat sama kamu” Raga mengacak rambutnya frustasi.


“Saya hanya ingin tahu, seberapa cinta kamu sama saya, seberapa kuat kamu melupakan masa lalu kamu, saya rindu kebersamaan kita Cinta” Raga menghela napasnya dalam-dalam.


“Tangan kamu pasti sakit banget kan?? Maafin saya, harus bersikap seperti ini”

__ADS_1


Raga memejamkan matanya sejenak, kemudian dia meraih telepon yang berada di samping kanannya, menempelkannya di telinga, lalu Raga mulai bicara pada Rey yang berada di luar sana.


“Rey! Masuk ruangan saya” ucap Raga yang tengah membuka rantang makanan yang diberikan Andin, baru saja Rey mau menyuapkan makanannya, tapi teleponnya sudah berdering.


“Baik Pak” jawab Rey, kembali meletakkan sendoknya.


“Ada apa Pak??” tanya Rey menatap Raga yang tengah memejamkan matanya.


“Berikan pada saya rantang yang diberikan Bu Andin padamu”


“Hah?? Maksudnya gimana Pak??” Rey menggaruk pelipisnya bingung dengan tingkah Raga.


“Bawakan rantang yang sudah kamu buka barusan”


“Kok Bapak tahu??”


“Jangan banyak tanya Rey”


“Tapi ...”


Dengan gemas Raga meraih dompetnya, lalu memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


“Buat ganti sarapan kamu!”


Dengan wajah berbinar, Rey langsung menyambar uang yang diberikan Raga, lalu segera bergegas, mengambil rantang dari Andin untuk diberikan pada Raga.


“Giliran urusan uang saja, otaknya cepet banget kerjanya” Raga mendengus kesal.


“Ini rantangnya Pak, makanannya belum saya sentuh sama sekali” ucap Rey meletakkan rantang di hadapan Raga.


“Bagus, dan kamu belikan saya plester, lalu berikan pada Bu Andin, tapi ingat! Jangan bilang itu dari saya!” peringat Raga.


“Oh, baik Pak” Rey memanggutkan kepalanya, tapi tubuhnya masih tertahan di hadapan Raga, tangan kanannya menggaruk tangan kirinya, yang sengaja di tengadahkan.


Paham kode dari Rey, Raga kembali meraih dompetnya memberikan selembar uang seratus ribu rupiah pada Rey.


“Buat beli plesternya!”


“Ehehehehe ... assiiiaaappp, terimakasih banyak Pak!”


Rey segera ngacir keluar dari ruangan Raga.

__ADS_1


“Cinta, saya harap kamu bisa peka dengan sikap saya” gumam Raga sambil membuka rantang Andin, lalu mulai menyendokkan makanannya, memasukkan ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya pelan.


“Eeemmmhhh ... perjuangan kamu pasti berat banget pagi ini, meskipun rasa makanannya kurang manusiawi, tapi saya hargai perjuangan kamu, saya akan menghabiskan masakan kamu Cinta”


__ADS_2