
Suasana di dalam gedung Desa Suka Kaya, tempat berlangsungnya pernikahan Andin dan Raga, terpancar rona-rona bahagia pada wajah-wajah yang kini sudah berada disana, tertawa bahagia, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang pemilik acara.
Keadaan semakin haru, kala para saksi mengucapkan kata ‘SAH’ setelah Raga mengucapkan ikrar janji suci dalam satu tarikan napas. Atau biasa disebut ijab qabul.
Tatapan mata penuh cinta, dua orang yang tengah bersuka cita, mengingat entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah sia-sia, serta pengorbanan yang cukup menguras, tenaga, waktu, juga dana, hingga mereka sampai pada tujuan bahagia, janji suci se-hidup se-surga. Berharap selalu bersama hingga maut memisahkan mereka.
Sempurna. Mungkin gambaran itulah yang pantas disematkan untuk acara pernikahan Andin dan Raga, dekorasi gedung dan pelaminan di hias oleh nuansa hijau muda dan warna putih yang mendominasi, bunga-bunga indah juga semakin mempercantik ruangan dan semakin menambah kesakralan suasana.
Raga dan Andin terlihat sumringah, berdiri tegak, sesekali mereka saling lirik, lalu saling tersenyum penuh arti, dua telapak tangan itu saling bertaut, seolah tidak ingin melepaskan.
Keduanya menyalami semua tamu undangan yang cukup banyak, bersalaman bergantian, hanya untuk mengungkapkan bahwa undangan turut berbahagia atas apa yang telah Andin dan Raga jalani hari ini.
Tidak lupa, meskipun acara hari ini seharusnya di handle oleh pihak WO yang sudah di percaya Andin dan Raga, namun warga Desa Suka Kaya tetap membantu berlangsungnya acara.
Ada Ceu Odah, Ceu Kokom, dan Mang Imut yang tetap setia menjaga prasmanan, sambil sesekali mencicipi makanan yang tengah dijaganya, ada suami Ceu Kokom dan Ceu Odah yang tiba-tiba rela menjadi tukang parkir dadakan, katanya lumayan kalau yang parkir tamu dari kota, selalu saja ada yang ngasih mereka tips, memang selalu saja ada modus terselubung di setiap hal yang mereka lakukan.
Juga semua Ibu-Ibu PKK sahabat Ambu turut memeriahkan suasana, beberapa dari mereka sengaja membentuk band kepret alakadarnya, hanya untuk menyumbangkan beberapa lagu untuk Andin dan Raga.
Tidak mau ketinggalan sahabat Abah, yang notabenenya adalah para pegawai Desa juga turut hadir, dan ikut serta mengeksekusi hidangan prasmanan yang tersedia.
Sementara tamu, sahabat, kolega, dan keluarga Raga tidak terlalu banyak yang hadir, hanya keluarga terdekat saja yang datang, karena mereka terkendala oleh perjalanan yang lumayan jauh, tapi ... Raga menjanjikan akan kembali menggelar acara resepsi pernikahan mereka di kota nantinya, hingga orang yang tidak berkesempatan hadir hari ini, bisa hadir di acara-nya nanti.
Keluarga inti Raga di dominasi oleh perempuan, terlihat para perempuan itu seolah berlomba ingin memamerkan barang-barang mewah yang digunakannya, bagaimana tidak? Para perempuan itu adalah tiga istri Kakek Raga, empat istri Ayah Raga, termasuk Bella musuh Andin, tiga istri paman Raga, dan ada beberapa perempuan lagi, yang entah siapa, Raga-pun tidak mengenalinya. Tapi, meskipun begitu, Pak Raden tetap setia menggandeng Mamah Ayu, sambil sesekali mendelikkan matanya pada Abah dan Ambu yang juga tengah berangkulan mesra.
Terlihat di pojok kiri gedung, ada Aa Nassar yang tengah misuh-misuh dikelilingi tiga istrinya, dan empat anaknya yang terlihat begitu riweuh, Nassar terus mendelikkan matanya pada kedua mempelai yang tengah melepas tawa di atas pelaminan sana.
Dan di pojok kanan gedung ada Ronald yang tengah menyuapkan buah semangka dengan tatapan mata tajamnya, tengah di temani seorang perempuan yang tidak lain adalah sekretarisnya.
__ADS_1
Sementara itu, seorang pemuda bertubuh ringkih berjalan mendekati pelaminan, berjalan gontai tanpa semangat, dia-lah Dino bersama putrinya Dina.
“Din ... selamat kuucapkan untuk pernikahanmu, semoga kamu bahagia” ucapnya lesu, berusaha menyalami Andin, tapi Andin hanya menelungkupkan kedua tangannya, kala bersalaman dengan tamu pria yang bukan muhrimnya, Raga tersenyum, meraih tangan Dino yang bergetar hebat.
“Terimakasih sudah datang di acara bahagia kami” ucapnya lirih.
“Sekali lagi selamat yaaa ... An-Din” Dino berjalan melewati pengantin begitu saja, menuntun putrinya yang terus menatap Andin dengan tatapan polosnya.
“Din! Fokus ke depan! Banyak tamu yang lain tuh!” Siti yang kini tengah berdiri di samping Andin melayangkan protesnya, tangannya dengan lincah membenahi bagian baju Andin yang di rasa kurang pas jika mereka tengah berfoto, Siti bertugas menjadi pagar Ayu, dan Rey bertugas menjadi salah satu pagar bagus, tentu saja itu atas dasar keinginan mereka yang disetujui kedua mempelai.
“Iya, kamu gak usah khawatir, tahu ‘kan? Kalau aku adalah perempuan berprinsip” Andin tersenyum lembut, mengibaskan wajahnya dengan kedua tangannya yang terasa panas, akibat dia merasa tidak nyaman dengan makeup pengantin yang tidak biasa dia lakukan, belum lagi Andin baru belajar menggunakan hijab, memakai hijab seharian penuh di dalam ruangan yang berdesakan orang, tentu saja membuat Andin merasa kegerahan. Belum lagi cuaca trik di luar gedung yang lumayan membakar.
“Iya tahu aku tuh” Siti mulai menilik penampilan Andin, memberi kode pada photographer agar kembali menjepret sahabatnya itu.
“Yang mesra atuh! Jangan malu-malu, kan udah halal!” Siti memekik kegirangan, sambil dengan sengaja memangku tangan Andin, dan meletakkannya di dada Raga, membuat Raga tersenyum mesem, penuh arti.
“Alah, udahlah gak usah malu-malu, nanti malam juga kamu pasti bakalan jadi perempuan yang gak tahu malu” Siti tergelak, matanya menerawang jauh, entah apa yang sedang gadis itu bayangkan.
“Siti! Mesum kamu yaaa??? Sana nikah sama Rey! Biar kamu ngerasain berdebarnya jadi aku sekarang” Andin mengerucutkan bibirnya.
“Gampang itu, tunggu aja undangan dari kita” Siti berbisik dengan kekehannya.
“Eh? Serius kamu Siti!” Andin hampir berteriak tidak percaya, jika tidak dalam keadaan seperti sekarang, mungkin Andin akan berlari mengejar Siti, untuk meminta penjelasan.
“Sssssttt ... ada tamu tuh, baaayyyyy!!” Siti melambaikan tangannya, melenggang begitu saja, turun dari pelaminan, dan di bawah sana dia sudah disambut oleh tangan Rey.
“Siti kena tulah, katanya gak mau sama brondong, tau-nya si Rey di embat juga” Andin berbisik pada Raga yang tengah menatapnya dengan tatapan ... entahlah.
__ADS_1
“Bapak kenapa natap saya kayak gitu??” Andin mengerutkan keningnya.
“Kamu cantik” ucap Raga jujur.
“Ih ... Bapak Maaaahhhh ...” Andin menunduk malu-malu.
“Kenapa waktu kok lama banget yaa bergeraknya?? Perasaan dari tadi masih jam sebelas aja sih??” Raga kembali menatap jam tangan mewah yang melingkar di tangan kirinya.
“Apaan sih??” Andin memukul tangan Raga pelan.
“Ciieeee penganten baru” tiba-tiba Sasya, Asrul dan kedua anaknya datang.
“Pipit?? Makasih sudah datang” Andin tersenyum, melihat tubuh Sasya yang gempal, sementara tubuh Asrul yang ceking, tidak lupa anak pertamanya menenteng balon besar yang cukup menghalangi pemandangan, dan anak satunya lagi menyemut eskrim yang sudah belepotan pada baju emaknya.
“Sasya Din ... ehhehehe” suara Sasya tertahan, lalu tersenyum ke arah Raga.
“Eh? Lupa, haha” Andin tergelak, lalu bersalaman dengan mereka.
Tidak lama, sahabat Andin, sahabat Raga, juga seluruh keluarga mulai berdatangan dan saling berdesakan memberikan do’a restu pada kedua mempelai yang tengah berbahagia.
Berfoto ria, dengan gaya formal juga gaya bebas sebebas-bebasnya, sebagai pengabadian dari acara paling membahagiakan bagi kedua mempelai.
Hari ini, tentulah hari yang paling di nanti oleh pasangan Andin dan Raga, mengikat hubungan mereka dengan sebuah janji suci pernikahan, pernikahan bukanlah akhir bahagia dari sebuah hubungan, namun awal sesungguhnya dari sebuah ikatan, akan ada banyak ujian yang lebih berat dari sebelumnya, tapi ... mereka percaya, bahwasannya ujian sebesar apapun akan tetap mereka lewati bersama, karena mereka percaya kekuatan cinta mereka akan mengalahkan segalanya, termasuk jarak, ruang, dan waktu. Sejauh apapun mereka pergi dan berjauhan, maka mereka akan saling membisikkan kata cinta lewat untaian do’a, hingga pada akhirnya takdir mempertemukan mereka.
Jauh sebelum hari ini, mereka pernah sangat tersiksa dan menderita, namun setelah-nya, kini mereka menemukan kebahagiaan yang tiada tara. Benar saja apa yang selalu diwejangkan Abah pada anaknya.
Painna ma’al usri yusra : sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan
__ADS_1
Inna ma’al usri yusra : di dalam kesulitan ada kemudahan.