
Memang benar apa yang dikatakan orang, jatuh cinta itu memang berjuta rasanya, kadang terlihat bahagia, kadang terlihat sedih, kadang senyum-senyum sendiri, kadang juga nangis-nangis gak jelas, sekilas orang jatuh cinta itu kadang terlihat seperti orang yang tidak waras.
Klontrang ...!!!
“Aduh!!!”
“AWWWW!!!”
“Ish!!!”
“Apaan sih?? Pagi-pagi buta udah berisik banget??” Siti menggosok matanya, sambil berjalan melalui tangga menuju arah sumber suara.
“Siti ...” Andin menunjukan jari telunjuknya yang tergores pisau, darah masih menetes, tapi gadis itu tidak peduli Andin tetap melakukan kegiatannya, kembali melanjutkan mengiris wortel.
“Euleuh-euleuh ... ada wangsit dari mana kamu? Mau masuk dapur buat perang??”
Siti membulatkan matanya, kala di lihat dapurnya yang tadinya rapi, bersih, dan wangi menurutnya, kini sudah berubah menjadi berantakan, bahkan super duper berantakan. Semua sudah tidak lagi pada tempatnya. Wajan di atas meja makan, kompor miring kiri, talenan di depan pintu dapur, spatula teronggok lemah di pinggir wastafel, juga bumbu-bumbu dapur yang sebagian sudah berserakan di lantai. Jangan tanyakan bagaimana penampilan Andin, karena terang saja penampilan Andin dan penampakan dapur sama kacaunya, membuat Siti menggeram marah, namun juga tidak bisa berbuat banyak.
“Kalau mau latihan pencak silat, di luar sana, jangan di daerah kekuasaanku!” Siti mendengus malas, meraih spatula yang teronggok di lantai, karena dibanting Andin, saat dia menyentuh katel karena kepanasan.
“Ciieeee ... mantan jomblo, ngapain kamu masak sepagi ini?? Lagi bikin sarapan buat Yayang ya??” Siti menyenggol bahu Andin, sambil meneguk segelas air putih. Alisnya naik turun menggoda Andin yang masih berjuang untuk meneruskan kegiatannya.
“Apaan sih??” sahut Andin malas, ogah-ogahan menanggapi ucapan sahabatnya tersebut. Jelas saja gadis itu merasa malu kala terus di goda oleh sahabatnya, oh! Andin bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, namun sekalinya jatuh cinta gadis itu akan menjadi sedikit gila. Andin juga gadis yang tidak pandai mengungkapkan rasa, jadi kala di goda jelas saja dia tidak suka.
“Aku seneng kalau kamu mulai perhatian sama Yayang Raga” ucap Siti kemudian.
“Sittttiiii ... kamu ih, berisik banget deh, bukannya kamu sendiri yang bilang, aku harus berusaha membuka hati buat Pak Raga??” Andin mengibaskan tangannya di udara mengingatkan ucapan Siti tempo hari.
“Iya sih. Tapi inget yaaaa, perhatikan rasa masakan kamu, jangan sampai rasanya menjadi sangat tidak manusiawi lhooo, kasihan Yayang Raga, punya calon istri gak bisa masak, udah gak bisa masak, galak pula, ckck parah!” Siti berlalu, kembali masuk kedalam kedainya, menyapu lantai, karena beberapa jam lagi kedai Mie Ayamnya akan buka.
Sementara Andin melanjutkan kegiatannya, yang sempat tertunda karena di ganggu Siti, sesekali mendengus kesal karena ocehan Siti yang memang benar adanya, ada banyak kekurangan dalam diri Andin, termasuk tidak bisa memasak dengan benar, menyesal hatinya, kala di kampung dulu seringnya malas-malasan kala Ambu memintanya untuk belajar memasak. Tapi, Andin akan mencoba belajar mulai sekarang. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?.
Dua jam berlalu, akhirnya Andin bisa menyelesaikan kegiatan memasaknya, segera dia bergegas menuju kamar, untuk bersiap-siap bekerja. Mandi dengan bersih, juga dandan dengan cantik ala-ala Andin.
***
“Selamat pagiiii ...” sapa Andin ceria, kala dia melewati meja Rey.
“Pagi Bu ...” Rey menganggukan kepalanya, sambil menatap punggung Andin yang sudah memasuki ruangannya.
“Hari ini hari apa sih?? Lihat Pak Raga senyam-senyum sendiri, lihat Bu Andin begitu ceria” Rey kembali fokus pada layar komputernya.
__ADS_1
“Rey! Buatkan aku kopi hitam!”
Brruuukkk!!
Rey mengusap dadanya perlahan, merasa kaget dengan perintah tiba-tiba dari Ronald, sambil membanting pintu ruangannya.
“Kecuali yang satu ini, udah ketus, dingin, kantung matanya tebel banget, suka banting pintu lagi! Kalau gini caranya, lama-lama adek bisa sawan” Rey menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Rey? Di ruangan Pak Raga lagi ada tamu ya??” tiba-tiba Andin sudah ada di samping Rey dengan paper bag di tangannya.
Rey sedikit terjingkat lagi “Eh? Iya Bu” Rey mengangguk.
“Ya udah, nanti aja saya ke sananya” Andin kembali memasuki ruangannya.
***
Di dalam ruangannya Andin kembali fokus dengan pekerjaannya, sesekali dia menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, lalu melirik paper bag yang berada di atas meja di samping kirinya.
“Pak Raga sibuk banget ya??” Andin menggumam sendiri.
Waktu berlalu, jam menunjukan pukul sepuluh siang, tapi tidak ada tanda-tanda Pak Raga menghubunginya, biasanya dari subuh hingga jam segini, Raga sangat getol sekali menghubungi Andin, entah mendatanginya langsung, atau sekedar nelpon, kalaupun Raga disibukkan oleh pekerjaan, Raga pasti akan menghubungi Andin terlebih dahulu.
Dua jam berlalu, Raga masih tak ada kabar, kini sudah saatnya jam istirahat tiba, Andin meregangkan tubuhnya, berulang kali gadis itu menguap karena lelah.
Andin melirik pintu ruangannya, saat terdengar ada yang mengetuk pintu.
“Masuk!” ucap Andin
“Bu ... eemmhhh ...” terlihat Rey yang muncul di ambang pintu dengan wajah ragu.
“Kenapa??” Andin mendongakkan kepalanya, menatap Rey yang tengah kebingungan.
“Bilang aja” lanjut Andin, masih dalam mode santai.
“Ibu di panggil ...” Rey menggantungkan ucapannya.
“Siapa??” Andin masih asyik mencoret kertas yang ada di hadapannya.
“Ibu dipanggil boss” ucap Rey akhirnya.
“Boss?? Siapa?? Pak Raga??” tanya Andin masih santai.
__ADS_1
“Bukan” Rey menggeleng berulang kali, wajahnya terlihat cemas.
“Lalu siapa??” Andin mengerutkan keningnya, penasaran dengan ucapan Rey selanjutnya.
“Boss besar Bu” Rey masih menggantungkan ucapannya, membuat Andin gemas sendiri.
“Rey ... bilang aja, siapa??”
“Boss besar, Ayahnya Pak Raga Bu” akhirnya lolos juga ucapan Rey.
Deg ...
“Ayahnya pak Raga?? Kenapa mau bertemu saya??” jujur tangan Andin sudah terlihat bergetar, entah mengapa, tapi tiba-tiba saja dadanya menjadi bertalu-talu.
“Saya kurang tahu Bu, beliau bilang katanya Ibu di tunggu di kantin perusahaan sekarang” setelah mengatakannya Rey langsung bergegas pergi, meninggalkan Andin yang tengah terdiam mematung.
“Ayahnya Pak Raga?? Kenapa Pak Raga gak bilang apa-apa kalau Ayahnya mau menemuiku??” Andin bergumam sendiri. Menyambar ponselnya, lalu menekan nomor yang paling sering menghubunginya.
Tuuuttt ... tuuuttt ... ttuuttt ... ( Nomor yang Anda tuju sedang sibuk )
“Ish ... kemana sih Pak Raga?? Kok nomornya sibuk??”
Berulang kali, Andin menghubungi Raga, tapi hasilnya masih tetap sama. Nomor Raga masih sibuk, entah kenapa.
Bersambung ...
Ada yang dipanggil camer, hheee ...
Readers, waktu pertama kali ketemu camer deg-degan juga kayak Andin gak?? Hheee ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa ...
Like
Komentar
Bintang lima
Vote
Share juga cerita ini yaaaa
__ADS_1
Hatur nuhun!