BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Cinta, Kamu Tidak Berubah


__ADS_3

“Bu, Ibu kok berani banget sih? Ngelawan Pak Ronald? Sebelumnya, tidak pernah ada yang berani melawannya lho Bu, kita semua harus tetap tunduk dan patuh akan semua perintah Pak Ronald, meskipun kadang itu melanggar peraturan perusahaan” ucap Rey ketika Rey dan Andin memutuskan untuk makan siang bersama di kantin perusahaan yang terletak di lantai dasar. Merasa perutnya berdemo karena terlalu banyak melakukan aktivitas yang menguras tenaga, pikiran, hati, jiwa dan raganya, Andin memutuskan untuk makan siang ditemani Rey.


“O ya?? Memangnya hal apa yang sering dia lakukan??” tanya Andin masih menyendokkan makanan, lalu memasukan kedalam mulutnya dengan gaya yang sangat santai, namun begitu elegant. 


“Ya seperti datang ke kantor sesuka hati, lalu dia sering meminta hal-hal yang di luar kemampuan para pegawainya” ucap Rey sambil bergidik membayangkan kembali kala dia selalu menjadi sasaran kala bossnya itu tengah banyak maunya.


“Rey, berapa usiamu??” tanya Andin menghentikan suapan makannya, lalu menatap Rey yang masih ngedumel sendiri. Mata Andin meneliti penampilan Rey dengan detail.


“Usia?? Tahun ini saya dua puluh tiga Bu” ucap Rey sambil tersenyum.


“O ya?? Berapa tahun kamu bekerja??” tanya Andin lagi, semakin menatap Rey, dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat lawan bicaranya seringkali kelimpungan sendiri.


“Selepas lulus kuliah saya langsung bekerja disini Bu, mungkin sekitar satu tahun lebih saya bekerja di sini” jawab Rey.


“Ooohhh ... berarti, main mu masih kurang jauh Rey, di dunia kerja hal-hal seperti itu sudah biasa terjadi, pimpinan kejam, teman kerja rese, pekerjaan tiada habisnya, dan masalah-masalah lainnya pasti akan berdatangan seiring dengan bertambahnya jam kerja kamu Rey, termasuk ketika kamu memiliki atasan seorang PREMAN” ucap Andin setengah menasihati Rey, dengan menekankan kata PREMAN, karena dia tahu betul, seisi kantor sudah mencapnya dengan sebutan seperti itu, termasuk juga Rey. Andin sudah mengira, jika sebelumnya Rey juga pasti sudah menggosipkan dirinya.


Rey hanya bisa menunduk, makanan yang dimakannya mendadak terasa hambar, dan sulit ditelan. Seketika tubuhnya sedikit bergetar tidak nyaman, Rey merasa telah tertangkap basah.


“I ibu bisa saja” Rey menggigit bibir bawahnya, takut salah bicara lagi, dari pada dia salah bicara, lebih baik Rey diam saja dan berusaha menghindar tatapan Andin yang mengintimidasi.


“O ya, aku dengar Pak Ronald itu masih saudaranya Direktur perusahaan ini ya??” tanya Andin kemudian, karena seringkali dia mendengar desas-desus jika Ronald bekerja seenaknya di kantor ini, karena dia merasa bahwa kantor ini adalah milik pribadi dirinya.


“Tepatnya Adiknya Bu, Adik dari istri yang keempat” bisik Rey, dengan bola mata yang menelisik ke kiri dan ke kanan, seolah takut ada yang mendengar ucapannya. 

__ADS_1


“Oooohhh ...” Andin menganggukan kepalanya berulang kali tanda mengerti. 


“Direktur sering ke sini??” tanya Andin lagi. mencoba mengorek informasi dari Rey.


“Jarang Bu, sangat jarang, pernah sekali dia datang ke sini bersama istrinya, tapi hanya untuk mengecek beberapa pekerjaan saja, dan langsung pulang lagi” jawab Rey, sambil meneguk sisa orange juice nya hingga tandas. 


“Oh begitu?? Ya sudah, aku sudah selesai makan, aku mau shalat dzuhur dulu, aku duluan Rey” Andin menyeka mulutnya dengan tisu, lalu berlalu menuju mushola yang terletak tidak jauh dari kantin, meninggalkan Rey yang masih menatapnya dengan decakan. 


“Ck, Bu Andin itu cantik, baik, smart, shaleha, tapi sayang dia galak seperti preman, hhiiiyyy ...” Rey bergidik ngeri, bagaimana mungkin perempuan yang terlihat lembut dan anggun seperti Andin, ternyata memiliki sisi lain yang membuat para pria takut terhadapnya.


***


Pagi menyapa, di sebuah bangunan gedung tinggi, seorang pria tengah berdiri di pinggiran jendela kaca, membelakangi meja kerjanya, sementara itu tangannya dilipat di dada, matanya menerawang menatap jalanan ibu kota, yang sudah padat dilalui hilir mudik pengguna jalan. Lalu netranya menatap langit biru, yang mulai terlihat seiring dengan mentari pagi yang mulai sepenggalah naik. Pria itu menyipitkan matanya, menahan kilauan mentari yang mengganggu netranya. 


“Baik, nanti akan saya tandatangani” ucapnya tanpa menoleh, pria itu seolah sudah paham segalanya tanpa harus melihat lawan bicaranya.


“Dan juga ... ada sesuatu yang harus Bapak tahu” ucap perempuan dengan rambut sebahu itu, masih berdiri tegak meski pria di hadapannya enggan untuk menoleh atau sekedar menatap wajahnya. 


“Apa?” pria itu memutar tubuhnya, lalu menarik kursi kerjanya, dan mendaratkan bokongnya di sana. Merasa penasaran akan apa yang akan disampaikan bawahannya.


“Ini ...” perempuan itu menyodorkan tablet ke hadapan pria di hadapannya, lalu pria itu mulai meraihnya dan menonton sebuah video yang tengah terputar. 


Satu menit, pria itu menatap layar tablet tersebut, seketika dahinya mengkerut dalam, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Matanya membelalak kaget, berulang kali dia memutar ulang video tersebut, lalu kembali menontonnya. Video dengan durasi lima menit tiga puluh detik, tapi jika di putar sebanyak lima kali, maka akan menghabiskan waktu hampir setengah jam, dan hal itu, membuat perempuan yang dari tadi berdiri tegak di sampingnya mulai merasa pegal. Sesekali matanya melirik Direktur perusahaan dengan hati yang penasaran. Dahinya mengkerut dalam, tidak biasanya direktur akan bereaksi seperti ini hanya karena melihat sebuah video. 

__ADS_1


“Jelaskan apa yang terjadi??” tanyanya dengan suara datar. 


“Ada sedikit masalah dengan salah satu karyawan di cabang tersebut Pak, hingga menyebabkan beberapa preman menerobos kantor, dan menyebabkan keributan, untung saja karyawan baru itu mampu mengatasinya” jelasnya dengan lugas. 


“Apa jabatan perempuan ini??” tanyanya dengan mata masih tak berpaling dari layar tablet di genggamannya.


“Wakil pimpinan Pak, wakilnya Pak Ronald” jawabnya.


“Jadi, perempuan yang beberapa hari lalu di tugaskan untuk menghandle meeting dengan Pak Wangsa juga dia??” tanyanya hampir tak percaya.


“Iya Pak, sebelumnya, ketika di cabang A juga dia adalah karyawan terbaik, makanya dia di pilih untuk di pindah tugaskan ke kantor cabang Pak Ronald” 


“Oh, begitu?? Lalu, bagaimana dengan Ronald??” 


“Pak Ronald masih sama dengan sebelumnya Pak, belum ada perubahan sama sekali dengan kinerjanya” 


“Baiklah, kamu boleh keluar sekarang” mengibaskan tangan kanannya, sementara itu jari-jari tangan kirinya, kembali asyik memutar ulang video yang seakan tidak bosan untuk melihatnya. 


“Cinta ... kamu tidak pernah berubah”


Gumamnya sambil tersenyum simpul, yang mengandung banyak arti. 


Bersambung ......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...


__ADS_2