
“Din! Si Sapi mau ngajakin kita ketemuan di kedai Mie Bakso langganannya tuh” ucap Siti yang langsung masuk kedalam kamarku, kala aku tengah menyisir rambutku yang baru saja di keramas, kebiasaan Siti memang selalu nyelonong masuk ke area pribadiku, dasar Siti, sudah tidak ada lagi privasi untukku jika dengan Siti.
“Siapa Sapi?? Si Syafitri maksudnya??” tanyaku sambil mengoleskan lip balm berwarna bibir pada bibirku, hanya itu yang ku gunakan, tanpa memoleskan make up apapun lagi.
“Iya, dia nungguin tuh, belum aku bilang setuju, tapi dia udah bawa kedua anaknya ke sana, katanya udah nungguin sejam” ucap Siti nyerocos.
“Yah ... kasihan kalo gak di temuin, kebetulan aku juga gak ada acara kok, yuk ke sana saja” ajakku seraya berdiri, meraih handuk bekas aku mandi, untuk aku jemur.
“Yakin kamu??” Siti menatapku lekat.
“Yakinlah, ketemu Syafitri aja kan?? Anggap aja kita reunian, aku juga udah kangen sama mereka, sekalian ngasih undangan buat acara pertunangan aku nanti” ucapku acuh.
“Bukan gitu sih, tapi ...” Siti menggantungkan ucapannya, sekilas aku faham, pasti Siti takut aku mengenang masa lalu, jika harus melewati tempat-tempat yang sempat membuatku trauma.
“Percaya deh, aku gak apa-apa” aku menggeleng, menatap Siti yang begitu terlihat khawatir.
“Ya udah yuk, pake motor Abah kamu aja ya, biar cepet” ujar Siti, lalu aku mengangguk, menyetujui usulannya.
Motor melaju membelah jalanan Desa, butuh waktu dua puluh menit untuk menghampiri Syafitri yang tengah menunggu kami datang.
Kuedarkan pandangan, rasanya aku begitu rindu pada Desa ini, udaranya yang sejuk membuatku bisa bernapas lega, pemandangannya yang masih terlihat asri membuatku tak bisa berhenti berdecak, terlalu lama tinggal di kota, membuatku melupakan bagaimana rasanya suasana Desa.
“Udah nyampe Din” Siti menghentikan motor tepat di depan kedai Mie bakso yang di maksud Syafitri.
Aku turun dari atas motor, lalu berjalan memasuki kedai tersebut, kehadiranku sempat mencuri perhatian beberapa orang yang tengah menikmati baksonya siang ini, mereka menatapku sekilas, lalu langsung menunduk dan berbisik-bisik dengan teman lainnya.
“Udin!!” terlihat dari arah pojokan Syafitri melambaikan tangannya, memanggilku dengan antusias.
“Pipit ...” aku mendekat, lalu memeluknya setelah sebelumnya bersalaman lalu cipika-cikipi dengannya.
“Din! Kamu sama aja kayak Siti, manggil aku Sapi, sekarang kamu manggil aku Pipit! Dikira aku ini binatang apa??” dia memberengut kesal, sambil menghempaskan bokong montoknya di kursi tempatnya duduk tadi.
“Terus?? Kamu masih mau di panggil Syasya??” tanyaku menahan tawa.
“Ya iya atuh, bukan cuman Siti yang ganti nama jadi nama kota, aku meskipun tinggal di kampung, tapi tetep mau kayak orang kota” aku tergelak mendengar alasannya.
“Apa kabar kamu?? Yang lain apa kabar??” tanyaku menatap Syafitri dengan senyuman rindu, rindu berantem dengan mereka sewaktu SMA dulu, ah ... andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin kembali ke masa itu walau hanya satu hari saja.
“Aku baik, seperti yang kamu lihat, buntutku udah dua, anak-anak ayo sapa dengan baik onty Andin, Onty Andin ini sahabat Mommy” ucapnya dengan fasih.
Tawaku tidak dapat ditahan lagi, aku tergelak terpingkal-pingkal mendengar cara Syafitri berucap pada anak-anaknya.
__ADS_1
“Alah ... masih makan goreng singkong aja, so so-an mau dipanggil Mommy” Siti datang menghempaskan bokongnya, setelah selesai memarkirkan motor.
“Apa sih?? Kamu masih sirik aja! Sirik itu artinya tidak mampu!” ucap Syafitri sarkas.
“Hallo Onty” kedua anak Syafitri menyalimi tanganku, dengan kompak.
“Hallo Bibi” kemudian menyalimi tangan Siti, dan itu membuat Siti membulatkan matanya sempurna.
“Heh! Kenapa di beda-bedain manggilnya, Andin di panggil Onty, aku di panggil Bibi??” Siti mendelik tidak suka.
“Nah, mangkanya! Jangan macam-macam sama anak kecil! Anak kecil itu masih suci, mereka bisa bedain mana yang tulus dan mana yang modus!” Syafitri mengedikkan bibirnya.
“Cih ...” Siti berdecih, melambaikan tangannya, pada Abang penjual bakso, untuk memesan makanan kami.
“Hay ... kalian sudah datang ya??” tiba-tiba suara pria di belakang kami membuat aku dan Siti menoleh.
“Daddy!!” kedua anak Syafitri merentangkan tangannya kompak.
“Asrul??” aku dan Siti kompak menyebutkan nama pria yang tengah menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal.
“Hay ... whats up girl??” ucapnya mengikuti gaya ala-ala rapper yang tengah naik daun itu.
“Naon si Asrul?? Katularan saha jadi kieu??” Siti mengedipkan matanya berulang kali, sama seperti aku yang masih tidak percaya akan kehadirannya.
“Euleuh-euleuh, kulit anak si Asrul hideung, tapi ngomongnya mani kebule-bulean begitu” Siti semakin berdecak.
“Heh! Jangan hina warna kulit anak aku ya! Itu termasuk body shaming!” Syasya mendelik tidak suka.
“Ya gustiiiii!!! Aku ketinggalan banyak info!” Siti menepuk jidatnya, saking tidak percayanya dengan perkembangan Desa Suka Kaya.
***
“Kalian kok bisa nikah sih?? Bukannya kalian dulu putus ya??” tanyaku masih penasaran pada pasangan suami istri yang tengah asyik mengunyah baksonya.
“Kita CLBK Din” jawab Asrul, masih dengan mulut yang mengunyah.
“Dih ... kok bisa?? Bukannya kalian dulu pada ogah-ogahan ya??” Siti menimpali.
“Namanya juga jodoh, kalau udah jodoh, meskipun kamu lari kemanapun, ya pasti bakalan tetep kembali lah” kini Syasya yang menjawab.
“Mommy, mau pipis” anak bungsu Syasya nyeletuk, sambil memegangi pahanya sekuat tenaga.
__ADS_1
“Duh ... kenapa pipis sekarang sih?? Rempong banget deh, Mommy pusing nih, harus bolak-balik toilet, tadi Kakak kamu, sekarang kamu” Syasya memberengut kesal.
“Biar sama Daddy aja” dengan sigap Asrul membopong anaknya menuju toilet sederhana yang terletak di belakang kedai.
“Kamu enak ya, masih muda tapi udah punya segalanya, aku lihat di facebook, kamu sering unggah rumah kamu yang baru di bangun itu, terus kamu juga udah punya dua anak lucu, juga suami sepengertian Asrul, nikah muda tuh enak ya?” ucapku sembari menerawang.
“Semua yang aku unggah di media sosial itu tidak sepenuhnya hal yang membahagiakan kok, di dunia nyata, kehidupan rumah tanggaku juga mengalami pasang surut”
“Nikah muda itu, ada enaknya ada juga enggaknya, enaknya ya bisa punya semuanya dari awal, misalnya anak, atau rumah, atau yang lainnya”
“Gak enaknya, aku harus merelakan masa remajaku begitu saja, bayangkan Din, ketika aku melihat foto kamu sama Siti tengah jalan-jalan di tempat yang bagus, menikmati indahnya dunia, sementara aku harus nyebokin anak aku yang baru brojol, belum lagi anak aku yang pertama suka bikin aku kesel, karena mungkin emosiku masih labil, belum lagi suamiku yang seumuran sama aku itu, gak ada mau ngalahnya, belum lagi masalah yang lainnya yang harus aku pikul” Syasya menjelaskan panjang lebar.
“Tapi kok badan kamu tambah gendut aja sih??” Siti menimpali.
“Ini efek KB kayaknya” jawab Syasya polos.
“Efek KB atau efek kebanyakan makan bakso??”
Syasya tergelak, Ibu dua anak itu tertawa, hingga membuat perutnya yang bergelambir bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan.
“Kalian ngumpul di sini??” aku dan Siti mendongak kompak kala mendengar suara asing lagi.
“Otong!!” teriakku dan Siti kompak,
“Hallo beb ...” Otong merentangkan kedua tangannya, yang langsung di tepis Siti, aku tergelak lagi.
Kami akhirnya semakin tenggelam dalam aroma masa lalu, mengenang indah saat kami melewati remaja dengan penuh warna.
“Ternyata kalian beneran di sini??”
“Maira??”
Bersambung ...
.
Sekarang, bantu aku buat nyari ending yang bagus untuk karya ini yaaaa ...
.
.
__ADS_1
.
Tinggalkan jejaknya boleh dooonnggg, gak usah di vote, vote readers semua terlalu berharga buat dukung karya sederhana ini, cukup like, koment, pavoritkan, sama follow akunku yaaa, makasiiihhh.