
Pagi yang cerah, mentari tanpa sepenggalah naik, sementara itu seorang gadis manis tengah berjalan menuju taman tempat dia memutuskan untuk bertemu dengan orang yang beberapa bulan terakhir ini telah dipujanya, bersenandung riang, dengan menenteng tas kecil juga rantang di tangannya, gadis tersebut memilih untuk tetap berjalan menyusuri trotoar.
“Duh ... hatiku berdebar ... aaawww” gadis itu bergidik sambil terkikik geli, membayangkan pertemuannya dengan penulis idolanya.
Sungguh, jika gadis lain akan memilih mengidolakan anggota k-pop yang tengah mendunia, tapi Siti jauh lebih menyukai penulis platform yang namanya sama sekali belum setenar yang kalian bayangkan, Siti suka membaca, dan tulisan penulis idolanya tersebut, mampu mencuri perhatiannya, bahkan Siti merelakan sebagian laba jualan mie ayamnya, diberikan kepada penulis sebagai tips, sungguh tidak ada hal yang lebih gila daripada cinta menurut Siti.
“Dia di mana ya?? Dia bilang dia akan menungguku di antara pohon yang bercabang” Siti celingukan, setibanya dia di taman yang sudah dijanjikan.
“Kenapa dia memilih pohon yang bercabang sih?? Jangan sampai hatinya juga bercabang, hhhiiyy ...” Siti bergidik, mendekati salah satu pohon yang memiliki dua cabang, terlihat sangat rimbun, hingga mampu melindungi tubuh Siti yang sudah terkena terik matahari. Di sana juga terdapat sebuah kursi panjang, Siti mencoba mendaratkan bokongnya di kursi tersebut, dengan mata yang terus mengedar.
“Duhhh ... dia jadi apa enggak yaaa, datang ke sini??” Siti melirik jam tangan kecil yang melingkar di tangan kirinya, dengan cemas gadis itu tetap menunggu.
“Mana bawaan aku berat lagi, seberat harapan dari mantan” Siti kembali ngedumel.
Siti terus mengirimkan chat kepada orang yang sudah mengajaknya bertemu, chat masih centang dua dan belum berwarna biru, itu artinya pesan belum dibaca, segala pikiran buruk kembali menerpa hatinya.
“Pasti bohong ini mah, bener kata Andin, pertemuan di dunia maya itu absurd” Siti mendesah pelan, lalu berdiri, berniat pulang kembali setelah setengah jam menunggu.
Siti berjalan menunduk, kembali menenteng rantang yang dari tadi tidak lepas dari tangannya.
Bbrrruuuuukkk!!!
“Adduuuhhh!!” Siti terpelanting di tanah, kala di rasakan ada seseorang yang menabraknya dari arah depan, rantang makanan yang dibawanya otomatis terlepas, dan makanan yang ada di dalamnya berhamburan begitu saja, Siti menatap nanar masakan yang telah dengan susah payah dibuatnya sedari subuh tadi. Semuanya sia-sia.
“Duh! Maaf! Saya gak sengaja!!” orang yang menabrak Siti segera berjongkok, berniat membantu Siti berdiri, hingga Siti mendongakkan kepalanya.
“Kamuuuu!!!???”
“Kaaammuu??!!”
Mereka saling menatap dengan bibir yang menganga, masing-masing dari mereka seolah terhipnotis kala saling berhadapan.
“Ma maaf ... saya gak sengaja, saya buru-buru” ucap pria yang menabrak Siti.
“Sial banget! Kenapa saya harus ketemu sama kamu sih?? Lihat ini!!” Siti menunjuk rantang makanan yang berhamburan.
“Maaf, nanti saya ganti!” pria tersebut sungguh merasa sangat bersalah.
“Makanya, kalau jalan tuh lihat jalanan, jangan mantengin hape melulu!!” Siti ngedumel sambil mengibas-ngibaskan rok selutut yang tengah digunakannya.
“Maaf banget saya buru-buru” pria itu mengatupkan kedua tangannya, berlalu begitu saja meninggalkan Siti yang masih mematung sambil mengerucutkan bibirnya.
“Pria pait!! Tiap ketemu dia sial melulu!!” Siti memunguti rantangnya satu persatu, mengumpulkannya dengan wajah memelas.
Ting!
__ADS_1
Ponsel Siti menyala, ada notifikasi pesan chat yang masuk, Siti membacanya dengan segera.
‘Kamu di mana?? Saya sudah tiba di pohon yang bercabang dua itu, maaf saya terlambat, tadi ada insiden kecil’
Siti memberengut kesal, mencoba membersihkan kaki juga roknya yang terciprat makanan berkuah yang dibawanya tadi.
‘Saya pulang, saya juga terlibat insiden kecil tadi’
Balas Siti dengan raut kecewa.
‘Tidak apa-apa, mari kita bertemu, bagaimanapun kondisimu, sungguh tidak apa-apa, saya juga sudah tanggung izin kerja’
‘Saya di pintu keluar taman’
‘Tunggu di sana, jangan kemana-mana’
‘Baik’
Takdir ... kalian percaya itu bukan?? Takdir sudah digariskan Allah di lauhul mahfudz bahkan sebelum kita terlahir ke muka bumi ini, semua hal yang terjadi pada kita tidak luput dari campur tangan Allah, di muka bumi ini tidak ada satu hal pun yang disebut sebagai kebetulan, semuanya mutlak kehendak sang pencipta. Siapa yang bisa menghindari kehendak sang maha pembolak-balik hati?? Aku pikir tidak ada.
“Maaf lama menunggu” Siti memutar tubuhnya kala ada orang yang menyapanya.
“Kamu??”
“Titi??”
“Rey??”
“Adududuh ... jantungku ...” Siti refleks menyentuh kepalanya seperti orang yang tengah pusing.
“Jantung disini, bukan disini” Rey menyentuh dadanya mengarahkan.
“Eh iya, ini” Siti menyentuh dadanya, tubuhnya hampir oleng.
“Aku mau pingsan” ucap Siti kemudian.
“Jangan pingsan di sini, tempatnya kotor, di sana aja yuk” Rey membimbing Siti, agar mau duduk di sebuah kursi yang akan di tujunya.
“Oh, oke” Siti mengangguk, lalu mengikuti langkah Rey.
***
“Jadi, kamu penulis buku perempuan ke tiga belas itu??” Siti memulai percakapannya, kala mereka sudah duduk di bawah pohon rindang yang menghadap pada sebuah taman bunga, kali ini pohonnya tidak bercabang, dan semoga hati Rey pun tidak bercabang, seperti judul buku terbarunya, Perempuan keTiga Belas. Rumit sekali menulis perjalanan pencarian cinta, hingga harus saling bertemu dan berakhir hingga tiga belas kali, begitu fikir Siti.
“Iya” Rey mengangguk, suasana masih canggung. Pada kenyataannya suasana kikuk telah mendominasi pertemuan mereka sekarang, meskipun ketika di chat mereka terkesan akrab dan tidak ada yang ditutupi, tapi ... percayalah, ketika mereka bertemu secara nyata debaran di dada itu ada, debaran apa?? Entahlah, hanya mereka yang paham akan arti debaran yang mereka rasa, terlebih lagi, sebelumnya mereka sudah sempat saling mengenal, meskipun dengan kondisi yang tidak kondusif, mereka terkesan saling bermusuhan selama ini, dan kali ini mereka dipertemukan sebagai idola dan fans nya.
__ADS_1
“Maaf”
“Maaf”
Mereka saling tatap, ketika mereka sadari telah mengucapkan kata yang sama secara bersamaan pula.
‘Aku teh kenapa sih?? Kok jadi canggung gini ya?? Ternyata kalau di lihat dari dekat gini, si cowok pait ini, mani ganteng pisan’
‘Duh ... apaan sih?? Kenapa harus perempuan ini sih?? Dia kan musuh bebuyutanku, tapi kenapa sekarang terlihat manis banget sih?? Natural banget’
‘Kenapa aku jadi kehabisan kata-kata ya?? Padahal biasanya aku cerewet, aku bisa bikin kata-kata sepanjang mungkin, bisa jadi sepanjang jalan kenangan’
‘Apa sih?? Nulis di buku, merangkai kata panjang lebar, dengan kata-kata romantis bisa, tapi kenapa pas ketemu dia, semua kata-kata yang sudah di rangkai jadi hilang??’
“Ekhem ... “
“Aku mau minta maaf, kalau selama ini sikapku agak aneh sama kamu, aku beneran gak nyangka, kalau kamu itu ternyata penulis idola aku” Siti membuka suara, dengan wajah menunduk malu-malu, sementara tangannya dengan erat meremas rok yang digunakannya.
“Aku juga mau minta maaf, selama ini sikapku mungkin banyak yang menyinggung, aku beneran gak nyangka, kalau orang baik yang selalu mendukung dan menghargai tulisanku itu adalah kamu” Rey membuang muka, merasa malu, menyembunyikan senyumannya.
“Aku suka semua tulisan kamu”
“Aku juga suka karena kamu sudah mendukungku”
“Kamu suka aku??” ucap mereka kompak.
“Eh???” mereka kembali menutup mulut mereka, menahan senyuman sekuat tenaga, ada debaran aneh, ada rasa yang sulit mereka ungkapkan.
“Mari kita berteman” Siti mengulurkan tangannya tepat ke arah Rey.
Rey mengerutkan keningnya dalam, merasa bingung dengan sikap Siti.
“Semua hubungan, entah yang serius atau tidak aku ingin memulainya dari sebuah pertemanan” Siti tersenyum manis, membuat Rey terpaku menatapnya.
“Oke, mari kita berteman” Rey menerima uluran tangan Siti dengan senyuman lebarnya.
.
.
.
.
Cciiieeee Siti ccciiieeee ... wkwkwkwk ... teman hidup boleh kali yaaaa ... hiya hiya hiya ...
__ADS_1