
Aku menatap semburat jingga di langit sambil sesekali menghirup udara segar, kali ini aku terduduk di sebuah kursi panjang di bawah sebuah pohon yang rindang, tempat ini adalah tempatku, tempat kita, dan kini menjadi tempat kami.
Dari tempat aku berdiri, aku bisa menatap indahnya lengkungan pelangi, atau menatap cantiknya semburat jingga di langit senja. Syahdu bukan???.
Aku kembali ke tempat ini, bukan untuk mengenang cerita cinta yang berujung luka, bukan juga untuk mengenang rasa rindu yang dulu sering menyelinap di relung kalbu.
Tapi kali ini, aku ingin merasakan semilir angin yang tengah membuai wajahku perlahan, lalu membisikkan untaian kata cinta yang tak berkesudahan.
“Sayang ...” tangan kokoh seorang pria tengah memeluk perutku erat, aku tersenyum merasakan kehadirannya.
“I love you ...” bisiknya pelan tepat di telingaku, membuatku merinding lalu berusaha menyingkirkan tangannya yang mulai tidak bisa di kondisikan.
“I love you too ...” bisikku tak mau kalah.
Dia tergelak, entah apa yang lucu.
“Kamu cantik ...” lagi-lagi kata itu yang terucap, dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku yang terbalut hijab pashmina yang ku gunakan sore ini, lalu dengan nakalnya dia menarik tubuhku hingga merapat pada tubuhnya, berusaha memasukkan tubuh rampingku agar masuk ke dalam jaket yang digunakannya, dia terus memelukku dari belakang.
“Gombal” elakku tersenyum lembut, dengan pandangan menerawang pada senja yang akan berganti malam.
Aku merasakan dari dekapan tubuhnya, tubuh yang beberapa hari yang lalu menjadi candu-ku, begitu-pun dengan dia, selalu menjadikan aku sebagai candu-nya. Kami saling membutuhkan.
Aku menatap suamiku dalam, selama bertahun-tahun kami terpisah, tidak terhitung berapa banyak waktu, hati dan perasaan yang kami korbankan, kami saling menunggu dengan cara yang berbeda.
Namun, Allah mempertemukan kami kembali dengan cara yang begitu indah, tepat di saat aku mulai lelah, dan ingin menyerah kala patah hati.
__ADS_1
Aku tahu, mungkin di antara aku dan suamiku, dia-lah yang paling menderita, meskipun aku juga sama terpuruknya dengan dia.
Tapi ... apalah daya, kala itu Allah belum merestui kebersamaan kami, hingga pada akhirnya aku mengubah pandanganku tentang cinta, berusaha terus memperbaiki diri, teguh dalam prinsip, menjaga diri dari segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Begitupun dengan dia, dengan gagah berani, selama bertahun-tahun dia selalu menegaskan hatinya, bahwa aku-lah cinta sejatinya, dia menunjukkan bahwa dia memang pria yang pantas menjadi imamku.
Dijauhkan bukan berarti tidak berjodoh, itu hanya cara Allah menguji kita, agar dalam diam kita bisa saling memperbaiki diri, lalu dipertemukan kembali untuk saling melengkapi. Begitulah kekuatan jodoh.
END
Epilog
Masih di tempat yang sama ...
“Tante ...” seorang gadis kecil berlari ke arah Andin yang masih nyaman di pelukan Raga suaminya.
“Tante cantik” ucapnya riang, Andin menanggapinya dengan senyuman tulus, begitupun Raga, pria itu tersenyum ke arah gadis kecil yang berada dalam pelukan istrinya.
“Din ...” seorang pria datang dari belakang anak kecil tersebut.
“No ...” Andin menatap pria tersebut.
“Aku mau pamit, aku akan pergi jauh Din” ucapnya bergetar.
“Hmmhh ... pergilah No, jangan cemaskan anak-anak, kami akan menjaganya, aku akan menepati janjiku pada Maira” ucap Andin tulus.
__ADS_1
“Iya, kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjaga mereka layaknya anakku sendiri” Raga menimpali, pria itu tersenyum lembut pada mantan rivalnya.
“Terimakasih ...” Dino memutar tubuhnya, lalu berjalan dengan tenang menuju tempat yang ingin dituju-nya. Andin dan Raga menatap punggung Dino dengan untaian bisikan do’a yang Dino tidak pernah tahu itu.
‘No ... pergilah, gapai mimpimu yang belum sempat kamu raih, aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan-mu yang sesungguhnya’
‘Terimakasih Dino, sudah hadir di antara kami, dengan perantaramu, kami bisa bertemu, berjodoh, lalu kami bisa saling memantaskan diri, dan belajar arti dewasa, semoga kamu bisa mendapatkan apa yang selama ini kamu cari, seperti aku yang telah menemukan kehidupanku yang begitu indah’
TIMIT
.
.
.
.
.
Terimakasih banyak untuk readers yang sudah membaca karya ini hingga selesai, aku bahagia bisa menulis disini, menyelesaikan cerita ini hingga selesai. Sekali lagi terimakasih untuk dukungannya.
Selamat menjalankan ibadah suci Ramadhan bagi yang melaksanakan, maafin semua kesalahan aku yaaaa ...
Sampai jumpa lagi di karyaku yang lainnya yaaaa, SENGKETA HATI ayo mampir disana, babnya sudah banyak.
__ADS_1
21032023