BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Memberi Pelajaran


__ADS_3

Andin POV


Di kolong cakrawala berbaris kabut tipis yang berarak pelan menyusuri langit mencoba menutupi cahaya rembulan yang terlihat malas berpendar. Bintang gemintang terlihat samar berkerlip, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.


Aku membuka jendela kamar, sepulang dari mengantar Pak Raga dari pasar malam, aku naik ke atas menuju kamar, lalu membersihkan diri, malas membuka buku pelajaran, padahal seharusnya saat ini aku sedang giat-giatnya belajar, tinggal beberapa bulan lagi, ujian akan tiba. 


Angin malam menerpa kulit, ku gosok kedua tanganku, untuk menetralkan rasa dingin yang menyerang, mataku tertuju pada pemandangan rumah yang hanya berjarak satu petak rumah dari rumahku. Terlihat bayangan tinggi sedang berjalan mondar-mandir, dengan sesuatu yang menempel di tangannya. 


Dino?? Apa yang sedang dia lakukan di tengah malam seperti ini?.


Penasaran, ku raih ponselku yang berada di atas meja belajar, lalu ku tekan nomor Dino.


‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan hubungi beberapa saat lagi’


Suara operator yang menyahut, Dino menelpon siapa tengah malam begini?? Dahiku mengkerut, sementara mataku terus menatap jendela yang tertutup gorden itu, berharap Dino membuka gordennya seperti biasa, lalu dia akan melempar buku tugasnya padaku. 


No ... kenapa kamu jadi menjauhiku sekarang??.


Aku mendesah pelan, perlahan menutup jendela lalu menutupnya lagi dengan hordeng, mencoba merebahkan diri, semoga besok keadaan tidak berubah lagi. Karena aku benci perubahan. 


*** 


Pagi menjelang ...


Dengan malas-malasan aku turun dari kamar menuju meja makan yang sudah ada Ambu dan Abah di sana, Abah yang sedang menikmati kopi langsung menatapku heran.


“Kenapa anak Abah?? Kok wajahnya di tekuk begitu??” Abah menyimpan cangkir kopinya, menatapku lekat.


“Gak apa-apa” aku menggeleng lesu.


“Waaahhh ... cuaca mendung, ternyata wajah anak Abah juga mendung, kenapa geulis??” lagi-lagi Abah menggodaku dengan wajah jenakanya. 


“Alah ... anak muda, palingan juga sedih karena di putusin pacar, iya kan??” Ambu datang menyimpan sepiring goreng ubi dihadapan Abah.


“Eh! Anak Abah mana boleh patah hati?? Siapa yang berani mutusin anak Abah yang cantik ini??” Abah menelisik raut wajahku. 


“Apaan sih?? Abah, Ambu, aku gak punya pacar” aku menggeleng sambil menyambar piring, mengisinya dengan mie goreng dan telor ceplok buatan Ambu.

__ADS_1


“Abah mengerti kok, kalau anak muda patah hati karena sebuah hubungan, tapi ... ingat batasan ya Neng, jangan sampai kebablasan, jangan berlebihan, jangan sampai hubungan kamu itu bisa mengganggu konsentrasi belajar kamu” nasihat Abah panjang lebar. 


“Abah ... Andin gak pacaran kok” aku masih menggeleng, lah? Memang aku gak pacaran dengan siapapun kok.


“Gak apa-apa Abah juga pernah muda atuh, pernah ngalamin yang namanya pacaran dan patah hati” Abah berbisik padaku, dengan mata memicing pada Ambu yang tengah sibuk menuangkan makanan ke dalam piring di dapur. 


“Gimana rasanya pacaran Bah??” tanyaku penasaran, Abah semakin memicingkan matanya.


“Emmhh ... Abah nyesel pernah pacaran” bisik Abah kemudian.


“Kenapa??” tanyaku makin penasaran.


“Kenapa bisik-bisik??” tiba-tiba perempuan berdaster, dengan motif macan loreng sudah berada di antara kami, membuat aku dan Abah menghentikan kegiatan bisik-bisik kami. 


“Gak apa-apa, ini Andin nanya, kenapa Ambu makin hari makin cantik aja katanya, ya jelas, kan Abah selalu bikin Ambu bahagia, makanya kecantikan Ambu sekarang melebihi Raisa”


Selanjutnya terdengar gombalan receh dari Abah, dan dibalas dengan cebikan lucu dari Ambu.


Haddduuuhhh ... ini kumat lagi penyakit Abah sama Ambu. 


*** 


“Din!! Gak bawa payung?” terdengar suara cempreng dari seberang, ternyata Siti tengah melambaikan tangannya.


“Gak! Aku nebeng kamu aja ya,” aku menghampiri Siti, lalu ikut berteduh di payung Siti yang lumayan besar. 


“Si Dino udah berangkat belum??” Siti menaikan resleting jaketnya.


“Gak tahu” aku mengedikkan bahuku.


“Din, kamu gak lagi ada masalah sama Dino kan??” Siti menatapku dalam.


“Gak” jawabku singkat.


“Eh itu Si Dino!” Siti menunjuk pria di depan kami, Dino ... dia tengah menggunakan hoodie warna hitam, beberapa kali Dino menyugar rambutnya, mungkin sedikit basah karena kabut yang mengembun di kepalanya. 


“No!” teriak Siti, saat jarak kami mulai berdekatan.

__ADS_1


“Kalian berangkat duluan ya” ucap Dino, sambil menyalakan motor matic kesayangannya, biasanya kalau Dino bawa motor ke sekolah, kami selalu ikut nebeng sama dia.


“Loh?? Kenapa??” Siti memberengut.


“Aku mau jemput Maira dulu, aku duluan ya” Dino melajukan motornya, tanpa persetujuan dari kami, aku dan Siti saling pandang. Siti mengedikkan kedua bahunya, dengan bibir mengerucut.


Aku dan Siti kembali berjalan bersisian, dengan satu payung di tangan Siti. Perasaanku berkecamuk.


“No ... jangan sampai persahabatan kita putus, hanya karena orang asing” hatiku bermonolog sendiri, rasanya begitu tidak rela kala tiba-tiba saja ada orang asing yang masuk ke dalam persahabatan kami, dan Dino lebih memilih untuk memperhatikan dia dibanding aku, rasanya aku cemburu. 


“Tumben Andin gak sama Dino?” aku mengerjap kala pertanyaan itu terdengar.


“Iya, Dino udah duluan” jawabku malas, dia Clara, primadona sekolah kami. 


“Dino bareng sama Maira, murid baru itu, apa mereka pacaran?? Sama kamu udah putus memangnya??” pertanyaan Clara, membuatku kesal saja.


“Mereka gak pacaran” jawabku ketus.


“Gak pacaran, tapi kok deket banget, berangkat sekolah boncengan, pulang sekolah selalu barengan” ucapnya lagi. Entah kenapa mendengar ucapan Clara, hatiku terasa panas. 


“Udah deh, gak usah mancing-mancing!” gertakku kesal.


“Haha ... duluuuuu ... kamu sama Dino itu sedekat ketombe sama rambut, kok sekarang jadi sejauh bumi sama andromeda sih??” Clara semakin memancingku.


“Kamu gak usah mancing aku deh” aku menaikkan nada suaraku menjadi lima oktaf.


“Din, udah Din ...” Siti menarik tanganku berniat mengajakku menghindari nyinyiran Clara. 


Tapi, terlambat, aku sudah terlanjur kesal pada Clara, yang selalu merasa paling wah ... ketika di sekolah. 


“Terus kenapa?? Ucapanku bener kan?? Sekarang kamu itu sudah gak berarti lagi di hidup Dino, jadi kamu gak usah so soan lagi di sekolah ini!!” teriaknya, semakin meninggikan suara. Dulu, mana ada orang yang berani seperti itu padaku.


“Eh, kamu jangan kasar sama Andin ya!” kini Siti mulai terpancing juga.


“Kamu gak usah ikut-ikutan! Cewek jelek kayak kamu gak pantes ngomong sama aku!” Clara menoyor bahu Siti.


Seketika aku memelototkan kedua mataku, dia kurang ajar! Dia sudah menghina sahabatku! Aku harus memberinya pelajaran!.

__ADS_1


Bersambung ........


__ADS_2