BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Raisa VS Harmish


__ADS_3

“Din, kamu kok beruntung banget sih??” Siti menyenggol-nyenggol bahuku, saat kami sedang makan mie Ayam Mang Jupri.


“Beruntung apanya sihhh??” aku memutar kedua bola mataku, malas.


Siti emang suka gitu deh, gak jelas.


“Tadi Malaikatku datang kerumah kamu, aku iri Din” Siti masih menghentakan kakinya, sambil mengerucutkan bibirnya.


“Ish ... apaan sih??” aku malah acuh, lalu memasukkan sesendok mie ayam kedalam mulutku.


“Apaan sih??” kini Dino buka suara.


“Itu loh, tadi ... hmpt” belum Siti menjelaskan semuanya pada Dino, aku segera menyendok mie Ayam, lalu menjejalkannya ke mulut Siti. Kadang Siti itu suka ember banget mulutnya. Ceplas – ceplos gak bisa di rem.


Dan Dino terlihat acuh tak perduli, aku bersyukur kadang Dino punya sisi itu juga.


“Din, ke tempat biasa yuk” ajaknya selepas dia menandaskan segelas minuman yang tadi di pesannya pada Siti.


“Aku ada latihan pencak silat bentar lagi No” aku terpaksa menolak ajakan Dino, padahal sebetulnya aku ingin pergi bersama sahabatku yang satu itu.


“Aku gak di ajak?? Aku sibuk banget, mau bantuin Bapakku jualan” ujar Siti, tambah memanyunkan bibirnya. Aneh memang, di ajak juga enggak, tapi udah nolak duluan.


“Gak ada yang ngajak kamu Siti” ucapku, membuat Siti tambah manyun.


“Bolos ajalah” Dino kembali menatapku.


“Ih ... nanti Abah marah ah” aku masih menolak,


“Iya deh, besok aja kesananya” Dino menyerah, segera dia berdiri, meletakkan uang tiga puluh ribu, untuk tiga porsi mie ayam yang tadi kami makan.


“Aku duluan ya, aku mau bantu Ibu beres-beres” Dino melenggang pergi begitu saja, tanpa mendengar izinku, dasar Dino!.


“Cinta?? Kita ketemu lagi ...”


Haish ... orang ini lagi, kenapa dia jadi berkeliaran di mana-mana sih?? Apa benar kata Siti?? Kalau dia itu Malaikat? Yang bisa ada di samping siapapun yang dia mau? Tapi malaikat apa?? Malaikat pencatat amal?? Atau jangan-jangan Malaikat pencabut nyawa lagi.


Aaiiihhh


Aku bergidik ngeri.


Otak?? Kamu kok berdosa banget sih mikirnya?? Bener-bener nih otak harus di bawa refreshing kayaknya. Nyesel gak ikut ajakan Dino tadi.


“Malaikat?? Tambah ganteng aja ... ayo duduk, Mie Ayam ini punya Bapak saya lho, gratis kalau buat Akang, eh Aa, eh Kakak, eh calon Suami ...” Siti tambah ngelantur aja omongannya.


“Bucin terooooossss” ucapku malas. Memutar ke dua bola mataku kesal.

__ADS_1


“Sebentar, saya bikinin menu sepesial ya” tanpa persetujuan, Siti sudah melesat ke balik grobak yang terdapat Bapaknya yang sedang berpeluh, karena panas dari kompor. Meracik pesanan pelanggan dengan sepenuh hati.


“Hahaha ...” Raga tertawa terbahak melihat tingkah Siti.


“Teman kamu lucu ya Cinta” dia menatapku lekat.


“Namaku Andin, bukan Cinta” akuku akhirnya.


“Haha ... jadi kamu bohongin saya??” alih – alih marah atau kecewa dia malah tergelak.


“Maaf” ucapku lirih, merasa berdosa karena sudah berbohong tadi. Duh ... percuma ini mah, ikut pengajian bulanan di mesjid sebelah, tapi ucapan ustadznya gak pernah di dengerin.


“Santai aja” ucapnya kemudian, sambil mengibaskan tangan di udara. Lalu perlahan tangannya memegang pundakku. Refleks, aku segera menangkisnya, lalu memelintir tangannya, hingga dia terpental lalu terjatuh, tersungkur ke lantai.


“AAHH MAAF!!” kaget dengan tindakanku sendiri, aku segera menghampiri Raga. Mencoba membantunya yang tengah meringis menahan sakit.


“Maafkan saya, itu gerakan refleks” ucapku kemudian, merasa sangat bersalah.


“Allahuakbaaarrr!! Apa yang kamu lakuin ke calon masa depan aku Din?!” Siti datang dengan wajah terkejutnya.


“Duh, ini meja sama kursi jadi berantakan ‘kan? Mangkuknya juga ada yang pecah, ish ... kamu mah selalu aja bikin rusuh!” Siti membenahi meja dan kursi tempat makan yang sudah terjungkal tak beraturan. Untung aja lagi sepi pelanggan, coba kalau ada pelanggan, bisa jadi pusat perhatian aku ini.


“Siti! Ini calon masa depan kamu luka, kenapa kamu malah ngangkatin kursi??” bisikku pada Siti yang kini malah asyik membenahi kursi plastik yang berhamburan.


“Aduh, omelan Bapakku bakalan lebih panjang daripada cinta aku sama calon pendampingku, calon Imam di masa depanku, jadi tahan sebentar sakitnya ya Kang, tungguin saya beresin ini dulu” ucap Siti, sambil berlalu membawa mangkuk yang pecah tadi.


“Saya gak apa-apa” ucapnya sambil meringis, menahan sakit. Iya, sakit banget pasti, aku tahu betul aku memelintir tangannya dengan kencang tadi.


“Ayo eemmmhhh ...” masih bingung harus manggil apa aku ini sama pria ini.


“Panggil Kakak boleh” ucapnya seolah mengerti.


“Ah, baik Kak Raga, mari saya antar ke rumah” tawarku, sambil mencoba meraih tangannya, membopongnya, lalu menyebrang untuk menuju rumah di sampingku.


“Kakak tinggal di sini?? Ini kan rumahnya Kakek Parto” ucapku mengerutkan kening, pasalnya aku tahu betul kalau Kakek Parto bersama istrinya sudah di boyong pergi dari rumah ini, di bawa pindah ke kota oleh anak-anaknya.


“Saya cucunya Kakek Parto” dia tersenyum sambil meringis, mencoba membuka kunci pagar rumah.


“Saya bantu Kak” ucapku, sambil meraih kunci yang ada di tangan Kak Raga, lalu membuka pagarnya, dan kami masuk kedalam rumah Kak Raga.


“Oooohhh ... jadi Kakak akan tinggal disini??” tanyaku sambil membantunya duduk di atas soffa.


“Iya, saya juga ada pekerjaan di sini, jadi mungkin saya akan tinggal disini beberapa lama” ujarnya sambil membenahi posisi duduknya, dia terlihat masih nyengir, mungkin luka yang tadi aku timbulkan masih terasa sakit.


“Saya obati ya Kak” aku menawarkan diri sebagai wujud dari rasa bersalahku.

__ADS_1


“Ah gak usah, nanti juga sembuh sendiri kok, kamu kok seperti mafia sih?? Hhee ... jago berkelahi” dia terkekeh geli, sesekali ujung matanya menatapku.


“Hah?? Enggak kok, saya cuman bisa ilmu bela diri dasarnya aja, tadi itu refleks banget Kak saya gak sengaja, sekali lagi maaf ya” aku sungguh merasa bersalah.


“Haha ... kesan pertama kita bertemu lucu yah ... di awali dengan baku hantamnya kamu, kamu hebat banget, Cin ta”


Deg!


Aku Cuma bisa nyengir saat Kak Raga mengeja nama palsuku.


“Eh, kalau gitu, saya permisi pulang dulu ya Kak, saya ada latihan pencak silat dua puluh menit lagi”


Sebelum ada setan lewat karena kita hanya berdua di rumah ini, aku segera pamit undur diri.


“Oh, iya, maaf ga bisa antar” ucapnya sambil tersenyum.


“Ah, Kakak, rumah saya ‘kan di samping rumah Kakak, ngesot juga nyampe” ucapku tertawa, sambil berlalu.


***


“Ciiieeee ... cciiieee ... ada yang baru punya pacar kayaknya” terdengar suara Abah menggoda.


“Abah! Apaan sih?? Bukan pacar Abah, beneran!” aku terus menyangkal, lah?? Memang Kak Raga itu bukan pacarku kok.


“Pacar juga gak apa-apa, udah tenang aja, Ambu ngerti kok, Ambu juga pernah muda, eh sekarang juga masih muda ding” kini Ambu yang menimpali, membuat aku malas saja.


“Iya, Ambu masih muda, cantik, baik, gemar menabung, mirip Raisya lagi” puji Abah, sambil menaik turunkan alisnya menatap Ambu, yang pipinya sudah memerah.


“Abah juga mirip Harmis Dawud” nah, kumat lagi ini mah candaan aneh mereka.


“Hamish Daud Ambu, bukan Harmis” celotehku,


“Ah sama aja beda dikit doang” Ambu mencebikkan bibirnya.


“Ya sudahlah gimana Ambu saja” aku segera bergegas menaiki anak tangga, menuju kamarku untuk bersiap menuju tempat latihan pencak silat.


Karena percuma juga, kalau ikutan debat sama Raisya dan Harmis KW, soalnya bakalan kalah, apa yang di ucapkan Ambu dan Abah, iyain aja, dari pada aku di kutuk jadi prilly latukonsina kan bahaya.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2