
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk rebahan sebentar, setelah mengganti baju, cuci kaki, dan cuci tangan. Pukul empat sore ada latihan pencak silat lagi, hadeeuuuhhh ... di saat cewek-cewek lain pada pergi les balet atau les kecantikan, olahraga untuk membentuk tubuh agar terlihat aduhai aku malah latihan pencak silat. Nyesel?? Ya gak lah, semua hal yang kita lakukan pasti akan ada hikmahnya suatu hari nanti. Termasuk belajar ilmu bela diri, juga ada gunanya, salah satu contoh tadi, waktu aku nolongin cowok di jalan yang mau kena copet.
Ting!
Bunyi notifikasi pesan masuk ke dalam ponselku, aku segera meliriknya, kemudian menyambar ponsel yang tergeletak begitu saja di atas kasur, segera ku buka notifikasi chat.
[Din, udah di rumah?? Ini mie ayam Bapaknya Siti udah nungguin] pesan dari Dino ternyata.
Ya memang mau pesan dari siapa lagi?? Kontak ponselku isinya hanya nomor Abah, Ambu, Siti, Dino dan beberapa teman lainnya yang sebetulnya amat jarang menghubungiku.
[Iya bentar] balasku sambil beranjak, segera bersiap turun ke lantai bawah.
Setibanya di lantai bawah, aku mendengar ada suara berisik dari arah ruang tamu, entah suara siapa, aku juga tidak terlalu peduli sih, karena sudah biasa di rumahku selalu kedatangan tamu setiap harinya.
Mulai dari tamu yang datang dari kabupaten, sampai tamu yang datang dari kampung sebelah, dari mulai pengaduan masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme, sampai masalah rumah tangga juga ada yang datang kerumah, kadang aku berfikir, kenapa mereka menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya? Kalau masalah rumah tangga kan harusnya datang ke pengadilan, bukan datang ke rumahku, sampai pernah suatu ketika, ada warga yang kesurupan tapi datangnya ke rumahku dan minta Abah menyelesaikan masalahnya.
Lah?? Abah mana bisa menyembuhkan orang kesurupan? Pernah juga di tengah malam ada orang mau melahirkan tapi malah datang ke rumahku, dan minta solusi kira-kira apa yang harus dilakukan oleh orang yang mau melahirkan, di kira Abah dukun beranak? Ck! Kasihan Abah.
Selain tamu Abah, ke rumah juga selalu datang tamu Ambu, tamu Ambu biasanya di dominasi oleh Ibu-Ibu, dari mulai Ibu-Ibu PKK, sampai Ibu-Ibu yang ngumpulin duit arisan dan duit iuran cicilan kredit panci juga ada, sebagai istri pejabat Desa, tentu saja Ambu juga punya kegiatan sosial sendiri, ceileeeeee udah kayak istri pejabat aja nih keluargaku.
Makanya, kalau di ruang tamu udah ada suara-suara manusia, aku sih lebih milih cuek aja, sudah biasa sih.
“Andin! Sini sebentar Ambu mau minta tolong!” teriak Ambu dari arah dapur, terlihat Ambu sedang sibuk meracik minuman.
“Apa sih Ambu? Andin buru-buru, mau makan mi ayam mang Jupri” elakku malas.
“Eh, iya sebentar, ini anterin dulu minuman buat tamu di depan, Ambu lagi kebelet, mau pipis dulu” ucap Ambu, tanpa basa-basi menyimpan nampan yang berisi minuman dan beberapa cemilan di tanganku, dan Ambu langsung ngacir gitu aja ke dalam kamar mandi.
Dengan terpaksa, aku berjalan menuju ruang tamu, dengan nampan di tangan. Setibanya di ruang tamu, aku menyimpan nampan di atas meja, lalu mengatur posisi gelas, untuk tamu dan untuk Abah, lalu meletakkan toples camilannya, ku tundukkan pandanganku, aku enggan melihat tamu-tamu Abah, karena biasanya tamu Abah itu, orang-orang yang bermasalah, he.
“Cinta???”
Hah??
Aku mendongak seketika, saat mendengar suara pria yang posisinya ada di hadapanku. Aku menatapnya perlahan.
Oh may gaaaatttt!!
Ini kan cowok yang aku tolongin tadi. Mati aku!
Ku tepuk jidatku perlahan, sambil tersenyum kikuk.
“Cinta rumah kamu di sini ternyata” pria itu semakin melebarkan senyumnya.
__ADS_1
“Loh??? Cinta??? Sejak kapan nama kamu jadi Cinta??” tiba-tiba Ambu sudah hadir tepat di belakang tubuhku, ku dongakkan kepala sambil tersenyum kikuk, Ambu tengah berkacak pinggang sambil memelototkan mata bulatnya.
“Kamu pacaran sama dia Din?” kini Abah yang menimpali dengan wajah herannya.
“Hah?? Enggak! Sumpah Ambu, Abah” aku menjentikkan dua jariku, sebagai tanda jika aku bersungguh-sungguh.
“Ternyata bener ya, kalau Cinta itu anaknya Pak Lurah”
Asem!
Kenapa malah di lanjutin sih?? Tuh ... mata Ambu udah mau keluar, di kira aku udah macem-macem sama dia. Duh ... karma ini mah, gara-gara aku bohong tadi.
“A aku bu bukan Cinta” lah ... kok aku jadi gagap ya?.
“Loh?? Cinta jangan bohong” iiiddiiihhh ... ni orang minta di aniyaya kayaknya.
Abah dan Ambu menatapku kian lekat, mereka semakin tidak mengerti dengan interaksiku dengan pria asing ini.
“Kalian pacaran??” tanya Ambu masih dengan mode melongonya.
“Enggak!” ucapku buru-buru menepis tebakan Ambu.
“Cinta, makasih ya tadi sudah nolongin saya, kalau gak ada Cinta saya gak tahu bakalan jadi apa tadi”
Hah??
“Ooohhh ... tadi Andin nolongin kamu?? Memangnya nolongin apa??” tanya Abah berusaha melerai perdebatan kami. Mencoba mencairkan suasana canggung yang tiba-tiba saja ada di antara kami.
“Andin?? Dia namanya Cinta”
Gustiiiii!!! Masih keukeuh aja ni orang, sekarang aku harus gimana coba??.
“Andin pergi dulu!!” teriakku langsung beranjak dari duduk, berniat melarikan diri.
Secepat kilat aku berlari ke pintu utama, lalu mencari sandal yang biasa kugunakan untuk keluar rumah, biasanya sandalnya di simpan di rak sepatu dekat pintu keluar.
“Sandal aku mana sih?? Kok gak ada??” nah, kalau dalam situasi darurat kayak gini, benda di depan mata juga jadi hilang.
“Cinta kenapa lari??”
Duh!
Tiba-tiba saja suara di belakangku membuat aku berhenti celingukan, lalu segera menoleh ke belakang, tersenyum kikuk, masih bingung menjelaskannya.
__ADS_1
“Eh?? Hehe ... “ aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Belum maluku hilang sepenuhnya, tiba-tiba saja terdengar suara cempreng dari belakangku. Tepatnya di balik pintu, seketika pintu terbuka tanpa aba-aba.
“Andiiiinnn!! Si Di no tuh, u dah ... nung gu in, malaikat??”
Apalagi ini?? Gustiiii!!!
“Akang, eh?? Aa, eh?? Kakak Malaikat, kenapa ada di sini??” Siti menyeka ilernya yang mengalir begitu saja, dengan mulut menganga dan pandangan lekat pada pria di hadapanku. Dasar Siti!.
“Iya, saya tetangga baru, rumah saya di sana” ucapnya sambil menunjuk kerumah di samping rumahku.
“Hah?? Kalau jodoh gak kemana ternyata” Siti masih tetap menganga.
“Siti!” aku menyenggol pundak Siti, hingga Siti mengerjap, lalu cengengesan.
“Nama saya Raga, Raga Dirgantara” suaranya tegas, dia menjulurkan tangannya tepat ke arahku.
“Oh ...” aku segera menerima jabatan tangannya.
“Saya Raga” sekali lagi, pria itu menjulurkan tangannya tepat ke arah Siti.
“SAH!” teriak Siti histeris.
Hah??
Siti kenapa sih??.
“Siti! Kamu kenapa??” aku kembali menyenggol bahu Siti.
“Eh, maaf Kang, eh Aa, Eh Kakak, aku kira tadi aku lagi di ajak ijab qobul, terus Kakak bilang semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, ehehehe ... makanya aku bilang SAH”
Gustiiiiii!!! Sittiiiiii!!!
Halunya keterlaluan ini anak ck!.
.
.
Bersambung ...
.
__ADS_1