BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Pinky Boy


__ADS_3

Semilir angin berhembus membuka hari, saat mentari pagi tersenyum penuh kehangatan, mengantarkan pagi menuju siang, waktu beranjak tinggalkan jarak, ini masih tentang pagi, tentang cinta, juga tentang kenangan, percayalah kenangan itu akan selalu terpatri dalam sanubari, kenangan yang terpatri dalam hati, tidak akan lekang dimakan waktu.


Pagi ini, seperti biasa aku berjalan dengan penuh percaya diri, menuju lobby kantor, sepanjang jalan banyak karyawan yang menyapaku, dan aku hanya membalas sapaan mereka seadanya saja. Tidak bermaksud sombong, hanya saja aku tidak suka terlalu dekat dengan orang asing, aku percaya setiap dari isi kepala mereka akan berbeda-beda, meski wajahnya tersenyum, tapi hati, siapa yang tahu?. Teguh pada sebuah prinsip yang terus aku jalankan, adalah sebuah ujian tersendiri bagiku, rasanya berat, tapi aku harus melakukannya.


Seketika, perhatianku berpindah pada karyawan perempuan, yang dari tadi menganga, menatap ke arah belakangku, sambil menutup mulut masing-masing, mereka berbisik-bisik sambil saling menyenggol di antara bahu temannya. Aku mengerutkan kening, mereka kenapa sih?? Terdorong rasa penasaran, akhirnya aku pun menoleh ke arah belakang, dan ...


Omimi ...


Pak Raga?? Ya ampuuuunnnn ...


Iya, Pak raga tengah turun dari dalam mobilnya, berjalan dengan elegan, menuju lobby kantor, dengan di ikuti sopir pribadinya yang tengah menenteng tasnya, dia tersenyum dengan ramah.


Wait ... aku mengedipkan mataku berkali-kali, tidak ada yang salah dengan sikapnya, yang salah hanya ...


Baju yang Pak Raga kenakan, Pak Raga menggunakan kemeja berwarna pink, dengan dasi berwarna pink bermotif lope-lope kecil, gustiiiiiii sepertinya Pak Raga tengah terjangkit virus lope.


“Bu Andin!” Pak Raga tersenyum ke arahku, sambil merentangkan tangannya.


Seketika aku menundukan kepala, merasa malu, aku menutupi wajahku dengan tas tangan yang aku gunakan hari ini, sambil berjalan menuju lift.


“Cinta! Kok kamu gak pakai baju warna pink nya sih??” Pak raga mendekat, sambil berbisik.


“Maaf Pak, baju pink saya masih kotor, belum dicuci” jawabku, duh ... dosa lagi ini mah, bohong teroooooossss, aku kan semalam niatnya cuman bercanda, kok malah di iya-in sih sama Pak Raga.


“Oh gitu, ya sudah kalau begitu, jangan lupa nanti jam sembilan kita ada rapat bersama para pejabat di kantor ini, katanya ada yang ingin disampaikan oleh pemilik perusahaan, dengan saham terbesar di perusahaan ini” nada Pak Raga bicara seperti tidak suka.


Tapi, bukan itu yang menjadi masalahku sekarang, Pak Raga mau rapat?? Dengan menggunakan baju pink ini?? Ya Rabb ... pasti bakalan mau banget ini mah, mana bakalan ada Pak Raden lagi, duh gimana kalau nanti Pak Raga malah dapet julukan ‘pinky Boy’ duh ... gak rela banget, masa calon imamku pinky sih?? Aku aja strong kok, eh? Kok pikiranku jadi ngelantur banget ya?? Duh ... gimana sih??.


“Cinta??” Pak Raga menatapku dari dalam lift, karena asyik melamun, aku sampai lupa kalau pintu lift sudah terbuka lebar, secepat kilat, aku segera memasuki lift tersebut, dengan hati yang masih ketar-ketir.


***


Pukul sembilan telah tiba, sebagai anggota rapat, aku sudah lebih dulu memasuki ruangan yang telah disediakan, tentu saja Ronald pun sudah duduk cantik di sebelahku, karena jabatan kita, Ronald pimpinan di kantor cabang ini, dan aku adalah wakilnya, semua peserta rapat sudah mulai berdatangan, dan sudah duduk di kursi masing-masing. Kami hanya tinggal menunggu orang pentingnya saja, yakni Pak Raga dan Pak Raden.


Hatiku sudah sangat ketar-ketir, harus bersiap-siap menanggung malu, karena Pak Raga akan rapat dengan menggunakan baju pink, duh ...


Selang sepuluh menit, orang yang ditunggu telah datang, kami semua menunduk hormat, lalu mereka duduk di kursi kebesaran mereka yang telah disediakan, Pak Raden duduk di ujung, memimpin kita semua, sementara Pak Raga duduk di sebelah kanannya.

__ADS_1


Eh, ternyata Pak Raga tidak menggunakan baju pink yang tadi pagi dia gunakan, tapi menggunakan kemeja abu-abu dengan dasi yang senada, untung saja. Seketika hatiku lega, ngomong-ngomong kapan Pak Raga sempat ganti baju??. Ah ... sudahlah, itu tidak penting, yang penting sekarang, aku harus memperhatikan jalannya rapat.


Rapat berjalan sudah hampir satu jam, entah sudah berapa kali aku menguap, rasanya begitu ngantuk, mungkin efek semalam aku bertelepon dengan Pak Raga, pembahasan rapat masih tentang bagaimana cara meningkatkan perusahaan ini agar berkembang semakin pesat, di tambah laporan dari beberapa petinggi di kantor cabang kecil ini tentang pendapatan bulan lalu, dan juga laporanku akan perkembangan perusahaan sampai pertengahan bulan sekarang.


Kadang suasana menegang, kala para petinggi tengah beradu argumen tentang pendapat mereka masing-masing, namun, suasana kembali mencair, kala Pak Raden menengahi dan memberikan solusi yang bijaksana, ternyata selain galak Pak Raden itu cukup berwibawa juga, pantes aja mampu mendirikan perusahaan sebesar ini, dan mampu memimpin keempat istrinya dengan ... entahlah.


‘I LOVE YOU’


Ish ... aku bergidik, kala ekor mataku menangkap wajah Pak Raga yang tengah menatapku lekat, sambil membisikan kata cintanya. Aku tersenyum menunduk, malu-malu sambil menutup wajahku dengan berkas yang ada di hadapanku.


“Jadi, bagaimana Bu Andin??”


Suasana hening, aku terperanjat, duh ... akibat gak fokus nih, gara-gara Pak Raga bisikin cinta terus.


“I iya Pak??” aku gugup seketika.


“Jadi bagaimana menurut Bu Andin, tentang proyek kita yang sudah dibahas tadi??” Pak raga tersenyum, menjelaskan, duh ... jadi malu kan. Tapi, kok Pak Raga masih tetap bisa fokus ya, walau dari tadi terkesan acuh, dan terus menggodaku, duh ... Pak Raga emang deh, emang calon imam aku.


“Iya, saya setuju Pak” aku mengangguk pelan, para peserta rapat tersenyum, mereka seolah faham, kenapa aku bersikap demikian. Jelas saja kedekatanku dan Pak Raga sudah menjadi rahasia umum sekarang, entah mereka mendapat berita dari mana, yang pasti mereka selalu lebih tahu tentang hubunganku dan Pak Raga, bahkan jika di banding aku sendiri yang mengalaminya.


Rapat selesai tepat pukul dua belas siang, satu persatu dari kami mulai keluar dari ruangan rapat.


Tiba di lobby aku berjalan menuju arah parkiran, Pak Raga barusan mengirimiku chat, yang isinya mengajakku untuk makan di luar saja, aku setuju, dan disinilah aku sekarang, tengah bersiap memasuki mobilku sendiri, sembari menunggu Pak Raga turun.


“Haha ... siap Pak”


“.........”


“Apa?? Jadi cantik atau tidak??”


“..........”


“Haha ...”


Aku memutar kedua bola mataku malas, rasanya jika mendengar suara pria yang mempertanyakan kecantikan itu, gimana ya? Berasa mendengar suara orang yang tidak tulus.


Aku memutar tubuhku, seiring dengan suara seorang pria yang tengah berjalan mendekatiku, aku sedikit terjingkat, ternyata pria itu Pak Raden, ayahnya Pak Raga, duh ...

__ADS_1


Akhirnya aku memutuskan untuk tetap masuk kedalam mobil, anggap saja aku sedang bersembunyi dari Pak Raden.


Pak Raden melewati mobilku, rupanya dia tidak menyadari keberadaanku, aku memperhatikannya dengan menahan napasku sendiri, rasa takut mendominasiku sekarang.


Terlihat Pak Raden tengah membuka pintu mobilnya masih sambil bertelepon ria, yang ternyata di parkir di depan mobilku,


Tapi perhatianku teralihkan pada sebuah motor yang mengantar makanan untuk karyawan yang memesan makanan secara online, motor terlihat sedikit oleng, boks yang ada di belakangnya cukup besar, tapi Pak Raden belum menyadari semuanya, karena dia masih asik dengan ponsel di tangannya.


Jika motor itu terus melaju, dan Pak Raden tidak menghindar, maka bisa dipastikan Pak Raden akan ...


“Pak!!! Awas!!!”


Bbrruuukkk!!!


.


.


.


.


.


.


Pak Raga pakai baju pink dan dasi pink lope-lope hanya khayalanku saja??? Tentu tidak.


Waktu itu, aku mengikuti seminar kepenulisan, dan Pak Raga real life jadi salah satu pematerinya, dan Andin real life jadi MC nya. Sementara aku?? Aku jadi peserta seminarnya.


Waktu Pak Raga datang dan menuju podium, kami semua terbelalak kaget dengan penampilannya, baju pink, dasi pink motif lope, otomatis kami semua kaum hawa menjadi histeris karena keimutannya, secara yaaaa, profesor muda, cakep, terus ngasih materi di depan, meleleh hati aku kala itu, terpesona bukan karena materinya, tapi karena penampilannya yang agak-agak gimanaaaa gitu kan?.


Terus waktu ngasih materi, dia menyelipkan kata yang membuat kaum hawa lebih tersepona lagi, dia bilang gini,


“Maaf, sebelumnya saya sudah mendengar, ada banyak bisik-bisik dari adik-adik semua, bertanya tentang saya sudah punya pasangan atau belum?? Maka saya akan jawab, coba kalian lihat baju saya dan dasi saya, semua itu melambangkan jika saya tengah jatuh cinta pada seorang perempuan, dan perempuan itu adalah calon istri saya”


Seketika, hati aku lemah tak berdaya, wkwkwk

__ADS_1


Dan hari ini, aku baru sadar, ternyata perempuan itu adalah Andin, pantesan aja dia waktu itu ngumpet di belakang panggung.


Terus pantesan juga si Andin keukeuh sumeukeuh, mau ngundang pematerinya itu Pak Raga, dengan alasan gratis, ternyata eh ternyata mereka ada ekhem-ekhem. Haha ... rasanya pengen jitak Andin.


__ADS_2