BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Masa Lalu Abah


__ADS_3

“Neng ...” aku mengerjap, hampir saja aku berteriak saking kagetnya, kala ku rasakan tanganku telah dicekal seseorang, aku langsung memutar badan, Ambu tengah tersenyum lembut di sampingku, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Ambu ...” Aku menatap perempuan yang kini telah dipoles sedemikian rupa oleh perias tadi, hingga wajah cantik alaminya memancarkan kecantikan natural di masa tua-nya.


“Sssstttt ...” Ambu menempelkan telunjuk di antara bibirnya, lalu menggeleng berulang kali.


“Ambu, Andin butuh penjelasan atas semua ini, tapi Andin mau ke toilet dulu” Aku yang sudah tidak tahan menahan hasrat untuk segera menunaikan hajatku, segera berlari menuju toilet yang sudah di depan mata, sementara Ambu hanya tersenyum melihat tingkahku.


Selesai dengan hajatku, aku segera keluar dari toilet, kuedarkan pandangan, tidak ada siapapun, selain Ceu Kokom dan Ceu Odah yang sedang mengisi tempat makanan dengan stock makanan yang tersedia di dapur, untuk kembali disuguhkan pada para tamu, sementara Ambu sudah tidak ada di tempat semula, aku berjalan menuju pintu samping, melongokkan kepala mencari sosok Abah juga Mamah Ayu, tapi sudah tidak ada, pada kemana mereka??.


“Neng Andin cari apa??” Ceu Kokom antusias, sambil sesekali mencomot makanan yang ada di hadapannya.


“Aku nyari Ambu, tadi di sini” ucapku sambil tetap celingukan.


“Bu Lurah tadi ke depan, katanya ada yang nyariin” jawab Ceu Odah sambil mengunyah.


“Aduh! Cuiihhh ... apaan ini?? Ih ... gila ya, ini lengkuas bukan daging! Dasar penipuan!” Ceu Odah melepehkan makanan yang ada di mulutnya, menyeka mulutnya tanpa sadar, tangannya telah menghapus lipen merah menyala yang digunakannya hingga jadi belepotan, aku tergelak melihatnya.


“Makanya, jangan serakah, dari tadi milih-milih daging yang potongannya paling gede, taunya malah dapet lengkuas, syukurin!” Ceu Kokom tergelak puas, sementara Ceu Odah langsung manyun.


“Duuuhhh ... kenapa malah jadi pada ngumpul di sini sih?? Itu tamu masih banyak yang belum makan” Mang Imut datang dengan tergopoh, membuat kedua Ibu-Ibu rempong yang dari tadi berdebat langsung menyambar tempat makanan dan langsung ngacir membawanya ke depan, meninggalkan aku yang tengah geleng kepala.


***


“Duh ... kok gak muat sih?? Harusnya tadi aku bawa tas yang lebih gede nih” aku mendengar Siti tengah ngedumel, sambil mencoba memasukkan jamuan makanan yang sengaja aku suguhkan untuk para tamu undangan.


“Siti! Hayoooo ... kamu ketahuan ya, nyolong makanan!” Aku tergelak melihat ekspresi terkejut Siti.


“Kamu norak banget sih?? Ngapain segala makanan ini kamu masukin tas, dasar maruk” ucapku mencebik.


“Ya ampun Udin, kan lumayan ini buat cemilan nanti aku sama Bapakku” ucapnya dengan tidak tahu malu terus menjejalkan buah pisang ke dalam tasnya.


“Ih ... norak” aku tergelak, membiarkan Siti yang masih berusaha memasukkan makanan lainnya ke dalam tas kecilnya.


“Cinta!”

__ADS_1


Aku menoleh, Pak Raga tengah tersenyum lembut ke arahku, di sampingnya ada Pak Raden, juga Mamah Ayu, perhatianku tersita pada Mamah Ayu, hatiku kembali meronta akan rasa penasaran atas hubungan Abah dan Mamah Ayu yang belum aku ketahui.


“Sayang, selamat yaaa ...” Mamah Ayu memelukku lembut, aku terdiam mematung, bingung, respon seperti apa yang harus ku berikan pada Mamah Ayu.


“Ekheeemmm ... selamat!” Pak Raden menjulurkan tangannya ke arahku, aku tersenyum lalu meraih tangannya, mencium punggung tangannya dengan lembut.


“Terimakasih Papah” ucapku tulus.


***


Acara demi acara sudah terlewati, waktu terus berlalu, hingga waktu menunjukkan sudah sore, tamu undangan satu persatu sudah meninggalkan tempatku, bahkan kedua orangtua Pak Raga sudah berpamitan pulang dari tadi, meninggalkan Pak Raga yang katanya akan menginap untuk beberapa hari di rumah Kakek Parto, dengan dalih ingin membantuku untuk menyiapkan acara selanjutnya, modus saja sebetulnya, aku tahu ada hal yang disembunyikan Pak Raga selain dari itu.


“Ambu hutang penjelasan pada Andin” ucapku kala acara telah benar-benar selesai, dan kini aku tengah rebahan dengan kepala berada di paha Ambu, kami duduk di sebuah kursi di ruang keluarga, sambil menonton tipi. Ambu mengusap-usap rambutku perlahan.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan, masa lalu sudah berlalu” ucap Ambu datar, tidak seperti biasanya, perempuan ceriwis ini biasanya tidak bisa berhenti mengomel, tapi kini malah lebih banyak terdiam.


“Bohong, Ambu pasti menyembunyikan sesuatu dari Andin tentang hubungan Abah dan Mamah Ayu” ucapku penuh penekanan.


“Bagi Ambu, masa lalu itu bukan suatu hal yang harus diingat, tapi satu hal yang harus di simpan di tempat paling jauh dari ingatan kita, sesekali boleh dibuka dan dilihat, sebagai spion agar hidup kita bisa lebih baik lagi dari sebelumnya” ucapnya panjang lebar.


“Lalu apa??” Ambu menghentikan usapan tangannya.


“Ada hubungan apa antara Abah dan Mamah Ayu, jangan berputar-putar Ambu” Aku merengek, meminta penjelasan secepatnya.


“Mereka mantan pacar” ucap Ambu singkat, aku langsung terbelalak, segera aku bangun dari posisi rebahanku.


“Mantan pacar??” kagetku.


“Iya, dulu Ayu sempat tinggal bersama Kakek Parto di Desa ini ketika liburan sekolah tiba, dan Abah kamu yang dulu menjadi kumbang idola di Desa Suka Kaya, Abah menyukai gadis cantik dari kota seperti Ayu, begitupun dengan Ayu, dia juga menyukai Abah kamu.


Yang Ambu tahu mereka menjalin hubungan cukup lama, sampai Ayu lulus kuliah kalau gak salah, sementara Abah hanya lulusan SMA, dan langsung bekerja di Kelurahan, setiap libur sekolah tiba, Ayu selalu datang ke sini, dengan alasan liburan untuk merefresh otak, dari penatnya aktivitas yang terjadi di kota” Ambu menghentikan ceritanya, terlihat Ambu menarik napas panjang.


“Lalu??” tanyaku semakin antusias.


“Eyang kamu yang dari Abah tidak setuju dengan hubungan mereka, tapi cinta Abah pada Ayu tidak luntur begitu saja, mereka menjalani hubungan secara diam-diam, mereka tetap bertukar kabar dengan cara saling berkirim surat”

__ADS_1


“Hingga pada akhirnya semakin lama hubungan mereka tercium juga, Eyang kamu melarang keras hubungan mereka secara terang-terangan, mungkin Ayu merasa sakit hati, lalu Ayu tidak pernah lagi menemui Abah kamu, Abah kamu waktu itu begitu frustasi, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota mencari Ayu, tapi Abah kamu begitu kecewa, kala dia tahu, ternyata perempuan yang di tunggunya telah menikah dengan pria lain yang jauh lebih segalanya dari Abah, dan bahkan saat itu, Ayu kedapatan sudah mengandung Raga.


Abah pulang lagi ke Desa, tidak berapa lama, Eyang kamu menjodohkan Abah dengan Ambu, dan Ambu hanya manut saja, dulu kami para anak sangat takut akan titah orangtua, tidak ada alasan untuk melawan atau menyangkal, kami selalu yakin, bahwasannya pilihan orangtua adalah yang terbaik bagi hidup kami”


“Jadi Mamah Ayu orangnya, Andin ingat waktu itu Abah pernah bilang, kalau Abah pernah sekali pacaran dengan perempuan lain, tapi Abah menyesalinya” ucapku memanggutkan kepala berulang kali.


“Berarti waktu menikah, Abah sama Ambu belum saling cinta dong??” tanyaku kian penasaran.


“Emmmhhh ... dulu kami tidak terlalu meresapi apa itu cinta?? Pikiran kami tidak mendalam hanya pada sebatas kata cinta, memiliki pasangan yang baik, taat agama, mau mengerti kita, menafkahi lahir batin, bertanggung jawab, Ambu rasa semua itu sudah cukup, kadang ada kalanya rasa cinta itu tidak harus selalu diumbar, cukup dibuktikan, Ambu gak butuh orang yang berkoar mengatakan cinta, tapi kurang bertanggung jawab pada keluarga” Ambu menarik napas panjang lagi, lalu tersenyum seperti telah merasakan sebuah kelegaan.


“Andin bangga sama Ambu, Ambu bisa bertahan dengan Abah yang masih terluka karena cintanya, Andin juga bahagia, Ambu mau mengenyampingkan perasaan Ambu untuk Andin, tadi Ambu pasti kesel banget ya? Ketemu sama Mamah Ayu? Dan untuk kedepannya, Ambu juga harus merelakan Abah dan Mamah Ayu akan sering bertemu, karena Andin dan Pak Raga akan menikah, makasih Ambu” aku memeluk perempuan yang sudah melahirkanku ini, Ambu dengan hati yang lapang mau mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaanku.


“Selama anak Ambu bahagia, Ambu juga bahagia”


“Ambu gak cemburu, waktu lihat Abah sama Mamah Ayu lagi ngobrol berdua?” tanyaku lagi.


“Ambu sudah menjalani biduk rumah tangga bersama Abah sekian lama, Ambu tidak akan menutup mata dan telinga tentang semua kebaikan Abah selama menjadi suami Ambu, kebaikan Abah selama berpuluh tahun tidak akan terhalang hanya karena kesalahannya satu kali, Ambu percaya, Abah adalah pria yang setia” Ambu tersenyum penuh keyakinan.


“Andin sayang sama Ambu” Aku memeluk Ambu lagi dengan penuh rasa sayang. Lambat, pandanganku tertuju pada ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur, di sana Abah tengah berdiri menatap kami sambil tersenyum penuh arti, aku membalas senyuman Abah lembut, sambil mengangkat jempolku.


“Ambu juga sayang sama kamu, kamu tahu-kan? Kalau Ambu adalah perempuan perkasa, bijaksana, dan kekinian” Ambu terkekeh sendiri.


“Hmmhhh ... Ambu-ku adalah perempuan super power, yang kekinian, cantik, baik, rajin menabung, mirip Raisa lagi”


Bersambung ....


.


.


.


.


Sejatinya, seluruh Ibu memang begitu bukan? Selalu rela mengorbankan kebahagiaan pribadinya, demi melihat anak-anaknya bahagia.

__ADS_1


Peluk, cium untuk seluruh Ibu yang ada di muka bumi ini, semoga Ibu selamanya selalu di berkahi Allah.


__ADS_2