BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Pertemuan


__ADS_3

“Assalamu’alaikum ... Abah”


Pria itu menoleh, sempat berdiri mematung, lalu menggisik matanya berulang kali, kepulanganku kali ini sengaja aku rahasiakan, sebagai kejutan untuk Abah dan Ambu, pria paruh baya itu menghampiriku perlahan, menatapku tanpa mengedip.


“Neng! Ini Neng anak Abah??” Abah mengguncang kedua bahuku, aku mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Iya, Andin pulang Abah ...” Aku memeluk Abah dengan gerakan cepat, memeluknya posesif, seolah akan ada orang lain yang mencurinya dariku.


“Masya Allah, satu tahun gak ketemu, anak Abah tambah geulis aja, lebih geulis dari di foto” Abah menangkup wajahku, lalu menciumnya bertubi-tubi, aku semakin terisak, rasanya begitu rindu pada sosok bijaksana yang selama ini selalu menasehatiku.


“Ambuuuuuu!! Coba lihat siapa yang datang??” teriak Abah di sela-sela acara pelukan kami.


“Siapa Abah??” Ambu datang tergesa dengan spatula masih di tangannya, rupanya Ambu sedang memasak untuk makan malam Abah, Ambu adalah perempuan panutanku jika dalam masalah melayani Abah.


“Masya Allah, ini kamu Neng?? Anak Ambu?? Kenapa pulang gak bilang-bilang??” Ambu menghambur memelukku erat, dengan mata berkaca-kaca.


“Andin kangen Abah sama Ambu” ucapku dalam isakan.


“Akhirnya kamu pulang juga Neng” ucap Ambu lirih.


“Iya Ambu” Aku mengangguk pelan.


“Sekarang kita masuk rumah, mobil kamu biar Abah masukkan ke halaman rumah, biar gak ngalangin orang lewat” aku mengangguk, memberikan kunci mobil pada Abah, untuk memindahkan mobil yang aku parkirkan sembarangan di pinggir jalan, untung saja bukan jalan raya.


“Euleuh-euleuh ... saha eta??” tiba-tiba aku mendengar suara perempuan tepat di belakangku, aku yang tengah di gandeng Ambu, yang berniat memasuki rumah langsung menoleh.


“Ceu Kokom? Ceu Odah? Mang Imut? Dan ... Tante ...” aku menatap trio wekweknya Desa Suka Kaya, lalu ucapanku menggantung kala aku menatap Ibunya Dino yang tengah menggandeng seorang anak kecil. Kebiasaan mereka rupanya belum berubah, mereka suka jalan-jalan sore sambil bergosip, memamerkan barang-barang mereka, sambil membawa cucu masing-masing.

__ADS_1


“Apa kabar??” sapaku yang terpaksa harus kembali keluar pagar rumah untuk menyapa mereka satu persatu, aku mencium tangan mereka sebagai tanda hormatku pada orang yang lebih tua dariku.


“Kapan pulang geulis??” Ibu Dino memelukku, lalu menciumi kedua pipiku, terlihat gurat kerinduan di wajah mereka, meski mereka hanya tetangga dan dulu sering banyak cekcok dengan Ambu, tapi mereka tetap menyayangiku layaknya orangtua pada anaknya.


“Baru saja Tante” ucapku pelan,


“Andin tambah cantik aja ih, sekarang sudah bisa pake sendal tinggi, dulu mana bisa ya kan?? Hihi ...” Ceu Odah kembali memprovokasi ingatanku pada masa lalu.


“Terimakasih Ceu” Aku tersenyum lembut.


“Wajahnya mani putih, mulus, adem, udah kayak ubin masjid, pasti di kota rajin ke salon ya??” suara Ceu Kokom yang terdengar, aku kembali tersenyum.


“Nggak Ceu” aku menggeleng, aku rajin ke salon??? Hahaha (Ketawa ala iklan shampoo).


“Neng Andin, pulang dari kota bawa oleh-oleh buat Mang Imut tidak??” Mang Imut tidak berubah, perutnya yang semakin maju ke depan, tidak mengurungkan niatnya untuk berhenti dari hobby nya, yang hobby makan.


“Asyiiikkk, Neng Andin tambah cantik aja, tambah baik lagi, gak sombong meskipun sudah tinggal di kota” Mang Imut mesem-mesem.


“Ah, enggak Mang, biasa aja” aku menggeleng.


“Nek ... Nek ...” tiba-tiba anak kecil yang tengah bersama Ibunya Dino menarik-narik baju daster yang digunakan perempuan tersebut.


“Kenapa sayang??” Ibu Dino berjongkok, lalu menempelkan telinganya pada mulut anak kecil tersebut, detik kemudian perempuan berdaster motif bunga itu tersenyum lalu mengangguk.


“Din, kenalin ini Dina anaknya Dino, tadi Dina nanya katanya Siapa Tante ini?? Cantik banget” ucap Ibunya Dino menatapku lekat.


“Oh, hay ... aku Andin, kamu Dina yaaa” aku ikutan berjongkok lalu mencawel pipinya gemas. Gadis kecil itu tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang sudah mulai rontok.

__ADS_1


“Iya Tante ...” dia mengangguk malu-malu, aku tersenyum lembut.


‘No ... anakmu cantik, seperti Ibunya, matanya sama seperti kamu No’ aku menggumam dalam hati.


“Neng! Ayo masuk rumah dulu, kamu capek baru datang” suara Ambu membuyarkan lamunanku.


“Maaf ya Ibu-Ibu, Andin baru saja tiba, mau istirahat dulu, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi sama Andin” Ambu menarik tanganku, lalu memanggutkan kepalanya pada Ibu-Ibu di hadapanku, pamit.


“Eh, gak apa-apa Bu Lurah, maaf Andin nya di ganggu” ucap Mang Imut tersenyum kikuk, aku yakin semua orang masih mengingat dengan lekat tentang masa laluku bersama Dino.


“Ambu harap, kamu tidak perlu lagi berhubungan dengan Dino, ataupun keluarganya!” ucap Ambu ketus.


“Ambuuuu, Andin baru datang kok wajah Ambu sudah di tekuk begitu sih??” aku merajuk, bergelayut manja pada tangan Ambu yang masih memanyunkan bibirnya.


“Habis, Ambu masih kesel saja sama mereka!” ucap Ambu ketus.


“Sudah, sudah ... nih ada goreng pisang, sama goreng singkong kesukaan anak Abah” tiba-tiba Abah datang dengan piring di tangannya.


“Makasih Abah” aku langsung mencomot goreng singkong di hadapanku.


“Andin kangen banget sama suasana kampung ini, Andin mau ke pasar malamnya juga ah ...” pintaku sambil terus mengunyah.


“Boleh” ucap Abah lembut.


“Gak boleh!” ucap Ambu sarkas.


“Kenapa??” aku menatap perempuan yang tengah menggunakan daster dengan motif macan tutul tersebut, auranya masih saja galak, khas emak-emak rempong yang kalau keinginannya tidak dituruti, maka akan langsung memberikan kultum secara gratis selama dua puluh empat jam nonstop.

__ADS_1


__ADS_2