
Aku menatap gadis kecil, yang kini tengah disuapi Andin, sedikit merasa jengkel, karena kini Andin jadi mengacuhkan aku, dan aku paling tidak suka diperlakukan seperti ini oleh wanitaku.
“Aaaaaa lagiii” Andin kembali menyuapkan sesendok bubur ayam pada Dina, anak itu kembali membuka mulutnya dengan ceria. Hatiku menghangat melihat pemandangan tersebut, membayangkan anak-anakku nanti juga akan diperlakukan oleh Andin seperti demikian, gadis ini begitu keras kepala, tegar, kuat, sabar, namun juga gadis ini menyimpan sebuah kelembutan di dasar hatinya, pada fitrahnya perempuan tercipta seperti itu bukan?? Lembut, tapi bukan berarti lemah.
“Emmhh .. enyak” Dina mengunyah makanannya. Matanya berbinar riang, sudah beberapa saat Ibunya pergi untuk menghadap Illahi, Dina sempat mengalami masa sulitnya karena kehilangan Ibunya, namun berkat orang-orang di sekitarnya, lama-lama bocah itu mengerti, jika kini Ibunya sudah tiada. Namun, yang ada dalam pikirannya Ibunya tidak ada karena pergi ke suatu tempat, dan dia percaya jika suatu hari nanti Ibunya akan kembali. Untuk sementara kami semua membiarkan pikirannya seperti demikian, butuh waktu dan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan setiap peristiwa yang terjadi pada Maira kepada Dina.
“Nanti, setelah ini kita jalan-jalan ke minimarket yaa, kita beli kebutuhan Dina, terus kita beli juga susu buat adik Dina” ucap Andin antusias, dan kini sebagai penonton yang baik aku hanya bisa mengamati.
“Oceh Tante, beli esklim juga yah?” pintanya dengan raut memohon.
“Okeh” Andin mengangguk semangat.
“Hollleeeee” gadis kecil itu bersorak, menggemaskan.
***
“Cinta, kamu kenapa sih mau beliin semua ini untuk anaknya Dino??” tanyaku kala kami sudah berada di dalam mobil, dengan belanjaan yang lumayan banyak di kursi belakang, sementara Dina tertidur karena kelelahan, gadis kecil itu kini tengah tertidur di pangkuan Andin.
“Ini caraku memenuhi janjiku pada almarhumah Maira, aku berjanji akan merawat anak mereka dengan baik, berperan seperti Ibu mereka yang akan sangat menyayangi mereka” ungkapnya datar.
Aku terhenyak, lagi-lagi ucapannya tidak bisa ditebak, apa maksudnya? Apa dia bermaksud akan menikah dengan Dino?? Lalu bagaimana denganku??.
“Apa maksudmu??” tanyaku geram sendiri.
“Pak ... mulai hari ini, saya akan memenuhi kebutuhan Dina dan Maira kecil semampu saya, sesekali saya akan mengajak mereka bermain, dan mungkin sesekali saya akan mengantar mereka sekolah jika saya punya waktu luang dari mengurus Bapak nantinya” ucapnya yakin.
__ADS_1
“Maksudnya bagaimana??” aku masih bingung saja.
“Bapak pasti berfikir, menggantikan peran Maira, berarti saya akan menikahi Dino ya?? Haha ... tidak Pak, maksud saya menggantikan peran maira itu, saya akan merawat mereka layaknya seorang Ibu, tapi tidak dengan menikahi Ayahnya, bagaimanapun Dino itu sahabat saya sedari kecil Pak, jadi saya akan tetap membantunya sebisa saya” ucapnya tergelak, aku sedikit paham.
“Lalu? Bagaimana dengan saya??” tanyaku memberengut kesal.
“Yaaa saya hanya akan melakukan semuanya, jika suami saya mengizinkan-lah, kalau tidak, ya saya akan menekan keinginan dan janji saya pada almarhumah Maira, bagaimanapun suami saya nantinya adalah segalanya bagi saya” ucapnya dengan gelakan yang terdengar renyah.
“Saya mengizinkan, selama itu membuatmu senang, saya mengizinkan karena itu adalah permintaan kamu” ucapku tersenyum lembut menatapnya, yang baru berhenti tertawa.
“Terimakasih Pak, saya tahu Bapak orang baik, makanya saya pilih Bapak sebagai imam saya” ucapnya tulus.
“Bapak gak perlu khawatir, katanya Dino akan berangkat ke luar pulau untuk mencari nafkah, jadi anak-anaknya akan di titip di neneknya, jadi saya tidak akan bertemu Dino untuk waktu yang cukup lama, dan saya juga akan leluasa untuk mendatangi anak-anak dan mengurusi kebutuhannya sekali-kali” lanjutnya lagi, jujur hatiku terasa adem mendengar penuturannya, aku percaya cinta tidak pernah salah.
***
Aku menatap wajahku di cermin, berulang kali, berlenggak-lenggok, ke kiri dan ke kanan, beberapa hari lagi pernikahanku dan Pak Raga akan segera digelar, kini kami tengah menjalani acara pingitan dari beberapa hari yang lalu, tidak ada kontak sama sekali di antara kami, kami ingin bertemu nanti jika waktunya sudah tiba saja.
Rasanya rindu, sangat rindu, berjauhan dari Pak Raga, saat kami beberapa saat sudah terbiasa bersama.
“Kamu sudah cantik, kenapa ngaca terus sih??” Ambu datang, memberikan segelas jamu, yang dipercaya bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mendekati acara pernikahan, jujur aku semakin cemas, khawatir, deg-degan, takut semuanya tidak sesuai rencana.
“Anak Abah selalu terlihat cantik” Abah datang menghampiri kami, lalu duduk di samping Ambu menatapku yang masih terpaku pada sebuah cermin besar di hadapanku.
“Masa sih Bah??” aku memutar tubuhku.
__ADS_1
“Iya, kan kamu anaknya Abah sama Ambu atuh, tapi ... kamu akan lebih cantik lagi, kalau ...” ucapan Abah menggantung, aku menatap Abah lekat menanti ucapan selanjutnya.
“Kalau apa Bah??” tanyaku menatap Abah yang terlihat ragu.
“Kalau kamu menggunakan hijab” ucap Abah sambil tersenyum lembut.
Aku menunduk dalam, ini bukan pertama kalinya Abah mengingatkan aku agar segera berhijab, tapi ... entahlah, aku selalu merasa belum siap saja.
“Salah satu kewajiban perempuan yang sudah baligh itu, adalah menutup auratnya, dan Abah harap kamu bisa melakukannya, apalagi, sebentar lagi kamu sudah mau menikah, kamu harus bisa menjaga aurat, menjaga harga dirimu, juga menjaga harga diri suamimu dari pandangan pria-pria jahat” ucap Abah kemudian, aku mengangguk paham.
Segera aku membuka lemari yang terletak di pojok kamar, meraih sebuah kain hijab, yang pernah aku beli di pasar malam bersama Siti beberapa waktu lalu.
“Andin akan belajar menggunakan hijab Abah” ucapku dengan penuh keyakinan.
Ambu berdiri melangkahkan kaki, mendekatiku.
“Ambu tahu, kamu anak yang baik, terimakasih karena sudah mau membantu kami sebagai orangtua” ucap Ambu memelukku erat.
“Setiap satu langkah anak perempuan, yang keluar dari dalam rumah dengan tidak menggunakan hijab, maka selangkah pula, seorang Ayah mendekati neraka, terimakasih karena kamu sudah bersedia mengurangi beban Abah sebagai seorang Ayah yang tidak sempurna ini” Abah juga memelukku erat.
“Tidak Abah, maaf karena Andin belum bisa menjadi anak yang baik untuk Abah dan Ambu” aku malah terisak, sedih karena aku masih belum bisa menjadi anak yang berbakti untuk kedua orangtuaku.
“Tidak, Andin anak terbaik kami, terimakasih karena telah menjaga kehormatanmu, menjaga nama baik keluarga, selama kamu jauh dari kami” ucap Abah kemudian, ikut terisak memelukku erat.
Kami berpelukan lagi, menangis lagi, tertawa lagi, saling berbagi suka duka, canda tawa, aku bahagia, memiliki orangtua seperti Abah dan Ambu. Akan ku gunakan waktuku sebaik-baiknya, yang mungkin tinggal sebentar lagi bersama kedua orang tuaku, sebelum aku akan membaktikan diriku pada imamku nantinya.
__ADS_1