BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Hukum Cambuk


__ADS_3

“Nikahkan saja mereka!”


“Bikin malu saja!”


“Usir saja dari desa ini!”


“Pembuat aib!!”


“Siksa saja mereka!!”


Dan segala cercaan lainnya aku dengar dari mulut beberapa warga sekitar, hatiku terasa teriris perih, delapan belas tahun bersama, mengapa aku baru tahu sisi lain dari seorang Dino Aldino? Pria yang selalu tak pernah lepas dariku, dan hanya beberapa bulan tidak dekat denganku, kini aku tahu siapa Dino sesungguhnya.


Tak ingin Dino mendapat masalah lebih besar lagi, aku segera menyingsingkan lengan bajuku, berniat membela Dino sepenuhnya. Bagaimanapun Dino sahabatku.


“No! Kamu bilang sama aku No! Kalau semua yang mereka tuduhkan itu tidak benar!” aku berteriak, hingga membuat beberapa warga yang masih bergemuruh terdiam, mereka menatapku iba.


Aku menatap Dino yang masih terkulai di atas tanah, Humaira masih sesenggukan.


“No! Jawab No!” aku kembali berteriak, tapi Dino hanya menggeleng.


“Bapak-bapak, Ibu-Ibu, saya adalah sahabat Dino, kalian tahu persis, aku sudah bersama Dino sedari kami kecil, aku berani bertanggung jawab, jika apa yang kalian lihat adalah salah!” ucapku berapi-api, menatap para warga bergantian. Mereka terdiam.


“Sekarang kita dengarkan dulu penjelasan Dino” ucapku, sementara itu ku lirik Abah, beliau tengah tersenyum lembut padaku, memberiku ruang dan waktu untuk bicara. Senyum Abah memberiku kekuatan yang tiada tara.


“Din ...” tangan Siti menyentuh bahuku, lalu tersenyum mengangguk, sementara itu Pak Raga hanya menatapku dengan melipat kedua tangannya di dada. Menyimak sembari mengira-ngira, akan apa yang terjadi selanjutnya.


“No, sekarang jelasin semuanya” aku berjongkok mendekati Dino, mataku menatap sendu pada sahabat yang kini tengah bersimpuh di tanah.


“Neng Andin! Bagaimana mungkin kami tidak curiga, Dino kedapatan lagi berpelukan dengan kekasihnya, sementara itu, baju mereka sudah acak-acakan seperti begini, mana di tempat sepi lagi!!” teriak salah satu warga yang menjadi saksi.


Aku diam “No, ayo jelasin semuanya” ucapku lembut.

__ADS_1


“Maaf Din” Dino menunduk,


“Huuuuuuu!!!!” seketika teriakan warga terdengar membuncah, mereka semakin emosi.


Ku lirik Abah, kini wajah beliau sudah memerah, tangannya membulat sempurna, aku tersenyum lalu kembali menatap Dino.


“Maaf buat apa No?? Ayo jelasin semuanya!” setengah putus asa, aku masih mendesak Dino.


Dino menggeleng berkali-kali, sementara itu, Maira semakin terisak, tangisnya pecah, entah tangisan karena marah, karena kecewa, atau karena malu? Aku tidak tahu.


“No ... ayo jel ...” belum ucapanku usai, namun beberapa warga sudah di kuasai emosi.


Brruukkk ...


Aku tersungkur, kala beberapa pemuda lainnya mencoba memindahkan tubuhku, sementara aku tetap tak bergeming untuk melindungi tubuh Dino.


“Ah ... dasar tukang zina!!! Ayo siksa aja pak Lurah biar kapok!!” teriak warga lainnya.


“Andin! Kamu dengar sendiri! Dino sudah mengakui semuanya!” teriak mereka sudah dipenuhi amarah.


“Dino mengakui karena tertekan oleh tuduhan kalian, iya kan No??!!” aku masih memaksa Dino, tapi Dino malah semakin menunduk,


Tidak ada kalimat pembelaan sedikitpun dari Dino, apakah itu artinya Dino sungguh melakukan perbuatan nista itu dengan Maira? Benarkah?.


“Din! Udah sini Din! Kamu gak bisa terus bela Dino, atau kamu sendiri akan celaka!!” kini Siti menarik tubuhku, aku meronta sekuat tenaga. Ku lirik Pak Raga yang hanya berdiri mematung, terlihat wajahnya amat bingung.


“Siti! Tolongin Dino!” isakku memelas, berharap Siti atau siapapun bisa menolong Dino.


Siti menggeleng, dan terus memapahku ke pinggir, menjauh dari tempat Dino terduduk.


“Pak Lurah, sekarang bagaimana baiknya??” tanya salah satu warga yang masih meminta pendapat Abah, yang kini sudah di tua kan di antara mereka.

__ADS_1


“Hukum cambuk mereka berdua!” ucap Abah tegas, setelah lama berfikir dan menimang dalam diamnya, namun tak ayal keputusan Abah membuat semua warga yang hadir terpaku, mencerna ucapan Abah.


“ABAH!!!” teriaku frustasi, tak terima dengan keputusan Abah yang menurutku menghukum Dino dengan cara yang sangat ekstrim.


“Menikahkan mereka, sama sekali tidak akan mengurangi dosa Zina mereka, bagaimana jika ada remaja lain yang melakukan hal serupa malah keenakan, mereka jadi pada menikah karena telah berlaku zina terlebih dahulu?? Untuk menumpas perbuatan zina di desa ini, maka hukuman yang paling tepat adalah CAMBUK!!” ucap Abah tegas, semua warga mengangguk, dengan raut wajah yang ngeri.


“Pak Lurah!! Jangan!!” Ibu Dino kini beringsut, bersujud di bawah kaki Abah, memohon pertolongan, aku semakin menangis, kini Siti pun ikut menangis.


Kita semua tahu, bahwa hukum cambuk adalah hukuman bagi pelaku zina yang belum menikah, mereka akan dicambuk dengan disaksikan oleh sekumpulan orang-orang beriman, harus di tempat terbuka. Tujuannya adalah untuk membuat pelaku zina menjadi jera, menjadikan pelajaran pada mereka bahwa berzina adalah suatu perbuatan dosa.


“Bu Ningsih, silahkan berdiri, jangan seperti ini, Dino berperilaku seperti itu bukan sepenuhnya kesalahan Bu Ningsih, tapi juga mungkin pergaulan Dino yang salah, Dino masih remaja Bu, apapun bisa dilakukan mereka, hanya saja, saya tidak ingin di desa kita terjadi kembali hal serupa jika tidak di tindak lanjuti dengan hukuman yang sesuai, hukuman ini bukan mutlak keinginan saya, namun ini sudah menjadi ketentuannya, sudah jelas ada ayat yang menjelaskan bahwa gadis atau perjaka yang melakukan Zina maka hukumannya adalah cambuk” ucap Abah panjang lebar, tangan kokoh Abah mencoba membantu Ibunya Dino berdiri.


Ku tatap wajah Dino dan Maira sudah sangat sembab, bahkan kulit mereka sudah sangat pucat pasi.


‘No ... apa yang harus aku lakukan?’


“Jangan Abah ... Andin mohon ...” aku berlutut di hadapan Abah, menangis terisak, untuk pertama kalinya aku mempermalukan diriku sendiri di hadapan banyak orang, dan ini demi Dino.


“Andin ... mungkin kita harus merelakan Dino” Siti ikut terisak.


“Neng ... kamu sahabat Dino, kamu jelas lebih tahu Dino dari siapapun, kamu mau sahabat kamu Dino seumur hidupnya menanggung dosa Zina?” tanya Abah menatapku lembut, lalu merangkul tubuhku agar berdiri. Aku semakin sesenggukan.


Ada banyak keraguan di hati para warga, terlihat dari gerakan tubuh mereka, hal ini adalah pertama kalinya terjadi di desa kami, dan kenapa harus Dino??.


Awalnya warga berkoar akan menghukum Dino, tapi kini, kala mereka berdiri, menyiapkan peralatan untuk mencambuk tubuh Dino, mereka terlihat gemetaran, mungkin ketakutan, beberapa warga yang memiliki anak remaja, langsung berada di posisi awas, dalam gumaman mereka berjanji, tidak akan membiarkan putra-putri mereka sampai terjebak dalam kemaksiatan.


Tubuh Dino dan Maira sudah siap untuk di cambuk, aku semakin terisak, berulang kali aku menjerit, tidak rela jika sampai Dino harus mati dengan cara seperti ini.


‘No ... aku akan menyelamatkanmu ...’


Bersambung .......

__ADS_1


Please jan pada tegang gituh, hhehee ...


__ADS_2