
Angin malam yang mulai membekukan tulang mulai menyusup melalui celah jendela mobil, yang sengaja di buka sedikit oleh Andin. Suasana hening, keadaan kembali canggung.
Hingga mobil mewah berwarna hitam itu tiba di sebuah halaman, tepatnya di sebuah kedai mie ayam, di depannya tertulis plang dengan tulisan “Kedai Mie Ayam Mang Jupri”.
Reeeggg ...
Mobil berhenti, Andin kembali terlihat kikuk, begitu pun dengan Raga.
“Eeeemmmhhh ... mari saya antar” Raga membuka seat belt yang membelit tubuhnya.
“Tidak usah Pak, saya bisa sendiri” ucap Andin, sambil berusaha membuka seat beltnya.
Lagi-lagi hanya penolakan yang diberikan oleh gadis itu, membuat Raga menarik nafasnya berat.
Raga keluar dari dalam mobilnya, memutar tubuhnya, untuk mengelilingi mobilnya, lalu berhenti tepat di pintu mobil sebelah kiri, tepat dimana Andin berada.
Ceklek ...
Pintu mobil dibuka, Andin masih terlihat kikuk dan bingung.
“Saya bisa sendiri Pak” ucapnya lagi, menundukan kepala, seolah ingin menghindari tatapan tajam milik Raga.
“Ayo masuk” Raga menuntun tangan Andin, lalu berusaha membimbingnya untuk masuk kedalam ruko berlantai dua tersebut.
“Saya bisa sendiri Pak, saya tidak apa-apa” tegas Andin, sambil melepaskan tangan Raga, yang kini tengah menggenggam tangannya erat.
Raga melepaskan tangan Andin dengan gusar, tapi pria itu tetap sabar, berjalan di samping Andin, untuk memastikan jika Andin baik-baik saja.
Tok ... tok ... tok ...
Andin mengetuk pintu rumahnya, tidak lama kemudian terdengar suara orang membuka pintu.
Kkrriieettt ...
“Ya Allah ... gustiiiii!!! Andiiiinnn!!! Kamu kenapa?? Kamu terluka?? Kenapa bajumu penuh darah??” seketika suara lengkingan dari Siti terdengar, memenuhi rongga telinga masing-masing.
“Aku gak apa-apa Siti” Andin menggeleng, lalu masuk kedalam ruko tersebut, berjalan menuju tangga agar tiba ke lantai dua.
“Gak apa-apa kumaha?? Kamu pasti terluka nya?? Andin! Kamu gak niat bunuh diri kan?? Kata aku juga apa?? Kamu itu perempuan! Bukan laki-laki! Kenapa kamu hobi banget baku hantam??!!” Siti masih saja mengoceh, meski Andin mengabaikannya.
“Ekhheemmm ...” Raga berdehem karena merasa diacuhkan.
“Eh?? Bapak?? Kenapa gak bilang kalau Bapak ada di sini dari tadi?? Itu si Andin kenapa?? Kenapa bajunya penuh darah??” Siti memberikan serentetan pertanyaan pada Raga, membuat Raga tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.
__ADS_1
“Cinta gak apa-apa Titi, hanya ada sedikit masalah di kantor tadi, ekhem ... ekhem ...” Raga menjelaskan sambil berdehem, lalu tangannya mengelus tenggorokannya berulang kali, memberi kode pada Siti, agar dia dipersilahkan masuk.
Siti yang tanggap, langsung faham maksud Raga, dia segera menepuk jidatnya berulang kali.
“Aduuuhhh ... maaf pisan ya Pak, saya sampai lupa kalau Bapak belum masuk rumah, mari Pak” Siti mempersilahkan Raga masuk.
“Bapak mau minum apa??” tanya Siti setelah Raga duduk di salah satu kursi di lantai dua.
“Apa saja” jawab Raga tersenyum, sambil mengedarkan pandangannya.
Siti mengangguk, segera turun ke lantai bawah untuk membuatkan Raga minuman.
Sementara itu, Raga masih mengedarkan pandangannya, menelisik tempat tinggal kekasih hatinya.
Di lantai dua tersebut, tidak terlalu banyak barang, karena ukuran ruko nya yang kecil, hanya ada dua buah kamar berukuran sedang, dan satu buah ruangan kecil yang hanya muat untuk kursi dan meja, mungkin tempat mereka beristirahat, tapi tempatnya cukup nyaman, jika jendela dibuka maka akan langsung terlihat langit malam yang dipenuhi bintang. Sementara itu, di lantai satu di tempati oleh kedai mie ayam Siti.
Kkrriieettt ...
Salah satu pintu kamar itu terbuka, setelah beberapa menit Raga menunggu.
“Bapak belum pulang??” Andin mengerutkan keningnya.
“Belum, saya nunggu kamu” Raga menggeleng, lalu menggeser posisi duduknya.
“Kenapa lagi Pak??” Andin duduk di salah satu kursi, yang berjarak dengan Raga, membuat Raga mendesah kecewa.
“Maaf ya Pak, saya merepotkan” Andin menunduk.
“Lain kali, jangan gunakan kekuatanmu untuk berurusan dengan orang lain, saya takut” ucap Raga menatap Andin dengan lekat.
“Takut?? Takut kenapa pak??” tanya Andin, kembali mengerutkan keningnya.
“Takut kehilangan kamu lagi” ucap Raga apa adanya.
“Hah?? Eh? Emmhhh ...” seketika Andin menjadi gugup, bingung entah apalagi yang harus dia katakan.
Suasana kembali canggung, keadaan kembali hening. Tak ada yang mau memulai kata kembali, hanya terdengar helaan nafas yang bergantian dari keduanya.
“Enam tahun sudah berlalu ...” akhirnya Raga yang memulai kembali percakapan. Andin diam menyimak ucapan Raga selanjutnya.
“Dan sampai hari ini, aku masih sendiri” lanjut Raga tanpa memalingkan wajahnya dari Andin.
Andin terlihat bingung, matanya berputar mencari pemandangan lain, pemandangan apa saja, selain mata Raga. Yang menatapnya lekat sedari tadi.
__ADS_1
“Kamu pun masih sendiri bukan??” kini pertanyaan yang paling dihindari Andin terlontar juga dari mulut Raga.
“Emmhhh ... i iya Pak” jawab Andin gugup.
“Aku masih mengingat hari itu, kamu juga belum melupakannya bukan??” tanya Raga lagi, membuat Andin semakin bingung.
“Terimakasih banyak, hari itu Bapak sudah membiarkan saya memilih pilihan saya sendiri” Andin mengangkat wajahnya.
“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku” Raga menggeleng.
“Dari dulu, sampai sekarang, Bapak adalah manusia paling keren yang pernah saya temui” ujar Andin sambil tersenyum lembut.
“Saya tahu itu” Raga mengedikan kedua bahunya bangga.
“Hari itu, saya belum bisa mengucapkan ungkapan terimakasih dengan baik pada Bapak, dan hari ini, takdir kembali mempertemukan kita, terimakasih ... hari itu, Bapak sudah melepaskan saya, membiarkan saya memilih pilihan sulit yang saya pilih” ucap Andin, matanya berkaca-kaca, pikirannya melayang pada peristiwa enam tahun silam.
“Dari dulu, sampai sekarang, saya hanya bisa menjadi penggemar kamu” ucap Raga kemudian, tersenyum tipis, menertawakan nasib mirisnya sendiri.
“Bapak penggemar istimewa saya” Andin mencoba menghibur, senyumnya kembali terbit.
“Halah, penggemar mana ada yang istimewa???” Raga mengibaskan tangannya. Andin tertunduk, jujurnya enam tahun terakhir yang dia inginkan adalah tidak pernah ingin bertemu lagi dengan semua orang-orang di masa lalunya, tapi takdir selalu berkata lain. Takdir punya cara sendiri, untuk membuat hidup Andin berada dalam zona yang tidak nyaman menurutnya.
“Coba ceritakan padaku, apa yang sudah terjadi di enam tahun terakhirmu??” tanya Raga, menopang wajahnya dengan sebelah tangannya yang menyender pada kepala kursi.
“Tidak banyak, saya hanya terus belajar, belajar, dan belajar, lalu bekerja, bekerja, dan bekerja, itu saja” ucap Andin singkat, Raga menghela napas kecewa, padahal dia sudah sangat bersemangat untuk mendengarkan cerita Andin. Tapi respon Andin sangat menyebalkan baginya.
“Ada cerita lain??” tanya Raga masih tak ingin menyerah.
“Emmmhhh ...”
Sejurus kemudian, terdengar Andin menceritakan beberapa pengalamannya di enam tahun silam, hanya cerita sederhana, yang sebetulnya sangat tidak penting. Tapi Raga mendengarkan semua cerita Andin dengan antusias, hingga waktu yang melaju telah mereka lupakan.
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers,
Like,
Komentar
Bintang lima
Vote
__ADS_1
Juga share cerita ini yaaa.
Hatur nuhun.