BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Dino?


__ADS_3

‘Kalau sudah tiadaaa, baru terasa ...’


‘Bahwa kehadirannyaaaa, sungguh berhargaaa ...’


Seketika lagu yang sering dinyanyikan Siti, menjadi terngiang-ngiang di pendengaranku.


Yups ... hari ini, Rey tidak masuk kerja, alhasil pekerjaan begitu menggunung, bertumpuk-tumpuk tak terkendalikan, belum lagi, setelah tahu kenyataan bahwa aku akan segera meresmikan hubunganku dengan Pak Raga, Ronald kini sudah kembali pada watak awalnya, dia kembali menjadi pria arogan yang menyebalkan, dia sama sekali tidak peduli dan tidak ingin membantu pekerjaanku, yang notabenenya untuk menunjang karirnya juga. Berkali-kali aku mendesah pelan, ketidakhadiran Rey membuat aku kelabakan.


Emang susah, cinta di tolak, kekuasaan bertindak!!.


Krriieeettt ...


Pintu ruangan kerjaku terbuka, aku menoleh, ternyata Pak Raga sudah tersenyum di sana, senyumnya pagi ini masih saja sama, sama-sama manis, eh?.


“Cinta, jangan terlalu diforsir, kerjakan saja semampunya” ucap Pak Raga sambil masuk ke dalam ruanganku, memberikan sebotol minuman dingin dengan rasa jeruk yang terlihat menyegarkan. Kemudian Ia membukakan tutup botolnya, yah ... se-sweat itu Pak Raga, he.


“Iya Pak” aku mengangguk, lalu menerima botol minuman tersebut, menenggaknya sedikit demi sedikit.


“Saya pikir, sudah seharusnya kamu cuti kerja, kamu harus segera pulang ke kampung, untuk mempersiapkan acara pertunangan kita” Pak Raga buka suara, sembari membantu pekerjaanku yang bertumpuk di meja, memeriksa file masuk yang baru saja di bawa beberapa staf ke dalam ruanganku.


“Paaakkk, saya tidak bisa cuti kerja” aku menggeleng, bagaimana mungkin aku cuti kerja terlalu lama? Ah ... pasti akan sangat membosankan.


“Kalau begitu, kamu resign saja” ucapnya lagi dengan santai.


Aku?? Tanpa kegiatan?? Bisa mati kutu aku ini, aku sudah terbiasa hidup dengan banyak aktifitas, dari semenjak sekolah dulu, hingga sekarang, jadi kalau tiba-tiba saja aku harus diam di rumah tanpa kegiatan yang jelas, terang saja aku akan merasa frustasi sendiri.


“Paaaakkkk” aku merajuk, mengerucutkan bibirku dengan kesal.


“Cintaaa, please ... kamu ngertiin saya dong, saya gak mau lihat kamu capek kerja, sementara saya masih sangat mampu membiayai hidup kamu” kini Pak Raga terlihat serius, nada bicaranya seperti tidak ingin dibantah.


“Paaakkk, saya gak bisa kalau gak punya kegiatan” aku kembali merajuk, tetap tidak setuju dengan usulannya.


“Lagi pula, dua bulan lagi, keluarga saya akan segera melamar kamu secara resmi, memangnya kamu gak mau menyiapkan segala sesuatunya dengan tangan kamu sendiri?? Ini moment yang paling penting dalam hidup saya, kita harus ikut andil dalam mempersiapkan semuanya”

__ADS_1


Lagi-lagi Pak Raga memberikan ide yang aneh, iya ... jadi dari semalam Pak Raga menelponku, untuk menceritakan segala ide nya, dia bilang ingin yang terbaik untuk setiap rangkaian acara yang akan kami lewati, dia ingin membuat semuanya menjadi kenangan indah, dan tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, Pak Raga sebegitunya banget, padahal biasanya perempuan yang suka heboh dengan persiapan sebuah acara, tapi jika antara aku dan Pak Raga adalah kebalikannya, Pak Raga yang heboh mempersiapkan ini dan itu, bahkan sesuatu yang tidak aku pikirkan sebelumnya, Pak Raga sudah menatanya dari sekarang.


“Pak, jangan berlebihan, hanya acara lamaran, gak perlu sampai segitunya” ucapku, lalu fokusku kembali pada sebuah berkas yang ada di hadapanku, mencoba mengoreksinya, sebelum aku serahkan pada Ronald.


“Saya tidak berlebihan Cinta, saya hanya ingin yang terbaik” ucapnya lagi keukeuh. Jika sudah begini, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, berdebat pun rasanya percuma.


“Ya sudah, gimana Bapak aja” akhirnya aku mengalah, jika untuk urusan yang satu ini.


“Nah, gitu dong” Pak Raga mengembangkan senyumnya.


“Sudah waktunya makan siang, yuk kita turun ke bawah” Pak Raga beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu keluar, menungguku yang tengah menutup beberapa berkas yang tadi selesai diperiksa.


“Maaf, Pak Raga, boleh minta waktunya sebentar??” aku menoleh, kala kudengar suara seorang karyawan yang menyapa Pak Raga yang tengah mematung di ambang pintu.


“Boleh, kenapa??” tanya Pak Raga datar.


“Saya mau menanyakan tentang ini Pak” aku masih mendengar obrolan mereka samar, lalu aku berjalan menghampiri mereka, setelah merapikan ruang kerjaku.


“Oh, kita ke ruangan saya saja” ajak Pak Raga kemudian.


Aku berjalan menuju lift, menekan tombol satu, setelah pintu lift terbuka, berniat menunggu pintu lift tertutup, namun ...


“Bu Andin! Tunggu!” pintu lift ditahan oleh tangan seseorang, orang itu masuk ke dalam lift, berdiri di sampingku dengan senyuman yang merekah.


“Mau makan siang ya?? Kok sendiri aja? Kakak durhaka-ku kemana??” tanya Ronald menatapku sinis, aku mendelik tidak suka. Bisa-bisanya pria itu mengatakan kalau Pak Raga Kakak durhaka.


“Ada urusan dulu sebentar” ucapku datar, mataku memutar malas.


“Ooohhh, dia lebih mentingin urusan pekerjaannya yaaa, daripada menemani calon tunangannya buat makan siang” ucapan Ronald membuat telingaku gatal, karena dia menekankan kata calon tunangan padaku. Gemessshhhh!!!.


Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya, diam membisu hingga lift yang membawa kami tiba di tempat tujuan. Percuma mengatakan banyak hal dengannya, bisa-bisa aku terkena serangan darah tinggi di saat usiaku masih muda.


Ting!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, aku berjalan mendahului Ronald menuju kantin perusahaan.


“Bu Andin!”


Aku mengerjap, melirik kebelakang, ternyata receptionist yang bernama Alya yang memanggilku, aku menghampirinya ke meja tempatnya bekerja.


“Kenapa??” tanyaku menatapnya dengan bingung.


“Dari tadi ada yang menunggu Ibu” ucapnya sambil tersenyum lembut. Kepalanya menunduk penuh hormat.


“O ya? Siapa??” tanyaku bingung, karena perasaan, aku tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini.


“Itu, orangnya masih nunggu” Alya menunjuk orang yang tengah duduk di kursi tunggu, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, orang itu terlihat lelah.


Aku mengerutkan keningku dalam, mencoba menelisik pria yang katanya tengah menungguku sudah lama, berjalan mendekatinya, memperhatikan penampilannya, dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Penampilannya agak lusuh, sekilas aku seperti mengenalnya, tapi siapa? Hatiku mulai bertanya-tanya.


Pria itu membuka tangannya, mendongakkan kepalanya, hingga pada akhirnya tatapan kami bertemu.


Deg


Deg


Deg


“Andin???”


“Dino???”


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa.


Berikan komentar dan ulasan untuk karya ini ya readers ...

__ADS_1


Agar aku semakin semangat merangkai kata, he


Follow Ig-ku di teteh_neng2020


__ADS_2