BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Vitamin


__ADS_3

Tidak ada hal yang lebih indah di dunia ini selain dari pada jatuh cinta, hheeeyyy ... kalau lagi jatuh cinta istilah ‘Gunung ku daki, lautan ku sebrangi’ adalah hal yang sangat mudah di lakukan, hal ini juga terjadi pada Raga, cintanya yang sudah sangat lama dipendam, akhirnya bisa tersalurkan juga, dia merasa jika penantiannya selama ini tidaklah sia-sia, meskipun Andin belum mengungkapkan rasa cintanya, tapi mendapatkan respon positif dari Andin, membuat Raga langsung menyimpulkan jika Andin telah membalas cintanya.


“Selamat pagiiii ...” Andin membuka pintu ruangan Raga yang tertutup rapat.


“Pagi Cinta ...” Raga mendongak, tersenyum semanis mungkin,


“Ayo duduk” Raga mempersilahkan Andin untuk duduk di kursi di hadapannya.


“Ini buat Bapak” Andin menyodorkan beberapa paper bag yang dari tadi di tentengnya.


“Apa ini??” Raga menerimanya, lalu membukanya.


“Ini berbagai macam vitamin buat Bapak, ada vitamin C, E, dan D” Andin mengeluarkan beberapa toples obat-obatan, membuat Raga mengerutkan keningnya.


“Saya gak sakit, kenapa kamu bawain saya obat-obatan??” Raga memberengut.


“Bapak gak sakit, tapi Bapak harus tetap jaga kesehatan, ingat! Usia Bapak itu sudah beranjak menuju kepala empat” Andin mengacungkan empat jarinya, tanpa dia sadari Raga sudah mengerucutkan bibirnya, merasa tidak terima jika dia dibilang sudah tua.


“Cinta, usia saya itu baru tiga puluh empat, mau tiga puluh lima, bukankah seharusnya di usia itu para pria sedang berada dalam fase yang sangat kuat??” Raga menolak tua.


“Emmhhh ... gak bisa, pokoknya Bapak harus minum obatnya yaaa, ingat! Jangan jadi pria tua yang menyebalkan!” Andin beranjak dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar ruangan Raga, memasuki ruangannya sendiri.


“Apa benar jika aku sudah tua? Semuanya salah kamu Cinta, kenapa harus ada drama kita terpisah dulu??” Raga menggeleng, lalu tersenyum sendiri, meraih ponsel yang berada di sampingnya, menekan salah satu nomor yang paling sering di hubungi yang ada di dalam ponselnya.


“Hallo ... Cinta” sapa Raga setelah telponnya di angkat.


“Bapak, apa sih?? Baru juga ketemu udah nelpon aja?” terdengar suara ketus di ujung sana.


“Saya lupa, belum bilang sesuatu sama kamu pagi ini” Raga berdiri, membuka sedikit tirai yang menutupi jendela kaca ruangannya, mengintip Andin yang hanya terlihat bayangannya saja.


“Apa?? Lagian kenapa harus telpon sih?? Bapak ngesot aja nyampe kok kesini” Andin masih terdengar menggerutu.


“Jadi, kamu maunya saya datang langsung begitu??” Raga mengulum senyum.

__ADS_1


“Ya bukan beg ...”


“I LOVE YOU Cinta ...”


“Hah???”


“Saya mau bilang itu tadi, tapi kamunya keburu pergi”


“I LOVE YOU”


Tut ... tut ... tut ...


Telpon dimatikan sepihak.


“Kapan sih? Kamu mau bilang I LOVE YOU TOO sama saya??” Raga menggumam, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, berusaha untuk tidak egois, hanya karena keinginan kecilnya.


“Aku akan menjalankan rencanaku Cinta, agar kamu secepatnya menjadi milikku” gumam Raga, tersenyum penuh kemenangan.


***


Tok ... tok ... tok ...


Andin mendongakan kepala, kala dia mendengar orang yang mengetuk pintu ruangannya.


“Bu Andin, makan siang bareng yuk” Ronald menyembulkan kepalanya dari balik pintu, tersenyum jenaka, tapi tak ayal malah membuat Andin melengos tidak suka.


“Maaf, saya mau shalat dulu, saya belum lapar” tolak Andin, kembali fokus pada layar komputer di hadapannya.


“Saya tungguin deh, Bu Andin saya sudah janji mau traktir Bu Andin, masa Bu Andin nolak terus sih??” Ronald mengerucutkan bibirnya.


“Nanti aja ya Pak Ronald, kalau saya sudah mood makan bareng sama Pak Ronald” Andin masih belum memalingkan wajahnya pada Ronald.


“Ya udah deh, nanti, kalau Bu Andin sudah siap buat makan bareng sama saya, Bu Andin jangan sungkan yaaa ...” Ronald menutup pintu, berjalan menjauhi ruangan Andin dengan menghentakan kakinya, merasa kesal dengan penolakan Andin.

__ADS_1


“Heran, kenapa juga Pak Ronald maksa banget sih? Mau makan bareng sama aku??” Andin mendengus kesal, beranjak membereskan barang-barang yang ada di atas mejanya untuk segera turun ke lantai bawah, karena perutnya sudah berdemo minta jatah.


***


“Rey?? Pak Raga kemana ya?? Kok gak ada di ruangannya??” tanya Andin berdiri di depan meja Rey.


“Gak tahu bu, tadi Pak Raga keluar ruangannya, dan bilang katanya mau keluar dulu, kalau ada apa-apa, Ibu boleh diskusi aja sama Pak Ronald, atau Ibu bisa telpon Pak Harlan, atau coba Ibu telpon saja ponselnya” ujar Rey menatap Andin yang tengah kebingungan.


“Ya udah deh ...” Andin berlalu, niat hati mau ngajak Raga makan siang bersama, tapi nyatanya Raga sudah tidak ada di dalam ruangannya, apa Raga sudah pergi terlebih dahulu?? Bukankah biasanya Raga akan selalu mengajak Andin untuk makan siang bersama??.


Ttuuttt ... tuuuttt ... ttuuuttt ... ( Nomor yang anda tuju sedang sibuk )


Hanya terdengar sahutan dari operator, saat Andin mencoba menghubungi nomor Raga, Andin mendesah sebal, lalu berusaha untuk tidak peduli.


Andin makan siang sendirian, lalu setelah jam istirahat habis, Andin menyelesaikan pekerjaan sendirian, bahkan hal-hal yang seharusnya dia minta pendapat pada Raga, kini dia harus bertelpon ria pada Harlan.


Jam pulang kerja sudah tiba, tapi Raga tak kunjung kelihatan batang hidungnya, entah kenapa kali ini Andin merasa sangat kehilangan Raga, biasanya Raga akan getol sekali menelponnya, meskipun ruangan mereka bersampingan, jam makan siang, Raga akan mengajak Andin makan bersama, dan di jam pulang, biasanya Raga akan mengantarkan Andin untuk pulang, tapi sekarang, Raga hilang tanpa pemberitahuan apapun.


Tiba di rumah Andin berjalan melewati Siti yang masih membereskan meja bekas makan pelanggannya, berjalan dengan lemah, sementara itu wajahnya di tekuk.


“Udin! Kamu teh kenapa?? Pulang-pulang wajah ditekuk kayak gitu?? Kayak baju belum di licin” Siti mendongak, menatap Andin yang berjalan pelan.


“Siti, menurut kamu, Pak Raga itu beneran cinta sama aku gak sih??” Andin memutar tubuhnya, menatap Siti yang tengah melap meja.


“Ya jelas atuh, Pak Raga mau nungguin kamu sekian lama, apalagi kalau bukan cinta??” Siti mengerutkan keningnya dalam.


“Kenapa lagi?? Kamu punya masalah??” tebak Siti.


“Nggak ...” Andin menggeleng, lalu bergegas menaiki lantai dua, untuk menuju kamarnya.


“Iiiihhhhh ... Pak Raga sebenernya kemana sih?? Katanya cinta, tapi pergi kok gak bilang-bilang sih?? Sebel banget!!” Andin menghentakan tubuhnya di atas kasur, lalu berguling ke kiri dan ke kanan, hingga menimbulkan suara deritan dari ranjangnya.


“AAAAAAARRRGGGHHHH!!! Aku kenapa sih???”

__ADS_1


Bersambung .........


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa ...


__ADS_2