
“Kenapa wajahnya di tekuk begitu??” tanya Siti, mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedari tadi setia menemani waktu kosongnya. Gadis itu menatap Andin yang tengah berjalan gontai.
“Misi gagal Siti” Andin menyilangkan kedua tangannya di udara, dengan wajah lesunya.
“Ah, masa sih?? Kamu kurang hot kali rayuannya” Siti menatap Andin intens.
“Hot? Apanya yang hot?? Kamu peluk aja kompor biar hot” Andin melengos sebal, melewati tubuh Siti yang tengah cengengesan.
“Iiiihhh ... sensi pisan si Udin, Udin!! Aku punya ide lain buat naklukin Pak Raga!” Siti berteriak, kala Andin tetap melanjutkan langkahnya, tidak memperdulikan ucapan Siti.
“Ide sekebon! Tapi satupun gak ada yang berhasil!” Andin membanting tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya dengan nanar, tiba-tiba saja gadis itu rindu kehadiran Raga, rindu senyumannya, candanya, perhatiannya, juga sifat manjanya yang kadang Raga tunjukkan hanya pada Andin.
“Hhhhhh ...” Andin menghela napasnya berat.
“Apalagi yang harus aku lakukan agar Pak Raga mau mendengarkan penjelasanku??” Andin menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
“Selama ini, mungkin ini yang dirasakan Pak Raga, waktu aku selalu acuh akan perjuangannya, Ya Allah ... apa ini yang dinamakan hukum tabur tuai?? Tapi ... Abah bilang gak ada yang namanya hukum karma, yang ada hanyalah, Allah akan mengganjar semua perbuatan yang telah kita lakukan, apa aku sedang menerima ganjaranku?? Ya Allah ... maafkan hambamu yang penuh dengan dosa ini” Andin terus menggumam, berbicara sendiri, dengan mata tertuju pada seekor cicak yang tengah merayap di langit-langit kamarnya.
***
“Bu Andin, hari ini ada rapat yang harus dihadiri oleh seluruh dewan direksi ya” ucap Rey kala Andin melewati meja kerjanya.
“O ya? Semuanya?? Sekarangkan baru awal bulan, kok sudah rapat lagi sih??” tanya Andin sambil mengerutkan keningnya.
“Iya Bu, saya juga kurang tahu” Rey menganggukan kepalanya yakin, lalu mengedikkan kedua bahunya, merasa bingung juga.
“Baiklah ...” Andin menganggukan kepalanya, segera memasuki ruangannya, untuk mempersiapkan rapat yang akan terlaksana beberapa jam mendatang.
***
Cuaca siang ini cukup panas, tanpa terkecuali di sebuah ruangan yang telah dihuni oleh lebih dari sepuluh orang manusia, yang tengah berkutat dengan pekerjaannya, rapat siang ini terasa begitu menegangkan, mengingat Raga yang biasanya bersikap santai, calm, juga penuh wibawa, kini telah berubah menjadi sosok direktur yang menakutkan, dalam rapat kali ini, Raga terkesan judes, galak, dingin, juga datar, membuat semua peserta rapat merasa kikuk juga takut sendiri, tanpa terkecuali Andin, untuk pertama kalinya gadis itu merasakan aura yang berbeda dari seorang Raga.
__ADS_1
“Saya tidak mengerti, kenapa penjualan bulan ini bisa turun kembali, meskipun turunnya hanya nol koma nol satu persen, tapi tetap saja ini sangat berdampak pada pendapatan perusahaan, kenapa kinerja kalian sangat buruk sekali??” Raga menatap peserta rapat dengan tatapan tajamnya.
“Maaf Pak, menurut saya, semuanya masih terasa stabil kok, kalau ada penurunan nol koma nol satu persen itu sangat wajar terjadi, mengingat usaha tidak akan selamanya terus mendapatkan keuntungan, lagipula ini masih awal bulan Pak, biasanya kita akan evaluasi di pertengahan atau di akhir bulan, kita masih punya waktu untuk meningkatkan penjualan di bulan ini” Andin mengangkat tangannya, Raga menatapnya tajam, tidak terima dengan sanggahan calon tunangannya tersebut.
“Saya tidak menerima sanggahan Bu Andin! Saya mau usaha yang kita kelola ini, terus meningkat lima persen per harinya! Saya tidak menerima bantahan, jika kalian tidak mampu, maka silahkan angkat kaki dari perusahaan ini dengan sukarela!” Raga melempar map yang ada di hadapannya, lalu berdiri.
“Tapi Pak!” Andin berdiri untuk menyanggah.
“Rapat selesai! Silahkan kembali pada pekerjaan masing-masing, terimakasih!” Raga bersiap berjalan menuju pintu, menunggu karyawan lain yang mulai berjalan dengan lesu karena target baru, yang menurut mereka sangat keterlaluan.
“Maksudnya apa sih?? Dia pikir, dia bisa seenaknya saja memberikan target yang susah dijangkau karyawan??” Andin ngedumel sendiri, lalu gadis itu mulai menumpuk file hasil evaluasi rapat, untuk kembali dibawanya ke dalam ruangannya.
Bbrruuukkk!!
“Aduh!!”
Semua mata menatap Andin yang tengah terjatuh, dengan setumpuk berkas yang sudah berhamburan di lantai, Andin menatap Raga, berharap calon tunangannya tersebut mau membantunya seperti biasa.
Di luar dugaan, Raga malah melengos tidak perduli, lalu dia berjalan mendahului Andin, menuju toilet pria, yang terletak tidak jauh dari ruangan rapat.
“Bu Andin gak apa-apa??” Ronald berjongkok membantu Andin memunguti kertas-kertas yang berceceran.
Seketika Andin yang awalnya terduduk di lantai, kini langsung berdiri, dengan gemas, gadis itu langsung memunguti kertas yang masih tercecer.
“Gak usaha bantu saya! Saya bisa sendiri!” ucap Andin ketus, membuat Ronald mengerutkan keningnya, masalahnya tadi gadis itu terlihat sangat kesakitan.
“Bu Andin gak apa-apa??” tanya Ronald dengan ekspresi bingung.
“Gak apa-apa!” Andin berjalan, dengan setumpuk berkas di tangannya, berlalu sambil menghentakkan kakinya, dengan bibir mengerucut sempurna.
“Bu Andin!”
__ADS_1
Andin menoleh, menatap pria yang tengah menyerukan namanya.
“Iya Pak Bagas??” Andin menatap pria yang tengah menghampirinya sambil tersenyum, pria tampan yang seusia dengan dirinya itu, memiliki jabatan sebagai kepala divisi pemasaran.
“Saya butuh bimbingan Bu Andin, atas target kita yang baru” ucapnya tulus, dengan senyuman tidak luntur dari bibirnya.
“Oh, tentu saja, saya juga akan mengevaluasi secara pribadi pada tiap divisi nantinya” ucap Andin kembali berjalan beriringan.
“Boleh saya bantu?? Kelihatannya itu berat” Bagas menatap berkas-berkas yang tengah di pangku Andin.
Andin tersenyum kikuk, berkasnya tidak terasa berat, tapi sekilas dia menatap bayangan Raga yang baru keluar dari toilet, berjalan mendekati mereka.
“Duuuhhh ... berat banget” rengek Andin kemudian, dengan ekor mata tertuju pada Raga, berharap Raga mau peduli padanya.
“Biar saya bantu” dengan sigap, Bagas langsung meraih berkas yang tengah di pangku Andin.
“Eh??” Andin membelalakan matanya, tidak menyangka dengan respon Bagas.
Bbrrruuukkk!!!
“Aduh!” tiba-tiba Bagas tersungkur, dengan berkasnya yang sudah kembali tercecer di lantai.
“Pak Bagas gak apa-apa??” Andin berjongkok berniat membantu Bagas, dengan pandangan tajam pada Raga, iya ... Raga lah yang telah menyenggol bahu Bagas, hingga Bagas hilang keseimbangan, dan tidak sengaja menjatuhkan semua berkas yang dibawa Andin. Setelah menyenggol Bagas hingga tersungkur, Raga kembali masuk ke dalam ruangannya dengan santai.
“Pak Raga kok jahat banget sih??” Andin menggumam, lalu menggelengkan kepalanya berulangkali, tidak menyangka jika Raga memiliki sisi lain yang seperti itu.
“Siti bilang, aku harus menunjukkan sisi lemahku, tapi nyatanya misi ini kembali gagal!!” Andin menggumam kesal.
“Bu Andin gak apa-apa??” Bagas menatap Andin, dengan tatapan anehnya.
“Eh?? Hhmmhh ... ya saya tidak apa-apa” Andin menggelengkan kepalanya kikuk.
__ADS_1