
Semburat jingga menyapa mata, pagi datang bersama burung-burung berkicau yang sudah hilir mudik demi mencari sebuah penghidupan.
Di sebuah ruko berlantai dua, tepatnya di salah satu kamar yang terdapat di sana, seorang gadis baru saja terbangun, dia membuka matanya, lalu menguap lebar, meregangkan otot-otot di tubuhnya berulang kali, lalu matanya menyipit, saat disadarinya ada cahaya yang menyilaukan matanya, yang masuk melalui celah gorden kamarnya.
Bangkit dari tidurnya, perempuan itu langsung menuju kamar mandinya, lalu segera menyelesaikan ritualnya.
Ting!
Gadis itu meraih ponselnya, lalu mengusap layarnya, setelah sebelumnya, dia sudah selesai dengan aktivitas mandinya.
‘Titi, di mana alamat rumahmu?’ isi pesan chat yang terbaca olehnya, membuat gadis yang tengah menggosok rambut basahnya itu, langsung membulatkan matanya, merasa kaget, juga tergugu.
‘Kenapa Pak?? Bapak mau mampir ke kedai saya?’ beberapa tahun jadi ahli bisnis, membuat gadis itu tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan yang sedang ada di hadapan matanya.
‘Boleh’ singkat jawaban orang yang sedang berbalas pesan dengannya.
‘Baik Pak, nanti saya kirimkan alamatnya’ tersenyum menyeringai, kemudian gadis itu segera menyisir rambut basahnya, yang telah dicat dengan warna pirang beberapa hari yang lalu. Pemakaian skin care secara rutin, juga membuat kulitnya semakin hari menjadi semakin glowing saja.
“Nah, kalau penampilanku seperti ini, maka tidak akan ada yang tahu, kalau aku aslinya gadis dari desa Suka Kaya, hahaha ... Siti reborn ... gkgkgk” gadis itu tergelak di depan cermin.
***
Bbbrrraaakkkk!!!!
“Mana bisa seperti itu?? Dasar Kakak durhaka!!! Bagaimana mungkin pria sesibuk dan sesombong dirinya, mau bekerja di kantor sekecil ini?? Gawat!! Ini benar-benar kiamat bagiku Rey!!” Ronald menggebrak mejanya berulang kali, melampiaskan amarahnya, hanya karena mendapat kabar jika Direktur perusahaan yang tidak lain adalah Raga sang Kakak tirinya, mengutarakan niatnya untuk pindah ke cabang kecil tersebut, meninggalkan kantor pusat, yang terang saja sangat membutuhkan perannya sebagai pemilik perusahaan.
“Sepertinya, mulai sekarang Bapak harus mencoba untuk bersikap baik pada Pak Raga, bagaimanapun ruangan Pak Raga sudah siap ditempati Pak, dan Pak Raga sudah ada di dalam, untuk mengawasi kinerja Bapak” usul Rey sambil membungkukan bahunya serendah mungkin.
“Tidak!! Ini tidak bisa dibiarkan!! Ish ... aku benar-benar frustasi!!” Ronald mengacak rambutnya dengan brutal.
“Jika cecunguk itu mengambil alih perusahaan ini, lalu aku bagaimana?? Apa aku akan kembali menjadi butiran debu yang siap di tiup kapanpun dia mau?? Bagaimana ini?? Aku butuh keadilan REEEYYYY!!!” Ronald kembali menggebrak meja, membuat Rey kembali terjingkat kaget.
“Rey!! Apapun yang terjadi, kau masih tetap berada di pihakku bukan??” tanya Ronald menatap Rey yang tengah menunduk.
“I iya Pak” Rey mengangguk dengan cepat.
Kkkrriiieettt ...
Pintu ruangan Ronald terbuka, seseorang masuk kedalam ruangan tersebut, dengan wajah datar dan kaku.
“Kenapa harus marah-marah sepagi ini??” tanyanya sambil duduk di sebuah kursi yang berada di ruangan tersebut.
__ADS_1
“Kakak!! Haha ... ini aku sedang memarahi Rey, karena pekerjaannya kurang rapi, begitu kan Rey??” menatap Rey dengan gigi gemelatuk, berniat menakuti Rey yang tengah frustasi dan bingung. Juga sebal, karena lagi-lagi dia menjadi kambing hitam, dalam setiap masalah tuannya.
“O ya?? Rey ... bisakah kau bawakan aku laporan keuangan dua bulan kebelakang, setelah aku periksa, sepertinya ada yang tidak sinkron” perintah Raga dengan tenang, sementara Rey langsung mengangkat wajahnya, tahu persis jika dua bulan yang lalu Ronald menggunakan uang perusahaan untuk membeli sebuah mobil mewah yang digunakannya saat ini.
Ronald menatap Rey dengan tatapan tajamnya, memberikan kode jika Rey harus tutup mulut.
“Baik Pak, akan segera saya bawakan” Rey mengangguk, lalu memutar tubuhnya.
“Dasar penghianat!! Bukankah tadi dia bilang akan selalu berada di pihakku??” Ronald berbicara dengan mulut tertahan, suaranya nyaris tak terdengar oleh Raga maupun Rey.
“Rey!! Aku akan menemanimu!” teriak Ronald saat melihat Rey sudah meraih handle pintu.
“Tidak perlu, sejak kapan pimpinan seperti dirimu menjadi repot dengan urusan remeh seperti itu, kembali duduk di kursimu, kerjakan semua yang seharusnya kau kerjakan” titah Raga dengan nada datarnya.
“Hahaha ... aku memang pimpinan yang baik Kakak! Biarkan aku membantu Rey” Ronald bersiap untuk melangkahkan kakinya menyusul Rey yang sudah dekat pintu.
“Ronald ... silahkan duduk! Rey ... silahkan ambil berkas yang saya inginkan!” suara tegas Raga terdengar menggema di dalam ruangan kecil tersebut.
“Jangan Rey!!” Ronald membentak tanpa disadarinya, membuat Raga tersenyum menyeringai, dia jelas tahu apa saja yang telah dilakukan adiknya terhadap uang perusahaan yang dikelolanya.
“Ambilkan Rey!” titah Raga kembali, membuat Rey semakin bingung, entah perintah yang mana yang harus di turutinya.
Ceklek ...
Pintu ruangan tersebut kembali terbuka, seorang gadis cantik menyembulkan kepalanya, lalu tersenyum tegas, hanya sekedar untuk menyapa orang-orang yang sedang bersitegang dari tadi.
“Bapak ada di sini??” tanya gadis itu menatap Raga yang tengah menatapnya, tanpa berkedip.
“I iya ...” tiba-tiba saja pria datar itu, menjadi gugup, Ronald seketika tersenyum penuh kemenangan, dan Rey menghembuskan nafasnya kasar.
“Ada apa Ibu Andin??” tanya Raga menatap gadis yang tengah berjalan menuju arahnya, dengan sebuah berkas di tangannya.
“Saya hanya akan memberikan laporang keuangan beberapa bulan yang lalu, setelah saya periksa, ternyata ada yang miss Pak” ucap Andin sambil duduk di sebuah kursi di samping Raga.
“Ekkkhhheeeemmmm!!!” Raga berdehem, lalu menerima beberapa berkas yang Andin bawa. Membukanya, lalu memeriksanya dengan teliti.
‘Mampus Gue!!!’
‘Lakadalah ... masalah lagi ini mah, ya Allah ... lindungilah hamba dari amukan Pak Ronald beberapa saat lagi, aamiin’
***
__ADS_1
“Haiiiisshhh!! Kenapa harus aku?? Kenapa?? Kenapa???!!!” teriakan panjang terdengar dari dalam sebuah mobil yang tengah dikendarai seorang pria yang tengah frustasi.
“Kenapa aku harus bekerjasama dengan mereka semua??? Ish ...” memukul setirnya dengan brutal, sambil mengeratkan rahangnya kuat-kuat.
Kkrrruuuccuuukkk ...
Setelah di siksa habis-habisan oleh Tuannya, perut Rey langsung berdemo minta jatahnya.
“Kenapa perutku terasa lapar sekali?? Ugh ... perutku terasa perih, apa mungkin maag ku kambuh???” Rey mengelus perutnya perlahan.
“Makan siang di sini saja lah ...” Rey menghentikan mobilnya, tepat di sebuah kedai mie ayam yang bernamakan “Kedai Mie Ayam Mang Jupri”.
“Eh?? Ini kan ... tempatnya Bu Andin?? Ish ... kenapa aku harus terjebak lagi di sini??” gumam Rey, kala dia menyadari pernah mendatangi tempat yang ada di hadapannya, sebelumnya dia pernah mendatangi kedai ini, karena Andin minta di antar ke tempat tersebut.
Kkkrruuucccuuukkk ...
“Ya sudahlah, aku makan di sini saja dulu”
Duduk di sebuah bangku panjang yang telah disediakan, menghadapi sebuah meja makan berukuran besar, Rey mengedarkan pandangan, pelanggan cukup banyak, apa kedai ini memang memiliki rasa mie ayam yang enak?.
“Mau pesan apa Aa??” seorang perempuan dengan rambut berwarna pirang, diikat dua tiba-tiba saja ada di sampingnya, membuat Rey terjingkat, kaget.
“Eh?? Eeemmhhh ... memangnya ada menu apa saja??” Rey bertanya sambil celingukan.
“Aa gak baca tulisan di depan?? Kedai Mie Ayam Mang Jupri, itu artinya di sini hanya jualan mie ayam A” tandasnya, sambil memutar kedua bola matanya.
“Terus?? Kenapa tadi bilangnya mau pesan apa??” Rey mulai nyolot, rasa panas di hatinya, rupanya belum reda juga.
“Ih ... si Aa, di tanya baik-baik malah nyolot!!” Siti mulai meninggikan nada suaranya.
“Siapa yang nyolot?? Kamu yang nyebelin!!” Rey bangkit dari duduknya, lalu beranjak berjalan menuju keluar dari kedai Mie Ayam tersebut.
“Naon cenah?? Aku nyebelin?? Dasar manusia aneh!! Dia yang marah-marah, dia juga yang nyalahin aku! Dasar geloooo!!!” Siti mengumpat sendiri, lalu kembali berjalan menuju ke meja kasir, karena ada pelanggan yang mau membayar pesanannya.
Bersambung ......
Gak akan pernah bosen buat ngingetin ...
Tinggalkan jejaknya yaaaa
Terima Kasih ...
__ADS_1