
Hari ini adalah hari minggu yang paling ditunggu oleh semua keluarga, baik keluargaku, maupun keluarga calon tunanganku Pak Raga, beberapa kali Pak Raga maupun Mamah Ayu sempat menelponku, memastikan acara pertunanganku dan Pak Raga akan di gelar dengan sempurna. Keinginan mereka sungguh sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, sudah mutlak dan paten, acara harus sempurna tanpa cela, titik.
Aku hanya pasrah, di hari yang paling ditunggu ini, tidak bisa di pungkiri, hatiku begitu berdebar tidak karuan, membayangkan wajah Pak Raga yang tampan rupawan, yang sudah hampir satu bulan ini kami tidak bertemu, dan kami juga sepakat untuk tidak melakukan VC, alasannya ‘Saya ingin tahu, akan seberapa rindunya kamu, jika satu bulan tidak bertemu dengan saya Cinta’ itu ucapan Pak Raga tempo hari, aku tersenyum, merasa lucu akan tingkahnya yang kadang terasa seperti kekanakan. Bersamanya kadang aku merasa seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
Segala persiapan sudah siap sempurna, rumahku yang terbilang lumayan luas di Desa-ku ini, sudah didekorasi dengan menggunakan jasa WO dari kota, juga halaman rumah yang cukup untuk menampung banyak orang ini, juga sudah di simpan banyak kursi, untuk hadirin yang akan menyaksikan acara pertunangan kami, acara yang dianggap mewah untuk ukuran Desa-ku ini, banyak yang menyarankan kenapa aku tidak langsung menikah saja dengan Pak Raga? untuk menghemat biaya katanya. Toh biaya lamaran dan biaya pernikahan bagiku sama saja besarnya, kesannya menurut orang-orang di desaku seperti menghambur-hamburkan uang.
Tapi ... seperti yang kita tahu, biaya bukanlah masalah yang besar bagi seorang Raga Dirgantara, yang penting baginya adalah setiap proses acara jangan ada yang terlewatkan, dan semuanya harus terlaksana dengan seapik mungkin. Sesempurna mungkin.
Kini, aku tengah duduk di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan cermin berukuran besar, sementara itu, tukang rias kini tengah menata rambutku menjadi bentuk sanggul yang begitu cantik, aku menatap wajahku di cermin, sekelebat bayangan Maira kembali terlintas di benakku, hingga banyak pertanyaan di kepalaku, ‘Apakah Maira sudah melahirkan? Apakah Maira selamat? Bagaimana anak Maira?’.
“Neng Andin, kalau mau ada acara itu jangan tegang, rileks saja, jangan banyak pikiran, biar aura cantiknya keluar” perias mengingatkan, sambil menyodorkan segelas air mineral kepadaku, aku menerimanya, lalu meminumnya perlahan. Seketika aku merasakan sedikit rasa segar di tenggorokanku.
“Duuuuhhh ... gak biasa dandan, sekalinya dandan mani manglingi, geulis pisan” perias menatap hasil karyanya dengan senyuman terukir di bibirnya, aku pun ikut tersenyum.
“Neng ...” Abah dan Ambu datang menghampiriku dengan mata berkaca-kaca, lalu memelukku erat.
“Sebentar lagi, kamu akan jadi istri orang, Ambu gak nyangka banget, kebersamaan kita hanya sesingkat ini” Ambu semakin terisak.
“Ambuuuu ... Ambu ini bicara apa sih?? Meskipun Andin sudah menikah, tapi Andin tetap anak Ambu, Andin janji Andin bakalan tetap sering mengunjungi Ambu”
“Sudah atuh, jangan menangis, tuh lihat bulu mata palsu Ambu jadinya copot lagi, Ambu jadi gak mirip Raisa lagi” Abah menenangkan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kayak sendirinya gak nangis aja!” Ambu mengerucutkan bibirnya, sambil mengusap matanya, memastikan bulu mata anti badai yang digunakannya tidak terlepas.
__ADS_1
“Udiiiiinnnn!!! Sahabat sejatiku, sahabat tunggalkuuu! Akhirnya kamu mau tunangan jugaaa, hiks ... aku terhura Udiiinnn, kamu mani jadi geulis kieuuuu” Siti datang setelah selesai di make up di ruangan sebelah, baju yang digunakan Siti hampir sama dengan yang di gunakan Ambu dan kerabat lainnya, karena bagiku, Siti bukan hanya sahabat, tapi saudara.
“Makasih Ti” Aku membalas pelukan Siti.
“Kalau udah jadi orang kaya jangan lupain aku, jangan sombong!” Siti mengguncang tubuhku.
“Apa siiihhh?? Enggak lah, kamu tuh sahabat sejati aku tahu” Aku terkekeh menatap Siti.
“Pak Lurah! Bu Lurah! Neng Andin! Rombongan sudah datang!” tiba-tiba saja Mang Imut sebagai penjaga prasmanan datang dengan ngos-ngosan, kali ini Mang Imut menggunakan kemeja batik, dengan motif ayam jago.
“Apa?? Duh ... duh ... perias, coba lihat bulu mata saya?? Sudah oke belum??” Ambu terlihat panik, mengedikkan wajahnya pada perias.
“Perias! Lihat ini kumis saya, sudah gagah belum?? Bagus tidak??” Abah ikut-ikutan mengedikan wajahnya, minta diperiksa juga.
“Aku deg-degan Ti” Aku meraih lengan Siti, tanganku sedikit lembab juga dingin, dan sedikit bergetar.
“Haha ... anggap saja kamu itu mau latihan pencak silat” Siti tergelak,
“Tenang Din, ingat! Inhale ... exhale ... hhuuuhhh ... hhhaaahhh ...”
Aku beranjak, berjalan menuju balkon kamarku, mengintip rombongan yang katanya telah datang, dan benar saja, ada beberapa mobil mewah yang berhenti di halaman rumah, yang langsung diatur oleh juru parkir dadakan, yang tidak lain adalah suami Ceu Kokom.
Aku menatap pada mobil pertama yang berhenti, lalu orang di dalamnya keluar, ternyata yang pertama turun adalah Papah dan Mamah Pak Raga, mereka terlihat bergandengan lalu tersenyum mesra, seolah keluarga mereka keluarga harmonis yang bahagia.
__ADS_1
Mereka berjalan, lalu di sambut oleh Abah dan Ambu yang sempat terpaku, mereka saling berpandangan, lalu saling membuang muka, tidak lama berselang terlihat mereka seperti kembali menetralkan suasana, saat cameraman mengarahkan mereka untuk diambil fotonya.
Lalu di mobil kedua, turunlah seorang pria tampan, dia adalah calon tunanganku, Pak Raga. Hari ini Pak Raga terlihat begitu tampan, baju batik yang memiliki warna senada dengan baju yang aku gunakan, kebaya berwarna silver, dengan motif payet yang berkilauan, bawahannya kain samping berwarna senada. Rambutnya di tata begitu rapi, Pak Raga hari ini begitu bersinar, dengan senyuman menawan tersemat di bibirnya.
“Din ... pangeranmu ...” Siti menyenggol bahuku dengan kekehannya.
“Itu pangeranmu” Aku menunjuk Rey yang turun dari mobil ketiga bersama beberapa orang perwakilan keluarga.
“Hihi ... cakep ya Din?” mata Siti langsung berbinar.
“Sitiiiii, matamu itu loh ...” aku mengingatkan sambil terbahak.
“Haha, lihat! Dia celingukan, mungkin nyariin incess kali yaa” Siti semakin terbahak, hingga ketegangan yang dari tadi melanda menjadi sedikit berkurang.
“Neng Andin! Sudah acara sambutan dan lainnya, ayo turun!” seriu Mang Imut kembali datang terengah.
“Duh ... aku geumpeur Ti” Aku mengibaskan tanganku berulang kali.
“Tenang ... ada Titi” Siti langsung mengapit tanganku menuju lantai bawah.
Bissmillah ...
Aku berjalan perlahan menuju lantai bawah, di sana sudah ada Abah dan Ambu yang siap menyambutku, mengantarkan aku pada pangeranku yang telah siap memberikan seluruh cintanya untukku.
__ADS_1