BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Karma?


__ADS_3

“Din ... maafin aku yaaa ...” Dino menatap Andin intens.


“Maaf buat apa No???”


“Karena aku adalah sahabat yang tidak peka, aku tidak tahu kalau kamu memiliki perasaan lebih dari sahabat kepadaku, kamu sampai pergi bertahun-tahun dari desa kita, hanya untuk menghindariku, dan membuang perasaanmu, aku merasa bersalah Din, aku menyesal” Dino memukuli dadanya sendiri, sementara Andin masih menatapnya, gadis itu bingung, entah apa yang harus diucapkannya, untuk menjawab Dino. Kini Dino sudah mengerti dan mengetahui perasaannya, namun ... untuk saat ini, apalah arti dari betapa mengertinya Dino?.


“Hah!! Sekarang menyesalkan maneh!!! Dari dulu kemana aja??!!” tiba-tiba Siti sudah melipat tangan di dada, setelah sebelumnya sempat menyimpan setoples kue astor sisa lebaran tahun lalu di hadapan Dino. Mulutnya komat-kamit, lalu matanya mendelik tidak suka. Wajahnya melengos, sesekali memelototiku sebagai bentuk protesnya akan ketidak sukaannya terhadap kedatangan Dino.


“Aku menyesal Siti, Ti ... dulu kita bertiga sahabat kan??” tanya Dino, masih dengan suara rendahnya, penyesalan begitu ketara di raut wajah Dino. Wajah lesunya kini semakin ketara, dia ... seperti bukan Dino yang pernah aku kenal dulu.


“Dulu mungkin iya, tapi sekarang??? Maaf-maaf aja yaaa, kita udah putus! Kamu bukan lagi sahabat kita! Kamu hanya mantan sahabat! Ngarti teu kamu??” ucap Siti ketus, bibirnya monyong kiri lalu monyong kanan tidak jelas.


“Ti ... aku menyesal atas semua yang sudah terjadi di antara kita Ti” Dino mengiba, sementara Andin masih mematung.


“Hah! Emang yaaa ... penyesalan selalu datang diakhir, karena kalau yang di awal itu namanya pendaftaran!” Siti masih dengan sikap judesnya, kini tangannya sudah dilipat di dada.


“Ti ... udah Ti ...” Andin mencoba menengahi, rasanya tidak nyaman kala melihat sahabat kita saling menyalahkan, dan mungkin itu perasaan Andin sekarang.

__ADS_1


“Diam kamu Udin!!! Kamu gak perlu kepancing sama rayuan gombal si Dino! Inget! Kamu udah mau nikah sama Pak Raga! orang yang sudah berani, mau menyembuhkan luka kamu! Awas ya! Kalau kamu berani tergoda oleh rayuan si Dinosaurus ini, lebih baik kita putus juga sebagai sahabat! Ingat! Dinosaurus sudah punah! Dan cinta kamu terhadap si biang keladi ini, harus di punahkan juga!” Siti menghentakkan kakinya, lalu berlalu kembali menuju dapur, rupanya gadis itu masih menyimpan luka untuk sahabatnya, Andin. Bagaimana mungkin Siti tidak memiliki dendam tersendiri untuk Dino, sementara Siti tahu persis perjuangan Andin dulu kala harus melupakan Dino.


Andin menghela napas berat, lalu gadis itu menatap Dino intens.


“Duluuuu ... waktu kita remaja, mungkin aku pernah suka sama kamu No, tapi sekarang ... semuanya sudah berubah, kita bukan lagi remaja labil yang akan terus menangis karena cinta, bukan lagi anak-anak dengan sejuta kenangan yang tidak bisa terlupa, bukan juga manusia bodoh yang akan terus tenggelam dalam rasa yang tidak berguna, aku Andin Andini, aku sudah bukan Andin yang dulu lagi No, begitu pula dengan rasaku, rasaku juga sudah berubah padamu sejak lama No” Andin menundukkan pandangannya, tangannya terkepal kuat, bagaimanapun, sesungguhnya rasa itu masih tertanam kuat di hatinya, Andin hanya berpura-pura kuat dan tegar selama ini. Setitik rasa suka yang berawal dari masa lalu itu masih ada, bagaimana mungkin Andin yang sulit jatuh cinta dan susah move on bisa dengan mudah melupakan cinta pertamanya, namun sekarang ... Andin sadar, ada sebentuk hati lain yang harus dia jaga dan dia hormati, yaitu hati seorang Pak Raga, pria yang sudah rela melakukan banyak hal untuknya.


“Din ... aku tahu Din, semuanya tidak mudah buat kamu, tapi ini juga tidak mudah buat aku Din, aku menyimpan rasa bersalahku selama bertahun-tahun disini” Dino menyentuh dada bagian kirinya. Wajahnya sendu, air mata mulai mengembang di pelupuk matanya, membuat hati Andin sedikit terenyuh dan merasa iba.


“No ... jangan merasa bersalah lagi, semuanya sudah berlalu, aku sudah melupakan semuanya” Andin menggeleng, sorot matanya menunjukkan jika gadis itu sedang dalam hati yang dilema.


“Aku harap, kamu bisa menghargai perasaan Maira dan anak kamu No, sekarang status kita sudah berbeda No, aku mungkin masih mau menjadi teman kamu, tapi selamanya tidak akan pernah lebih dari itu, sekarang kamu hanya harus fokus pada kesembuhan Maira, itu saja No” Andin mencoba mengingatkan, bagaimanapun Dino adalah pria yang sudah memiliki anak dan istri, bagaimana mungkin Andin akan rela menyakiti hati mereka?.


“Dadaku sakit Din, aku rindu kamu, rindu Siti juga rindu masa kebersamaan kita, setiap hari aku di hantui rasa bersalah, aku bersalah sama kamu Din” kini mata Dino sudah berkaca-kaca, air mata yang sedari tadi mengembang hampir saja tumpah.


“No ... aku udah maafin kamu, jauh sebelum kamu memintanya, jangan buat hatimu jadi semakin bimbang No, masa lalu kita tidak akan terulang lagi, sekarang ayo kita rangkai masa depan dengan pasangan kita masing-masing, aku harap Maira segera sembuh, dan kamu bisa hidup bahagia bersamanya” ucap Andin tulus, bagaimanapun hati gadis itu memiliki sisi lembutnya juga.


“Tapi, aku tidak bahagia Din, bahagia itu hanya sesaat untukku” Dino kembali berkaca-kaca. Mengingat bagaimana perjalanan hidupnya bersama Maira, mereka bertemu, jatuh cinta, melewati waktu yang rumit, menjalani biduk rumah tangga yang tidak mudah, dengan segala kecaman yang mereka dapatkan dari orang-orang sekitar.

__ADS_1


“No ... hidup itu tentang pilihan, hidup bersama Maira adalah pilihan kamu, jadi aku harap kamu bisa bahagia dengan pilihan kamu”


“Tapi Din ...”


“No ... please, jangan begini, semuanya sudah berubah No” Andin menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Aku pergi dulu No, aku masih banyak kerjaan”


Andin berlalu begitu saja, berjalan menuju dapur kedai untuk berpamitan pada Siti.


“Hmh! Rasakeun maneh! Karma eta teh!!!” ternyata Siti tengah melipat kedua tangannya di dada, dengan pandangan pada Dino, mulutnya tidak berhenti komat kamit sedari tadi, seolah sedang mengutuk keadaan Dino.


“Ti ... aku mau berangkat ke kantor lagi, kerjaan aku pasti sudah menggunung lagi” Andin hendak berlalu.


“Jangan lupa! Minta maaf sama Pak Raga!” teriak Siti sebelum Andin benar-benar berlalu.


Andin menghentikan langkahnya sejenak, lalu gadis itu menghela napas dalam, seperti memiliki beban yang sangat berat, tapi tak urung, gadis itu pun mengangguk, melangkahkan kakinya menuju kantornya.

__ADS_1


__ADS_2