
“Duh ... gimana makenya ya ini?”
Seorang gadis tengah berfikir keras di dalam kamarnya, tepatnya di hadapan cermin yang ada di depannya. Sementara itu, di atas meja riasnya sudah ada alat makeup beraneka ragam, dari mulai bedak, lipstik, eyeshadow, blush on, tak lupa bulu mata anti tsunami juga sudah ada di sana.
“Aku harus tanya Ambu” gadis itu beranjak keluar kamarnya, berlari memanggil perempuan yang telah sukarela melahirkannya delapan belas tahun yang lalu.
“Ambu ... ini gimana cara menggunakannya?? Andin gak ngerti” Andin menggelengkan kepalanya berkali-kali, sama sekali tidak paham dengan kegunaan alat makeup yang ada di hadapannya.
“Eeehhh ... kamu ini gimana? Bukannya kemarin sudah belajar berhias??” kini perempuan berdaster ungu itu ikutan mengerutkan keningnya. Ibu dan anak itu, rupanya sama-sama tidak mengerti cara menggunakan makeup, selama ini mereka memilih untuk membiarkan wajahnya tetap alami, tanpa makeup berlebih.
“Kalau bedak, ya tinggak gosok aja ke wajah,” membuka toples bedak, lalu menggosokkan spon bedak ke wajah putrinya.
“Nah, kalau ini buat mata” meraih eyeshadow, membuka tutupnya, lalu menatapnya dengan bingung, saat terpampang eyeshadow dalam kotak dengan banyak warna.
“Makenya pakai apa Ambu?? Masa iya pakai jari??” kini anaknya juga ikutan bingung.
“Eeehhh ... kata ceu Kokom sudah ada alatnya di dalam, apa jatuh ya??” Ambu menggaruk tengkuknya pelan, matanya menelisik ke sekitar mencari sebuah alat yang bisa membantunya untuk membubuhkan eyeshadow untuk Andin.
“Tapi, tenang! Ambu punya ide” seketika matanya membelalak, seperti mengingat sesuatu, merasa mendapat ide brilian secepat kilat Ambu berlari ke arah dapur. Sementara itu, anaknya hanya terpaku, diam menunggu Ibunya datang kembali.
“Nah, pakai ini!” selang beberapa menit, perempuan itu sudah datang kembali dengan mata berbinar, sambil menyodorkan sebuah benda kecil berukuran panjang.
“Ini kan kuas buat ngolesin coklat kalau Ambu bikin kue, masa di pake buat nyolek eyeshadow juga sih??” Andin mulai protes, dengan bibir mengerucut. Membayangkan kuas itu digunakan untuk mengolesi kue-kue buatan Ambu dan sekarang harus beralih fungsi menjadi alat untuk mengolesi bingkai matanya.
“Lah?? Gak apa-apa, yang penting ‘kan nempel” Ambu berancang-ancang mencolek eyeshadow warna biru dongker, lalu menempelkannya pada kelopak mata Andin, dengan gerakan lihai namun juga sedikit bergetar, akhirnya Ambu mampu menghias mata Andin menjadi sangat terang benderang juga bersinar, hingga menimbulkan kesan mencolok.
“Nah, selesai, kamu jadi cantik banget kalau kayak gini” Ambu bersorak, puas dengan hasil karyanya.
“Eh lupa, terakhir kamu pakai lipstik ini” Ambu mengoleskan lipstik dengan warna merah menyala di bibir tipis putrinya.
“Ambuuuu ... kenapa Andin malah jadi tambah jelek atuh?? Ini mah malah jadi kayak badut Ambu” Andin merajuk tak suka, menatap takut pada wajahnya sendiri hasil dari maha karya tangan Ambu.
“Eh?? Siapa bilang?? Kamu cantik, cantik banget malahan” Ambu berdecak tidak suka dengan pendapat putrinya.
“Terus, ini bulu matanya gimana??” Andin menyodorkan sepasang bulu mata anti tsunami pada Ibunya.
“Ini biar bisa nempel ke mata, harusnya ada lemnya kan?? Tapi kok Ceu kokom gak ngasih lemnya ya??” Ambu kembali menggaruk keningnya, bingung lagi.
__ADS_1
“Iiihhh ... Ambu gimana sih??” Andin kembali memberengut kesal.
“Masa iya harus pakai nasi, biar nempel” lagi-lagi Ambu memberikan ide konyolnya.
“Ambu! Malu atuuuhhh ... gak bakalan nempel kalau pakai nasi ck, Ambu mah” Andin melipat kedua tangannya di dada, lalu mengerucutkan bibirnya.
“Ya dulu, kalau Abah kamu kirim surat ke Ambu, itu suka pakai nasi, biar rapet, gak bisa di buka sama tukang posnya” Ambu malah mengenang masa mudanya.
“Heleh ... terus??” Andin melanjutkan, menanggapi kenangan sang Ibu.
“Ya terus, bukan hanya tukang pos yang gak bisa buka suratnya, Ambu juga gak bisa buka, kertasnya jadi robek semua, soalnya itu nasi beleber kemana-mana haha” Ambu tergelak, mengenang masa mudanya.
“Terus ini gimana nasib bulu matanya Ambu??” kembali ke topik utama.
“Ya udah, gak usah pakai bulu mata aja, ya kecuali kalau Andin mau pakai lem power glue” ucap Ambu santai, sambil menyisir rambut putrinya dengan sayang, mengepangnya menjadi dua.
“Ih, Ambu! Masa iya pake lem power glue sih?? Yang ada nanti Andin malah gak akan bisa buka mata!” Andin masih memberengut kesal.
“Udah ah, kamu udah cantik kaya gini” Ambu mengelus kepala putrinya dengan sayang.
“Ya udah deh” akhirnya memilih untuk pasrah dari pada harus terus berdebat dan kembali ditempeli benda-benda aneh oleh Ambu ‘kan?.
***
Gadis itu, berjalan membuka pagar rumahnya, menenteng kresek hitam berisi kue buatan Ibunya, sambil bersenandung kecil, gadis itu merasa PD dengan penampilannya sekarang.
Tok ... tok ... tok ...
Terlihat gadis itu mengetuk sebuah pintu rumah yang jaraknya terletak tak jauh dari rumahnya.
Tok ... tok ... tok ...
Sekali lagi dia mengetuk pintu rumah itu, setelah tak kunjung ada jawaban dari sang empunya rumah. Pandangannya menelisik, terdapat motor Dino terparkir di halaman rumahnya.
Kkrriiieett ...
Pintu di buka, muncullah seorang perempuan sebaya dengan Ibunya, ternganga menelisik tubuh gadis itu dari atas ke bawah berulang kali.
__ADS_1
“Ma mau cari siapa ya??” tanyanya masih menganga.
“Tante, ini Andin” gadis itu tersenyum lebar.
“Hah?? Andin?? Andin anaknya pak Lurah?? Kenapa berubah sayang??” Ibunya Dino langsung menyentuh bahu Andin sambil sedikit tersenyum, dengan mata mengerjap berulang kali.
“Berubah?? Andin jadi lebih cantik ya Tante??” gadis itu masih saja dengan tingkat kepercayaan diri tingkat kahyangan.
“Hah?? I iya” Ibunya Dino mengangguk terpaksa.
“Lagi ada tamu ya Tan??” Andin celingukan menatap ke dalam rumah.
“Iya, lagi ada temennya Dino, yuk masuk” Ibunya Dino menggandeng tubuh Andin, masuk kedalam rumah.
“Temennya Dino?? Temennya Dino selama ini hanya aku dan Siti, apa Siti yang datang Tante??” tanya Andin heran.
“Bukan” Ibunya Dino menggeleng.
“Dinoooo ... ini ada Andin” Ibunya Dino tersenyum, kala mereka sudah berpapasan di ruang tamu.
Deg!
“Maira??” Andin terbelalak, kala melihat Humaira sudah ada di depannya.
‘Maira datang kerumah Dino?? Sejak kapan?? Jadi sudah sejauh ini hubungan mereka?? Kenapa aku tidak tahu apapun??’ batin Andin berkecamuk.
Gadis cantik dengan tubuh ramping dan make up yang tipis, bahkan nyaris tanpa makeup, sedang tersenyum manis kepadanya.
“Hay Andin?? Kamu beda banget ya, kalau lagi dirumah?” tanyanya sambil tersenyum lebar.
“Andin!! Kamu kenapa?? Kamu habis main ronggeng di mana??” tanya Dino berdiri, sambil menelisik penampilan Andin.
“Kamu menor banget, haha ...” imbuh Dino kemudian diiringi tawa terbahak dari mulutnya, membuat Andin seketika tersadar lalu membandingkan penampilannya dengan gadis cantik yang kini berada di samping Dino.
“Apa?? A aku jelek ya??” Andin mulai menelisik penampilannya, merasa malu sendiri.
“I iya, kalau kamu gak bisa dandan, mending gak usah dandan Din, haha ... coba kamu belajar makeup sama Maira” ucap Dino kemudian melirik Maira dengan tatapan kagumnya.
__ADS_1
‘Apaaa?? Jahat kamu No!!!’
Bersambung ....