
Tooottttooot!!! Tttooottt!! Ttooottt!!!
Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa dan siswi mulai berhamburan menuju ke kantin sekolah, untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah berdemo minta jatahnya. Setelah sebelumnya mereka menerima pelajaran yang mungkin sulit dicerna.
Aku dan Siti berjalan bersisian sambil bersenda gurau, seperti biasa kantin akan sangat penuh di jam istirahat ini.
“Din? Kamu mau makan apa??” tanya Siti sebelum kami tiba di kantin.
“Emmmhhh ... apa ya??” aku masih bingung memikirkan menu hari ini.
“Eh, lihat itu Din! Kepala sekolah kita baru datang, mobilnya udah ganti lagi aja ya?” Siti menyenggol bahuku sambil menunjuk mobil yang terparkir di halaman sekolah, sebuah mobil sport keluaran terbaru yang sering aku lihat di tipi-tipi, yang harganya entah berapa? Aku malas memperkirakannya.
“Iyaaaa ... mobilnya bagus banget” ucapku menimpali.
“Pak lurah aja cuman punya motor, ini kepala sekolah mobilnya bagus banget, kalau cuman motor Bapakku juga punya” Siti mencebikkan bibirnya.
“Emang tinggi mana jabatan Lurah sama Kepala sekolah??” tanyaku bingung sendiri.
“Ya entahlah ...” Siti mengedikkan kedua bahunya.
“Mungkin, kepala sekolah kita punya usaha lain” tebakku, menepis pikiran liar yang kini tengah berkelana di kepalaku.
“Ah ... otakku ternoda” Siti menundukkan kepalanya di meja.
“Kamu sih, ngajakin ghibah mulu ah ...” aku menimpali.
“Udah ah, kita pesen makan dulu” Siti beranjak, menuju pedagang mie ayam. Dia itu kenapa sih?? Tiap hari dagang mie ayam, tapi di sekolah makan mie ayam juga? Aneh banget deh.
Sambil menunggu Siti memesan makanan, kuedarkan pandanganku, tanpa sengaja aku menatap pemandangan yang membuatku iri. Aku melihat Dino dan Maira sedang makan dalam satu meja yang sama di iringi dengan gelak tawa mereka, akhir-akhir ini, hubunganku dan Dino menjadi semakin renggang, entah apa penyebabnya. Aku juga tidak tahu, dan tidak berusaha untuk mencari tahu.
Sekarang gak ada lagi Dino yang suka nemenin aku main, Dino yang merajuk minta di kerjain PR, Dino yang suka teriak-teriak di atas balkon kalo gak bisa tidur, dan segala kenangan tentang Dino akhirnya terus bermunculan di kepalaku.
‘No ... aku kangen kebersamaan kita’ lirih hatiku bergumam, menatap sendu pada dua sosok yang kini tengah tertawa tak jauh dari tempatku duduk.
“Nih, mie ayam!” Siti menempelkan semangkuk mie ayam tepat di atas tanganku, membuatku mengerjap kaget karena panas.
__ADS_1
“Panas Siti!!” teriakku refleks.
“Ngelamun terus sih” Siti duduk di hadapanku, lalu mulai bersiap menyantap makanannya.
Aku pun mulai fokus pada mie ayamku, berusaha mengabaikan kebersamaan Dino dan Maira.
“Din, Maira cantik banget ya, pantesan si Dino sekarang sombong banget, gak mau gabung sama kita lagi, Dino malu kali temenan sama kita, kita buluk gini” Siti menunjuk ke arah Dino dengan wajahnya.
“Ah ... cantik gimana?? Biasa aja, cuman modal bedak sama lipen doang” ucapku ketus, tak suka ada yang memuji Mairah di hadapanku.
“Eh, gak percaya, Maira itu cantiknya alami tahu, cuman pake lipen dikit kok, bedaknya kayaknya dia pake bedak bayi deh” Siti menajamkan pandangannya ke arah Maira.
“Tapi Din, kalau kamu dandan kayaknya kamu bakalan lebih cantik dari Mairah deh” Siti mengalihkan pandangannya menelisik wajahku. Aku memalingkan wajah ke sembarang arah. Malas.
“Cantik itu dari hati Siti, bukan dari kecantikan paras” ucapku sekenanya.
“Selalu gitu deh formulanya ... zaman sekarang, udah jarang banget orang melihat kecantikan seseorang dari hatinya, yang pertama dilihat pasti wajahnya dulu, baru deh hatinya” kali ini Siti jadi so bijak.
“Aku gak peduli” Aku mengedikkan bahuku acuh.
“Gak bisa gitu Din, selain mempercantik hati, kamu juga harus mempercantik wajah kamu biar jadi indah kalau di lihat orang, ya minimal kamu mandi sehari dua kali lah ... lagian Allah sangat menyukai keindahan bukan?? Kamu niat dandan jangan buat orang lain coba, tapi diniatkan untuk kenyamanan diri kamu sendiri” kali ini Siti berbicara dengan gaya ala Mamah Gedeh yang selalu memberikan ceramahnya setiap subuh di tipi. Acara tersebut merupakan salah satu kesayangan Ambu, dengan teriakan setiap subuh Ambu selalu ikut meneriakan jargon Mamah Gedeh, ‘Mamah dan Aa! Curhat dooooonng!’.
“Eeeehhh ... Udin dibilangin juga! Kalau kamu jadi cantik, siapa tahu tiba-tiba ada yang naksir kamu kan? Emang kamu gak mau gitu ngalamin pacaran di masa SMA??” Siti menatapku lekat.
“Gak niat, kamu baru pacaran sekali sama si Bahlul aja bangga banget” ketusku lagi.
“Ck! Udin!” Siti menggebrak meja, hingga mengundang perhatian orang-orang yang berada di sana, termasuk Dino dan Maira, mereka kompak menatap kami, Dino melambaikan tangannya, sementara Maira tersenyum memanggutkan kepalanya. Maira memang terlihat cantik sih ... ah ... kenapa aku jadi gini sih?.
“Din, masuk kelas yuk, daripada kita bikin kekacauan lain” ajak Siti kemudian, aku mengangguk, lalu beranjak mengikuti langkah Siti.
“Din, itu Pak Raga ngapain berdiri di sana?? Mojok deketin tiang sambil liatin mobil kepsek?? Apa dia juga ngiler ya lihat mobil kayak gitu??” Siti terkikik geli sendirian, sementara aku masih acuh, malas menanggapi ocehan Siti, sekarang otakku sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting.
***
“Ambu, Andin cantik gak??” tanyaku pada Ambu yang tengah menggoreng singkong kala aku baru saja pulang sekolah.
__ADS_1
“Ya cantik atuh, kamu itu mirip artis, eemmmhhh siapa ya?? Gita ketawa kalo gak salah” ucap Ambu sambil berusaha mengingat salah seorang artis cantik yang suaranya dikenal merdu.
“Masa sih??” aku melihat wajahku di depan ponsel, memutarnya ke kiri dan ke kanan.
“Iyalah, kamu kan anaknya Ambu, ya kamu cantik lah” imbuh Ambu kemudian.
“Tapi aku gendut ya Ambu?” aku menelisik tubuhku tiba-tiba merasa sedikit tidak PD dengan bentuk tubuhku setelah melihat bentuk tubuh Humaira dengan detail tadi.
“Bagus gendut, itu artinya Ambu adalah Ibu yang sukses” Ambu masih membela pendapatnya, sementara aku mulai semakin tak percaya diri.
“Ambu, kalo Andin pake bedak jadi lebih cantik gak??” tanyaku lagi,
“Ya kalau wajah cantik terus di poles, pasti bakalan lebih cantik lagi, kenapa memangnya?? Kamu mau beli bedak?? Bilang aja kalau kamu minta uang lebih” kan, kan, kan, Ambu suka pengertian banget deh.
“Dulu, Abah suka sama Ambu karena apa??” tanyaku yang tiba-tiba saja penasaran dengan kisah cinta Abah dan Ambu dulu.
“Ya karena Ambu cantiklah, Ambu kan dulu kembang desa, ya sekarang juga sih” Ambu meletakkan sepiring goreng singkong di hadapanku, lalu duduk di sebelahku.
“Dulu Ambu suka pakai makeup gitu gak??” aku semakin penasaran mengulik kisah masa muda Ambu.
“Ya zaman dulu mana ada make up kayak anak jaman sekarang?? Dulu itu serba alami, kalau mau terlihat cantik, ya Ambu puasa selama empat puluh hari empat puluh malam” ujarnya tanpa beban.
Hah?? Apa hubungannya?????? Gak masuk akal, tapi iyain ajalah.
“Iya juga ya, Ambu nanti beliin Andin alat make up ya, biar Andin bisa jadi glowing gitu, kayak artis yang di tipi-tipi” rayuku sambil bergelayut manja di lengan Ambu.
“Iyaaaa ... nanti Ambu beliin kalau Ambu ke pasar, biasanya di kiosnya ceu Kokom suka ada dagangan alat make up” ucap Ambu, membuatku senang seketika.
“Makasih Ambuuuu” aku menyusup di ketiak Ambu menghirup aromanya yang agak sepet, namun aku tetap saja suka, tak lama kemudian aku berdiri lalu beranjak menaiki tangga.
“Andin, kamu mau kemana?? Ini goreng singkongnya gimana??!!” teriak Ambu menatap nanar pada sepiring singkong yang belum aku sentuh.
“Ya belajar berhiaslah”
Bersambung ...
__ADS_1
.
.