BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Ikut Aku, Kejar Mimpimu. Atau ...


__ADS_3

Tergores, meski tak kasat mata, itulah luka yang mengenai segumpal daging di dalam sana. Rasanya pasti menyesakkan dada, tak jarang luka memercik dendam menyelimuti jiwa. Pun kadang merontokkan akal waras untuk segera membalas.


Jelas, tidak akan mudah menyembuhkan luka, butuh kesabaran jiwa untuk bisa legowo menerima semua rasa yang kadang perlu di iba, tak jarang aku melihatnya pura-pura baik-baik saja, seperti yang mereka bilang ‘tersenyum di balik luka’.


Aku menatap gadis tegar yang seketika telah runtuh di hadapan kami semua, dia menangis sesenggukan, memohon perlindungan hanya untuk orang yang telah membuatnya terluka dalam. Berkali-kali aku menghela napas panjang, aku ingin mengulurkan tanganku untuknya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Rasanya begitu berat, juga sakit kala melihat dia menangis untuk orang yang dicintainya. Aku tahu betul, aku telah jatuh cinta pada gadis remaja yang usianya terpaut jauh dariku. Dan kini, gadis itu tengah terluka. Haha ... untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, namun, sepertinya aku salah menempatkan cintaku.


“Abah!! Jangan!!” terdengar lagi teriakan mengiba dari bibir tipisnya, aku hanya menatapnya iba.


Tapi, seolah tak peduli, Abah dan juga beberapa warga lainnya, masih tetap kukuh akan menjalankan sebuah hukuman yang bagiku sungguh terdengar tabu, bagaimana mungkin, di kotaku sebelumnya, perbuatan Zina adalah hal yang biasa dilakukan, jangankan mereka yang hanya berpelukan, bahkan lebih dari itu pun sudah sering di lakukan, bahkan ada yang melakukannya di hadapan umum. Mereka tidak di hukum, hanya mungkin di cemooh, di ingatkan, atau hukuman terakhirnya paling dinikahkan. Sebelumnya aku belum pernah melihat orang berzina dengan hukuman cambuk atau rajam.


Tapi, di tempat ini berbeda, katanya di tempat ini untuk pertama kalinya ada hal semacam ini, jadi mereka sungguh sangat mengutuk Dino. Mereka takut jika perilaku Dino bisa ditiru oleh remaja lainnya.


Dino dan kekasihnya akan di hukum cambuk, tubuh mereka sudah siap untuk di cambuk, dan hal itu membuat Cinta-ku semakin histeris, dengan segala cara, dia terus berupaya, agar sahabat sekaligus orang yang dicintainya bisa selamat. Miris.


Seorang pria bertubuh tinggi, sudah bersiap untuk mencambuk tubuh Dino dengan seutas tali yang lumayan besar, sementara itu semua orang sudah berada di jarak dua belas meter dari tempat Dino akan dicambuk, mereka semua memejamkan matanya, ngilu, isak tangis dan penyesalan, seolah di tulikan oleh mereka semua, mereka bilang ini untuk kebaikan desa mereka, aku sungguh salut akan keteguhan mereka, dalam menjaga ‘kebersihan’ desanya.


“JANGAN!!!” sekali lagi teriakan itu terdengar, aksi mencambuk tubuh Dino dan kekasihnya harus kembali terhentikan, mereka semua menatap gadis yang matanya sudah memerah itu, dia menyeka air matanya dengan kasar, lalu mengambil sebuah cambuk yang berukuran agak kecil dibanding cambuk tadi.


“Orang yang boleh mencambuk Dino adalah orang yang suci, orang yang tidak pernah melakukan dosa!! Di sini siapa yang merasa dirinya sangat suci?? Silahkan cambuk Dino! Selain itu, acara cambuk juga harus disaksikan oleh orang-orang yang beriman, agar tidak terjadi kesalahan, apa kalian semua sudah merasa beriman? Minimal disini juga harus ada hakim dan dokter, apa di antara kalian ada hakim dan dokter?” gadis itu menyodorkan cambuk yang ada di genggamannya pada orang-orang yang bersiap mencambuk Dino, aku memiringkan bibirku, jadi sebesar itukah cinta Andin untuk Dino? Jadi, sudah tidak adakah cinta Andin untukku? Meski aku sudah menunjukkan bahwa aku mencintainya? Miris.


“Siapa yang mau mencambuk Dino?? Kamu?? Atau kamu??” Andin menyodorkan kembali batu itu, pada beberapa pemuda yang dari tadi sudah bernafsu untuk mencambuk Dino.

__ADS_1


“Aku mohon! Jangan cambuk Dino! Mari kita bicarakan baik-baik!” Andin masih memohon, padahal sudah jelas Dino bersalah, jadi inikah yang dinamakan kekuatan cinta?? Ck!.


“Andin!!” Abah mulai marah, pria yang biasa dikenal lembut dan bijaksana itu, kini mulai memperlihatkan raut kecewa atas perilaku putrinya.


“Abah ... jangan bunuh Dino dengan cara seperti ini, beri Dino kesempatan” Dia kembali menangis sesenggukan, sementara Dino dan kekasihnya sudah terkulai, wajahnya pucat pasi, aku yakin sebentar lagi mereka akan pingsan, waktu semakin sore, keadaan sudah mulai gelap, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, tapi disini kami belum mendapatkan solusi apapun, karena Andin terus menghalangi.


“Andin, ini bukan keinginan Abah, ini sudah menjadi ketentuannya” ucap Pak Lurah kembali lembut, rupanya lelaki itu sudah bisa menguasai dirinya.


“Pak Lurah, bagaimana jika kita memberi kesempatan pada Dino? Untuk menutupi aibnya, kita nikahkan saja mereka” ucap salah satu warga yang merasa kasihan pada Dino yang terus dihakimi warga sedari tadi.


“Itu tidak benar” Pak lurah menggeleng,


“Kami tahu Pak, tapi di antara kami tidak ada orang yang memenuhi syarat untuk melakukan hukuman cambuk untuk Dino” mereka menggeleng, entahlah ... aku yakin mereka mungkin ragu dengan diri mereka masing-masing.


“Baiklah ... terserah kalian saja, yang penting saya sudah menyarankan” dengan langkah kecewa, pak Lurah beranjak dari tempatnya berdiri, lalu pergi menuju rumahnya, sementara Andin dan Siti terkulai lemah di tanah, mereka saling berpelukan, lalu menangis sesenggukan.


Sementara itu, mungkin karena tekanan yang terlalu berat, kekasih Dino yaitu Humaira sudah pingsan, beberapa warga mencoba menarik mereka dari atas tanah, Ibu Dino menyambut anak dan calon menantunya dengan isak tangis, mencoba membantu mereka.


Beberapa warga yang masih punya simpaty pada Ibu Dino, membantu membopong tubuh Dino dan maira menuju rumah mereka masing-masing.


“Makasih ... An-Din” ucap Dino, kala dia berjalan melewati kami.

__ADS_1


“Hiks ... hiks ... hiks ...” Andin masih terkulai lemah di tanah,


“Cinta ...” aku berjongkok mendekatinya, mencoba untuk membantunya bangun.


Aku tahu, melihatnya seluka ini, mungkin saja, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkan cintanya.


“Huuuaaaa!!” tangis Andin pecah seketika,


Sementara itu, Dino dan Maira sudah digiring warga, mereka sudah berjalan menjauhi kami.


Andin terdiam sejenak, lalu menatap Dino, seketika dia berdiri, lalu berlari mengejar Dino, aku dan Siti hanya bisa ternganga melihat reaksi Andin, jarak mereka sudah terlalu jauh.


“DINOOOOO!!” teriakannya menggema. Air matanya terurai sempurna, bercucuran menganak sungai.


Tapi, Dino dan Maira tidak menoleh, mungkin dia sudah tidak mendengar teriakan Andin.


“DINOOO!!” kembali teriakannya menggema,


Dengan hati kalang kabut, aku berdiri, lalu berlari mengejarnya, mengejar Cinta-ku yang belum sempat aku ungkapkan perasaanku.


Ku tengadahkan tangan kananku ke hadapan wajahnya. Dia menatapku dalam isakannya.

__ADS_1


“Ikut aku, kejar mimpimu, atau ... kejar dia, dan selamanya tinggallah dalam masa lalu”


Bersambung ......


__ADS_2