
Raga POV
“Pak awas jatuh!!” gadis itu berteriak, memperingatkan aku yang tengah berjalan melewati batu terjal di tengah-tengah sungai yang lumayan lebar ini, airnya tidak cukup besar namun juga tidak bisa di bilang kecil.
Aku menoleh ke belakang lalu menggeleng, menatap gadis cantik yang selalu terlihat alami di mataku, sementara itu kedua orangtuanya berada di belakang kami, tengah bercanda tawa, sambil berpegangan tangan. Pasangan tua itu terlihat sangat harmonis, humoris, tapi juga cukup berwibawa, dan sangat bijaksana. Sering ketika malam tiba aku menghayalkan memiliki keluarga seperti keluarga gadis itu. Hangat dan menenangkan.
“Nak Raga! Kalau tasnya berat simpan saja di sana! Biar saya yang bawa!” kini pria setengah baya itu berteriak, selama tinggal di desa ini aku merasa sangat betah. Rasanya tidak ingin pulang lebih cepat, nyesel pernah nolak tawaran Mamah dulu.
Sekarang, kalau masalah kasus kepala sekolah yang terkena kasus suap itu belum selesai, dan Mamah yang terus menerus menelponku untuk segera pulang, aku tidak ingin pulang, aku ingin tinggal di desa ini lebih lama lagi.
Berjalan lebih dari satu jam membuatku lumayan kelelahan, kakiku yang jarang di gunakan untuk berjalan kaki jauh, kini mulai menunjukkan reaksinya, kakiku terasa sangat pegal, nafasku memburu, keringat terus menjulur dari dahi. Jika dibandingkan gadis kecil itu, aku sungguh payah.
Namun, setelah melihat pemandangan indah ini, seketika rasa lelahku terbayar seketika, sepanjang jalan aku melewati pemandangan sawah seluas mata memandang, meskipun matahari mulai naik ke sepenggalah, tapi tidak terasa terik yang luar biasa, masih ada angin sepoi dan udara nyaman, mungkin berasal dari pepohonan yang berderet yang memberikan pasokan oksigen berlebih.
Suara riak air yang berasal dari sungai, seperti alunan merdu di telingaku. Semakin jauh, pemandangan semakin indah saja, satu hal lagi yang baru aku tahu, ternyata semakin aku jauh berjalan menelusuri pinggiran sungai ini, ternyata di daerah sini, masih ada saja perempuan yang mandi, dan mencuci pakaian di sungai, mereka mandi hanya menggunakan kain yang menutupi tubuh mereka hingga dada. Tubuh mereka yang putih alami, sempat membuat mataku mengerjap berkali-kali. Rasanya aku malu sendiri melihatnya.
Ketika kami melewati mereka, mereka langsung memanggutkan kepala, lalu menyapa dengan hormat, mengingat mungkin mereka mengenali orang yang tengah bersamaku, yaitu Pak Lurah, beberapa dari gadis itu juga terlihat saling menyenggol bahu temannya masing-masing, lalu berbisik-bisik menatapku, aku hanya bisa menunduk sambil tersenyum, aku sangat kagum pada mereka semua. Di kota, aku tidak pernah mendapatkan pemandangan seperti ini.
“Ihhhh mani kasep pisan!!” itu adalah salah satu bisikan yang ku dengar, aku tidak tahu artinya apa, aku memilih untuk tidak peduli saja.
“Hah?? Apa itu yang bergerak-gerak??!” aku menunjuk-nunjuk air tenang yang tiba-tiba saja airnya bercipratan ke arahku.
“Oh, itu ular pak” jawab Andin santai.
“Apa??? Ular???” aku terjingkat kaget, langsung mundur ke belakang beberapa langkah. Ku tatap gadis itu ternyata tengah tergelak, mungkin menertawakan aku yang terlihat norak.
“Tenang saja nak Raga, mereka tidak akan mengganggu kita kok” kini Bu Lurah yang bicara, sambil tersenyum, mengipasi wajahnya dengan daun yang cukup lebar, entah daun apa.
“Me mereka??? Itu artinya ular itu lebih dari satu Bu??” tanyaku gugup sendiri, semakin takut, bagaimana jika ular itu tiba-tiba menyerangku??.
“Iya, gak apa-apa, mereka hanya sedang mencari makanan, mencari kodok atau ikan” ucap bu Lurah kemudian mereka melanjutkan perjalanannya, meninggalkan aku yang tengah diliputi rasa takut. Tak lama, aku pun segera mengikuti langkah mereka, takut tertinggal dan digigit ular liar. Hhhiiiyyy.
__ADS_1
***
“Nah, akhirnya kita sampaaaiiii!!” Gadis itu berteriak senang, sambil merentangkan tangannya di pinggir air terjun, aku mengikutinya, merentangkan tanganku, lalu memejamkan mataku dalam. Rasanya semua masalahku terasa hilang, ikut hanyut bersama air yang mengalir menuju muara.
Pemandangan ini jauh lebih indah lagi, hingga aku merasa sangat sulit untuk menjelaskannya, intinya aku sangat menikmati momen ini.
Perlahan ku tatap gadis kecil itu, dia tengah tersenyum, matanya masih terpejam, tangannya masih merentang, seolah dia sedang menantang dunia. Tak bisa di pungkiri beberapa waktu bersamanya, aku memiliki kekaguman tersendiri padanya. Tapi ... aku tahu, gadis itu tengah jatuh cinta pada orang lain, dia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Haha ... lucu dia.
“Cinta! Kamu sering ke tempat ini??” tanyaku sedikit berteriak, suaraku hampir tak terdengar akibat suara air terjun yang lumayan besar.
“Apa??” tanyanya, mendekatkan wajahnya padaku, mungkin suaraku kurang jelas, padahal aku sudah berteriak.
“Kamu sering ke sini?” aku menunjuk air yang mengalir dari atas sana, memberinya kode, namun dia hanya mengangguk, gadis itu kembali memejamkan matanya, menikmati sentuhan riak air yang menerpa wajah cantiknya.
Ku tatap wajah itu lekat, sebelum aku pergi dan tak dapat melihat wajahnya lagi.
“I love you” ku ucapkan kata itu tanpa suara, aku masih menatap wajahnya dari samping. Melengkungkan bibirku, sambil berharap pada angin semilir yang kini menerpa wajah kami.
***
“Andin! Nak Raga! Sini makan dulu!” teriak Pak Lurah, aku mengerjap, lalu memutar tubuhku, terlihat Pak Lurah dan Bu Lurah tengah duduk di sebuah saung ijuk yang tersedia di sana, mereka ternyata sudah mempersiapkan makanan yang tadi mereka bawa.
Aku dan Andin berjalan mendekat, wah ... ternyata makanan unik dan sederhana ini, cukup menyita perhatianku, bau wangi yang baru kali ini aku cium pun berhasil membuat perutku berbunyi, berisik.
“Waaahhh ... apa ini Pak Lurah??” tanyaku, segera duduk bersila dekat Pak lurah, setelah mencuci tangan.
“Ini makanan khas Sunda Nak Raga, ayo atuh di cobain” Bu Lurah menyodorkan beberapa makanan yang terlihat asing bagiku.
“Ini namanya nasi liwet Nak Raga” Bu Lurah menyodorkan nasi yang di alasi daun pisang ke hadapanku, aku menerimanya dan mulai mencicipinya.
“Eeemmhhh ... luar biasa, baru makan nasinya saja, tapi kok rasanya nikmat sekali ya” aku membelalakan mataku, untuk pertama kalinya aku merasa makan senikmat ini.
__ADS_1
“Iya, nasi liwet ala Ambu ini pasti enak, banyak kok yang bilang gitu, soalnya Ambu pake resep turun temurun dari eyang” kini Andin menimpali, sambil mencomot makanan di hadapannya, warnanya hitam-hitam, entah apa tapi dia terlihat menikmati.
“Ini dicoba juga nak Raga, ada ikan asin, goreng jengkol, sambel terasi, sambel goreng kentang pake pete, goreng ikan gurame, goreng ayam kampung, ini ada lalapannya juga” pak Lurah mulai mengabsen makanan, yang lagi-lagi tidak banyak yang aku tahu.
Tapi, aku lebih tertarik dengan makanan yang dari tadi di makan oleh Andin, gadis itu terlihat sangat menikmati.
“Bapak mau ini??” Andin yang sadar tengah aku perhatikan, dia menyodorkan makanannya.
“Boleh” aku mengangguk, lalu mulai mencomot makanan itu, warnanya hitam rasanya gurih, sedikit kenyal makanan apa ini??.
Setelah beberapa suapan, akhirnya aku bertanya,
“Ngomong-ngomong makanan ini apa namanya Bu Lurah??” sambil terus mengunyah, rasanya enak kok.
“Ooohhh itu namanya cungur Nak Raga, kebetulan Andin suka makanan itu” jawab Bu lurah sambil mengunyah makanannya.
“Cungur?? Apa itu??” tanyaku bingung, baru kali ini aku mendengar nama makanan itu.
“Cungur itu irung sapi” kini Pak Lurah yang menjawab.
“I irung sapi?? I irung?? Maksudnya apa ya Pak??” tanyaku bingung.
“Irung itu artinya hidung pak” jelas Andin santai.
“Hi hidung?? Maksudnya, yang saya makan ini hi hidungnya Sapi?? Buat bernapas sama tempat ngeluarin ingus sapi??” mataku langsung membelalak, membayangkan bagaimana ketika sapi-sapi itu terkena flu.
“Iya” jawab Andin santai, sambil meneruskan makan irung Sapi.
“Hueeeekkk!! Tidddaaaakkkk!!!
Bersambung ......
__ADS_1