
Adzan maghrib telah berkumandang, sementara itu di rumah Pak Lurah setelah shalat maghrib berjamaah Andin segera naik kembali ke lantai atas, masuk kedalam kamarnya. Dia berulang kali mempoles wajahnya dengan make up, lalu mengganti bajunya dengan baju terbaik yang dia miliki. Sementara itu, hatinya berdebar kencang, jantungnya seolah melompat-lompat. Andin kegirangan sendiri dengan khayalannya.
Selesai bersolek, Andin segera turun kembali ke lantai bawah, lalu duduk di ruang tengah menunggu tamu yang tengah di tunggu-tunggunya.
Sementara itu Ambu mondar mandir di belakang, menunggu pesanan makanannya yang tak kunjung datang.
Dan Abah kini masih asyik membaca sebuah kitab di ruang keluarga, masih dengan baju koko, sarung, lengkap dengan pecinya.
Tok ... tok ... tok ...
“Assalamualaikum ...”
Suara ketukan pintu di iringi ucapan salam, membuat Andin terperanjat, dan langsung membuka pintu.
“Neng Andin??” sapa pria dengan tubuh gempal, sambil menenteng beberapa kresek berisi makanan.
“Ih Mang Imut, mau apa??” tanya Andin ketus karena kecewa, dikira yang datang keluarga Dino, ternyata malah Mang Imut.
“Ini, saya mau nganterin makanan pesanan Bu Lurah” ucap Mang Imut sopan, tangannya mengacungkan kantong kresek yang masih di tentengnya.
“Ooohh ... ya udah, ke belakang aja Mang” Andin mempersilahkan Mang Imut masuk kedalam rumahnya, lalu menuju dapur.
“Bu Lurah, ini pesanannya” ucap Mang Imut sambil meletakan kresek berisi bungkusan makanan itu di atas meja makan.
“Ambu!! Tamunya sudah datang!” tiba-tiba Andin bersorak sambil menarik tangan Ambu.
“Eh?? Mang Imut! Tolong tata makanannya di meja makan ini ya, saya mau ke depan dulu!!” teriak Ambu yang setengah tubuhnya sudah ada di ruang tengah, Mang Imut hanya mengangguk lalu mulai menata makanan yang dibawanya.
Tiba di ruang tengah, Ambu dan Abah menyambut kedatangan tamu yang berkunjung ke rumahnya, terlihat beberapa orang yang berasal dari kampung sebelah, mereka adalah Nassar, orangtuanya, dan beberapa orang lainnya yang tidak mereka kenal, juga ada Dino dan Ibunya di sana, Andin sempat mengernyitkan keningnya bingung, kenapa ada Nassar juga di sana?.
“Silahkan duduk” Pak Lurah mempersilahkan tamunya duduk dengan sopan.
“Terimakasih banyak Pak Lurah, Bu Lurah, dan calon istri” ucap Nassar dengan suara gemulainya, Andin hampir saja muntah melihat tingkah Nassar kali ini, bagaimana tidak, seisi ruangan menjadi sangat bau karena Nassar menggunakan parfum terlalu over, bahkan Nassar juga menggunakan kemeja dengan motif bunga-bunga pink, selendang pink yang dipakai di lehernya juga terkesan sangat alay.
__ADS_1
“Oh iya, jadi ada keperluan apa Bapak-bapak dan Ibu-ibu ini jauh-jauh bertandang kerumah saya??” tanya Abah setelah mereka sempat ngobrol ngalor-ngidul sebelumnya, hanya berbasa-basi untuk mengusir rasa canggung.
“Ah iya, jadi kedatangan saya datang kerumah Pak Lurah ini, tiada lain dan tiada bukan adalah untuk melamar putri semata wayang Pak Lurah yang bernama Andin” ucap salah seorang pria yang merupakan perwakilan dari keluarga Nassar.
Deg!!
“Apa??” Andin terlihat terkejut, dia menatap Dino yang tengah tersenyum tanpa dosa padanya.
“Iya Nak Andin, jadi bagaimana? Apa lamaran putra kami Nassar akan Nak Andin terima??” tanyanya lagi membuat Andin semakin menganga.
‘Jahat kamu No!! Jadi kamu cuman nganter si Nassar buat lamar aku?? Bukan kamu yang mau lamar aku No???’ jauh di dalam batin Andin sudah berteriak, mengutuk Dino yang tengah tersenyum tanpa dosa.
“Tidak!!” ucap Andin histeris.
“Loh?? Andin? Kamu kenapa gak mau terima lamaran aku?? Aku ini tampan, kaya raya lagi” ucap Nassar sambil mengibaskan selendangnya, membuat Andin mengerjap karena bau parfum Nassar semakin semerbak.
“Oh, maaf sebentar Pak Giman, sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih kepada keluarga Bapak yang sudah jauh-jauh datang kerumah saya dengan niat baik mau melamar putri saya ini, tapi sebetulnya begini, saat ini Andin masih bersekolah, mungkin kalian juga tahu itu” Abah membuka suaranya, mencoba bijak untuk bisa menenangkan semuanya.
Sementara Ambu hanya terdiam, matanya melotot, nafasnya seperti terhenti. Mungkin saking shocknya. Bagaimana mungkin putrinya Andin yang jago pencak silat di lamar oleh Nassar yang bahkan akan menjerit lari terbirit-birit hanya karena melihat cacing di jalanan, apakah ini yang dinamakan jodoh harus saling melengkapi? Batin Ambu bertanya-tanya.
“Apa ini tidak terlalu terburu-buru?? Andin bilang dia masih ingin melanjutkan pendidikannya dan menggapai mimpinya, saya pikir Andin masih sangat muda untuk bisa menjalani sebuah biduk rumah tangga yang tidak mudah ini” ucap Abah lagi membuat hati Andin tenang. Abah memang selalu tahu apa yang di inginkan putrinya.
“Saya rasa ini tidak terlalu buru-buru, bahkan saya menikahi istri saya saat usianya tiga belas tahun” ucap bapak Nassar sarkis.
“Loh?? Tentu, itu kan zamannya kita dulu, zaman Siti Nurbaya dan sekarang Siti Nurbaya, sudah di ganti dengan Siti Badriyah lho Pak Giman” Abah terkekeh sendiri, sementara yang lain hanya manggut-manggut, mereka jelas paham jika ucapan Abah ini adalah sebuah penolakan halus bagi keluarga Nassar.
Dino menundukkan kepalanya dalam dan Andin juga tertunduk lesu, kali ini Andin sungguh kecewa atas tingkah sahabatnya itu. Ini, bukan hanya menyangkut diri Andin saja, tapi juga menyangkut keluarganya. Kenapa tadi Dino tidak memberitahunya jika sebetulnya keluarga Nassar yang akan datang melamarnya, jika tahu sedari awal mungkin Andin tidak akan berharap sebanyak ini.
“Apapun yang terjadi saya akan menunggu Andin! Kalau Andin mau mengejar cita-citanya dulu terserah! Yang penting aku mau nunggu!!” Nassar menghentakkan kakinya di lantai sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kalau untuk urusan itu, semuanya terserah Nak Nassar saja, karena hati manusia siapa yang tahu??? Mungkin saja, besok, lusa, perasaan kalian bisa berubah. Tapi yang pasti, itu adalah jawaban Andin untuk saat ini, Andin belum bisa menerima lamaran Nak Nassar, karena Andin mau fokus dulu dengan sekolahnya” ucap Abah lagi mempertegas ucapannya.
“Aku gak peduli!!” ucap Nassar lagi membuat semua orang menghela nafas berat.
__ADS_1
“Ah, ya sudah jangan tegang begitu, mari semuanya makan saja dulu, biar agak rileks sedikit, kebetulan Ambu sudah menyiapkan makanannya” ucap Abah sambil berdiri, mempersilahkan tamunya agar berpindah ke ruang makan.
Semua tamu berdiri, kecuali Andin yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, gadis itu merasakan sakit di hatinya yang luar biasa, kecewa kini mendera qalbunya, berkali gadis itu terlihat menyeka air matanya.
“Din ...” Dino tidak ikut ke meja makan, dia langsung mendekati Andin.
“Jahat kamu No!!!” Andin mengibaskan tangan Dino.
“Loh?? Aku jahat apa?? Aku kan cuman nganterin Kang Nassar saja atuh Din” Dino semakin mendekati Andin, mencoba meraih pundak sahabatnya itu.
“Kamu gak ngerti No!!” Andin beranjak, lalu berlari menuju tangga, masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya dari dalam, meninggalkan Dino yang tengah terbengong. Andin menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya.
Sementara itu, di ruang makan ...
“Silahkan di makan ...” ucap Bu lurah mencoba tersenyum, meski hatinya masih syok berat.
“Hah?? Apa ini??” bisik salah satu dari mereka, membuat ambu tersadar, lalu menatap meja makan dengan bingung.
Perlahan Ambu mendekati Mang Imut, yang tengah tersenyum di pojokan.
“Imut!! Apa ini?? Masa makanan lima ratus ribu, cuman ada goreng jengkol, tumis kangkung, sama sambel terasi doang sih??” Ambu berbisik, sambil mencubit perut Mang Imut yang melebihi gentong.
Sambil meringis Mang Imut mencoba menjelaskan.
“Aduuuhhh!! Ampun Bu Lurah! Masih untung Bu Lurah saya kasih makanan ini, uangnya kan cuman seratus lima puluh ribu doang, porsinya tiga puluh lagi, mana waktunya udah mepet lagi, masih untung istri saya mau masakin” jelas Mang Imut dengan napas terengah sambil memegangi perutnya yang terasa perih.
“Appppaaaa????!!!”
Gubraaakkk!!
Ambu pingsan gaaeeeessss ...
Sementara Abah?? Abah langsung asyik makan goreng jengkol di cocol sambel terasi, gaeeessss. Ckck. Dasar Abah!.
__ADS_1
Bersambung ....