BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Pada Siapa Bapak Jatuh Cinta?


__ADS_3

Tiba pada hari ini, hari dimana karyawan dari divisi penjualan tengah merayakan kemenangannya, selama tiga bulan berturut-turut, penjualan mereka mengalami kenaikan yang lumayan drastis, semua ini sebetulnya bukan hanya hasil dari kerja keras mereka saja, tapi juga berkat bantuan dari Direktur yang sudah membantu mereka secara nyata, hingga kantor yang awalnya sudah berada di ambang kolaps, kini berangsur membaik.


“Yeeeaaayyyy!!! Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun aku bekerja di sini, akhirnya aku bisa makan-makan juga” teriak salah seorang karyawan, sambil meregangkan ototnya.


“Perhatian!!”


Semua mata karyawan di lantai tiga menuju pada sumber suara, mereka segera menunduk hormat saat Andin tengah berdiri di antara mereka.


“Hari ini, mari kita rayakan keberhasilan kita, dengan cara makan-makan di tempat yang sudah saya siapkan sebelumnya, o ya karena hari ini adalah hari bahagia kita, maka aku akan menambahkan kebahagiaan kalian, kalian di izinkan pulang lebih awal, silahkan bersiap-siap dan saya tunggu kalian di lokasi, sekian, terimakasih” Andin memundurkan langkahnya, lalu berlalu menuju ruangannya, bersiap untuk kemudian pulang menuju kedai mie ayam mang jupri.


“Yyyyeeeeeeaaayyyy!!! Bu Andin kok baik banget sih??” teriak mereka kompak, seketika bisik-bisik absurd langsung terdengar di antara mereka.


“Udah cantik, baik, rajin shalat, pinter, jago bela diri juga, pacarnya siapa sih Bu Andin??” salah satu karyawan berbisik pada teman lainnya.


“Hush!! Mulutmu itu lhoooo ... Bu Andin itu pacarnya Direktur” peringat salah satu di antara mereka.


“Loh?? Bukannya pacar Pak Ronald ya??” tebak yang lainnya.


“Udah ah, jangan pada gosip, yuk kita siap-siap” si pria bijak langsung menengahi.


“Mau taruhan gak?? Kira-kira antara Pak Ronald dan Pak Raga siapa yang akan memenangkan hatinya Bu Andin??” menggunakan kesempatan dalam kesempitan, menjadikan kisah cinta Andin dan Raga sebagai taruhan.


“Bu Andin masih muda, pasti sukanya sama yang muda juga, aku pilih Pak Ronald, aku pertaruhkan seperempat uang gajiku” tebak salah satu dari mereka, seraya menyodorkan sebuah kertas dan pulpen untuk mencatat.


“Bu Andin itu perempuan strong, jadi dia butuh pria dewasa yang bisa mengayomi hidupnya, aku pilih pak Raga yang sudah dewasa, ku pertaruhkan setengah gajiku” sahut yang lainnya dengan yakin.


“Deal!!!” akhirnya mereka bersalaman ala pria, dengan kepercayaan diri mereka masing-masing.


“Deal!!” menerima jabatan tangan, mengeratkannya, sambil berpelukan.


***


“Silahkan semuanyaaaaaa!!! Ayo dicoba, ini menu spesial dengan resep khusus dari kampung halaman saya” Siti dengan gagah berani membawa nampan di tangannya, menyodorkan menu makanan khas sunda, yang sudah dipelajarinya dengan bertelepon ria dengan sang Ibunda di kampung halaman.

__ADS_1


“Ini, ada nasi liwet, ada ikan asin, sambal terasi, goreng jengkol, ada pete juga, lalapannya juga ada”


“Dan menu special kita malam ini ada bakar ikan gurame jumbo ala-ala Titi, hheee ...” Siti mengibaskan kipas yang terbuat dari bambu yang digunakan untuk mengipasi bakar ikan tersebut.


“Whhoooaaa ... nasi liwetnya enak banget yaaa” seru mereka kompak.


“Ayo semuanya di coba ...” Siti kembali asyik melayani seluruh tamunya.


“Cinta ... kamu ingat ini tidak??” Raga mendekati Andin yang tengah sibuk membantu Siti, membawa beberapa makanan dari dapur menuju tempat mereka makan.


“Apa??” tanya Andin menatap Raga yang tengah tersenyum padanya.


“Ini, ini namanya cungur, haha ... saya masih ingat waktu kita makan-makan di curug itu” Raga tergelak, sambil menunjuk makanan yang ada di hadapannya, dengan mata menerawang pada kenangan beberapa tahun silam.


“Bapaaaakkkk ...” Andin merajuk lagi.


“Jangan panggil Bapak lah, saya gak enak dengernya” Raga mengibaskan tangannya di udara.


“Emang saya kelihatan udah Bapak-Bapak banget ya??” Raga mengerucutkan bibirnya.


“Bapak lupa ya? Berapa beda usia kita??” Andin memutar kedua bola matanya, malas.


Seketika Raga terdiam, sejujurnya tadi waktu karyawannya bertaruh pria mana yang akan mendapatkan hati Andin, Raga mendengarkan semuanya, seketika nyali Raga menciut kala mendengar salah satu karyawannya mengatakan jika Andin akan memilih pria yang lebih muda darinya, jarak usia sepuluh tahun, membuat Raga sedikit ngeri, bagaimanapun Andin itu kembang desa Suka Kaya, masih muda, cerdas, pemberani, jelas Andin butuh pendamping yang seimbang dengannya, sedangkan Raga? Raga memang sudah mapan dalam segala hal, tapi jika mengingat perbedaan usia, Raga kembali lemah.


“Pak?? Kok bengong??” Andin mengibaskan tangannya di hadapan wajah Raga.


“Eh?? Gak apa-apa deh di panggil Bapak juga, calon Bapak buat anak-anak kamu nanti, hheee ...” Raga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Andin seketika menunduk, dengan rona merah di pipinya.


Bbrruuukkk!!


Seketika pandangan Andin dan Raga beralih pada orang yang tiba-tiba terjatuh dari balik pintu.


“Rey?? Kamu sedang apa disana??” Andin mendekati Rey yang tengah terjerembab di lantai.

__ADS_1


“S Saayyyaaa ... saya sedang ngumpet Bu” tangan Rey bergetar kuat.


“Ngumpet?? Ngumpet dari siapa???” tanya Andin bingung.


“Pak Ronald nyuruh saya buat makan jengkol Pak, saya gak bisa, saya gak suka” Rey menggeleng berulang kali.


“Kenapa kamu bisa disuruh makan jengkol??” tanya Raga.


“Mereka sedang main game Pak” Rey mengedikan wajahnya, menunjuk orang-orang yang tengah tergelak di tempat makan lesehan mereka, termasuk Ronald juga ada di sana.


“Ya sudah, kalau mau ngumpet, coba di sana biar aman” Andin menunjuk arah dapur yang digunakan untuk membakar ikan oleh Siti, terlihat di sana ada Siti yang tengah sibuk, dibantu beberapa pekerja dadakan yang diundang oleh Siti.


Rey mengangguk, lalu dia mendekati dapur, sementara Andin dan Raga berjalan menuju tempat makan.


“Ada acara apa ini??” Andin duduk di ujung meja sebelah kiri, dan Raga duduk di ujung meja sebelah kanan, jarak mereka cukup jauh, kehadiran mereka membuat suasana menjadi canggung, keheningan melanda, seketika semuanya bungkam.


“Loh? Kok pada diam, ayo di lanjutkan permainannya, saya ikutan” ucap Raga tersenyum ramah.


“Saya juga ikutan” Andin ikut unjuk tangan.


“Hah??” mereka semua terpana,


“Hahaha ...” tertawa canggung,


“Baiklah, permainan akan lebih seru jika kalian ikutan!” Ronald yang duduk di tengah akhirnya angkat bicara.


“Permainan pertama! Mari kita putar botolnya! Ujung botol yang menunjuk salah satu dari kita, boleh mengajukan pertanyaan apapun itu, tanpa terkecuali masalah pribadi, kalau gak bisa jawab boleh di gelitikin” Ronald kembali memutar botol, selang beberapa detik, botol berhenti berputar, dan ujung botol menunjuk ke arah salah satu karyawan. Dengan tangan gemetar karyawan tersebut mengajukan pertanyaan untuk Ronald.


“Beberapa hari terakhir, saya melihat Bapak selalu uring-uringan, pertanyaan saya, apakah Bapak sedang jatuh cinta? Kalau iya, pada siapa Bapak jatuh cinta??” pertanyaan itu lolos begitu saja, seketika Ronald mematung, bingung entah jawaban apa yang harus diberikan pada karyawan yang bertanya. Bisik-bisik absurd kembali terdengar, Andin dan Raga menatap Ronald lekat.


“Emmmhhh ...”


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2