BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Preman?


__ADS_3

BBBRRRAAAKKKK!!!


Seorang pria tengah menggebrak meja kaca yang ada di hadapannya, tangannya terkepal, wajahnya memerah, rahangnya mengetat, giginya gemelatuk karena dia tengah menahan amarah.


“Berani perempuan itu mengabaikan perintahku! Berani pula dia mendahuluiku untuk mendatangi meeting penting itu! Terkutuk sudah kau perempuan!!!” sungutnya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Tangannya memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri.


“Rina! Masuk ruangan saya sekarang!!” teriaknya melalui telepon yang ada di hadapannya, sementara itu, di berkas-berkas yang tadi tersusun rapi di atas mejanya kini sudah sangat berantakan akibat ulahnya.


“Ada yang bisa dibantu pak??” seorang perempuan dengan penampilan yang sangat modis masuk kedalam ruangan, lalu membungkukkan tubuhnya penuh hormat.


“Kenapa kamu biarkan perempuan itu mengambil alih pekerjaanku??!” bentaknya masih tidak suka, matanya menatap nyalang pada perempuan yang tengah berdiri tegak dihadapannya.


“Maaf Pak, karena Pak Wangsa itu client yang sangat penting untuk perusahaan kita, dan kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk kehadiran Bapak” ucapnya tegas, namun masih berbicara dengan mode lembut.


“Berani kalian tidak menghargaiku??!! Kalian tahu siapa aku?? Aku adalah anak dari pemilik perusahaan ini! Akan kupastikan! Kamu juga akan dipecat karena telah mengizinkan perempuan itu berangkat tanpa aku!” teriaknya sarkis. Amarahnya kian memuncak mendengar jawaban dari sang sekretaris.


“Silahkan Pak, laporkan saya, karena saya juga melakukan ini, semata-mata atas perintah pimpinan pusat” ucapnya lebih tegas lagi.


Perempuan itu rupanya memiliki banyak kekuatan untuk melawan boss-nya sendiri.


“Apa?? Buat apa dia selalu ikut campur dengan masalahku??” gumamnya, sambil memutar kursi duduknya, lalu mengetukkan pulpen di keningnya.


“Apa hebatnya perempuan itu? Hingga dia dapat kepercayaan sebesar itu dari pria menyebalkan itu??” masih dalam mode bergumam.


“Kalau Bapak ingin tahu seberapa hebat perempuan itu, sebaiknya Bapak lihat komputer Bapak, di sana saya sudah mengirimkan video via email Bapak” ucap Rina sambil melirik komputer pimpinannya, yang ternyata masih belum dinyalakan.


Pria itu, ikut menatap komputernya, lalu mencoba menyalakannya.


“Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi Pak” Rina memundurkan langkahnya, setelah di lihatnya pria arogan di hadapannya, hanya mengibaskan tangannya di udara, sambil memejamkan matanya.


Selang sepuluh menit, pria itu sudah menonton adegan demi adegan yang di tampilkan di layar monitornya,


Glek ...

__ADS_1


Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah.


“A apa ini?? Ternyata perempuan itu seorang preman?? Tuhan ... apa yang telah mereka lakukan?? Mengirim perempuan ini ke perusahaanku? Apa maksudnya? Apa mereka ingin aku pergi dari kantor ini? Aiiihhhhsss ...” pria itu mengacak rambutnya frustasi.


Ceklek ...


“Sore Pak” seorang gadis masuk ke dalam ruangannya, pria itu terjingkat, lalu menatap perempuan yang baru saja datang menghampirinya, memindainya dengan teliti dari atas hingga bawah.


“Siapa kamu??” tanyanya sambil melengos, padahal dalam hati sudah ketar-ketir, merasa takut karena sudah melihat video yang dikirim Rina tadi.


“Saya Andin Pak, wakil dari Bapak Ronald sendiri, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik” ucap Andin, mengulurkan tangannya sambil berusaha tersenyum.


“Cih! Jadi kamu perempuan itu?? Kamu yang sudah lancang mengambil posisiku untuk meeting tadi?? Wwwaaahhh ... karyawan baru sekarang cukup tidak tahu diri ya ...” ucapnya dengan gaya yang arogan, sementara itu jari-jarinya berdenyut, menahan getaran.


“Saya bukan karyawan baru, sebelumnya saya bekerja di cabang A, selama dua tahun, dan sekarang saya di mutasi ke sini, untuk menjadi wakil Bapak, saya juga tidak bersikap lancang, karena saya sudah melakukan tugas saya semestinya, menggantikan seorang pimpinan, ketika pimpinannya belum datang ke perusahaan meski waktu sudah siang, bagaimana? Dimana letak kekurangan saya??” ucap Andin sambil maju ke depan, membuat pria arogan itu memundurkan langkah, hingga tubuhnya menabrak kursi, kilatan dari mata perempuan di hadapannya, membuatnya sedikit gugup.


“A aku tidak ingin bekerjasama dengan preman!! Aku akan memecatmu!!” teriaknya sambil mengangkat telpon, berniat menghubungi seseorang yang entah siapa.


“Ekheeemmm!!! Preman??” tanya Andin semakin mendekatkan tubuhnya, pria itu semakin ketakutan, lalu menyimpan kembali telepon yang sudah di genggamnya.


“Bagaimana kalau kita berkenalan dulu Pak, agar Bapak tahu, seberapa premannya saya??” tanya Andin, kembali mengulurkan tangannya, dengan senyuman penuh misteri.


Pria itu semakin gugup, tapi tak urung, dia pun segera mengulurkan tangannya, menerima jabatan tangan dari Andin.


“Ro Ronald ... AAAAAAAAAAA!!!”


Pletrek ...


“Huuaaaa!! Sakit!!” Ronald meringis kala di rasakan jari-jemarinya ditekan secara brutal oleh Andin, dengan kedok jabatan tangan. Andin tersenyum menyeringai.


“Apa yang kau lakukan??!!” teriaknya sambil meringis.


“Minta maaf sekarang!!” teriaknya semakin frustasi.

__ADS_1


Tapi Andin hanya mengedikan kedua bahunya, lalu berjalan menuju keluar ruangan.


“Perempuan kurang ajar! Preman! Bar-bar!!” dan segala umpatan lainnya keluar dari mulut Ronald, sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


“Ah, pak Ronald, maaf untuk kelancangan saya hari ini, lain kali, mari kita berkenalan dengan baik, agar kita juga bisa bekerjasama dengan baik” Andin kembali mendongakan tubuhnya, sebelum benar-benar meraih handle pintu.


Sementara itu, di luar pintu Rey tengah menguping, dengan lutut bergetar, Rey merapalkan banyak do’a, agar dirinya bisa selamat dari amukan Ronald.


Ceklek ...


“Rey ... masuklah kedalam, tuanmu sudah menunggumu” ucap Andin sambil berlalu melewati tubuh Rey yang sedang gemetaran.


“Hah?? Ya Allah ... lindungilah aku, bagaimanapun aku belum menikah, aku masih ingin hidup lebih lama lagi” ucap Rey sambil menengadahkan tangannya.


“RRRREEEEYYYYY!!” terdengar teriakan panjang dari dalam ruangan Ronald.


“I iya Pak” Rey segera masuk kedalam ruangan, lalu mengangguk penuh hormat.


“Tolong periksa latar belakang gadis kurang ajar itu Rey! Gadis preman!! AAAAA!!” Ronald kembali berteriak, kala di rasakan tangannya kembali sakit.


“Ba baik Pak” Rey mengangguk, lalu segera memundurkan langkahnya.


“O ya Rey, panggilkan Dokter sekarang juga, aku ingin memeriksakan tanganku, mungkin saja tanganku sudah patah, AAAA!!” perintahnya sambil meringis.


“Baik Pak” Rey kembali mengangguk, dan langsung ngacir keluar ruangannya.


“Ya Allah ... aku mohon, lindungilah aku dari situasi yang menyulitkan ini, yang satu perempuan rasa preman, yang satu laki-laki tapi manja banget, hhiiiyyy ...” Rey bergidik lalu segera duduk di mejanya yang terletak di antara dua ruangan yang mengapitnya. Ruangan Pimpinan yang ditempati oleh Ronald Dirgantara, dan wakil pimpinan yang ditempati oleh Andin Andini.


Bersambung ....


Ada yang pernah dalam posisi Rey??


Aku pernah dong, hhee ... mengalami posisi sulit, kala pimpinan mau A, dan wakil pimpinan mau B, alhasil aku yang seteress sendiri, maju jurang, mundur lubang.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya doooonnggg ...


__ADS_2