
“Ronald?? Apa yang kau lakukan disini???” seketika suara berat yang menyapanya membuat Ronald memutar tubuhnya.
“Om???” Ronald membulatkan matanya, kala melihat sosok tinggi, yang usianya tidak akan jauh dari Raga, tengah menatapnya lekat.
“Apa kamu sedang menatap gadis tadi??” pria itu celingak-celinguk menatap sosok gadis yang sudah tidak terlihat lagi tubuhnya.
“Ti tidak!” Ronald menggeleng wajahnya gelagapan kebingungan.
“Om kenapa kesini?” tanya Ronald mengerutkan keningnya, masalahnya selama ini kantornya sepi dari kunjungan keluarga, selama ini kantornya tidak terjamah, dan itu penyebab kenapa Ronald bisa bersikap sesuka hati di sana, tidak adanya kontrol dari keluarga yang berkuasa membuat Ronald bisa berlaku semena-mena di kantornya tersebut.
“Om mau bertemu dengan Kakakmu” ucapnya dengan santai, menepuk bahu Ronald mengajaknya berjalan, menuju ruangan kerja Direktur yang pindah secara dadakan ke kantor cabang kecil tersebut.
“Apa Om juga berniat pindah kerja ke sini??” tanya Ronald mengerucutkan bibirnya, bagaimanapun dia merasa khawatir, jika kebebasannya dalam menggunakan uang akan menjadi terbatas.
“Tidak juga, kebetulan saja, Om sedang memata-matai Kakekmu” ucapnya setengah berbisik.
“Kenapa lagi Kakek??” tanya Ronald mengerutkan keningnya.
“Kau tidak tahu?? Kalau Kakekmu akan menikah lagi dengan gadis di kota ini??” tanya pria tinggi itu menatap Ronald lekat.
“Tidak, bagaimana mungkin Kakek akan menikah lagi, di usianya yang ke tujuh puluh dua tahun??” Ronald semakin tidak percaya.
“Hah ... itulah, kenapa ada perempuan cantik yang mau dijadikan istri ke empat oleh Kakekmu yang sudah pikun itu,” Harlan mendesah.
“Ah ... menyebalkan sekali! Bikin malu aja!” Ronald menghentakan kakinya di lantai berulang kali.
“Eh?? Apa kamu juga tidak tahu?? Jika istri kedua ayahmu sedang mengajukan gugatan cerai?? Dan Ayahmu mengabulkannya, dan sekarang sedang bersiap untuk kembali menikahi gadis cantik” jelas Harlan semakin berkoar.
“Apa?? Itu artinya, Ibuku akan menjadi istri ke tiga, bukan istri keempat lagi, hhheee ...” Ronald mesem-mesem, menaik turunkan alisnya.
“Mungkin, o ya? Aku boleh menginap di apartemenmu malam ini??” tanya Harlan kembali merangkul pundak Ronald, membuat pria itu merinding seketika.
“Loh?? Memangnya Om gak mampu sewa hotel?? Atau Om nginap aja di apartemen Kak Raga, apartemen Kak Raga jauh lebih bagus daripada apartemenku” tolak Ronald.
“Om juga lagi diteror seseorang, kalau aku menginap di apartemen Raga, orang yang meneror Om itu pasti tahu, kalau kamu kan jarang orang yang tahu” Harlan kembali merayu Ronald.
__ADS_1
“Om diteror?? Di teror siapa???” tanya Ronald mulai ketakutan.
“Diteror istri ketigaku, dia tidak mau aku ceraikan!” ucap Harlan sambil berlalu menuju ruangan Raga, meninggalkan Ronald yang masih menganga.
“Apa??? Ya Tuhaaaannn ... bolehkah aku mengganti DNA ku?? Kenapa keluargaku begitu kacau??” Ronald kembali mengacak rambutnya kesal.
***
“Pak Direktur?? Kenapa nyasar di kantor cabang sekecil ini??” sapa Harlan setelah membuka pintu ruangan Raga.
“Eh? Om!! Apa kabar??” Raga bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, lalu berjalan, dan bertoss ria ala pria.
“Baik, sampai kapan kamu kan terus di sini Raga?? Aku sudah pusing menggantikanmu di kantor pusat, sebaiknya kamu segera kembali ke sana” ucap Harlan sambil mendaratkan bokongnya di kursi sofa yang ada di ruangan Raga.
“Sampai aku menemukan apa yang aku cari” Raga ikut duduk di sebuah kursi di hadapan Harlan.
“Siapa yang kamu cari? Dia??” Harlan mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan sebuah foto ke hadapan wajah Raga.
Raga terbelalak kaget “Dari mana Om bisa mendapatkan foto-foto ini??” tanya Raga, merebut ponsel pamannya dengan sigap, lalu menatapnya dengan seksama. Fotonya bersama Andin terlihat di sana. Penasaran Raga men scroll foto lainnya, ternyata bukan hanya fotonya dan Andin yang sekarang saja yang terpampang, tapi juga fotonya bersama Andin di zaman dahulu kala ada di sana, saat Andin masih menggunakan seragam SMA dan Raga menggunakan pakaian setelan guru honorer.
“Mamah?? Sejak kapan Mamah tahu semuanya??” tanya Raga tak percaya.
“Jangan lupa Raga, kamu itu adalah wayang, dan dalang dalam hidupmu, adalah Ibumu” Harlan kembali merebut ponselnya.
“Jadi, kapan kamu membawanya ke rumah??” tanya Harlan to the point.
Raga menggeleng, perjuangannya untuk mendapatkan cinta Andin, baru saja akan dimulai, tapi kenapa Ibu nya malah sudah tahu sejak lama??. Susah payah Raga menyembunyikan semuanya, tapi ternyata menganggap Ibunya adalah Ibu yang biasa adalah kesalahan besar.
“Ibumu sudah sangat khawatir padamu, selama ini, hidupnya sudah sangat sulit karena menahan derita yang ditimbulkan oleh Ayahmu, Ibumu berharap, kamu bisa menikah secepatnya, dan membina keluarga sendiri, jangan lupakan berapa usiamu sekarang Raga??” Harlan menatap Raga yang mulai gelisah.
“Siapapun perempuan itu, Ibumu akan setuju, selama itu adalah pilihanmu, dan kamu akan bahagia bersamanya” lanjut Harlan dengan serius.
“Masalahnya, gadis itu masih belum mencintaiku” Raga mendesah pelan, lalu menjambak rambutnya frustasi.
“Apa??? Haha ... memang ada gadis yang bisa menolak dirimu???” Harlan tergelak, tidak percaya dengan ucapan Raga.
__ADS_1
“Ada, perempuan itu ...”
Ceklek ...
Ucapan Raga menggantung, tatapannya beralih pada pintu yang terbuka, terlihat Andin memunculkan kepalanya di pintu, sambil tersenyum ramah.
“Pak, maaf, ini ada berkas yang harus Bapak tandatangani” ucap Andin sambil berjalan mendekati Raga dan Harlan.
Harlan tersenyum, menatap Andin tanpa mengedip.
“Andin ya??” tebak Harlan membuat Andin mengerutkan keningnya,
“Iya” Andin memanggutkan kepalanya, sementara itu, Raga sudah membuka berkas yang di sodorkan Andin.
“Saya pamannya Raga” Harlan menyodorkan tangannya, dan Andin menerima jabatan tangan Harlan dengan penuh hormat.
“Saya Andin, wakil pimpinan dari Pak Ronald” ucap Andin sambil memanggutkan kepalanya.
“Oh ... ya ya ya, selamat bekerja Bu Andin” ucap Harlan berniat menggoda, tapi Andin menanggapinya dengan serius.
“Terimakasih” Andin kembali membawa berkas yang sudah ditandatangani Raga, Raga hanya bisa mendengus kesal, entah Andin yang tidak peka atau terlalu profesional, tapi gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukan rasa penyesalan, atas apa yang terjadi tadi siang.
“Permisi” Andin memundurkan langkah, Raga hanya bisa menatapnya. Miris.
“Ada cinta, yang kurasakan, saat menatap ... oh indahnyaaaaaaa, haha ...” Raga menatap Harlan yang tengah bersenandung sambil memegang dadanya, lalu menaik turunkan alisnya.
“Sepertinya akan ada pertumpahan darah antara Kakak beradik, haha ...” Harlan tergelak, membuat Raga memutar kedua bola matanya merasa kesal.
“Hati-hati dengan adikmu! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, ada cinta di mata Ronald untuk Andin” bisik Harlan tepat di telinga Raga.
“Hell ...”
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...
__ADS_1