BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Kamu Sudah Punya Pacar?


__ADS_3

“Heuh!! Kenapa juga aku harus terjebak dengan para manusia aneh itu!!?? Apa salahku? Apa dosaku?” Rey menenggelamkan kepalanya di salah satu meja kantin, membuat orang yang ada di belakangnya merasa terganggu, tapi tak ayal perempuan yang ada di belakang Rey, masih tetap melanjutkan kegiatannya, membaca salah satu novel online favoritnya, yang berjudul TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG, novel bergenre romantic comedy itu membuat sesekali gadis itu tergelak, tidak peduli dengan pria yang berada di belakang kursinya.


Yap ... alih-alih mengerjakan apa yang diperintahkan Ronald, saking pusing dan tertekannya, Rey malah melangkahkan kakinya menuju kantin, memesan makanan favoritnya dalam porsi yang sangat besar, lalu menenggak minuman dingin favorit nya dengan brutal, Rey makan dengan sangat berisik karena saking prustasinya. Karena bagi Rey, makan dengan porsi yang banyak akan mengurangi rasa kesalnya.


“Ck! Apa bekerja memang sesulit itu?? Kasihan sekali dia” gumam Siti, yang merasakan orang yang berada di belakangnya sangat berisik. Siti kembali melanjutkan membaca novelnya dengan seksama, sambil menunggu kedatangan Andin, untuk menemuinya.


***


“Direktur sepuluh menit lagi tiba di lobby, ayo kita sambut!!” para karyawan dari lantai tiga berebut menuju lift, untuk menyambut kedatangan sang Direktur perusahaan mereka.


Andin hanya mengerutkan keningnya, lalu berjalan menuju lift, bergabung bersama yang lain, memilih acuh dengan segala keriweuhan yang teman-temannya lakukan.


“Ibu, mau menyambut Bapak Direktur juga ya??” tanya salah satu dari mereka, memberanikan diri. Menatap Andin yang sedari tadi terus bersikap datar.


“Tidak, saya mau makan siang, sekarang sudah jamnya istirahat” ucap Andin, sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Wajahnya masih tetap datar dan dingin, membuat aura di sekelilingnya menjadi sedikit mencekam.


“Ta tapi Bu, harusnya Ibu menyambut Bapak Direktur, karena Pak Ronald masih tertidur di ruangannya” ucap salah seorang dari mereka, berucap dengan terbata-bata.


“Sudah kamu bangunkan??” tanya Andin, menatap mereka bergantian.


“Sudah Bu, tapi masih belum bangun juga” jawab mereka kompak, saling bersahutan.


“Oh, Rey kemana??” tanya Andin sambil mengedarkan pandangannya. Jika di fikir-fikir Andin belum melihat Rey sedari tadi.


“Pak Rey katanya kebelet Bu, mungkin dia grogi” jawab salah satu dari mereka.


“Oh, baiklah ...” Andin mengangguk, sementara itu, tangannya meraih ponselnya, kembali memberitahu Siti, bahwa dia akan datang ke kantin telat. Sebagai sahabat yang baik, Siti hanya bisa pasrah, kembali menunggu Andin, hingga pekerjaannya selesai. Meski mulutnya kadang menggerutu juga.


Tiba di lobby kantor, seperempat dari karyawan kantor sudah berderet rapi, mereka adalah perwakilan dari beberapa divisi, dengan menggunakan pakaian terbaik, dan gaya terbaik mereka, mereka berdiri dengan tubuh tegak, berusaha menyambut Direktur perusahaan yang katanya jarang bertandang itu dengan sangat baik. Segala persiapan tengah dilakukan dengan sedetail mungkin, mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi penjilat.

__ADS_1


Andin, hanya melipat kedua tangannya di dada, dia berdiri di paling ujung di antara karyawan lainnya, hari ini penampilan Andin masih seperti biasanya, sangat sederhana namun sangat menarik, tanpa polesan istimewa, namun wajahnya masih bisa menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Gadis yang berasal dari desa Suka Kaya itu memang memiliki daya tariknya sendiri.


“Eh, itu mobilnya! Itu mobilnya! Siap semuanya!” terdengar bisikan dari mereka, seketika tubuh karyawan lain menjadi menegang, lalu kepala mereka tertunduk.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam, terparkir di halaman kantor, sang sopir turun dari dalam mobilnya, memutari mobilnya, lalu membukakan pintu depan, di mana sang majikan tengah menunggu.


Ceklek ...


Pintu mobil dibuka, lalu tak lama kemudian, turunlah seorang pria, dengan tatanan penampilan yang sangat sempurna, tubuh tinggi, tegap dan atletis, wajah tampan dengan kulit putih bersinar, mungkin saja usianya sudah bukan remaja lagi, tapi ketampanannya membuatnya terlihat berada di usia di bawah tiga puluhan. Pakaian dan barang branded yang dia gunakan juga semakin menambah kesempurnaannya.


“Wooooaaaahhh ... ya ampuunn ganteng banget” terdengar bisikan dari karyawan perempuan, saling menyenggol temannya satu sama lainnya. Hanya dalam sekali lirikan, mata mereka langsung berbinar menatap pria menawan di hadapannya.


Perlahan, Andin yang penasaran segera mengangkat wajahnya, menatap pria yang baru saja turun dari dalam mobilnya, kemudian berjalan ke arah mereka tengah menunggunya.


Deg!


‘Pak Raga??!’ teriaknya dalam hati.


Pria itu tersenyum lembut, senyumnya masih sama, tingkahnya masih sama, bahkan cara dia membungkukkan tubuhnya pun masih sama. Apa ini mimpi di siang bolong??.


Pria itu masih menyalami jajaran karyawannya, yang memiliki jabatan lumayan tinggi di kantor ini. Sementara itu, tatapan Andin masih belum berpaling, dia masih menatap pria yang tengah tersenyum lembut itu dengan seksama, takut jika apa yang dia lihat ternyata salah.


‘Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Bertahun-tahun aku menghindarinya, tapi sekarang kenapa aku malah bertemu kembali dengannya? Bertahun-tahun, aku berusaha melupakan semuanya, tapi kenapa?? Luka menganga yang hampir kering itu kembali menguar??’ batin Andin berteriak tak menentu.


‘Hai cinta ... pada akhirnya, takdir mempertemukan kita kembali, apa kabar Cinta??’ batin pria itu tersenyum manis.


“Selamat siang Pak Raga? Sebuah kehormatan bagi kami, atas kehadiran Bapak Direktur”


“Pak Raga semakin tampan saja, haha”

__ADS_1


“Selamat Pak Raga, atas penghargaan sebagai pengusaha termuda di tahun ini”


“Silahkan Pak Raga, kami sudah menyiapkan jamuan makan siang spesial buat Bapak”


Dan segala sapaan lainnya terdengar, tapi semua itu tentu saja di tulikan oleh Raga maupun Andin, mereka hanya sibuk mengurai benang kusut, yang terjadi di masa lalu mereka. Percaya atau tidak, kenangan enam tahun lalu itu kembali berkelebat di kepala mereka masing-masing.


Hingga pada akhirnya, langkah Raga terhenti di hadapan Andin.


“Cinta ...” sapanya, membuat semua orang melongo, saling tatap tidak percaya.


“Pak, Pak Raga ...” sahut Andin tak kalah gugup.


“Kamu sudah menikah?”


“Be belum” Andin menggeleng kuat.


“Kamu sudah punya pacar??”


“Be belum ...” Andin kembali menggeleng kuat.


“Bagus!”


Raga tersenyum lembut, senyuman yang sulit di artikan, kemudian dia melangkahkan kakinya, di ikuti oleh jajaran karyawan yang mengikutinya dari belakang, meninggalkan Andin yang tengah terbengong sendirian, sambil mengurut dadanya. Kaget.


Saat cinta, rindu, amarah, ragu, trauma, dan juga harapan yang menggebu, melebur menjadi satu. Maka, di saat itu pulalah Andin dan Raga bertahan dalam kubangan egonya masing-masing.


Bersambung .....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...

__ADS_1


__ADS_2