BISIKAN CINTA

BISIKAN CINTA
Perintah Mamah


__ADS_3

POV Raga


Perjalanan hidup mengajariku tentang banyak hal, tentang arti di hargai, menghargai, menghormati, menyayangi, mengasihi, dan mencintai.


Sepanjang perjalanan hidupku, aku selalu di kelilingi orang-orang yang menghargaiku atas dasar apa yang kumiliki saja, harta dan tahta.


Menjalani rutinitas keseharian, tapi tak sedikitpun menyurutkan semangatku dalam mengurusi perusahaan keluarga. Aku selalu menjadi yang terdepan untuk urusan apapun, seperti tak ada pilihan lain, bahkan waktu yang kumiliki, seperti sudah di atur hanya untuk mengurusi mereka.


Haha ... kadang aku tertawa sendiri mengenang hidupku ini, aku sudah seperti wayang yang siap di mainkan oleh seorang dalang. Dalangnya di sini bernama Ayah dan Ibu.


Hahhhh ... sbelumnya, aku tidak pernah menyangka jika takdir akan membawaku ke tempat seindah ini. Awalnya, aku merasa tertipu, karena tiba-tiba saja Ibu memintaku untuk pergi ke suatu daerah yang bisa di bilang pedesaan, ya walaupun bisa di bilang desa yang lumayan maju.


“Raga, pergilah ke Desa itu, coba kamu lihat kondisi yayasan Mamah yang disana” ucap Mamah di suatu pagi.


Aku menghela napas berat, lagi-lagi aku.

__ADS_1


“Selama ini, kamu sudah mengurus perusahaan sendirian, sekarang Om kamu sudah pulang dari luar negri, dan untuk sementara waktu, Mamah bisa menitipkan perusahaan pada Om kamu, mungkin saatnya sekarang kamu mengerjakan sesuatu yang ringan, sambil berlibur, juga mencari jodoh mungkin” Mamah mengedikkan kedua bahunya, sambil tersenyum.


Ah ... perempuan tegar ini, setiap katanya, sudah seperti firman Allah pada Rasulnya, aku sungguh tak bisa membantah setiap ucapannya.


“Haha ... “ aku tergelak saat Mamah mengatakan tentang jodoh.


“Usiamu sekarang sudah dua puluh tujuh tahun Raga, mau sampai kapan kamu membujang?? Bahkan tak pernah sekalipun Mamah melihatmu berdekatan dengan perempuan” ucap Mamah lagi, sambil menyeruput teh hangat dari cangkirnya.


“Mamah ...” kesal sekali, ketika Mamah terus membahas tentang jodoh, bagaimana mungkin aku bisa mencari jodoh dengan mudah, sementara selama ini, aku selalu sibuk dengan urusan pekerjaan.


Beberapa dari mereka, bahkan dengan tidak tahu dirinya ada yang ingin menyerahkan kehormatannya padaku dengan suka rela, dengan dalih berkencan, aku bebas melakukan apapun pada mereka, tapi jelas aku tidak ingin melakukannya.


Berkaca dari air mata Mamah, aku tidak ingin membuat perempuan lain menderita. Sepanjang hidupnya Mamah sudah menderita karena di sakiti Papah, aku memiliki Ibu tiri, bukan hanya satu tapi beberapa orang.


Dengan status istri pertama dan aku putra dari istri pertama, terang saja bisa membuat aku memiliki harta lebih banyak dari pada istri Papah yang lainnya, yang hanya di nikahi secara siri. Lagi pula, aku faham betul keingin perempuan Papah bukanlah keutuhan rumah tangga, tapi uang, uang dan hanya uang.

__ADS_1


“Perempuan Sunda itu cantik-cantik Raga, percaya deh sama Mamah” Mamah membalikkan majalah yang tengah di bacanya.


“Nih kamu lihat, perempuan Sunda jadi nominasi perempuan paling cantik di dunia, hebat bukan??” Mamah menunjuk gambar foto seorang artis yang tengah naik daun itu. Aku memutar kedua bola mata, rasanya malas jika harus membahas masalah ini lagi.


“Pergilah Raga, tolong awasi yayasan itu, Mamah membangun yayasan itu dengan susah payah, yayasan itu adalah impian Mamah, yayasan itu adalah kenangan yang sangat berarti buat Mamah, kemarin Mamah dapat kabar, kalau ada sedikit masalah di sana” lanjut Mamah masih memohon.


Kalau begini ceritanya, Mamah bukan menyuruhku liburan tapi menyuruhku untuk menyelesaikan masalah. Intinya itu bukan?? Ck.


“Oh iya, untuk sementara, kamu bisa tinggal di rumah Kakek Parto, rumahnya kosong, kemarin Kakek Parto sama istrinya sudah di bawa Om kamu ke sini, soalnya Kakek Parto sudah sakit-sakitan terus, gak ada yang jagain” Mamah kembali berceloteh, sementara aku hanya menyimak.


“Di sana udaranya masih sangat segar lho, pemandangannya asri, ih ... nyesel kamu kalau gak mau kesana” Mamah masih keukeuh akan kemauannya, jika sudah seperti ini, lalu aku bisa apa??.


“Iya Mamah, baiklah ... Raga akan pergi ke sana” mengalah adalah hal terbaik untuk sekarang.


“Nah ... gitu dong” Mamah bertepuk tangan tanda senang. Dan aku?? Di muka bumi ini, tak ada hal yang lebih menyenangkan selain daripada melihat kesenangan Mamah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2