
Pagi yang mendebarkan, subuh tadi Syafeera menyempatkan mengabari Hanum, dan menceritakan semua nya, Hanum pun tak kalah kaget nya. hanya doa yang bisa Hanum berikan. Sedangkan Aydan dini hari tadi menyempatkan untuk sholat Istikharah, memohon jalan terbaik dari Sang Maha memberi Jalan, Sang Maha Pemberi Petunjuk.
Tepat pukul 7:50 Aydan sudah berada di lobby hotel XX menunggu sang pak Dekan.. Dan tak berselang lama pak Wahid sang Dekan pun datang. Sesuai instruksi nomer kamar yang di berikan, mereka langsung menuju nomer kamar yang di berikan di lantai dua, setelah bertanya ke bagian resepsionis.
"Aydan... tadi malam Ayah Syafeera menghubungi saya..." ujar Pak Wahid saat mereka menaiki tangga menuju lantai 2.
"bapak serius...??"
"iya.... beliau pun meminta saya datang, dan saya juga sudah jelaskan, bahwa kamu juga menjelaskan kepada saya"
Aydan menarik napas nya dalam,.lalu membuang nya, entah apa yang akan terjadi beberapa saat nanti.
"Saya percaya dengan kamu dan Syafeera, tapi kembali lagi, keputusan itu ada di tangan kalian nanti"
Aydan menghentikan langkah nya "maksud pak Wahid...??"
"kita lihat saja nanti ya...." jawab pak Wahid sambil menepuk pundak Aydan. mendengar jawaban sang Dekan membuat jantung berdetak tak karuan. sepertinya sang Dekan sudah tahu apa yang akan terjadi.
Kamar no 24, kini mereka sudah ada di depan pintu kamar itu. pintu pun di ketuk, salam juga di ucapkan.
Pintu pun di buka, bunda lah yang membuka pintu kamar itu sembari menjawab salam.
ceklek...
"Silahkan masuk.." Bunda mempersilahkan Aydan dan pak Wahid untuk masuk, dan mereka langsung duduk di sofa yang ada di kamar sesuai arahan bunda.
"Di tunggu sebentar ya pak, Ayah nya Syafeera sedang keluar sebentar..."
"baik Bu terima kasih.." Jawab pak Wahid, sedangkan Aydan menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
Sedangkan Syafeera duduk di depan jendela kaca hotel, menyaksikan hiruk pikuk di luar sana dari kaca hotel, enggan untuk mendatangi Aydan dan pak Wahid, karna sang ayah pun memang belum datang. Dan tak lama kemudian ketukan pintu dari ayah terdengar. Bunda pun membukanya..
"Maaf , sudah lama...pak..??" tanya Ayah sambil memberikan bungkusan yang ternyata berisi kopi dan sedikit kue untuk di sajikan kepada tamu nya. Bunda pun menerima,.lalu membuka nya di atas meja untuk di sajikan.
Ayah dan sang Dekan saling bersalaman, salam perkenalkan diri.
__ADS_1
"saya Hendra Wirjaya ayah dari Syafeera, dan ini istri saya Rania Maisari, bunda nya Syafeera" ujar Ayah memperkenalkan diri dengan sang Dekan dan juga Aydan
"Saya Wahid Baskara pak,.dekan dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dan ini adalah Aydan Atthallah Dosen jurusan di Fakultas kita"
Mereka duduk berempat di sofa, sofa yang baru di tambahkan tadi pagi sesuai permintaan ayah.
"Bun Panggil Syafeera..." titah ayah dan di balas dengan anggukan oleh bunda.
Bunda menuju posisi di mana Syafeera duduk... mengajak Syafeera bergabung. tapi Syafeera enggan untuk melangkah.
"Bun Sya gak mau..." mohon Syafeera, dan percakapan itu masih bisa Aydan dengar
"hayuuuk atuh neng.... percaya sama ayah..." ujar Bunda dengan nada Sunda nya, sekalipun bunda bukan orang sudah, karna bersama ayah, bunda jadi terbiasa dengan logat Sunda.
"Tapi Bun.. permintaan ayah gak masuk akal.."
"manut..." ya manut Mau tidak mau Syafeera harus manut.... Dengan berat hati Syafeera pun melangkah menuju sofa di mana ayah dan yang lain duduk.
Syafeera duduk di apit oleh ayah dan bunda, dan yang membuatnya makin tertunduk ada sang Dekan juga. "haruskah membawa pihak kampus ikut terlibat??" batin Syafeera
"saya sudah dengar baik dari Aydan dan dari Ayah kamu.... bahkan keputusan yang ayah kamu buat"
"Keputusan apa maksud bapak??" kini Aydan yang bertanya
"lebih baik pak Hendra sendiri yang menyampaikan langsung"
"Begini nak Aydan, saya panggil nak saja ya??"
"Silahkan pak..."
"Saya sudah bicarakan ini dengan Syafeera dan juga pak Wahid, saya ingin kalian menikah.."
"Menikah...??" tanya Aydan dengan nada kaget nya... bahkan sangat kaget mendengar penuturan ayah dari mahasiswi itu
"Iya... Menikah" ayah menegaskan sekali lagi, dan Pak Wahid hanya bisa mengelus punggung Aydan. Aydan dan pak Wahid cukup dekat, karna pak Wahid adalah sahabat dari Almarhum sang Ayah, bahkan sudah seperti ayah nya.
__ADS_1
"Pak saya bisa pastikan tidak terjadi apapun antara saya dan Syafeera, bahkan saya langsung berbalik badan dan keluar" Aydan berusaha meyakinkan
"tapi kamu sudah melihat anak gadis saya dalam keadaan tidak seharusnya yang kamu lihat kan??" Tanya Ayah dengan menaikkan alis nya
Ya.... Aydan telah melihat anak dari pria yang ada di depan nya ini dalam keadaan tak seharusnya dia lihat.. Ayah memang bukan dari keluarga yang berlatar belakang ilmu agama yang tinggi, bukan seorang ulama ataupun setara dengan mereka, tapi Ayah cukup paham Agama, Ayah sangat Menjaga putri-putrinya nya.
"Tapi yah..."
"kamu lupa apa yang ayah katakan tadi malam?? jika ada yang menolak keputusan ayah, maka kamu kembali ke Pekanbaru, tapi jika kamu ingin lanjut, maka menikah...tak ada tawar menawar" ujar ayah penuh penekanan, tak ingin di bantah
Aydan cukup dilema dengan semua ini, menolak maka tahu konsekuensi, menerima Maka siapkah dia, menikahi mahasiswi nya..?? Untuk Syafeera jelas mau tidak mau harus menerima jika ingin tetap kuliah di sini, dan sekarang keputusan terakhir ada di tangan nya.
"bagaimana nak Aydan...??"
"Saya tahu, saya sudah melihat apa yang tidak seharusnya, dan saya juga sangat paham batasan itu, tapi haruskah...??"
"Ok... saya berusaha percaya kamu tidak melakukan apapun kepada anak saya, dan saya cukup berterima kasih, saya tidak tahu bagaimana jika pria hidung belang yang masuk, dengan melihat Kondisi anak saya waktu itu, Saya tidak dapat menjamin, apakah dia masih utuh....lalu bagaimana jika ada yang melihat itu,.apa penilaian mereka?? akankah mereka percaya, tidak terjadi sesuatu?? seorang pria keluar dari kamar seorang wanita?? Dan jika ada yang tahu itu Mahasiswi kamu, apa tanggapan mereka mengenai anak saya?? kamu bisa menjamin mereka tidak berfikir negatif??"
"contoh nya, mahasiswi bersama sang dosen untuk mendapatkan nilai terbaik, ataupun asumsi lainnya.... Nak Aydan bisa jamin semua kemungkinan terburuk??" Pertanyaan demi pertanyaan Ayah berikan
"Aydan, awalnya saya sependapat dengan kamu, tapi kembali lagi, jika saya diposisi pak Herdra, hal serupa pasti juga akan saya lakukan, dan ini bukan hanya nama baik Syafeera, melainkan nama baik kamu sebagai dosen yang berdedikasi dan juga Fakultas kita di pertaruhkan disini..."
Aydan membuang nafasnya, berusaha tenang, berusaha berpikir jernih, di beri dua pilihan, tapi semua pilihan cukup membuat nya terjepit.
Jodoh, jalan jodoh seseorang tidak ada yang tahu, tapi haruskah di pertemuan dengan jodoh nya seperti ini, jika memanggil Syafeera jodohnya?? kenapa harus dengan cara kesalah pahaman seperti ini. bukan Aydan tidak kagum akan sosok Syafeera, tapi haruskah cara nya seperti ini, bagai makan buah simalakama.
🌠🌠ðŸŒ
Makasih yang udah mampir di karya receh author... jangan lupa dukungan nya ya...
Dukungan dan komen reader semua sangat memacu semangat Author....
Jazaakumullah khairon..
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an
__ADS_1